
Kulihat Novi hanya diam saja sambil melirik ke aku, aku tau dia pasti juga ragu dengan ajakan pak Kus, tetapi aku juga ragu dengan ketiga temanku itu.
“Ayo mas Wildan kita habisi mereka, ingat jangan tertipu dengan mereka, mereka itu bukan teman kalian. Saat ini hanya saya, Novi, dan Ivon saja yang bisa kamu percaya” kata pak Kus berusaha meyakinkan aku
“Ya sudak pak Ayo pergi ke sana, eh Nov kamu disini sama Ivon ya” aku agak ragu meninggalkan Novi bersama dengan Ivon
“Mak Kus, Novi iiiikut!” rengek Novi tiba-tiba
“Pak Kuuuuus,... Novi ikuuuuut!” sekali lagi omongan Novi pasti tidak bisa ditolak oleh pak Kus
“Ya sudah, Ivon, dan Novi, ayo sekalian kita pergi dari sini saja” kata pak Kus yang akhirnya meleleh juga kena rengekan Novi
Setelah melompati jendela, kami berjalan menuju ke rumah tiga teman kami yang sebenarnya menyuruh kami untuk tetap tinggal di rumah.
Sangat dingin, kabut tipis yang selalu ada disini tidak pernah bisa hilang, suasana desa ini bikin merinding karena gelap, dingin dan berkabut tipis, apalagi saat ini tidak ada satupun orang yang keluar dari rumah.
Pak Kus ada di depan dia seperti seorang pemandu jalan, toleh sana sini dan sesekali berjingkat jingkat jalannya. Novi bersama Ivon, sesekali aku perhatikan wajah Ivon.
Wajah Ivon untuk saat ini terbilang sangat tenang, berbeda dengan ketika siang tadi dan sebelum sebelumnya, yah agak aneh juga kalau diperhatikan.
Akhirnya kami sampai juga di depan rumah tiga orang teman kami, rumah ini gelap, hanya ada api obor di depan rumahnya.
Pak Kus hanya berdiri di depan pagar sambil memperhatikan keadaan sekeliling, karena yang akan dibunuh adalah orang yang cukup disegani disini.
“Mas Wildan, sepertinya rumah ini kosong, sekarang mas Wildan masuk dan bunuh mereka”
__ADS_1
“Bagaimana pak Kus tau kalau rumah ini kosong pak?”
“Tidak tau hehehe hanya insting saja mas hehehe”
Oooh gendeng, karepe aku disuruh masuk ke sana terus bunuh temanku, sementar itu Kus ada di luar dengan santainya, pancen asu kok wong iku!
“Nggak pak, kalau hanya insting, saya juga punya insting yang lebih ruwet pak!”
“Ya sudah, gini saja mas Wildan, saya lihat dulu sekeliling, kemudian mas Wildan masuk dan cekik semua sampai mati”
“Waduh pak idemu gak masuk akal blas pak, yang ngajak ke ini kan sampean pak, ya sampeyan yang harusnya ke sana pak”
Ketika aku sedang ribut sama Kus, nggak sengaja aku lihat di sebelah samping rumah ada si Tifano, dia kayaknya sedang memanggil Novi untuk datang, tapi Novi nggak lihat si Tifano yang ada di pinggir samping rumah itu.
Kemudian Tiffano melambaikan tangan ke arahku, jelas aku nggak mungkin pergi ke arah Tifano, tapi dia kemudian memberi kode agar aku masuk ke dalam rumahnya…
“Ya sudah saya paham mask Wildan, nanti kalau ada apa-apa jangan teriak tolong, tapi mengeong seperi kucing saja, agar penduduk disini tidak bangun. Ingat yang akan kita bunuh ini bukan orang sembarangan mas”
“Mas Wiiiil…Novi ikuuuuuut!” rengek Novi sekali lagi
“Jangan, lebih baik kamu sama pak Kus saja, di dalam belum tentu aman”
“Pokoknya nanti kalian semua saya kabari ketika saya butuh pertolongan”
Aku punya ide sendiri, di dalam nanti pasti ada temanku.
__ADS_1
Pintu rumah sudah kubuka, di dalam sangat gelap, karena tidak ada cahaya sama sekali, baik di ruang tidur atau ruang tamu, aku tau pasti temanku ada di sekitar sini.
Tapi tadi ketika Tifano memberikan kode agar masuk, pasti temanku sudah punya suatu ide sendiri
Perlahan aku masuk ke dalam rumah, aku sudah ada di dalam ruang tamu.
“Tutup pintunya Wil” bisik suara Broni
Aku berbalik arah memandang ke pak Kus, kukasih tanda bahwa aku akan menutup pintu rumah, Pak Kus hanya mengangguk sekali saja.
Pintu sudah aku tutup keadaan sangat gelap di dalam sini.
“Kebelakang WIl, ngobrol di kebun belakang aja, disana ada TIfano dan Bondet juga” Broni menghampiri aku dan mengajak ke arah belakang rumah
Di kebun belakang tidak jauh dari pintu bagian belakang rumah.
“Jancuk Wil, setahun kami nunggu awakmu dan Novi. Aku yakin awakmu masih hidup, hanya Gilank aja yang sudah gak bisa ditolong” kata Broni
“Sekarang kalian ada rencana apa rek?”
“Jebak Kusno dan Ivon masuk kesini, nanti awakmu dan Novi lari ke sini ketika aku pura-pura mati dan Tifano teriak agar penduduk sini keluar semua”
“Aku, Tifano, Bondet iku wis koyok wong suci disini Wil hahahaha, jadi pasti penduduk sini nggak terima nek aku mau dibunuh Kusno”
“Sekarang awakmu balik ke ruang tamu, panggil mereka masuk, kamu pura-pura ae bisa taklukan aku Wil, TIfano dan Bondet ke depan dan siap untuk teriak”
__ADS_1
“Nek wis Kusno dan Ivon masuk , awakmu dan Novi lari ke belakang sini”
“Setelah itu tunggu penduduk sini sampek rame dulu, baru kita kabur sama-sama”