TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 06. KABUT YANG ANEH


__ADS_3

Kabut putih yang pekat itu mulai melewati mobil kami..kabut aneh itu bergerak dari arah depan mobil.


Dari sorot lampu mobil yang dari tadi nyala, kabut itu berjalan pelan, tapi anehnya kabut itu mirip dengan awan, jadi bentuknya bergumpal gumpal,  beda dengan kabut biasa yang hanya sebatas seperti benda putih yang lewat saja.


Kabut itu perlahan lahan mulai  mendekati mobil…kabut yang sangat pekat menurutku, karena sorot lampu mobil gak bisa menembus kabut itu.


Akhirnya perlahan-lahan mobil yang kami tumpangi ini diselimuti kabut tebal, dari kaca mobil yang terlihat hanya putih bergumpal gumpal dan bergerak dengan lembat.


“Wuih ngeri kabutnya rek” kata Tifano yang ada di sebelah Novi


“Sudah lebih dari dua menit belum juga selesai kabut ini” tambah Ivon yang kelihatannya menggunakan stopwatch jamnya untuk mengetahui berapa lama kabut putih pekat ini menerjang mobil


“Huuuaaahhh buka jendelanya rek… panas iki lho di sini” teriak Gilank yang masih saja tidur


“janc**k Gilank iki… sik tidur aja dari tadi” kata Tifano yang menoleh ke belakang


“Ndet.. splaken ndase (pukulen kepalanya) Gilank ndet, biar dia tau keadaan kita” kata Broni


“Hehehe biarin Bron, kasihan Gilank.. Biar dia bubuk dengan nikmatnya hihihi” jawab Bondet


“Sssssttt diam kalian… apa kalian gak dengar suara aneh!” kata Ivon yang dari tadi memperhatikan jam tangannya


“Ehh kayaknya ada banyak orang diluar sana ya Von” jawab Novi


“Heeh Nov… diam dulu… Nov” kata Ivon


Benar kata Ivon, ketika kabut ini datang dan menghantam mobil, aku seperti mendengar banyak orang yang sedang ngobrol, pokoknya mirip dengan suara orang-orang ngobrol yang biasanya ada di acara kawinan di gedung.


Eh bukan ngobrol sih… lebih tepat suara orang yang bergumam… suara gumaman yang tidak begitu jelas, tapi apakah itu suara gumaman atau suara angin yang ada diluar sana, aku juga kurang bisa menerka.


Bisa juga seperti suara banyak orang sedang ngobrol dalam sebuah ruangan yang bergema …. Suara laki perempuan yang menyatu di sebuah acara atau ruangan yang berdinding hingga menyebabkan adanya gema yang saling memantul.


Keadaan di dalam mobil menjadi sunyi senyap, karena kami sibuk mendengarkan suara orang yang sedang ngobrol.. Atau  lebih tepatnya bergumam… ngobrol sambil bergumam atau apalah…pokoknya ada suara anehnya lah.


Tapi suara itu kemudian secara perlahan lahan menghilang… dengan disertai kabut yang juga lama kelamaan menghilang juga.


Tetapi kabut itu tidak menghilang seluruhnya.. Masih ada kabut tipis di sekitar tempat mobil ini berada….


“Lima menit tiga puluh detik… Cukup singkat untuk sebuah kabut tebal di kawasan dataran tinggi” kata Ivon


“Biasanya kabut itu bisa lebih dari satu jam atau bahkan bisa lebih lama lagi untuk di daerah yang begitu dingin seperti disini” Kata Ivon lagi


“Altitude di jam tanganku, kita ada di ketinggian 1700 mdpl (meter di atas laut), untuk ukuran suhu nanti akan kita ukur di luar saja” kata Ivon yang ternyata jam tangannya canggih juga


“Jam tanganmu itu merk apa Von?” tanya Bondet dari belakangnya


“Gshock mas… ada altimeter, barometer, pengukur suhu, dan compas” jawab Ivon tapi nadanya lebih lembut daripada ketika Ivon menjawab omongan Broni


“Bagus Von.. pasti mahal ya Von” sahut Bondet


“Lebih mahal keselamatan kita dari pada jam tangan ini mas” jawab Ivon lagi

__ADS_1


“Janc****k sumuuuk (panaaas) c*k bukaen jendelanyaaa” teriak Gilank dengan mata yang tertutup


“Mas Bondet, Ivon minta izin untuk menampar Gilank, boleh nggak mas?” tanya Ivon


“Jangan Ivon.. biarkan saja, orang itu kurang waras kok Von .. kalau orang waras gak akan gitu kan Von”  kata Bondet


“Kalau kurang waras kenapa diajak mas?” tanya Ivon


“Yah karena kurang waras itu bahaya bagi keluarganya, makanya kami bawa untuk mengurangi beban keluarganya meskipun sejenak Von” jawab Bondet seenaknya


“Jadi ada baiknya jaga jarak sama dia Von, karena kurang sehat kalau dekat dengan dia” kata Bondet lagi


Hihihi Ivon beda kalau bicara dengan Bondet. Lebih halus dan lebih ramah hehehe, jangan-jangan dia suka sama Bondet


“Baik mas Bondet..Ivon turuti kata mas Bondet” kata Ivon dengan suara yang ramah


“Iho Ivon rek… mulai ya sama mas Bondet” bisik Novi


“Ih apa sih Nov… nggak lah!”


