TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 114. WARNO


__ADS_3

“DIAM KALIAN!” bentak pak Kusno


“Kalian tidak perlu mencari suara itu berasal dari mana, karena suara seperti ini bisa ada dimana-mana”


“Ingat, kalian bukan ada di dunia normal, saat ini kita harus memburu atau diburu. Tujuan kita bukan mencari teman kalian, karena teman kalian akan datang dengan sendirinya ketika semua dimensi kita lalui!”


“Lambah mayit bukan sembarangan, harus penuh konsentrasi. Ayo sekarang kita ke telaga sana, saya yakin disana ada yang bisa kit bunuh juga!”


Benar apa yang dikatakan pak Kus, tiba-tiba suara panggilan itu hilang dengan sendirinya, kami masih ada di sebelah lapangan yang ternyata adalah lubang besar yang berisi  mayat yang membusuk, serta cairan tubuh.


Pak Kus mengajak kami menuju ke arah telaga yang risk jauh dari sini, aku lupa apa nama telaga itu, tapi yang jelas aku pernah lihat si Kimpet mencuci bagian dalam manusia untuk dijual di pasar.


“Sekali lagi saya peringatkan kepada kalian, apa yang nanti kalian lihat disana apakah itu teman kalian atau bisa siapa saja harus kita bunuh, jangan pedulikan siapapun itu!”


Kami berjalan lagi ke arah telaga, dan anehnya sekarang aku merasa bahwa di sini banyak yang sedang melihat kami, seperti ada yang sedang mengintai kami yang sedang jalan menuju ke arah telaga.


“Jangan  menoleh ke manapun, pandangan kedepan” bisik pak Kus


“Banyak yang tidak suka kita ada disini, tapi itu semua tidak ada artinya, karena mereka hanya sejenis nyamuk yang bikin gatal arwah kita saja. Dan itu bukan yang harus kita lawan”


“Disana saya rasa di telaga itu ada yang harus kita temui dan harus kita lawan!”


Jalan setapak yang menuju ke telaga ini sama dengan ketika aku ada disini bersama suami istri Sokran kalau tidak salah namanya. Tapi yang sekarang ini jauh berbeda


Bau busuk, bau bangkai sangat menyengat. Aku yakin disana pasti lebih mengerikan daripada yang tadi.


“Kuatkan mental kalian, karena kalian akan melihat sesuatu yang mengerikan disini”


Jalan setapak ini terus menurun dan akhirnya sampai di tumpukan sesuatu atau apalah itu yang baunya sangat-sangat busuk!

__ADS_1


Di depan kami ada tumpukan menggunung, dan tanah yang aku injak ini ada cairan lengket yang nggilani. Tumpukan itu aku bisa menebak apa itu, tapi aku nggak mau menebak lebih jauh.


“Jangan kaget, itu tumpukan mayat yang entah dari mana datangnya, ketika terakhir saya ada disini tumpukan mayat itu tidak menggunung seperti itu”


“Sepertinya tempat ini adalah tempat pembuangan mayat, otak kita tidak akan bisa mencerna bagaimana mayat-mayat ini bisa sampai disini” kata pak Kus


Kulihat sekeliling, yang ada hanya gundukan mayat, dan aku sudah mulai terbiasa dengan bau busuk ini meskipun paru-paruku rasanya berontak karena udara yang kuhirup adalah udara busuk dari mayat disini.


“Itu disana sepertinya ada sosok yang sedang mengerjakan sesuatu!” tunjuk pak kus jauh di sebelah kiri kami


“Iya pak Kus, seperti ada orang yang jongkok dan sedang memotong-motong sesuatu disana pak” kata Novi


“Kalian di belakang saya saja, dan ingat setelah saya membunuh sosok itu kalian hancurkan dengan batu kepalanya, ingat hancurkan sampai pecah dan otaknya terburai, setelah itu akan saya belah perutnya” bisik pak Kus


Ketika kami berjalan menuju sosok yang sedang jongkok, tiba-tiba sosok itu menghentikan kegiatannya, dan kemudian berdiri. Kuhentikan langkahku, tetapi tidak dengan pak Kus.


Pak Kus makin menambah kecepatan  langkahnya untuk menemui sosok yang sekarang sedang berjalan ke arah kami, ya sosok itu berjalan ke arah kami dengan santainya.


“Kusno…. !”


“Kamu Kusno…ngapain kamu ada disini?” tanya sosok yang ada di depan kami sambil menjilati tangannya yang keliatannya penuh darah


“Kamu datang dari jauh Kusno, apa yang kamu cari sini?”


Pak Kus hanya diam saja, dia tidak menjawab pertanyaan dari sosok yang ada di depanya, aku kira itu pasti teman pak Kus yang tersesat disini.


“Kamu jangan disini Kusno, disini bukan tempatmu, dan kamu bisa mati kalau tetap ada disini, kembalilah ke tempatmu Kusno” sosok itu bicara lagi dengan pak Kusno


“Warno…. Kamu sedang apa disini, kamu apa tidak mau kembali kerja sebagai marketing lagi?” pak Kus mulai menanggapi omongan sosok misterius yang ada di depan kami

__ADS_1


Jarak antara kami dengan sosok misterius itu mungkin sekitar lima sampai tujuh meter, dan aku belum bisa melihat wajahnya, gelap sekali disini karena di atas kami adalah pohon yang rindang.


Kulihat sekilas pak Kus sedang menggenggam erat parangnya, kayaknya dia sedang mempersiapkan diri untuk membunuh sosok yang ada di depannya


“Tidak Kus, tempatku disini, aku sudah gak bisa keluar dari sini. Kamu lebih baik segera pergi dari sini sebelum mereka datang dan…dan membunuh kamu dan temanmu itu”


“Tenang Warno, aku kesini cuma jalan-jalan aja, aku bisa cari jalan pulang dari sini kok, ayo ikut aku balik ke dunia kita aja No”


“Tidak Kus, aku tetap disini, ini sudah duniaku, aku kerasan disini”


Aku nggak paham dengan pak Kus, kenapa dia mengajak sosok yang tidak jelas itu, tapi mungkin ini trik pak Warno atau apalah aku nggak paham.


Sosok yang dipanggil Warno itu maju perlahan-lahan selangkah demi selangkah, dia maju hingga sinar bulan bisa menerangi wajahnya.


Dari langkahnya dia sangat hati-hati mendekati pak Kus dan kami, dia mungkin merasa ada bahaya yang sedang mengancamnya.


Perlahan dia maju dan akhirnya sinar bulan menerangi wajahnya.


“Astaga!” pekik tertahan Ivon dan Novi sambil mundur beberapa langkah


Ya Tuhan… itu bukan manusia… aku nggak tau apa yang ada di depanku, kepala sosok yang dipanggil Warno oleh pak Kus penuh belepotan darah!


Sebagian rambutnya sudah hilang, dan sebagian kulit leher dan wajahnya sudah lepas dan hanya menyisakan bagian dalam dengan warna gelap.


Pak Kus tidak mundur walau selangkahpun, dia tetap berdiri dengan parang ada di tangan kanannya.


“Parang itu Kus… itu parang yang kita beli waktu di kota menuju ke desa ini kan huuuf. Sayangnya punyaku sudah hilang entah dimana, kalau boleh aku mau pinjam Kus”


“Aku kesulitan makan disini. Kukuku tidak seberapa tajam untuk merobek daging yang sudah disediakan disini”

__ADS_1


Sosok itu semakin maju mendekati pak Kus…


__ADS_2