TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 99. VILA KELUARGA IVON


__ADS_3

Kami sudah ada di dalam mobil sewaan, aku dan Novi diantar pak Kus driver taksi yang ternyata berasal dari tempat di mana kami hilang.


Siang menjelang sore ini kami menuju ke semacam vila milik keluarga Ivon yang kaya raya.


Tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu….


“Nov, bukannya masih ada teman kita yang hidup…. Gilank!”


“Eh iya mas….kok tadi kita sampek nggak kepikiran ya. Tapi kita kan nggak tau dimana mas Gilank berada mas” kata Novi


“Gimana mas mbak, ada sesuatu lagi?”


“Iya pak Kus, tadi waktu pak Kus ke rumah Tifano, kata ibu Tifano kan ada satu orang lagi yang mencari anaknya, namanya adalah Gilank dengan ciri seperti gelandangan”


“Gilank adalah teman kami yang juga saat itu hilang pak, yang tadi saya sempat cerita ke pak Kus itu”


“Tapi kami tidak yakin dia itu teman kami, karena kelakuan dia yang aneh pak”


“Coba kamu ceritakan mas, anehnya bagaimana?” tanya pak Kus


Mulai dari ketika aku dan Novi bertemu dengan Gilank, dan kuulangi lagi cerita ketika aku mendapat celaka, dan kemudian Gilank hilang begitu saja dari rumah Novi dan tiba-tiba tadi sekitar dua minggu lalu ada yang cari Tifano.


“Menurut saya mas… Gilank yang mencari teman kalian dua minggu lalu itu adalah teman kalian yang sebenarnya. Sedangkan yang bersama kalian yang hilang itu bisa jadi berusaha membuat kalian berdua mati”


“Sekarang berarti yang selamat dan bisa keluar dari sana ada empat orang ya mbak mas?”


“Bisa jadi empat orang pak Kus, karena ketambahan Gilank itu, tapi kami tidak tau dimana Gilank itu saat ini pak” kata Novi


“Gilank itu tinggal di Jogja, dan kami ragu apabila dia pulang ke rumah, karena dia jarang pulang ke rumah. Setahu kami dia itu sudah diusir keluarganya, dan istrinya sudah nggak ngurus Gilank lagi” lanjut Novi


“Ya sudah mas dan mbak, kita fokus pada teman kalian yang ada saja sekarang”


Mobil melaju kencang menuju ke arah pegunungan, untung Novi tau dimana letak vila keluarga Ivon. Tapi yang sekarang bikin aku bingung adalah si Gilank..


Tapi lebih baik gak usah mikir Gilank dulu, karena Ivon kayaknya lebih berguna daripada Gilank hehehe.


Sudah satu jam perjalanan dan arah kami sudah mendekati daerah pegunungan, hari semakin sore yang pastinya akan malam ketika kita tiba disana.

__ADS_1


“Nov, ini masih jauh?”


“Nggak mas, sebentar lagi udah sampai mas, tidak jauh dari desa ini mas… tapi letaknya agak di jalan yang menuju ke hutan mas”


“Sampai sana pasti jam tujuh malam Nov… nggak enak sama pak Kus”


“Mas mbak, jangan pedulikan saya, karena saat ini akan banyak nyawa yang terancam. Termasuk kalian berdua juga tidak akan selamat apabila tidak hati-hati”


Kira-kita lima belas menit kemudian Novi menyuruh pak Kus untuk memelankan laju mobil.


“Yang mana mbak?”


“Eh agak terus pak Kus,. terus pak tapi pelan saja ya pak”


“Terus pak… eh itu yang di depan itu pak… yang ada lampu jalannya itu” tunjuk Novi pada sebuah bangunan vila yang berwarna putih dan berlantai dua


Pak Kus memberhentikan mobilnya…..


Letak vila keluarga ini agak sedikit keluar dari desa, tetapi di kiri kanan dan depan masih ada rumah penduduk meskipun tidak seramai di desa sebelumnya.


