TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 44. ADA APA DI KAMAR MANDI ITU


__ADS_3

“Tapi aku gak ngurus, aku gak takut sama sekali c*k…!”


“Kabut masih menyelimuti daerah hutan itu rek… pertama yang tak perhatikan itu adalah jenis pohon dulu rek… jenis pohon di hutan itu kan sejenis.. Tapi aku gak paham jenis pohon apa itu”


“Mahoni Lank” jawab Broni


“Yo, mungkin mahomo eh salah homo kan si Novi hihihi….”


“Pohon Mahoni… tak liat dan tak perhatikan  ternyata sama jenis pohonya. Dan ukurannya juga sama, berarti aku masih ada di hutan itu kan c*k”


“Aku gak goblok C*k.. sebelum aku tidur satu dahan pohon tak patahkan dulu…”


“Setelah aku bangun, aku cari pohon yang ada ranting patahnya, tapi aku selalu tandai pohon yang aku lewati agar bisa sampai di tempat aku tidur lagi  kalau gak nemu pohon yang rantingnya patah”


“Ternyata pohon yang rantingnya patah itu gak jauh dari tempatku dipindahkan tadi, mungkin yang mindahin aku gak kuat sama jiwa kesatriaku iki rek”


“Jiwa kesatria matamu Lank.. yang ada juga gak kuat sama ambumu c*K!” potong Tifano


“janc*k ojok motong ceritaku Tif.. asyu opo koen iku TIf”


“Nah aku terus diam saja di bawah pohon itu sampek kabut agak hilang sedikit…. Sore hari menjelang malam kabut mulai menipis, untungnya aku bawa senter rek, aku ikuti saja jalan setapak munggah mudun, hingga aku sampek di jembatan”


“Aku ingat kata pemilik warung.. Bahwa ojek gak akan mau ngantar penduduk disini melewati jembatan itu.. Tapi aku gak ngurus rek, demi persatuan dan kesatuan kita bersama.. Aku lewati jembatan itu.. Hingga akhirnya aku sampek disana itu” tunjuk Gilank


“Intine rek.. Intine sekarang juga kita pergi dari sini.. Wis gak usah nunggu besok pagi atau nunggu kuntilamu ngatjeng…. Pokoke sekarang juga kita pergi dari sini rek” kata Gilank


“Ok lah Lang, terima kasih atas ceritamu…. Tapi kita punya tugas besok, besok kita harus melakukan sesuatu di desa ini Lank” kata Broni


“Dan desa ini aman Lank\, iki desa normal c*k\, duduk desa memedi\, saking aja orang-orang pasar gak ada yang mau ke sini\, padahal disini enak c*k\, tiap hari kita makan empal brewok.. Eh salah.. Empal goreng berlemak” lanjut Broni’


“Terus disini juga ada danau yang indah c*k, awakmu bisa mancing dan mandi-mandi disana hehehe”


“Hush.,, ngawur ae koen Bron…  itu sendang gak boleh ada yang masuk ke sana c*k!” potong Bondet


“Hahahah asline gak papa Ndet, cuma penduduk disini saja yang mensakralkan, mengeramatkan, atau membuat sesuatu itu menjadi mengerikan.. Kalau mereka anggap itu biasa ya biasalah heheheh”


“Lank, disana ada kamar mandi.. Sana kamu bersihkan diri dulu c*k… keringetmu mambu pol. Padahal disini kan dingin, kok bisa kamu keringetan gitu sih”


“Di mana kamar mandinya Wil?”

__ADS_1


“Itu disana..ayo aku antar Lank”


Apa yang diceritakan Gilank itu mungkin ada benarnya tentang desa ini, tetapi masak iya sih kami tidak bisa keluar dari sini dengan selamat?]


Aku keluar dari pintu depan bersama Gilank, Gilank  hanya membawa handuk saja…


“Aku ikut Wil…”kata Tifano yang menyusuk aku dan Gilank yang sudah ada di depan rumah


“Kamu  kira-kira kuat gak Lank mandi di udara dingin kayak gini?”


