
Rasanya ada yang aneh… rasanya ada yang janggal ketika aku, Gilank dan Ivon mulai jalan kaki menuju ke arah yang dikatakan Broni.
Kenapa aku bilang ada yang aneh dan ada yang janggal, karena ketika sudah lima menit jalan, kami bertiga mulai masuk ke kawasan hutan, dan di sejauh mata memandang di ke hutan…. Yang ada hanya kabut tipis.
Tetapi jalan yang kami lalui ini adalah jalan beraspal dan kadang kami berpapasan dengan satu atau dua penduduk yang sedang jalan atau naik motor.
Lama juga empat pemotor yang mengantar teman kami tadi, hingga kami sudah mulai masuk ke hutan, motor yang akan menjemput kami belum juga kelihatan.
“Wuiihhh istirahat dulu sik c*k… aku gak kuat ini rek” keluh Gilank yang beberapa meter di belakangku dan Ivon
“Ya kamu istirahat dulu aja sendiri Lang, nanti nek ketemu sama yang naik motor, tak suruh jemput kamu disini… aku sama Ivon mau terus jalan saja”
“Waaaa ojok gitu lah c*k…kalok akui disiniya sama Ivon lah Wil.. mosok sendirian, biar ada yang anget anget hihihihi”
“Jaga bicaramu mas Gilank!” bentak Ivon
“Udah Von, gak usah ditanggepin, kita terus jalan aja yuk… biarkan orang itu sendirian disini, kayaknya kita sudah ada di tengah hutan deh Von, mungkin gak jauh lagi nanti ada perempatan ya”
“Iya mas Wil….Ivon rasa hutan ini sudah semakin lebat dari pada tadi mas, tapi untungnya siang hari, dan matahari masih bersinar terang mas hehehe, coba kalau malam hari mas hihihi”
Aku terus saja jalan bersama Ivon, aku gak pedulikan Gilank yang mungkin sudah makin jauh tertinggal di belakang kami, tapi nanti kan ada yang jemput dia, jadi aku santai saja..
Aku dan Ivon terus jalan, hutan ini semakin rindang…dan yang bikin nyaliku agak takut adalah kabut yang ada di sisin hutan sebelah kanan… kabut tipis yang menggantung!
“Itu di depan ada jalan masuk ke kanan mas…. Eh di kiri juga ada jalan masuk mas, apa yang kanan itu yang dimaksud mas Broni?”
“Bisa jadi Von, dan harusnya disana nanti mungkin ada pos jaga, sesuai yang dikatakan Broni Von….. yuk kita kesana saja dulu.. Sekalian kita istirahat setelah jalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh”
Benar kata Broni, tidak jauh dari perempatan ada sebuah pos ….mirip dengan pos jaga yang keadaanya kosong dan tidak terawat, aku nggak tau apa guna pos ini, apakah ini adalah pos penjagaan untuk polisi hutan, atau apa lah.
Aku dan Ivon duduk di bangku panjang yang ada di dalam pos penjagaan, sedangkan Gilank kayaknya sedang istirahat di pinggir jalan utama ketika tadi aku dan Ivon tinggal.
__ADS_1
“Mas Gilank kok gak kelihatan ya mas Wildan?”
“Biar aja Von, karep karepnya dia sendiri, dia itu selalu gitu, selalu berkelakuan yang gak bisa dipikir dengan baik baik, selalu bikin emosi orang yang berhadapan dengan dia atau berpikir tentang dia hehehehe”
“Pokoknya kalau berhadapan dengan Gilank itu kita bawaanya selalu emosi Von heheheh, eh ngomong-ngomong kamu kenal sama Novi udah lama?”
“Baru juga dua tahunan mas… eh awalnya saya kan nyalon ke salonnya si Novi, ternyata cocok dan lama-lama kami bersahabat…”
“Eh maaf nih Von… aku mau tanya sesuatu boleh kan… eh kalian ini kan kayak anak kembar, penampilan kembar, potongan rambut kembar juga.. Tapi kok kamu gak brewokan dan berkumis macam Novi?”
“Heh Heh… mas Wildan ini ada-ada aja sih… mana bisa Ivon yang cewek ini tumbuh kumis dan Brewok mas.. Lah kalau Novi kan emang bisa tumbuh mas hihihihi”
“Lho… kamu ini cewek tulen Von?”
