
Aku hanya bisa melirik saja, aku yakin sekali kalau celana tiga perempat itu seperti yang biasanya dipakai Gilank., tapi masak iya sih itu punya Gilangk.
Orang yang sedang memikul hasil bumi itu berjalan semakin menjauh dari posisi kami berempat…
“Ada apa nak Wildan, kok memperhatikan si Kimpet itu terus?”
“Eh nama orang itu Kimpet pak?” jelas saja aku heran kenapa bisa nama orang itu Kimpet
“Penduduk disini memanggil Kimpet, karena dia agak aneh, dia suka menghilang, tapi tiba-tiba muncul sendiri, dia suka sembunyi..suka ngumpet lah” jawab pak Sokran
“Oh gitu pak, jadi asal kata dari Kimpet itu adalah ngumpet, sesuatu yang letaknya ngumpet gitu pak?”
“Betul nak Wildan…. Ayo kita jalan terus” ajak pak Sokran
Janc*k namanya Kimpet.. Dasar asyu!
Kami jalan terus, dan aku tau kita akan menuju ke tempat yang mirip dengan lapangan yang ditengahnya ada tumpukan batu yang aneh, dimana tempat ini dulunya aku lihat banyak berserakan mayat.
Semakin dekat kami dengan tempat itu, ternyata apa yang aku pikirkan sebelumnya salah, tempat ini bukan lapangan yang dikeramatkan dan di tengahnya ada batunya…
“Disinilah tempat kami melakukan jual beli nak.. Istilahnya pasar lokal, disini juga dijual hasil kebun yang tidak akan dipasarkan di luar desa”
“Disini juga kami berbelanja kebutuhan pangan kami selain di pasar yang ada di kota sana”
“Itu disana ada warung yang merupakan andalan tempat ini nak, ayo kita sarapan disana saja” ajak pak Sokran
Novi hanya melihatku saja ketika tau tempat yang dulunya adalah sebuah lapangan yang keramat, sekarang sudah ramai dengan penduduk yang sedang berdagang kebutuhan pangan.
Memang di tengah lapangan itu masih ada tumpukan batu, tetapi tumpukan batu itu kayaknya tidak dianggap keramat, karena di sekitar tumpukan batu ditumpuk aneka sayuran dan daging.
Ya.. daging! Disini banyak sekali daging.. Daging yang merah kehitaman dan berlemak.
Tidak ada ikan, hanya daging, sayuran dan umbi umbian yang ukuranya besar.
Pembeli yang merupakan penduduk disini kayaknya sangat menyukai daging, mereka berebut membeli daging yang sebagian tampak tidak segar, karena warnanya kehitaman.
Kini kualihkan pandanganku ke warung yang ada di depan kami, warung kecil dengan pembeli yang berjubel..
“Kalian tunggu saja di depan warung, biar saya dan istri saya yang masuk untuk memesankan makanan untuk kalian” kata pak Sokran
“Apabila nanti ada yang tanya kalian ini siapa, bilang saja kalian bersama pak Sokran dan istrinya, setelah itu diam dan jangan menjawab pertanyaan mereka nak… paham ya nak Wildan”
“Harap diingat nak… kalian aman bersama saya dan istri saya, tetapi kalian akan tidak aman kalau berjalan sendiri disini” kata pak Sokran dengan nada yang agak mengancam
__ADS_1
“Iya pak.. Kami tunggu disini”
Pak Sokran dan istrinya masuk berdesak desakan ke dalam warung kecil….
Aku gak mau bermasalah dengan penduduk disini dulu, pikiranku sedang kacau dengan kimpet yang memakai celana Gilank.
Apakah Gilank dan Bondet pernah ada disini, tapi kenapa celana dia dipakai oleh orang yang bernama Kimpet itu.
Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan kedua temanku itu,... atau embuhlah… pikiranku penuh dengan perkiraan-perkiraan yang tidak pasti.
Tetapi yang pasti, aku harus menemui Kimpet, aku harus bicara dengan dia, bagaimana dia bisa memakai celana Gilank.
Ketika kami sedang melihat sekeliling, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu tua atau nenek-nenek dengan rambut putih awut awutan dan bibir merah darah yang mungkin akibat nginang, dia mendekati kami.
Dia menyeringai dan melihat aku dan Novi, cara dia melihat kami berdua seperti sedang menilai kami.
Perempuan mengerikan itu terus menerus melihat kami dari ujung rambut hingga ke ujung kaki…
“HEEERRKKKSS…HAAAAAH….. KAMU MILIK SIAPA!” teriaknya tiba-tiba
Aku kaget dengan suara perempuan yang lebih mirip suara nenek sihir di film film kolosal…. Suara dia begitu keras tajam memekakan telinga.
Belum sempat aku dan Novi menjawab, tiba-tiba pak Sokran datang dan mengusir nenek nenek mengerikan itu.
