
Gilank akhirnya sudah kami temukan, dan kami bersama-sama sudah ada di rumah milik pak Dikan tempat kami tinggal.
“Lank, gimana caranya kamu bisa kesini?” tanya Bondet
“Rek, gak usah tanya gimana caranya aku kesini. Penuh perjuangan C*k!”
“Sakjane datang ke sini itu mudah, tapi kita gak akan bisa keluar dari sini!, aku mengorbankan diri masuk kesini karena untuk memberitahu bahwa kalian dalam bahaya” kata Gilank
“Opo ae Lang, gak bisa keluar dari sini gimana? hehehe”
“Iya Wil… siapapun yang sudah melewati jembatan yang ada disana itu, tidak akan bisa keluar dari sini… “
Hmm berarti ojek yang aku tumpangi itu sudah tau bahwa tidak ada yang bisa keluar dari sini, makanya dia tidak mau mengantar kita sampai ke desa ini, mereka menurunkan kami sebelum jembatan.
Tapi kenapa dia gak beritahu kami bahwa desa ini bahaya….
“Lang ceritakan… gimana dan apa yang kamu lakukan hingga sampai ke sini” kata Tifano
“Waktu itu aku kan ditinggal Ivon dan Wildan… “
“yah kebetulan aku waktu itu kan ngantuk rek, aku tidur di bawah pohon yang tidak terlihat dari jalan, tak pikir nanti aku bisa ke sini dengan sendirinya kan” jawab Gilank
“Bangun bangun sudah siang… aku balik ke pasar, cari ojek yang bisa anter kesini. Tapi gak ada ojek yang mau antar ke sini rek”
“Kata ojek pasar, mereka gak akan mau melintasi hutan setelah siang hari, karena kabut itu menyesatkan.. Mereka mau antar pagi hari saja, itupun mereka gak mau antar ke desa, mereka hanya mau antar sampai ke jembatan itu aja rek”
“Aku bingung rek, harus ngapain dan tidur dimana, opo maneh di wilayah ini kan dingin udarane rek, terus aku kembali ke rumah teman Broni, kebetulan penjaganya ada di depan rumah”
“Aku jelaskan kalau aku ketinggalan, dan aku ijin nginap sehari disini, karena besok paginya aku mau ke sini”
“Kalian tau jawaban penjaga rumah itu…. Mas lebih baik kamu pulang ke kotamu, atau cari bantuan untuk mencari temanmu yang ke sana mumpung belum terlambat”
“Karena pendatang yang ke sana tidak akan bisa keluar dari sana, mereka akan hilang. Sudah banyak kejadian seperti ini mas, dan pihak yang berwajib juga pernah ke sana dan tidak ada yang kembali lagi….”
__ADS_1
“Sebenarnya ada sih mas…..orang yang mengaku pernah pernah tinggal di sana, tapi orang itu jadi gak waras… orang itu gila setelah selamat dari sana”
“Omongan penjaga rumah itu awalnya aku anggap angin lalu rek, malamnya aku ke pasar untuk cari makan rek… untungnya daerah itu nek malam banyak orang jualan makanan, dan hargane murah-murah rek”
“Malam itu aku makan di warung.. Waktu itu warung keadaanya sepi, cuma ada dua orang yang makan selain aku rek”
“Ketika dua orang yang makan itu pergi, pemilik warung… seorang ibu-ibu yang sudah tua itu tanya ke aku. Asalku dari mana, tujuanku ngapain disini, dan menginap dimana”
“Ya tak jelasin semua apa tujuan kita dan pemilik warung itu kaget…”
“Kemudian dia bilang, jangan ke sana, karena yang ke sana tidak akan kembali lagi, kalau bisa kembali pun mereka akan gila..”
“Desa ini dijuluki lembah mayit….”
