
Aku tau apa yang dimaksud Tifano, tapi aku gak mau bikin khawatir, aku hanya diam dan tidak jawab apa yang dibicarakan Tifano.
Gilank… dia sih gak peduli, semua yang aneh dan tidak nyata bagi aku, sepertinya tidak berlaku bagi Gilank, buktinya dia dengan santainya mandi dan melakukan aktifitas colay di kamar mandi itu
“Nanti jangan bahas masalah ini Tif” bisikku kepada TIfano setelah kami ada di depan rumah
“Tapi Wil…”
“Sudahlah Tif, nanti kita pikir lagi apa yang akan kita lakukan”
Gilank sudah masuk rumah dalam keadaan hanya memakai celana pendek saja, aneh juga dia gak merasa kedinginan sama sekali.
Pintu rumah sudah aku tutup dan aku kunci, teman-temanku lainya sedang menatap heran kepada Gilank.
“Koen adus kramas Lank? ( kamu mandi keramas Lank?)” tanya Bondet
“Iyo lah Ndet… wong disediani ( disediakan) shampoo dan sabun kok.. Mosok gak digunakan, tadi sekalian aku colay Ndet hahahahah”
“Janc*k Lank… ojok cari perkara nang kene c*k” kata Broni
“Tenang ae Bron, gak ada demit yang wani karo aku ( berani sama aku) hahahahah” balas Gilank kemudian mengenakan kaos lusuhnya yang tadi
“Yah gini rek… anggap saja Gilank sudah wangi, daripada koyok biasanya dia ambune busuk rek, sekarang tidur rek.. Pokoknya gak usah mikir yang aneh-aneh dulu”
Novi dan Ivon masuk ke kamar yang ada di depan, Broni, Bondet dan Gilank ada di kamar sebelah kamar Novi dan Ivon. aku dan Tifano ada di ruang tamu dengan beralaskan tikar.
Suara engsel kedua pintu kamar itu agak berisik, mungkin karena engsel pintu kamar itu sudah lama tidak diberi minyak.
Nggak tau kenapa malam ini aku tidak ingin ada di dalam kamar. Sedangkan Tifano yang dari tadi sudah ketakutan katanya lebih baik ada di ruang tamu bersama aku.
Malam makin larut, kulihat jam tangan sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Dalam keadaan sepi dan hening aku bisa mendengarkan suara rintik gerimis hujan yang mengenai kayu.
Malam ini dingin sekali… mungkin karena turunnya hujan sehingga mengakibatkan suhu udara semakin dingin.
Semakin lama aku semakin ngantuk, dan akhirnya tertidur juga di sebelah Tifano, suara jangkrik dan binatang malam semakin membuat aku cepat tertidur…..
Tapi hanya sebentar, karena ketakutan dan kewaspadaan menyebabkan rasa kantuk ku hilang dengan tiba-tiba.
Tapi tetap kuusahakan untuk menutup mataku.. Siapa tau aku bisa langsung tertidur
*****
“Mas bangun…….”
“Mas Wil..bisa antar Ivon ke kamar mandi mas?”
__ADS_1
Aku mendengar suara Ivon yang membangukan aku, tapi aku terlalu malas untuk membuka mataku… aku sebenarnya tidak benar-benar tidur sih…
“Hmmm..opo Von?”
“Antar Ivon ke kamar mandi mas… Ivon dari tadi udah kebelet, tapi gak berani ke sana sendirian mas”
“Ya wis Ayooo.. Eh tapi Tifano jadinya sendirian Von, sik sebentar aku bangunakan Tifano dulu Von”
“Sssttt gak usah mas, biarkan mas Tifano tidur saja… eh antar Ivonnya berdua aja mas hehehe”
Waduh.. Ada kata-kata berdua aja dan sedikit suara tertawa dari Ivon.. apa dIA pingin di fufufu ya hihihihi. Ah pikiranku gak genah iki hehehe, di daerah gini kok malah kepikiran melakukan fu fu fu sih hehehe.
“Ya wis yuk Von” kugandeng tangan Ivon… kubukan dulu slot kayu dan gembok pintu rumah, kemudian aku nyalakan obor yang tadi sempat dibawa Tifano ketika antar Gilank mandi
“Tanganmu kok adem gini Von hehehe”
“Iya mas, Ivon kedinginan mas… mas Wildan sih gak mau tidur sama Ivon, kalau mas WIldan ada di kamar Ivon..kan Ivon bisa peluk mas WIldan”
“Lha di kamar Ivon kan ada Novi, kan bisa peluk dia aja Von hihihi”
“Ah malas mas…..”
Sunyi sepi dan dingin, ini yang aku rasakan ketika keluar dari rumah untuk mengantar Ivon yang ingin buang air di kamar mandi
Berjalan dengan bergandeng tangan akhirnya sampai juga di depan kamar mandi.
Ivon masuk ke kamar mandi sedangkan aku nunggu di depan pintu… aku tau bahaya juga ke sini dalam keadaan malam-malam gini.