“Nggak papa kok mbak Ivon, bagi saya Bondet itu luarnya aja kasar, tetapi dalamnya bagaikan malaikat hehehe”


“janc*k Wil… ndasmu (kepalamu) kopyor c*k” sahut Bondet”


“Ayo gimana ini rek… sudah jam dua belas lebih ini rek.. Kita harus jalan kaki untuk mencapai desa itu” kata Broni yang ada di sampingku


“Buka pintunya dulu Bron.. kamu turun dulu, dan lihat apakah di luar sana aman, gak ada binatang buas atau sebangsanya?” kata Tifano


“Iyooo Wil.. sik aku turun dulu” jawab Broni


Broni turun dari mobil, dia berdiri di luar tanpa melakukan apapun. Dia hanya berdiri dan tolah-toleh. Tetapi tidak ada lima menit dia masuk mobil lagi…


“Ndeh Bron.. ngapain kamu masuk lagi?”


“Janc*k.. Uadeem (dingin) pol di luar Wil….  cobaen kamu keluar dari mobil Wil”


“Nah, sekarang kalian mau apa kalau tau keadaan dingin seperti ini, saya sudah mengira rencana kamu itu akan berakhir busuk..dan konyol” kata Ivon dengan nada sinis


“Sekarang gini saja, saya dan Novi akan cari bantuan, kalian cowok banci ada di mobil saja!” kata Ivon yang kemudian melepas jam tangannya


Kulirik dari spion apa yang sedang dilakukan Ivon, dia melepas jam tangannya dan kemudian membuka jendela mobil, kemudian dia mengeluarkan tangan serta jam tangan yang dia lepas hingga beberapa menit.


Setelah sekitar lima menit dia masukan lagi tangan dan jam tangan yang dia pegang tadi.


“Hmm di luar suhunya enam derajat celcius… cukup dingin kalau diluar tanpa baju hangat.. Gimana Novi.. kita jelas tidak mungkin ada di dalam mobil ini terus” kata Ivon


“Tetap cari bala bantuan Von, kita berdua kan bawa jaket kulit yang lumayan tebal Von” kata Novi


“Ok kita jalan Nov, eh senter police yang kamu bawa mana Nov?” tanya Ivon


“Ada di tas ranselku Von… kita jalan dan cari bantuan sekarang saja” kata Novi

__ADS_1


“Eh mas Bondet ikut kami kalau mas Bodet mau, Ivon ada satu jaket parasut yang bisa mas Bondet pakai” kata Ivon kepada Bondet”


“Tenang aja Von, aku juga bawa jaket kesayangan juga kok.. Kamu simpan saja jaket kamu Von… nanti pasti ada yang memerlukanya” jawab Bondet


“Nov, Von… kita semua saja yang turun, yang gak mau turun dan gak mau jalan silahkan tunggu di mobil”


“Mas Wildan gak masalah memangnya?” tanya Novi


“Nggak lah Nov… ayo siapa lagi yang mau ikut?”


“Aku Wil” kata Tifano yang kemudian memakai jaketnya


“Aku juga lah” Kata Broni yang agak ragu


“Gilank tinggal berarti?”


“Iyooo aku di mobil ae Wil.. nanti nek udah ada bantuan, jemputen aku huuaaammhhh” kata Gilank dengan santainya


“Sorry lank.. Kamu gak ikut ya gak masalah, kamu hilang ya gak ada yang nyari kan… malah beban keluargamu berkurang hihihi” kata Tifano


“Yanc***k badjingan!... Sik rek.. Aku ambil tas ranselku dulu.”


Kami  berjalan beriringan menyusuri jalan setapak, paling depan adalah Ivon,  Bondet, Novi, Aku, Tifano, Broni, dan yang paling belakang Gilank.


Ivon bener-bener pemberani, dengan tangan kanan memegang senter police yang cahayanya luar biasa terang itu dia melangkah dengan hati hati.


Kabut tipis masih membayangi jalan setapak yang kami lalui.. Seakan akan kabut itu adalah tanda bahwa kami ada di daerah yang seharusnya tidak kami datangi.


Broni memang anjeng kok, dia gak bilang mau ke daerah pegunungan, aku pikir pegunungan yang kayak di daerah tretes atau prigen gitu… dia gak bilang di daerah dingin kayak gini yang udara dinginnya gak ngotak blas…


Untung waktu akan berangkat aku sudah persiapkan jaket dan kaos tebal yang akan berguna, dan ternyata benar, disini hawanya bener-bener dingin.


Aku nggak tau gimana keadaan Gilank yang tanpa jaket dan hanya memakai celana tiga perempat itu hihihi, pokoknya dalam situasi begini harus saling  menjaga diri sendiri.


Padahal sebelumnya Broni sudah bilang bawa mantel atau jaket, karena kita akan ke daerah yang berhawa dingin, tapi ternyata Gilang nggak bawa jaket juga.


“Rek… kita masih jauhkah” teriak Gilank dari belakang


“Nggak tau Lank.. harusnya kamu tanya ke Broni ae lho sebagai panitia perjalanan taik ini” sahut Tifano


“Bron… ojok meneng ae rek ( jangan diam saja  rek) jawaben,... ini masih jauh opo gak?” teriak Gilang yang ada di belakang Broni


“C*k Lank… kupingku gak budeg goblok! ( telingaku nggak tuli), gak usah teriak teriak asyu!” jawab Broni


“Ya jawaben Bron… ini masih jauh apa gak?”


“Gak c*k.. Bentar lagi juga sampai c*K” jawab Broni


“Sampai di akhirat yo Bron!” jawab Tifano


“Ndasmu  C*k!” teriak Broni

__ADS_1


“Pokoknya disana akan ada desa yang diceritakan sama orang yang ketemu sama aku c*k.. Jadi gak usah tokak takok (tanya tanya) ae c*k” lanjut Broni


__ADS_2