
Ada yang aneh, kenapa di rumah ini banyak pakaian bekas, pakaian bekas yang sangat banyak hingga menggunung sekitar dua meteran.
Selain itu ada juga tumpukan rambut yang banyak.. Rambut yang dipotong dari kepala manusia… dan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Ivon tidak komentar atas tumpukan rambut, dia hanya diam dan menatap saja. Aku yakin Ivon sedang memikirkan sesuatu dengan yang ada di depan kita ini.
“Nov… kamu yakin ini semua rambut asli?” tanya Ivon
“Ya iyalah Von… tiap hari kan aku selalu urusin soal rambut dan makeup… meskipun rambut yang disini itu kotor dan berdebut, tapi Novi yakin ini adalah rambut asli” kata Novi sambil memegang rambut yang berserakan
“Kalau ini asli, lalu rambut sebanyak ini dan pakaian sebanyak ini untuk apa?” gumam Ivon
“Sudahlah rek, ndak usah banyak mikir rek… sebaiknya kita istirahat saja”
“Dan coba kita cari di dalam rumah ini siapa tau ada umbi umbian yang bisa dimakan.. Siapa tau pemilik rumah ini menyimpan umbi umbian atau beras yang atau apa gitu yang bisa dimakan, meskipun jelas itu mustahil disini”
Di luar hujan masiih rintik rintik dan kadang menjadi deras sehingga asap dari tungku api yang seharusnya keluar melalui sela-sela atap rumah sekarang jadinya berkumpul di dalam rumah.
Dan tentu saja asap yang terjebak di dalam rumah ini menyebabkan kita yang ada di dalam rumah ini batuk dan sesak nafas.
“Wil buka saja pintu dan jendela rumah ini.. Asapnya biar keluar semua” kata Tifano
“Iya Tif.. Ayo rek bantu aku membuka jendela”
Bondet membuka pintu rumah, aku dan Tifano berusaha membuka jendela rumah yang kayaknya sudah lama tidak pernah dibuka, karena sulit sekali dibuka..
“Rek jendela ini gak bisa dibuka” kata Tifano
“Iya Tif, wis biar aja jangan dibuka, pintu itu saja udah cukup memasukan udara segar dari luar kok”
“Tapi bukan udara segar yang masuk mas Wil hihihi. Yang masuk udara yang dinginnya gak ngotak mas hihihihi” sahut Novi
“Iya Mas Wil… kita harus pilih udara dingin atau kena asap disini” tambah Ivon
“Tutup saja pintunya Wil.. asap ini kan juga bisa keluar dari sela-sela atap rumah.. Dan hanya sedikit yang terjebak di dalam, jadi tutup saja pintunya, daripada kita kedinginan di sini” kata Bondet
Pintu kami tutup lagi, udara dingin yang tadi masuk berangsung angsur mulai normal dengan adanya api yang berasal dari tungku pembakaran..
“Rek, disana kan ada panci untuk masak… kita ambil air hujan kemudian kita rebus untuk bikin air minum rek… persediaan air minum kita tinggal sedikit ini rek” kata Bondet yang mengeluarkan botol besar air mineral dari dalam tas ranselnya
__ADS_1
Memang disini ada panci dan alat masak yang tergeletak di lantai tanah, tapi keadaan alat masak itu kotor, dan seperti ada bercak-bercak atau bekas masakan yang tidak dicuci… dan setelah aku cium baunya itu kayak agak busuk.. Bau bekas masakan yang tidak dicuci.
“Ndet.. coba kamu kesini… coba kamu cium panci ini Ndet.. kayaknya ini bekas masakan ya?”
“Hmm Iya Wil… ini bau busuk bekas seseorang yang masak menggunakan panci ini, dan kalau dilihat dari bau busuknya, mungkin ini belum lama Wil…”
“Eh tapi kan rumah ini kayaknya sudah lama tidak ditempati Ndet”
“Iya Wil.. itu juga tadi yang aku pikirkan, ketika masuk ke rumah ini pertama kali.. Tapi kalau lihat bekas-bekas di panci dan bau busuk yang berasal dari bekas masakan, berarti ada orang yang belum lama ada disini Wil”
“Sudahlah Ndet, gak usah bikin air minum, nanti kita cari sumber air yang airnya bisa kita pakai minum… untuk sementara kita cukup istirahat disini dan menunggu hingga hujan reda besok paginya”
Novi, Ivon, dan Tifano hanya duduk di lantai yang beralaskan pakaian bekas, mereka tidak ikut melihat panci dan peralatan masak lain yang tergeletak…
Aku tau, sebenarnya ada yang tidak beres disini, hanya saja aku sampai detik ini belum tau apa yang tidak beres itu.
Ada tumpukan rambut, dan ada juga tumpukan pakaian, dan ada juga alat masak yang ada bekas masakan yang sudah busuk… padahal rumah ini sudah lama tidak dihuni.
