
Toko pakaian dekat pasar ini ramai juga, baru juga jam tujuh pagi tapi begitu toko ini dibuka pembeli langsung menyerbu Toko pakaian ini.
Tidak ada yang aneh ketika aku dan Novi membeli pakaian untuk aku, yang penting punya pakaian daripada memakai kaos dan celana gemes punya Novi.
“Sekarang kita cari sarapan dulu aja mas. Disana ada warung nasi yang rasanya lumayan mas” tunjuk Novi ke arah kiri dari toko pakaian
Kami pergi menuju ke warung makanan, hanya saja setelah dari toko pakaian aku merasa seolah ada orang yang sedang mengikuti kami dari belakang.
Beberapa kali aku menoleh ke belakang, tetapi tidak ada seorangpun yang mengikuti kami, kalau yang berpapasan dengan kami tentu saja banyak…
Nggak tau apakah ini hanya perasaanku atau memang ada yang mengikuti kami berdua, tapi intinya aku merasa nggak aman ketika mulai keluar dari rumah Novi.
“Ini mas warung makannya, kita bisa sarapan sambil berpikir apa lagi yang akan kita lakukan mas”
“Eh mas Wildan dari tadi kenapa sih menoleh ke belakang terus kayak gitu?”
“Tadi rasanya ada yang mengikuti kita Nov”
“Nggak ada kok mas… itu hanya perasaan mas Wildan saja” kata Novi sambil melihat ke arah belakang
“Ya memang bisa saja itu hanya perasaanku Nov, tetapi tetap saja kita harus lebih hati-hati lagi daripada sebelumnya, kita sama sekali tidak aman Nov”
Di sebuah warung yang saat ini sepi, mungkin terlalu pagi kami ada disini sehingga pembeli warung ini saat ini hanya ada aku dan Novi selain satu orang laki-laki tua yang memakai baju batik kusam dan sarung kotak kotak biru kusam.
Penjualnya pun keliatanya masih ada di dalam, karena aku mendengar suara spatula atau bahasaku disebut sotil yang mengenai wajan.
“Tunggu disini dulu aja mas, mungkin penjualnya sedang masak” kata Novi
Warung yang tidak besar dan sederhana, karena di dalam warung ini hanya ada dua meja panjang dengan bangku panjang pula.
Sehingga apabila dalam keadaan ramai bisa saja pembeli akan berdesakan makan di sini.
Aku duduk di salah satu bangku panjang yang terbuat dari kayu keras. Di sebelahku orang tua yang tadi memakai pakaian batik. Dia hanya duduk sambil menghisap rokoknya.
Sedangkan Novi duduk di seberangku, sehingga dia menghadap langsung ke orang tua yang ada di sebelahku ini.
Tidak ada gelas kopi atau makanan di depan orang tua yang sedang asik menghisap rokok yang sepintas, eh bukan sepintas, tapi memang asap rokok itu baunya mirip dengan bau kemenyan.
Ketika kulirik bungkus rokok yang ada di meja yang bersebelahan dengan korek besi tapi bukan Zippo, korek besi berwarna hijau metalik kusam..
Seketika aku tersenyum sendiri ketika melihat merk bungkus rokok yang tertulis.
__ADS_1
KLEMBAK MENJAN…DJOLALI MAREM…. MUNTILAN
Hahahaha rokok yang tidak familiar…rokok yang biasanya dijual di kios kembang dan alat pemakaman di pasar.
Aku pernah tau mas Nanta dari Bluekuthuq beberapa kali menghisap rokok ini, baunya sangar, bau kemenyan, tapi anehnya mas Nanta itu suka dengan rokok itu.
Aku dan Novi menunggu dan duduk bersama dengan orang tua yang sedang menghisap rokok dan menghembuskan asapnya ke atas…
Huuugh… asap rokok ini….
Sebenarnya aku juga perokok, dan aku sudah biasa dalam keadaan penuh dengan asap rokok, tapi untuk yang satu ini benar-benar membuat aku gak bisa bernafas barang sekejap.
Ketika asap putih dari orang tua yang ada di depanku mulai memudar, ternyata orang tua itu sedang menatap aku dan Novi secara bergantian, mata orang tua itu sangat tajam menatap aku dan Novi…
Tidak lama kemudian orang tua itu menghisap dalam-dalam rokoknya, dan menghembuskan asapnya ke seluruh ruangan warung…..
Asap bau kemenyan yang menyerupai kabut ini membuat mataku pedih.
