TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 116. KENAPA HARUS DIBELAH KEPALANYA?


__ADS_3

“Sampai sekarang belum ada perubahan juga pak, apakah masih ada yang harus dibunuh malam ini pak?”


“Apa karena tadi kita tidak memecahkan kepala Broni pak?”


“Bisa jadi mas WIldan… tapi entahlah mungkin masih ada lagi yang harus kita habisi”


“Setahu saya begitu mas Wildan, sebelum semua tuntas kita masih akan terjebak di tempat ini, makanya saya selalu keliling desa, karena pasti ada saja yang akan kita temui disini” jawab pak Kus


“Sekarang kita mau ke mana pak Kus?” tanya Novi


“Kita kelilingi telaga ini dulu mbak Novi, karena setahu saya yang begituan itu selalu ngumpul di telaga sini, telaga ini mempunyai daya tarik untuk menarik perhatian yang aneh-aneh itu mbak”


Setelah selesai dengan Broni, dan sayangnya kepala Broni masuk ke dalam telaga diantara tumpukan mayat-mayat sehingga kita tidak bisa memecahnya, kami pergi lagi mengelilingi telaga.


Telaga ini tidak seberapa besar, hanya saja jalan di pinggir telaga ini berbahaya, karena kadang ada rawa dengan lumpurnya, tapi sepertinya pak Kus sudah paham dengan medan disini.


“Pak Kus ..yang disana itu pohon atau manusia” tunjuk Ivon di kejauhan


“Sepertinya itu target kita selanjutnya mbak, dan ada dua orang disana itu. Ayo kesana, kita percepat langkah, tetapi kalian jangan ada di samping saya, kalian harus ada di belakang saya saja” kata pak Kus


Trayek atau medan disini memang bahaya, buktinya beberapa kali pak Kus mengambil jalan masuk ke hutan untuk memutari pinggir telaga yang berupa rawa dengan lumpur yang dalam.


Tapi mataku tetap mengawasi dua sosok yang sedang berdiri di pinggir telaga, semakin dekat kami semakin jelas bahwa itu adalah sosok dua orang yang sedang berdiri di pinggir telaga.


Semakin dekat kami semakin bisa melihat wajahnya meskipun hanya samar saja.


“Nov, itu kan mama sama papaku, kenapa sampai ada yang meniru orang tuaku disini?” bisik Ivon

__ADS_1


“Dah diam saja Von, pokoknya mereka itu bukan mama papamu, mereka hanya jadi-jadian saja”


Dua sosok itu melihat ke arah kami, jarak kami hanya sekitar lima meter saja, tetapi dia sosok yang kata Ivon mirip dengan mama dan papanya itu tetap memandang ke arah telaga.


“Permisi om dan tante, om dan tante sedang apa disini” sapa pak Kus. tapi hingga beberapa saat tidak ada tanggapan dari dua sosok yang katanya mirip dengan orang tua Ivon


“Permisi om dan tante, kalian sedang apa disini?” pak Kus mengulangi pertanyaannya.


“Kami sedang menunggu anak kami yang masih ada di tengah telaga itu” jawab sosok yang menyerupai ayah dari Ivon tanpa melihat ke arah kami sama sekali


“Anak om siapa namanya dan ada kenapa ada di tengah telaga sana?” tanya pak Kus lagi


“Namanya Kristiani Ivon, dia tersesat disana, kami akan mengajak dia pulang” tunjuk sosok yang menyerupai ayah Ivon


“Maaf ya om dan tante, kalian berdua tidak berhak ada disini, dan kalian tidak berhak meniru menjadi ayah dan mama nya mbak Ivon”


Dua sosok itu melihat kami satu persatu, dan kemudian menunjuk ke arah Ivon yang berdiri di belakang Novi, mungkin si Ivon ketakutan juga.


“Ivon… ayo kita pulang nak, jangan ikut bersama mereka” ujar yang menyerupai ayahnya dengan suara yang sangat pelan


“Tidak bisa om, Ivon tetap bersama kami, dan kamu juga bukan orang tua Ivon. Ayo anak-anak kita selesaikan ini dengan cepat” pak Kus sudah menggenggam parangnya dengan erat.


Pak Kus maju ke hadapan dua sosok yang mirip dengan orang tua ivon, pak Kus berjalan dan kemudian  berdiri di belakang  dua sosok itu.


Perlahan sambil mengumpulkan tenaga pak Kus mengangkat parangnya tinggi-tinggi, dan dengan kekuatannya…


CRAK..CRAK…

__ADS_1


Sekali tebas dua kepala sosok yang mirip dengan orang tua Ivon itu terlepas dari tubuhnya.


“Cepak pecahkan kepalanya dengan batu yang ada disini, saya akan membelah tubuh mereka dulu!”


“Disini tidak ada batu sama sekali pak”


“Ya sudah injak saja kepalanya, keduanya kalian injak dan jangan dilepaskan injakannya!”


Aku agak ragu kenapa kami harus injak kedua kepala ini, bukanya kepala ini sudah terlepas dari tubuhnya, apakah memang harus diinjak, lalu bagaimana dengan kepala Broni yang terlempar ke telaga?


Selesai pak Kus membelah tubuh kedua sosok yang mirip dengan orang tua Ivon, kemudian dia ganti membelah satu persatu kepala yang tadi aku injak.


Bau busuk yang sangat busuk menyeruak ke hidung kami ketika tubuh sosok itu terbelah…begitu pula ketika kepala kedua sosok itu terbelah, bau bangkai yang luar biasa sempat membuat aku mual-mual.


“Haaah sudah selesai mas Wildan, sekarang kita menunggu perubahan lagi”


“Pak, kenapa harus dibelah kepalanya pak?”


“Kepala ini akan terus hidup dan menghantui kita kalau tidak kita belah. Dia akan mengejar kita untuk menuntut balas karena telah memisahkan dia dengan tubuhnya”


“Dia akan datangi kita di dalam mimpi maupun dalam kenyataan mas, saya dulu pernah mengalami hal itu, tapi hanya sehari saja, kemudian saya cari kepala itu dan ketika ketemu ya saya belah juga!”


“Tapi tadi kepala sosok Broni nggak sempat kita belah, sudah keburu masuk ke dalam telaga pak”


“Iya mas, nanti saja kita pikirkan lagi, karena tidak mungkin kalau kita masuk ke dalam telaga yang penuh dengan mayat itu”


“Sekarang kita mau ke mana pak?”

__ADS_1


“Putari telaga ini hingga kita tiba di tempat kita datang tadi, kalau tidak ada apa-apa kita kembali ke tengah desa lagi mas”


__ADS_2