TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 88. INFO TENTANG GILANK


__ADS_3

“Gini aja mas, Novi masuk ke dalam pasar, sedangkan mas Wildan nunggu di depan sini saja”


“Tidak Nov, kita ndak boleh berpisah. Keadaan kita ini sama sekali tidak aman, kita masuk ke dalam saja Nov”


Wuih sampek segitunya Novi berusaha mencari Gilank, padahal dia kan tau beberapa kali kita hampir terkena masalah karena Gilank.


Aku dan Novi mulai masuk pasar yang masih terlihat baru, semua masih tertata dan belum banyak sampah yang berceceran.


Lapak pertama yang kami lewati adalah pedagang kelontong, pokoknya lapak kering penjual sembako dan sejenisnya.  Disini keadaanya masih bersih karena kami masih ada di bagian yang tidak menimbulkan bau.


“Pasar ini luas juga mas, lalu gimana kita harus cari mas Gilank” gumam Novi


“Ya namanya juga pasar Nov, gak ada pasar yang kecil dan sepi, aku kok ragu kalau Gilank ada di sekitar sini Nov”


“Iya mas, gak mungkin di sekitar pedagang kelontong gini, pasti mas Gilank akan diusir mas. Novi rasa mas Gilank ada di sana, di bagian daging dan ikan, kalau disana mas Gilank pasti cocok”


“Sik sebentar Nov, sebelum kita ke sana, coba kita nalar saja, apa yang sedang diperbuat Gilank disana, dan dia sedang apa disana itu”


“Eh iya juga sih mas, dia sedang apa ya kalau disana”


“Atau mas Gilank sedang membantu pedagang yang ada di dalam sana mas?”


“Hahah jelas nggak mungkin Nov, Gilank nggak punya keahlian apa-apa di bidang seperti itu”


“Menurutku apa yang dikatakan pak Keri itu bohong Nov, jelas tidak mungkin GIlank ada disini dan disana…. Kita keluar saja dari sini dan mikir cara untuk mencari teman kita yang lainya saja. Dari pada cari Gilank yang sama sekali nggak jela”


Akhirnya Novi mau juga nuruti omonganku, saat ini aku dan Novi masih di sebatas bagian pedagang kelontong saja. Jadi kami tidak terlalu jauh masuk ke dalam pasar.


Ketika kami akan keluar dari pasar, aku mendadak punya pemikiran lain tentang GIlank


“Nov, sampah pasar ini ada di mana?”


“Waduh Novi bukan DInas kebersihan pasar mas, jadi nggak tau dimana letak sampah pasar ini dikumpulkan, memangnya kenapa mas Wil”


“Tidak tau tiba-tiba tadi aku mikir kalau Gilank pasti ada di sana Nov”


“Ah bisa jadi mas….kayaknya ada di bagian paling belakang pasar mas, disana ada pintu yang mengarah ke sampah pasar. Eh kita lewat luar saja mas”


“Kita ndak usah ke sana Nov, cukup tanya sama petugas kebersihan yang lagi nyapu-nyapu itu aja”

__ADS_1


Tidak jauh dari kami berdiri sekitar sepuluh hingga lima belas meter  ada petugas kebersihan pasar yang sedang menyapu bagian depan pasar, aku yakin mereka pasti tau keadaan tempat penimbunan sampah pasar.


Tanpa mengajak aku, Novi langsung mendatangi petugas yang sedang menyapu itu. Aku nggak ikut Novi, aku hanya lihat dari tempatku berdiri saja.


Aku nggak dengar apa yang sedang dibicarakan Novi dengan petugas kebersihan itu, tetapi yang jelas tangan petugas kebersihan itu menunjuk ke berbagai arah.


Sekali dia menunjuk ke dalam pasar, kemudian dia agak membungkuk dan menunjuk ke arah samping pasar, tapi tidak lama kemudian dia menunjuk ke arah luar, ke arah  kota kayaknya.


Tidak lama kemudian Novi menyudahi bicara dengan petugas kebersihan itu, dia kembali menuju ke arahku


“Gimana Nov?”


“Kata bapak itu, memang tadi pagi waktu dia bersih-bersih pasar, ada gelandangan yang sesuai dengan ciri-irinya mas Gilank”


“Kata bapak itu gelandangan itu tidur di depan salah satu lapak penjual kembang dan alat kematian mas”


“Kok bapak petugas kebersihan itu tau Nov?”