“Waktu aku tanya kenapa disebut lembah mayit, ibu-ibu pemilik warung itu hanya bisa jawab karena dulu di hutan sebelum sungai selalu ditemukan mayat ketika kabut datang… entah itu mayat dari mana, pokoknya ada saja mayat yang muncul disana”
“Dan mayat-mayat itu dibawa ke desa ini, katanya dikubur disini, gak ada yang tau juga, karena gak ada yang berani kesini”
“Iya Wil.. katanya penduduk sini juga kadang kesini untuk membeli kebutuhan rumah saja… “
“Dan kata ibu pemilik warung.. Penduduk sini itu aneh, dia tidak pernah bicara dan tidak menggunakan uang kalau membeli sesuatu, dia hanya menukar dengan kentang yang ukurannya besar dan rasanya agak manis dibandingkan kentang yang dari tempat lainnya”
“Maksudnya barter gitu ta Lank” potong Broni
“Iya Bron, jadi selain barter kebutuhan pokok, mereka juga menjual kentang hasil panennya di pasar. Dan kentang hasil panen penduduk disini itu terkenal kentang paling enak, besar dan manis”
“Jadi mereka kalau ke pasar itu hanya beli kebutuhan pokok saja.. Gitu? Mereka tidak belanja bahan makanan atau lainya?”
“Kayaknya nggak Bron, soalnya ibu itu bilang kalau penduduk disini itu hanya belanja kebutuhan pokok saja, bukan belanja bahan makanan”
“Lha terus selama kita disini tiap hari makan daging empal yang berlemak yang ukurane gak aturan itu beli di mana mereka?” tambah Tifano
“Ya mbuh Tif.. pokoke ibu pemilik warung itu ngomong gitu” jawab Gilank
__ADS_1
“Sik rek…ojok mbok potong dulu ceritaku c*k!” kata Gilank
“Aku terus tanya ke ibu itu.. Kok ojek ada yang mau antar penduduk disini? Jawaban ibuke…katanya tiap ojek yang antar penduduk sini pasti akan mendapat keberuntungan, dan ojek-ojek itu gak pernah minta uang ke penduduk sini”
“Dan mereka mau antar hanya pagi menjelang siang saja, selepas siang hari mereka gak akan mau antar kesini, katanya nek siang kan ada kabut, kabut yang mengerikan dan menyesatkan”
“Lha kamu kok bisa sampai sini dengan santai…malam-malam sisan Lank” tanya Broni
“Ndasmu dengan santai Bron….”
“Paginya waktu aku mau kesini gak ada ojek sama sekali di pasar, ketoke mereka sedang antar penumpang yang berlangganan”
“Setelah aku tunggu sampek jam 10 belum ada juga yang mau antar aku, karena mereka hanya mau antar langganan mereka, akhire aku budal kesini jalan kaki c*k”
“Siang hari aku sampek di tengah hutan… “
“C*k awakmu kok wani budal dewe Lank?” potong Tifano
“C*k menengo disik ta c*k ( diem dulu ta)” Sahut Gilank
“Aku jalan kaki.. Sampek hutan siang hari, bener kata orang-orang, siang hari kabut di hutan mulai muncul, tapi aku gak wedi blas rek.. Mosok Gilank takut sama demit, ya haruse demit yang takut sama aku c*k”
“Hutan itu aneh c*k, siang hari berkabut, kabute gelap dan tebal… aku akhire diam dan duduk di bawah pohon, timbang kesasar (tersesat) mending aku diem ae dulu di bawah pohon”
“Waktu aku lagi duduk itu dari jauh aku liat banyak orang.. Banyak orang seperti sedang jalan mondar mandir gak tentu arah. Tapi kayaknya bukan orang, mungkin hanya bayangan pohon yang ada disana rek”
“Aku yakin itu bukan orang, itu bayangan pohon rek… aku duduk terus di bawah pohon tanpa bergerak satu sentipun.. Aku hafal bentuk pohon tempat aku sedang duduk santai.
“Suhu udara makin adem rek… akhire aku ngantuk dan tidur di bawah pohon itu…”
“Tapi gak lama.. Aku bangun waktu ada batang pohon jatuh kena kepalaku”
“Waktu aku bangun, ternyata aku ada di pohon yang lain, bukan pohon yang aku duduki sebelumnya rek”
__ADS_1