TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 28. KEJADIAN APA LAGI INI


__ADS_3

“Wil…. jangan ke sana” bisik Tifano


“Sssttt diam Tif”


“Itu di depan kita itu kayak ada gundukan tanah Tif, mungkin orang yang tadi sedang mencangkul itu ada disana… aku yakin desa ini ada penghuninya, hanya saja mereka tidak muncul karena suatu sebab”


“Iya Wil.. tapi seharusnya kita nggak ada disini, ini bukan urusan kita, dan ini bukan sesuatu yang harus kita cari tau Wil” bisik Tifano


Keadaan masih berkabut, kadang kabut itu tebal, kadang hanya tipis saja, gerimis juga kadang datang, dan kadang berhenti…. Ujung hidungku sudah dingin dan ada sedikit asap embun ketika kita menghembuskan nafas.


Sangat dingin,tapi aku penasaran dengan yang ada di depan kami … jangan sampai apa yang aku lihat itu sesuatu yang  baru saja ditanam.


“Wil…. kita nggak tau yang ada disini itu apa dan siapa yang ada disini” bisik Tifano agak ketakutan


Aku gak ngereken apa yang Tifano katakan, karena gundukan tanah basah itu sekarang beberapa meter ada di depanku. Sebuah gundukan yang mengingatkan pada acara pemakaman yang baru saja dilakukan di kampungku


“Tif.. aku tau disini ada orang, dan aku yakin orang itu sekarang sedang mengintai kita, dan aku tau kita sedang dalam bahaya, tapi  aku penasaran dengan yang ada di depan itu”


“Apakah yang baru ditanam itu teman kita?” kataku sambil berbisik


“Iya Wil… dari tadi perasaanku juga berkata seperti itu, tapi kita nggak mungkin membongkar gundukan tanah yang mirip dengan kuburan ini kan Wil?”


“Kalau nggak kita bongkar, mana kita tau yang dikubur ini siapa?”


“Jangan Wil…. jangan dibongkar, menurutku itu bukan teman kita… ayo kita balik ke rumah saja, Novi kan sedang nunggu kita di rumah Wil, besok pagi saja kalau keadaan sudah terang, baru kita ke sini lagi Wil… “


“Lebih baik kita ke rumah Sapudi saja Wil”


“Iya wis Tiff benar kamu, kita lebih baik ke rumah sapudi saja,, mungkin di dalam rumah itu ada sesuatu yang berguna”


Sebenarnya aku juga enggan untuk membongkar gundukan tanah itu, tapi aku merasa yang dikubur itu teman kami… tapi benar Tifano, lebih baik kita ke rumah Sapudi dulu saja


Kami saat ini ada di bagian belakang rumah Sapudi yang dekat dengan hutan.. Jadi untuk menuju ke rumahnya hanya beberapa langkah saja…


Keadaan masih seperti sebelumnya… gelap, dingin, berkabut, dan sesekali gerimis.


Aku dan Tifano meninggalkan gundukan tanah yang tadi sempat menarik perhatianku….. Pintu rumah sapudi tinggal beberapa langkah lagi…


“Stop Wil…. “ kata Tifano berbisik


“Ada apa Tif?”


“Kamu apa gak cium bau aneh….?”


“Nggak.. Hidungku rasanya beku, jadi aku agak sulit mencium bau-bauan yang aneh…memangnya bau apa Tif?”

__ADS_1


“Nggak tau Wil.. pokoknya kayak bau di pasar, di pasar yang bagian jualan daging.. Iya kayak bau di pasar yang bagian jualan daging sapi dan kambing baunya” bisik Tifano


“Halah ada ada aja kamu ini Tif… Ayo kita ketuk pintu rumahnya dulu”


“Ngapain kamu ketuk Wil…. rumah ini kan kosong..” jawab Tifano


“Ya siapa tau ada orang didalam rumah itu Tif”


Pintu rumah Sapudi aku ketuk dengan pelan.. Satu… dua.. Tiga kali, dan tidak ada sahutan dari dalam sama sekali, kemungkinan keadaan rumah itu kosong.


Kucoba dorong pintu rumah…. Ternyata bisa, pintu rumah sapudi terdorong sedikit ke dalam.


Semakin kudorong pelan daun pintu itu agar pintu itu terbuka separuh….


Ternyata berhasil….


“Gelap Tif!” bisikku


“Bau  Wil.. bau sekali di dalam sana, bau pasar Wil… ayo kita balik ke rumah saja” kata Tifano sambil berbisik


“Aku gak mencium bau apapun Tif… jadi kamu disini saja, biar aku yang masuk ke dalam sana”


Ketika aku akan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah,  aku melihat sebuah benda yang aku kenal di depan pintu rumah Sapudi.


Benda itu adalah sebuah jam tangan milik Ivon, jam tangan yang canggih, karena bisa digunakan untuk kompas, mengukur ketinggian dan lainnya.