“Iya mas, dia pagi tadi kan bersihkan bagian dalam pasar, karena kalua malam kan banyak orang yang datang membawa dagangannya”


“Nah pemilik kios alat kematian itu datangnya nggak malam hari, dia datang sekitar jam enam kurang gitu katanya”


“Kayaknya sih gitu mas Wil , kalau benar jam segitu kita kan ada di toko pakaian”


“Nah nggak tau gimana pokoknya bapak petugas kebersihan itu menegur gelandangan itu”


“Eh salah mas… eh awalnya gelandangan itu tidur di depan toko sembako… nah waktu itu dini hari kan toko sembako belum buka. Petugas kebersihan menyapu depan toko itu”


“Nah disana ada gelandangan yang sedang tidur mas Wil, kemudian diusir sama petugas kebersihan itu.. Lalu dia pindah ke toko yang menjual alat-alat kematian”


“Sama petugas kebersihan itu dibiarkanlah gelandangan itu tidur disitu hehehe.”


“Nah kemudian ketika pemilik kios alat kematian itu datang, dia minta tolong bapak itu untuk mengusir gelandangan itu mas”


“Trus gelandangan yang kemungkinan mas Gilank itu pindah ke sana, ke arah tumpukan sampah, nah disana kayaknya mas Gilank diusir lagi. Kemudian pergi ke arah kota mas”


“Yakin itu Gilank Nov.. bukan gelandangan atau orang dengan gangguan jiwa?”


“Cir-cirinya sih mirip mas Gilank mas Wil”

__ADS_1


“Hehehe Noviku sayang, semua gelandangan dan orang dengan gangguan jiwa itu mirip sama Gilank, nggak ada bedanya sama Gilank Novi sayaaang”


“Udah ah Nov, kita sekarang nggak usah mikir Gilank, kita pikir saja apa yang akan kita lakukan selanjutnya, apakah kita hubungi  semua teman kita atau bagaimana?”


“Mas WIl, kalau seandainya kita tanya ke teman kita yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita dan teman kita yang hilang gimana mas?”


“Maksudmu gimana Nov?”


“Jadi gini mas, kata pak Tejo yang akan kena musibah kan orang yang dekat dengan kita, atau kerabat kita mas, nah gimana kalau kita hubungi teman kita yang lainnya, dan suruh cek keadaan mas Bron, mas Tif, kalau Ivon nanti Novi pikirkan dulu mas”


“Hmm idemu masuk akal juga Nov… ayo kita ke tempat yang enak, ngapain juga kita ngobrol di pinggir pasar kayak gini Nov”


“Ke mana tempat yang enak itu mas, ke hotel aja yuk mas sekalian ngadem….”


“Yancok… nantik di hotel aku mbok bius Nov, terus aku mbok perkhosa!”


“Ah mas Wildan ini pikirannya kotor terus sih kalau sama Novi, kita ke hotel itu biar tenang kalau berpikir mas, kan adem dan tenang”


“Eh mas Wildan ponselnya hilang kan, terus gimana mau hubungi teman-teman mas Wildan”


“Oh iya c*k…. Waduh.. Eh gini aja Nov, pakai pesbuk ae lah”


“Mas Wildan ingat nama pesbuk dan paswrdnya kan?”


“Ingat Nov… eh tapi…”


“Nggak usah tapi-tapian, disana ada toko ponsel, kita beli tablet bekas yang murah aja mas, nanti kita telusuri teman teman kita”


Siang hari aku nggak merasa ada apa-apa dengan aku dan Novi, setelah dari toko yang menjual ponsel bekas, kami pulang dulu ke rumah Novi kemudian kami menuju ke tengah kota.


Tujuan Novi adalah hotel yang ada di tengah kota, karena kata Novi kita nanti akan ada disana untuk beberapa hari.. Tapi mbuhlah, itu kan usul Novi, dan uang-uang dia yang digunakan.


Siang hari ini dengan menggunakan taksi kami menuju ke hotel yang katanya milik teman Novi, jadi bayarnya cuman separuh harga.


“Kita nanti ke hotel milik teman Novi ya mas, dia baik sama Novi, karena Novi beberapa kali kasih dia orderan apabila ada acara pernikahan, dan kebetulan salon Novi yang urus semuanya, termasuk hotelnya”


“Barusan Novi wa dia mas, dia nggak keberatan kalau kita tinggal disana, dan nanti kita dikasih harga separuh saja… lumayan kan mas Wil”


Iya memang murah dan harusnya aku senang, tapi nggak tau kenapa aku malah waspada. Aku kan nggak pernah satu kamar sama waria, meskipun itu Novi.

__ADS_1


Selama ini kami kan selalu bersama sama teman-teman, nggak pernah cuma berduaan sama Novi kayak gini.


__ADS_2