Novi beberapa kali batuk batuk, tidak hanya Novi saja, akupun batuk batuk karena asap rokok yang mengerikan itu.
Perlahan-lahan asap rokok itu memudar, tapi sebelum memudar sepenuhnya di depanku pemilik warung sedang menata gorengan!
Satu baskom berisi aneka gorengan ditata dan di taru di meja kami.
Novi memegang tanganku sambil melirik kursi dimana orang tua yang merokok tadi berada.
Ternyata di depan kami tidak ada siapa-siapa..
“Mas… mbak.. Disini bukan tempatnya melamun dan pacaran, kalian mau minum dan makan apa?” tanya penjaga warung
“Mbak … kamu kan pemilik rumah kosong itu kan” kata penjaga warung lagi
“Eh iya bu, eh kami nggak melamun bu, dari tadi kami berdua sedang memperhatikan orang tua yang duduk di depan saya, orang tua yang merokok”
“Kalian ini ada-ada saja… warung saya ini baru buka, hanya kalian berdua saja yang masuk ke sini!”
“Dari tadi kalian berdua saya tanya mau minum apa dan makan apa, tapi kalian hanya melamun saja!” kata penjual itu dengan ketus
“Eh tadi di sebelah saya dan depan mbak Novi ini ada laki-laki tua yang merokok, rokoknya aneh bu, rokok cap klembak menjan buatan muntilan”
“Kemudian asapnya dia tiup sampai warung ibu ini penuh dengan asap yang baunya kayak menyan bu”
__ADS_1
“Rokok klembak menyan itu ada juga yang jual di pasar sana, di bagian yang jualan bunga dan alat kematian hahaha” jawab penjual itu
“Hahahah… kalian ini ada-ada saja, pagi-pagi gini kok kelakuan kalian aneh.. Ayo sarapan apa, agar kalian tidak aneh lagi”
Aku hanya bisa diam mendengarkan apa yang dikatakan perempuan penjual atau pemilik warung ini, aku tidak bisa mengelak lagi kalau apa yang aku lihat itu tidak nyata.
Aku dan Novi sarapan langsung kehilangan nafsu makan setelah tadi aku dan Novi melihat sesuatu yang tidak nyata. Tapi rasanya nyata sekali, dengan sosok dan bau asap rokoknya yang khas.
Tapi untuk saat ini aku nggak mau membahas dan memperpanjang soal itu, karena disini masih ada ibu penjual nasi, aku nggak mau nanti jadi ajang pergunjingan disini.
“Bu. saya mau tanya” kata Novi
“Apa mbak”
“Eh apa tadi pagi ada teman saya yang cirinya gondrong ada di sekitar pasar ini?”
“Nggak mbak.. Memangnya ada apa mbak?”
“Kemarin malam teman saya jalan-jalan, tapi sampai pagi ini belum kembali” kata Novi lagi
“Ngene ae mbak, saya kasih solusi, sampean berdua ke pos yang ada diujung pasar sana. Yang jaga malam sampai nanti jam delapan adalah pak Keri. coba tanyakan pak Keri saja”
“Tapi orang itu mata duitan mbak, kasih saja seadanya agar dia tidak malas untuk menjawab pertanyaan sampean mbak”
“Orang itu katanya punya ilmu juga mbak, tapi ya gitu itu, dia nggak gratiskan informasi yang akan dia berikan, pasti dia minta imbalan mbak”
“Ya sudah bu, nanti coba saya carinya pak Keri, eh semuanya berapa bu?”
Aku sebenarnya nggak mau tanya ke siapapun tentang Gilank, aku bisa mengira GIlank itu bukan teman kami yang seharusnya, jadi aku pikir tidak ada dia juga nggak papa.
Karena dia kayaknya sebagai pencetus masalah bagi aku dan Novi.
Tapi kenapa Novi tanya ke penjual ini tentang Gilank, tapi nanti saja aku bahas dengan Novi.
*****
“Nov, tadi kenapa kamu kok tanya ke penjual itu tentang Gilank?”
“Aku rasa kita tidak berhadapan dengan Gilank Nov, aku rasa kita sedang diarahkan ke sesuatu yang berbahaya oleh yang mengaku sebagai GIlank itu”
“Apa mas Wildan yakin teman mas WIldan itu bukan yang sebenarnya, apakah dia itu tak kasat mata mas?”
__ADS_1
“Tapi dari baunya yang luar biasa itu Novi yakin itu mas Gilank yang sesungguhnya mas"