“Wil… tadinya aku gak takut, waktu aku tau bahwa Sapudi, beserta istrinya dan temanya itu gak nyata aku gak takut, karena kita pernah mengalami yang lebih dari ini Wil” kata Tifano
“Setelah Gilank hilang dan sekarang Broni juga hilang aku juga nggak seberapa takut Wil.. aku anggap mereka mungkin sedang disembunyikan mahluk halus disini…tapi Wil..”
“Aku takut kita bukan berhubungan dengan makhluk halus tak kasat mata… tapi kita berhubungan dengan sesuatu yang nyata dan mengerikan Wil” kata Tifano
“Iya Tif… aku juga paham… makanya pagi besok kita pergi dari sini.. Kita cari bala bantuan atau sesepuh yang mungkin ada di desa sebelah
Semakin malam teman-temanku sudah tertidur, mereka pasti kecapekan setelah seharian ini berjibaku dengan hal yang aneh di desa yang aku nggak tau apakah ini nyata atau tidak nyata.
Aku.. aku tidak bisa tidur, karena yang aku sedang pikir saat ini adalah sesegera mungkin pergi dari sini.. Tempat ini aneh…
Pak Sapudi, pak Min, dan istri Sapudi.. Mereka tiga orang yang kami temui di desa ini, ketika kami pertama kali menginjakan kaki di desa ini dua hari lalu..
Dua hari lalu malam hari desa ini seperti desa pada umumnya, nyala obor di tiap pagar rumah menandakan desa ini ada penghuninya… tapi sekarang.. Yang kami lihat desa ini seperti desa mati yang ditinggalkan oleh penghuninya!.
Di luar hujan masih turun…kadang deras kadang hanya rintik rintik saja…
Aku duduk sambil bersandar pada dinding rumah sambil mendengarkan suara air hujan yang jatuh dari langit dan mengenai atap rumah dan tanah yang ada di luar..
“Mas Wil..kok gak Tidur?” tanya Novi yang kemudian duduk di sebelahku sambil bersandar pada dinding kayu rumah
__ADS_1
“Nggak bisa tidur Nov, kamu sendiri kok gak tidur juga?”
“Udah gak ngantuk mas.. Perut Novi lapar mas hihihihi” kata laki-laki berkumis, berjenggot, tetapi gerakan tubuhnya lemah lembut seperti perempuan
“Mas Wil… kenapa sih kalau anak-anak Sutopo pada ngumpul selalu ada kejadian yang aneh aneh gini?”
“Hehehe ya nggak juga lah Nov, hanya kebetulan saja kan kita kayak gini”
Sejenak kemudian aku dan Novi diam… karena aku mendengar suara lain selain suara air hujan.
Novi pun sepertinya juga mendengar apa yang aku juga dengar… dia memiringkan kepalanya dan mungkin berusaha mendengar apa yang ada di luar sana.
Kemudian Novi memandangku dengan raut wajah yang sedang berpikir dan meminta pendapatku tentang apa yang ada di luar sana.
Aku tidak menjawab pertanyaan dari wajah Novi yang meminta jawabanku, karena saat ini aku juga sedang berpikir tentang apa yang ada di luar sana.
Selain suara rintik hujan… aku juga mendengar suara langkah kaki… tetapi bukan langkah kaki satu orang, melainkan suara langkah kaki banyak orang.
Suara orang yang sedang jalan itu sepertinya mengarah ke arah desa, suara banyak orang yang berjalan beramai-ramai dari arah jembatan menuju ke arah desa dan melewati rumah yang sekarang kami tempati
“Mas Wil…” Bisik Novi sambil memegang pergelangan tanganku
“Hussshhh.. ndak usah pakek pegang-pegangan tangan opoko Nov” bisikku
“Ih.. dulu mas Wil suka Novi pegang…..huuuh” balas Novi sambil berbisik lagi
“Dulu kamu cantik, rambutmu panjang.. Dulu kamu mirip sekali perempuan.. Tapi sekarang kamu mirip preman bantji!”
“Sssttt brisik mas” balas Novi
Suara banyak langkah kaki yang berjalan yang tersamarkan oleh suara air hujan semakin jelas… karena kini hujan sudah tinggal rintik rintik saja.
Ivon yang tadi nya tidur di sebelah Bondet, sekarang bangun dan terduduk… dia juga memiringkan sedikit kepalanya karena pasti sedang berusaha memisahkan antara suara langkah kaki dan suara air hujan.
“Mas Wil.. ayoo kita intip mas… Ivon penasaran dengan suara ini” bisik Ivon yang mendekati kami
“Jangan Von.. kita ndak tau apakah suara yang kita dengar ini benar-benar suara manusia atau bukan”
“Iya mas Wil.. tapi Ivon penasaran mas”
__ADS_1
“Ya sudah.. Coba kamu buka sedikit pintu rumah ini….” suruhku sambil berbisik