“Hahahah aku lho sering mandi banyu es Wil hehehehe”


“Wis terserah kamu lank, pokoke kamu mandi dulu sana…


Kami bertiga jalan menuju ke belakang, Tifano membawa obor yang dia ambil dari pojok dalam rumah…


Kabut tipis masih menggantung,  lama-lama aku jadi terbiasa dengan udara dingin dan suasana berkabut di desa ini, lama lama aku bisa merasa nyaman juga dengan keadaan disini.


“Wuiihh, kamar mandine apa gak kurang jauh ta rek heheheh” kata GIlank yang dari dalam rumah sudah melepas kaosnya, dia sekarang hanya memakai celana pendek saja.


“Ya pancen gitu Lank, mungkin karena sumurnya kan ada disana, jadi kamar mandi itu  mendekati sumur c*k”


Obor yang dipegang Tifano  di dekatkan ke  ventilasi kamar mandi, agar di dalam kamar mandi itu tidak gelap.


Bau bunga… tiba-tiba aku mencium bau bunga.. Bunga setaman yang biasanya aku beli untuk kebutuhan nyekar mbahku.


Kulirik Tifano yang sedang memegang obor…


Wajah Tifano kayaknya tegang, apa dia juga mencium bau bunga juga…


“Wil.. kamu bau bunga nggak?”


“Ya bau lah TIf.. disana kan ada beberapa tanaman kenanga yang sedang banyak bunganya”


“Bukan gau bunga kenanga WIl.. tapi bau bunga yang biasanya digunakan untuk nyekar plus aku juga bau minyak…..semacam minyak apa ya ini wil.. Minyak serimpi atau apa gitu ya”


“Hahahah onok onok ae kamu ini Tif.. mosok ya ada yang makek minyak serimpi disini”


“Ada Wil…. aku mencium baunya c*k”

__ADS_1


Sebenarnya aku juga mencium bau itu, tapi aku nggak mau bikin kacau keadaan, aku tau TIfano itu bukan seseorang yang berani, dia selalu takut dengan hal ghaib.


“Eh Wil.. kamu merasa gak..Gilank kok gak ada suaranya sama sekali ya..”


“Iyo Tif.. kok gak ada suaranya ya..ojok ojok dia lagi ngeloco c*k hihihihi”


“Matamu Wil.. nang daerah gini kok sempat sempatnya Colai c*k…”


“Lha kan siapa tau Tif hehehe… tapi aneh kok, dari tadi gak ada suara air atau suara apapun c*k”


“LAAANK… AYO CEPAT  MANDINYA C*K!”


Gak ada sahutan dari Gilank… tidak ada suara air atau suara apapun dari dalam kamar mandi ini..


Pasti ada yang gak beres disini, gak biasanya GIlank nggak nyaut ketika kami  panggil.


Tifano memandang aku dengan wajah ketakutan.. Aku tau, aku harus dobrak pintu kamar mandi aneh ini..


 Ketika aku siap untuk mendobrak pintu kamar mandi, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka…


Gilank keluar dari dalam kamar mandi, dia  sedang mengelap tubuhnya dengan handuk yang dia bawa…


Aroma wangi tercium dari tubuh Gilank..


“Wah kamar mandine lengkap dan bagus juga rek, nek dari depan memang keliatan jelek ya, tapi di dalam lumayan bagus meskipun agak gelap”


“Ada sabun dan shampo juga ya rek.. Apa memang disediakan oleh pemilik rumah itu rek?:” tanya Gilank sambil mengeringkan rambut gimbalnya.


“Kamu kramas Lank?”


“Hehehe jelas lah Wil.. wong di dalam sana ada sabun dan ada shampo.. Apalagi ditambah suasana kamar mandi yang enak jadinya ya aku ngatjeng hihihihi…”


“Kamu colai di dalam sana Lank?”


“Hehehe.. Mosok lupa sama kebiasaanku Wil  hihihih”


“Janc*k Lang…..”


Aku gak bisa berkata apa-apa, Tifano pun sama, dia hanya diam ketika Gilank cerita bahwa bagian dalam kamar mandi itu bagus  dan lengkap dengan sabun dan shampo.

__ADS_1


“Wil, ada yang gak beres ini Wil” kata Tifano sambil jalan menuju ke rumah


__ADS_2