
Rencana yang akan kami lakukan adalah, setelah ada teriakan minta tolong dari Broni, Tifano dan Bondet akan ada di depan untuk teriak minta bantuan dan membunyikan kentongan. Ketika itu aku dan Novi lari menuju ke arah lapangan bersama Tifano.
Sedangkan Bondet akan memanggil warga agar berdatangan ke bagian belakang kebun, Bondet akan teriak-teriak dengan keras hingga seluruh warga berdatangan ke sini hingga keadaan disini sangat ramai dan warga fokus pada keberhasilan membekuk Kusno dan Ivon.
Nanti setelah warga berdatangan, Bondet akan menyusul kami dan Tifano. Sedangkan Broni akan menyusul kami setelah warga disini semakin rame dan semakin chaos.
Itu adalah rencana yang disusun oleh ketiga temanku, sekarang aku akan memanggil Ivon, Novi dan Kusno untuk masuk ke dalam rumah.
Kusno, Ivon, dan Novi akhirnya masuk ke dalam rumah setelah aku kasih mereka kode agar masuk ke dalam. Aku masih terdiam dia ruang tamu rumah ketiga temanku.
“Dimana mereka mas Wil?” tanya pak Kusno
“Mereka ada di belakang kebun sepertinya pak, tadi saya mau kesana kok rasanya takut sekali”
“Ya Sudah mas WIl, kamu tetap disini sama mbak-mbak, saya yang akan ke belakang”
Kusno memang berani, aku juga heran bagaimana dia bisa seberani itu menuju ke arah kebun yang gelap, tapi dia hanya sendirian, sedangkan Ivon masih ada disini bersama kami.
Kami bertiga ada di ruang tamu, sedangkan ketiga teman kami sedang melakukan rencana yang akan aku dan Novi ikuti nanti.
Ternyata benar juga, tidak lama kemudian terdengar teriakan minta tolong, teriakan itu berasal dari Broni!
“Mas… itu pak Kus sudah berhasil” pekik Ivon
Aku nggak tau gimana jalan pikiran Ivon, karena tiba-tiba dia berlari menuju ke belakang tanpa menghiraukan aku dan Novi, seperti anjing yang tiba-tiba saja bergerak setelah tuannya berhasil mendapatkan makanan.
“Sekarang kita lari ke luar menuju ke lapangan Nov!” kutarik Novi agar dia paham apa yang aku lakukan
Novi hanya diam saja ketika aku tarik tangannya dan aku ajak untuk keluar dari rumah, sementara itu teriakan Bondet dan suara kentongan mulai disambut oleh suara kentongan rumah tetangga sebelahnya.
Ketika aku sudah ada di luar, Tifano menghampiri aku dan Novi.
__ADS_1
“Ayo cepat, sebelum penduduk disiani pada datang ke sini” Tifano mengajak kami berlari menuju ke arah lapangan.
Aku sudah tidak tau apa yang terjadi di rumah itu, karena ketika kami sudah lari ke arah lapangan, beberapa penduduk mulai keluar dari dalam rumah. Mereka membawa obor masing-masing menuju ke arah rumah Broni
Tifano terus berjalan cepat di depan kami dalam keadaan gelap, sepertinya dia sudah terbiasa berjalan dalam keadaan gelap. Kami sekarang ada di sebuah kebun, sepertinya ini kebun yang tadi kesini bersama pak Sokran dan istrinya.
“Kita ke sana rek. Disana ada semacam saung tempat aku Bondet dan Broni biasanya istirahat”
“Gak bahaya ta disini Tif?”
“Aman Wil, ini jauh dari pemukiman, nggak ada penduduk disini yang pernah ke sini Wil”
“Sik tunggu disini dulu rek, setelah ini nanti Bondet datang, tapi aku nggak tau gimana caranya si Broni menyelamtkan diri nanti, pokoknya kita akan ketemu disini dulu”
“Coba dengarkan itu rek, suara penduduk sini yang marah, mereka akan marah kalau aku, Bondet dan Broni disakiti siapapun disini rek”
“Ssstt sembunyi dulu di balik saung ini, aku dengar ada suara langkah kaki menuju ke sini Wil, Nov” kata Tifano sambil merunduk dan berusaha melihat siapa yang sedang datang
“Ndet mana Broni?” tanya Tifano
“Sik rek, dia kejebak disana, tapi Kusno dan Ivon sudah tertangkap”
“Terus gimana rencana kalian selanjutnya rek?”
“Mbuh Wil hahahah, ini lho rencana mendadak, dan kami nggak mikir rencana kedua harus gimana” jawab Tifano
“Cuk ndasmu Tif, gendeng raimu ***, terus kita setelah ini apa TIf?”
“Sik ta Wil, tenang ae rek, tunggu Broni dulu aja sik WIl”
“Lha nek Broni gak berhasil gimana Tif?”
__ADS_1
“Pasti berhasil, sik tunggu dulu, dia pasti akan datang ke sini Wil”
“Nanti kita akan kemana rek?”
“Ke sana WIl, ke hutan sana itu”
Tifano berhenti bicara, karena kami mendengar suara langkah kaki dari yang berasal dari arah kebun, kami bersembunyi diantara tanaman liar yang ada di sekeliling saung.
Suara itu semakin dekat ke arah kami, tetapi tidak ada suara panggilan seperti tadi Bondet memanggil Tifano. Yang ada hanya suara langkah kaki yang semakin melambat.
Dan suara langkah kaki itu berhenti di sekitar saung, kami tidak ada yang berani memanggil siapa yang ada di sekitar kami, bahkan Tifano dan Bondet sendiri masih diam dan sedang menunggu panggilan orang yang barusan datang itu.
Suara langkah kaki terdengar lagi, tetapi kali ini suara itu berjalan seperti orang yang sedang mencari sesuatu, seperti kalau kita sedang mencari orang yang sembunyi.
Suara langkah kaki itu terus terdengar hingga akhirnya suara itu menjauh, dan suara jalan itu berubah menjadi suara orang yang sedang berlari menuju ke arah lapangan.
“Itu bukan Broni rek” kata Bondet
“Kok eruh awakmu Ndet?”
“Iya Wil, nek tadi itu Broni, dia pasti duduk di saung, nggak koyok orang yang sedang mencari sesuatu koyok gitu”
“Kata mas Tif disini ini aman, nggak ada yang berani ke sini mas Ndet?” tanya Novi
“Wah nggak tau juga Nov, tapi yang pasti itu bukan Broni, dia pasti sedang mencari kita”
“Waduh berarti mas Broni dalam bahaya mas Ndet?”
“Itu yang sedang aku khawatirkan Nov, eh Tif gimana, Apa kita balik ke desa lagi?”
“Jangan Ndet, sesuai dengan rencana ae, kita tetap disini nunggu Broni, aku yakin dia pasti bisa lepas dari sana sebentar lagi Ndet”
__ADS_1