“Ya iyalah mas Wil.. emangnya mas Wildan mikirnya Ivon ini kayak Novi gitu ya hihihi”
Baru juga aku ngobrol sama Ivon, dari kejauhan suara motor yamama erexking sudah terdengar… suara motor yang akan menjemput kami…
“Iya Von, ntar kita suruh satu motor untuk cari dimana Gilank berada.. Aku yakin si Gilank saat ini pasti lagi cari bakul es dan bakso hihihihi”
Ternyata benar ada empat motor yang menuju ke arah sini… ‘
Aku suruh satu motor untuk mencari Gilank yang tadi ketinggalan dan katanya ingin istirahat, sedangkan aku dan Ivon melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan desa yang disebut Broni sebagai lembah Asri.
Jalan yang kami lalui ini mulai menyempit,menanjak agak curam, dan berbatu batu. Kenapa ada persamaan dengan yang ada di mimpiku.
“Letak desa itu jauh dari sini pak?” tanyaku kepada bapak ojek yang mengantarku
“Masih mas… letak desa itu ada di tepat tengah hutan, dan jalan menuju ke sana itu jelek berbatu dan gak bisa dilewati mobil sama sekali mas” jawab bapak-bapak yang membonceng aku
“Eh kalau boleh tau apakah nanti kita akan melewati jembatan bambu dan sebelah kirinya ada barongan bambu yang besar pak?” aku coba untuk mengorek informasi sebelum aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri
__ADS_1
“Lho kok masnya tau , apa masnya pernah kesini sebelumnya?”
“Hahaha nggak lah pak, saya hanya menebak nebak saja, karena biasanya sebuah desa di tengah hutan itu pasti akan dekat dengan mata air atau bisa juga sebuah sungai pak, dan di pinggir sungai biasanya ada barongan bambu”
“Ah bener juga kamu mas….disana katanya juga ada sebuah mata air, mata air disana itu katanya berupa sebuah danau yang tidak begitu besar, jernih namun dalam, jadi hati-hati bagi yang tidak bisa berenang mas”
“Kok katanya pak.. Apa bapak belum pernah kesana?” aku mulai curiga dengan orang ini
“Saya belum pernah hingga masuk ke desa itu mas, saya tau dari cerita orang-orang di pasar mas”
“Oh iya satu lagi, kalau disana harus jaga sikap dan berhati hati mas, jangan sampai kita bersikap sombong mentang mentang orang kota, dan berkata-kata kotor, pokoknya hindari perbuatan buruk selama ada disana.”
“Sampeyan sering ke sana pak?” ku ulangi lagi pertanyaanku untuk memastikan jawaban dia tetap atau tidak
“Hahaha hanya anter penduduk sana yang belanja ke pasar mas… saya kan tukang ojek mas hehehe”
Waduh… kenapa yang ada di mimpiku tentang jembatan, sungai dan barongan bambu benar ada disana… dan kenapa kabut di sini juga sama dengan yang ada di mimpiku…. Jangan sampai semua ini benar akan terjadi disana.
Motor yang aku tumpangi ini ada di belakang motor yang ditumpangi Ivon, tetapi sampai sekarang aku belum melihat motor yang menjemput Gilank… Gilank itu selalu ada ada saja ulahnya.
“Mas.. nanti saya tidak bisa antar sampai ke desa ya, jadi saya hanya bisa antar sampai di ujung jembatan saja”
“Lho kenapa pak, apa jembatanya kecil pak?”
“Eh tidak kecil mas.. Eh memang seperti itu biasanya mas.. Ojek pasar kalau antar penduduk desa itu juga di turunkan di jembatan.. Yah sudah menjadi kebiasaan disini mas, dan gak ada jawaban kenapanya mas”
“Ya sudah kalau begitu pak… kalau memang sudah menjadi kebiasaan ojek disini”
Semakin masuk kedalam keadaan hutan ini semakin rimbun dan agak gelap karena sinar matahari terhalang rimbunnya daun dari pohon pohon yang ada disini.
Dan yang menakutkan tentu saja kabut… kabut yang selalu menggantung dan menyebabkan jarak pandangku semakin terbatas. Suhu udara disini semakin dingin.. Sedingin yang ada di mimpiku.
__ADS_1