“Yakin sekali mas, kalau memang Ivon tau penyebab ibunya meninggal, dia pasti akan lari ke sini. Tapi Novi nggak tau dengan bapaknya atau saudara dia yang lainnya”


“Ya sudah Nov, ayo pak Kus kita datangi vila itu” ajak Novi yang kayaknya agak takut


“Lampu bagian dalam kok gelap mbak, tapi lampu penerangan jalannya nyala” kata pak Kusno


“Iya pak Kusno, berarti harusnya di dalam vila ini ada orangnya. Keluarga Ivon kemungkinan besar ke sini pak… saya yakin sekali” kata Novi


“Kemungkinan besar tiga bulan lalu setelah ibunya meninggal mungkin Ivon cerita sesuatu, dan mungkin dia juga bertemu dengan orang semacam pak Tejo atau siapa gitu yang memberi peringatan Ivon bahwa dia juga dikutuk”


“Dan keluarganya akan mati satu persatu….” aku mencoba untuk beropini kejadian tiga bulan lalu


“Kemungkinan besar setelah ibunya meninggal Ivon baru percaya dengan yang pernah dia dengar dari orang lain juga”


“Dan mungkin sekarang bukan hanya ibunya saja yang meninggal, bisa saja keluarga Ivon lainnya juga meninggal”


Entah bagaimana aku bisa beropini begini tentang keluarga Ivon yang pergi dari rumahnya tiga bulan lalu setelah kematian ibunya Ivon.

__ADS_1


Sebenarnya ini belum larut malam juga, baru jam delapan kurang lima belas menit…harusnya keluarga Ivon belum tidur, dan lampu dalam rumah harusnya nyala.


“Kita ketuk saja pintu pagarnya mas” usul pak Kusno


Beberapa kali pak Kusno mengetuk pintu pagar vila keluarga Ivon dengan suara keras, tetapi tidak ada yang membukakan pintu, hingga kemudian tetangga depan rumah keluar rumah setelah mendengar suara pagar diketuk dengan keras oleh pak Kusno.


Orang depan rumah itu menghampiri kami…


“Kalian cari siapa disini?” tanya orang itu dengan ketus


“Kami cari Ivon, anak keluarga pak Cahyo pak” jawab Novi


“Kalau cari perempuan gila itu kalian jangan kesini malam-malam, dia tidak akan buka pintu pagar ini” kata tetangga depan masih dengan nada ketus


“Keluarga pak Cahyo hanya tinggal perempuan gila itu saja, yang lainnya sudah meninggal…”


“Ha….! sudah meninggal pak?” tanya Novi keheranan


“Iya mbak… sepertinya keluarga ini kena kutukan, atau bisa saja mereka terkena ilmu hitam yang mereka pelajari….”


“Berarti sekarang yang ada di dalam itu tinggal teman saya yang namanya Ivon pak?”


“Saya tidak tau siapa namanya… pokoknya kami penduduk desa ini tidak mau berurusan dengan perempuan yang tidak waras itu, dan tolong jangan ketuk-ketuk pagar rumah ini, berisik suaranya” kemudian bapak-bapak yang sinis itu balik ke rumahnya


“Mbak … mas, pintu pagar ini tidak ada gemboknya, kalian mau masuk ke dalam atau pulang?” tanya pak Kus


“Kita masuk saja pak, gimana menurutmu Nov?”


“Iya mas, kita masuk saja pak. Kita sudah ada disini tanggung rasanya pak” jawab Novi


Aku dan pak Kus berusaha sehening mungkin menggeser slot kunci pintu yang tidak ada gemboknya..sangat pelan, tapi ternyata karena sudah berkarat sehingga menimbulkan suara berderit juga.


Tapi akhirnya bisa terbuka… kemudian kami mendorong pintu pagar ke arah dalam, dan lagi-lagi suara berderit yang lumayan keras timbul lagi.


“Sudah jangan dibuka terlalu lebar, suaranya itu bisa membangunkan seisi desa ini” kata pak Kus


Kami melangkah masuk ke halaman vila keluarga Ivon… gelap karena di halaman ini tidak ada lampu, satu-satunya lampu yang masih hidup adalah lampu jalan saja.

__ADS_1


__ADS_2