Aku masih berdiri di depan pintu… aku bisa dengan suara gayung dan air yang disiram…
Entah kenapa tiba-tiba bhirahiku muncul… rasanya ingin sekali masuk ke kamar mandi itu bersama Ivon…
“Mas… masuk mas…. Disini gelap mas” tiba-tiba suara Ivon memanggil aku untuk masuk.
Deg deg an… jantung memompa darahku semakin cepat, sekarang sudah tidak ada lagi pikiran-pikiran ketakutan, yang ada hanya pikiran kotor yang tiba-tiba muncul ketika Ivon menyuruhku masuk ke dalam.
“Mas Wil..massuk dong.. Bawa obornya mas Wildan ke sini mas” suara ajakan Ivon semakin membuat aku gelap mata….
Saat ini rasa takut itu sudah hilang sama sekali, yang ada hanya bagaimana dan apa yang akan aku lakukan di dalam. Gaya apa dan bagaimana cara agar aku bisa memuaskan Ivon heheheh.
“Eh iya Von.. aku masuk ya… eh boleh kan Von”
“Ih pakek tanya lagi mas Wildan ini, dari tadi kan Ivon juga udah suruh mas Wildan untuk masuk ke sini hihihi”
“Eh tapi gak ganggu kan Von..”
“Cepet ah mas… Ivon udah bersih nih mas. Tinggal obornya mas Wildan aja yang mau Ivon bersihin” kata Ivon dengan suara pelan dan mendesah
__ADS_1
Pintu kamar mandi dibuka oleh Ivon…
Pikiranku sudah gelap…. Rasa takut sudah hilang sama sekali di otakku, istilah takut sudah tidak ada dalam kamus.
Pintu kamar mandi yang reyot kubuka gak lebar agar aku bisa masuk ke dalamnya….
Yang awalnya gelap sekarang sudah terang…
Owwhh … Ivon sudah melepas kaosnya…
Duuh punya dia kecil dan lucu.. Tapi dari dulu aku memang gak begitu suka dengan phayudara yang besar hihihi.
“V..von kamu kok udah lepas kaos sih.. Eh boleh kan Von?”
“Ih mas.. Kan udah Ivon sediain, masak mau dianggurin sih mas.. Taruh dulu dong obornya di sana mas, trus tutup pintunya mas hihihi”
“Oh hihi iya Von… eh tapi oborku yang bawah udah nyala kayaknya Von”
“Iya mas.. Yuk cepet mas, Ivon udah gak tahan lagi mas… “ kata Ivon kemudian merangkul aku dan membenamkan wajahku ke phayudaranya yang imut imut menggemaskan.
“Mas.. Ivon..egghh Ivon boleh bersihin obor mas Wildan….. Biar bersih dan mengkilat mas” kata Ivon kemudian mulai jongkok di depanku
Kubiarkan Ivon melakukan apa yang dia maui.. Dia membuka resleting celanaku, kemudian syempaku juga mulai dipelorotkan Ivon…
Perlahan lahan dengan jarinya yang lentik itu mengelus yembutku yang mamang aku biarkan lebat…. Jari tangan lentik milik Ivon kemudian berusaha mengeluarkan senjataku yang aku bangga-banggakan, meskipun kata teman-temanku ukuranya mini.
“Hik.. kecil ya mas hihihi, tapi gak papa kok mas.. Ivon tetap mau bikin mas Wildan klepek-klepek”
Ivon mulai memasukan kuntilaku…
Ssshhhhh kapala dia maju mundur terus dan terus… hingga aku terlena karena rasa enak dari paduan lidah ivon dan dinding dari rongga mulut Ivon.
Apalagi ditambah rasa hangat dari mulut Ivon, semakin aku merem melek, sementara tangan Ivon memegang pangkal kuntila dan telorku…
Aaagghhh aku sudah gak tahan…
“Tahan mas..jangan keluar dhuluuu, kan belum dimasukin ke punya Ivon”
“Thapi akhu udah ghak kuaat Voon aarghhh”
Cairan kental dan hangat akhirnya siap keluar juga dari dalam tubuhku… dengan cepat Ivon memaju mundurkan kepalanya…
Dan akhirnya muntahlah apa yang dinamakan kenikmatan abadi…. Ivon dengan rakusnya menelan cairan yang keluar dari tubuhku hingga tidak tersisa sama sekali.
Entah rasa paling enak apa yang saat ini aku rasakan, pokoknya apa yang dilakukan Ivon sangat luar biasa….hingga kemudian aku tersandar di dinding, dan perlahan lahan aku duduk di lantai kamar mandi.
Rasa nyaman dan kenikmatan yang luar biasa ini menyebabkan aku ngantuk.. Dan ngantuk sekali….
__ADS_1
*****
“WIIL BANGUN WILL……NGAPAIN KAMU ADA DI DALAM KAMAR MANDI DALAM KEADAAN SETENGAH TELANJANG!” teriak suara yang aku kenal