“Tif….” tunjukku pada jam tangan yang tergeletak di tanah persis di depan pintu rumah Sapudi


“Eh… itu jam tangan Wil.. eh kayaknya itu milik Ivon Wil”


“Ambil Tif, aku makin penasaran sama yang ada di dalam rumah ini”


“Jangan masuk sekarang Wil… besok saja kita ke sini lagi… keadaan gelap, kita nggak tau  apakah kita sedang diintai atau tidak, posisi kita sangat bahaya Wil…lebih baik balik saja ke rumah”


“Ya sudah.. Aku ambil jam tangan yang jatuh itu dulu…besok kita kesini lagi” aku memakai jam tangan milik Ivon di pergelangan kananku, karena pergelangan kiriku sudah ada jam tangan murah meriah milikku sendiri


Benar kata Tifano, lebih baik kita tidak masuk ke dalam rumah itu dulu, takutnya ada sesuatu yang jahat yang sedang menunggu kedatanganku dan Tifano.


Perlahan lahan pintu rumah Sapudi aku tutup kembali, kemudian kami mengendap-endap pergi dari dalam halaman rumah Sapudi.


“Kita ke jembatan saja Tif, tapi sampai di sana nyalakan obor itu dulu, aku pingin tau keadaan sungai saat ini”


Aku dan Tifano menuju ke arah sungai.. Rencanaku besok pagi kami harus bisa keluar dari desa aneh ini, desa kosong yang seolah sama sekali tidak ada penghuninya, tapi aku rasa tidak kosong.


Desa ini masih ada penghuninya meskipun mereka mungkin sedang sembunyi entah dimana.

__ADS_1


Yang jadi pertanyaanku… apakah teman-temanku mati. Karena barusan aku menemukan jam tangan milik Ivon.. apakah gundukan tanah itu adalah gundukan dari mayat teman-teman kami?


Aku belum bisa berspekulasi sama sekali.


Kami sudah dekat dengan jembatan yang menghubungkan desa ini dengan hutan tempat kami tersesat sebelumnya ketika kami datang kesini.


“Ini obornya WIl.. kata Tifano setelah menyalakan satu obor


“Jembatan itu sudah tidak ada Tif… di  bawah sana hanya ada air sungai  yang sudah tidak meluap..”


“Besok kita coba cari  posisi yang paling aman dan tidak dalam, sekarang kita lebih baik balik ke rumah saja, kasihan Novi kalau kita tinggal disana sendirian”


“Tapi lihat di seberang sana Wil.. kabutnya masih tebal dan kita harus ke sana menembus kabut itu Wil”


“Iya Tif, tapi paling tidak kita sudah aman dari desa yang mengerikan ini, desa yang menurutku tiap jengkal tanahnya ada mayat yang dikubur di bawahnya”


Aku dan Tifano berjalan balik ke rumah… tekadku sudah bulat, besok pagi kami harus sudah  pergi dari sini untuk mencari bantuan..mencari teman kami yang hilang.


Rumah yang kami tempati sudah beberapa belas meter lagi ada di depan mata … tertutup rapat, hanya ada asap tipis yang keluar dari atap rumah, hasil dari pembakaran kayu di tungku pembakaran.


Api obor ini tidak aku matikan, selain sebagai penerangan api obor ini bisa aku gunakan untuk menghangatkan tubuhku… kabut masih saja mengambang di sekitar sini..


Aku berjalan dengan santai di depan Tifano…


Mendadak hujan turun, tapi kali ini tidak rintik rintik..melainkan hujan deras yang disertai angin kencang yang datang tiba-tiba!


ZZZRRRRSSHHHH…..


HUUUUUSSSSHH.. HUUSSHH….


Suara hujan dan angin yang yang berasal dari belakang kami datang tiba-tiba….. dan itu sangat mengerikan,  sehingga aku merundukan tubuhku


“WIIIL TOLOOOONG!” teriak Tifano dari belakangku


Ketika aku berbalik untuk melihat Tifano… Tiba-tiba tepat di belakangku sudah kabut datang dari arah sungai..


Kabut tebal dan pekat itu datang dengan cepat, sehingga aku tidak bisa melihat apapun  termasuk temanku Tifano yang tadi berteriak meminta tolong


“TIIIIF KAMU DIMANAAAA!”


Tidak ada jawaban dari Tifano…..yang ada hanya suara derasnya hujan dan angin yang bertiup dengan kencang.


Air hujan dan angin yang kencang membuat obor yang tadi aku gunakan sebagai penerangan dan penghangat itu mati, ditambah lagi dengan kabut tebal dan pekat.


Suara angin yang semakin kencang yang mengenai pohon memaksa aku untuk tiarap di tengah jalan desa….aku takut apabila angin kencang itu merobohkan pohon!

__ADS_1


Kabut yang sangat tebal ini bergerak sangat cepat sesuai dengan hujan lebat dan angin  yang bertiup kencang…  tidak ada suara teriakan minta tolong dari Tifano lagi.


__ADS_2