“HHHSSSSSSS… HAAAH!... MEREKA AKAN JADI MILIKKU! HAAAH!” teriak perempuan itu kemudian berdiri dan pergi menjauh
“S..siapa dia pak”
“Dia mbah Ewwe’ nak Wildan” jawab pak Sokran
“Mbah Ewwe’ itu tidak normal.. Dia gila sejak lahir, kata orang sini dia lahir dari lubang dhubur, bukan dari lubang yang semestinya” lanjut pak Sokran lagi
“Ayo kita cari tempat yang enak untuk sarapan, eh disana sana di pinggir sendang Ningrum, sebuah telaga kecil yang indah nak” ajak pak Sokran
Janc*k.. Tadi namanya Kimpet, sekarang ada lagi yang bernama mbah Ewwe’... gak genah orang sini kalau ngasih nama, apa gak ada nama lain yang lebih baik heheheh.
Kami berempat menuju ke sendang ningrum, sendang yang kata pak Dikan sangat keramat dan tidak ada yang boleh masuk ke sana tanpa ditemani oleh pak dikan sendiri.
Sebenarnya aneh juga dengan Sokran dan istrinya, mereka terlalu baik dan terlalu perhatian dengan aku dan Novi, sampai mereka mengajak kita rekreasi ke tempat yang ada disini, juga mereka membawakan makanan untuk kita juga.
“Nah di depan itu nanti ada jalan setapak, tidak jauh dari sana ada telaga kecil yang disenangi penduduk disini untuk berenang atau sekedar rekreasi” kata pak Sokran yang menunjuk ke arah jalan setapak yang ada di depan kami.
“Apakah tidak papa ke sana pak, apakah aman saja kita ke sana?”
__ADS_1
“Kok kalian takut? Tidak ada apa-apa disana, kami penduduk disini sering kesini. Saya dan istri saya kan kepinging menunjukan kepada kalian tempat yang indah dan makanan khas disini… yuk kita ke sana”
Aku merasa aneh, aku tidak tau aku sekarang ada di mana atau di masa apa, tapi yang jelas semua makin nggak normal, Novi dari tadi hanya diam dan memegang tanganku saja, dia tidak berkata sama sekali.
“Mas… jangan ke sana” bisik Novi
“Ada apa nak Novi” tanya pak Sokran sambil menoleh ke arah Novi dengan tiba-tiba
“Tenang saja…. Disana tidak ada apa-apa, coba kalian dengar suara air yang berkecipak dan teriakan anak-anak yang sedang mandi disana hehehe…. Ayo kita ke sana, keburu sore lho ya” kata pak Sokran lagi
Novi langsung terdiam begitu pak Sokran menjawab keraguan Novi untuk masuk ke area telaga yang kata pak Dikan adalah area yang sangat terlarang bagi kami.
Setelah lengan Novi setengah aku tarik, akhirnya dia mau juga masuk ke dalam area telaga yang katanya mengerikan.
Kami langkahkan kaki ke jalan setapak yang menuju ke sendang Ningrum….. Ternyata benar kata pak Sokran, di dalam area sendang banyak kecil dan remaja yang sedang mandi..
Air sendang yang bagian pinggirnya sangat bening berwarna kehijauan itu menunjukan bagian dasarnya yang dangkal. Tetapi tidak bagian agak ketengah hingga tengahnya… disana warna airnya biru tua kehitaman!
“Hehehe indah bukan nak Wildan dan nak Novi” kata pak Sokran kemudian mencari tempat untuk duduk
“Disana saja pak, dibawah pohon itu” kata istri pak Sokran
Tempat yang ditunjuk istri pak Sakran memang rindang, karena ada di bawah payungan ranting dan daun pohon yang sangat besar, tempat itu bersih dan agak sepi dari pada tempat lain yang ramai dengan remaja dan anak-anak.
“Nah, sekarang mari kita sarapan plus makan siang yang kesorean heheheh” kata pak Sokran kemudian membagikan nasi yang tadi di beli di warung yang dibungkus dengan menggunakan daun jati”
“Mari silahkan dimakan”
Sebenarnya aku agak ragu juga menerima pemberian makanan dari pak Sokran, bungkusan makanan yang dibungkus dengan daun jati ini kalau aku pegang kayak kenyal-kenyal gitu.
Mungkin kayak agar-agar, tetapi jauh lebih keras. Dan baunya agak menyengat gitu… tetapi aku masih belum tau bau menyengat ini berasal dari makanan atau dari sekitar sini
“Ayo dibuka nak…. Itu isinya makanan kok, jangan takut” paksa pak Sokran
“I..iya pak”
Kubuka bungkusan daun jati yang agak lembek namun keras dengan perlahan lahan, sementara itu Novi hanya melihat apa yang sedang aku lakukan.
Bau menyengat semakin tajam ketika aku buka satu persatu daun jati yang membungkus makanan yang diberikan oleh pak Sokran.
Tetapi ketika sudah terbuka semua…. Bau sedap, wangi rempah dan bau yang menggiurkan untuk sebuah masakan tercium di hidungku.
Yang terbungkus daun jati adalah sebongkah daging berlemak dengan kuah kuning yang nyemek-nyemek, bau gurih dari sebongkah daging masak kuning itu benar-benar membuat aku harus mencicipi makanan ini.
__ADS_1