
“Mas… jangan dimakan” bisik Novi
“Ini enak Nov, coba kamu cium baunya”
“Iya mas.. Tapi kita gak tau daging apa yang akan kita makan ini”
“Tenang saja nak Novi, tidak ada yang aneh dan berbahaya dengan makanan ini, kita tadi belinya bersama sama kan, atau gini aja, tukar dengan punya saya saja?” kata pak Sokran yang mendengar bisikan Novi
“Eh enggak pak… saya soalnya kurang suka makan daging, apalagi daging yang sangat banyak lemaknya” jawab Novi
“Tenang saja nak Novi, khusus untuk nak Novi tadi saya belikan yang tidak berlemak, isinya hanya daging murni tanpa lemak… saya kan tau selera perempuan itu gimana hehehe” kata pak Sokran sambil menunjuk bungkusan milik Novi
“Ayo coba dibuka nak Novi, nggak boleh gitu ah, masak nolak pemberian tuan rumah” kata istri pak Sokran yang sedang mengunyah gajih atau lemak yang sangat besar potonganya
Aku dari tadi sudah gak sabar ingin makan makanan ini, hanya saja si Novi masih bersikukuh tidak mau makan, jadinya aku masih urungkan mencicipi makanan yang sudah dalam keadaan terbuka ini.
Akhirnya Novi membuka bungkusan daun jati itu, dan ternyata yang dikatakan pak Sokran itu benar, daging masak kuning untuk Novi sama sekali tidak ada lemaknya, daging yang berukuran sebesar satu kotak keju craft itu mengeluarkan aroma yang sangat sedap.
“Nov, punyamu gak ada gajihnya kan, ayo kita makan Nov, aku yakin makanan ini aman aman saja kok” aku berkata sambil melihat pak Sokran yang mengunyah lemak atau gajih tebal yang menggiurkan
Novi hanya diam tanpa menyentuh makanan yang sudah terbuka bungkusnya, dia hanya memandangku dengan wajah yang penuh pertanyaan.
Aku nggak tau entah karena aroma masakan yang baunya sedep ini atau ada faktor lain, menyebabkan ada kemauan yang keras untuk mencicipi masakan yang sudah ada di depanku ini.
Kemauan untuk mencicipi itu sangat kuat, sehingga secara reflek aku mencuil atau mengambil sepotong kecil lemak daging dengan kedua ujung jempol dan ujung telunjukku.
Entah bagaimana ketika kedua jariku mencuil lemak itu, tiba-tiba perutku rasanya lapar sekali, perut yang lapar ini mengirim sinyal ke otak untuk segera memasukan makanan ke dalam mulutku.
Perlahan lahan aku memasukkan potongan kecil lemak itu ke dalam rongga mulutku… dan rasanya luar biasa enak, hingga aku memejamkan mata dan tersenyum sambil merasakan nikmatnya daging masak kuning yang aku makan.
“Mas!” pekik Novi
“E.. hehe apa Nov, aku lagi merasakan nikmatnya secuil lemak ini, benar-benar luar biasa Nov, kamu harus mencobanya”
Pak Sokran dan istrinya tersenyum kemudian tertawa melihat apa yang aku lakukan dan aku rasakan. Mereka berdua kayaknya senang karena aku sudah mencicipi masakan khas daerah sini.
“Kalau udah merasa enak, habiskan aja nak Wldan, nanti sore kita beli lagi di warung itu. Biasanya sore hari mereka masak lagi untuk penduduk sini”
__ADS_1
“Iya pak, ini sungguh nikmat sekali” aku mengambil potongan besar daging campur lemak
“Mas.. jangan dimakan!” teriak Novi
“Maksudnya jangan dimakan dikit dikit gitu ya Nov hihihihi”
“Sudahlah Nov, cepat makan, dan kita bisa pergi dari sini sebelum hari gelap” bisikku tepat di telinga Novi agar tidak terdengar oleh pak Sokran dan istrinya
Akhirnya Novi mengambil sedikit daging masak kuning yang ada di depannya… ketika potongan kecil itu masuk ke dalam mulut Novi, wajah Novi berubah.
Yang tadinya Novi penuh keraguan dan ketakutan, setelah potongan kecil itu masuk ke mulutnya, dia berubah, wajahnya penuh dengan hasrat untuk menghabiskan makanan yang ada di depanya.
“Nah gitu dong nak Novi.. ayo nak Wildan dihabiskan saja dagingnya, nanti sore kita bisa beli lagi”
“Oh iya, kalian berdua tadi saya dengar mau pergi dari desa ini?” tanya pak Sokran yang mulutnya masih mengunyah
“Iya pak, kami mau mencari teman kami yang hilang”
Aku gak tau mau alasan apa kepada dua orang yang ada di depanku ini, jelas aku gak mungkin kalau mau bilang mau pulang, saat ini aja aku nggak tau ada dimana, dan di masa apa…
Aku gak tau juga mau kemana kalau pergi dari sini, apakah aku harus menyeberangi sungai atau apa, tapi yang jelas untuk saat ini aku merasakan enaknya makanan daging berlemak masak kuning ini.
“Sulit untuk dikatakan pak, karena saya tidak tau sedang ada di mana dan di waktu apa, tapi kami sebenarnya kesini kedesa ini bertujuh pak” jawabku sambil tetap makan
“Kemudian dua orang hilang, setelah itu saya dan Novi ingin mencari teman kami, tapi kemudian ada kabut…dan ternyata kami ada di rumah pak Sokran tadi pagi itu”
“Ceritamu tidak masuk akal nak, tidak ada apa-apa di desa ini, tidak ada pendatang sama sekali, dan tidak ada yang bisa datang ke sini hihihi”
“Tidak ada orang luar yang bisa datang ke sini kecuali memang takdir mereka ada disini dan tetap ada disini hihihihi” kata pak Sokran dengan suara yang gak kayak biasanya.
“Maksud bapak gimana?”
“Kalian berdua ini memang sudah takdir ada disini, dan takdir itu tidak bisa dilawan, kalian akan ada disini selama saya dan istri saya menginginkan kalian hahahaha”
Tiba-tiba kepalaku menjadi pusing… saking sakitnya aku sampai menutup mataku….aku secepatnya memegang tangan Novi…
Gema suara tertawa pak Sokran menghantui telinga dan otakku, suara tertawa itu semakin keras bersamaan dengan semakin sakit kepalaku.
__ADS_1
Ketika aku coba buka mataku di depanku berputar putar berputar sangat kencang.. Wajah pak Sokran dan istrinya terlihat samar karena semua berputar dengan kencang..
Cahaya yang tadinya terang menjadi gelap…
Kututup mataku untuk menghindari pusing dan rasa berputar putar.
Tangan kananku masih memegang tangan Novi, aku tidak akan melepaskan tangan Novi barang sedetikpun….aku tidak mau kehilangan Novi.
Kemudian tiba-tiba perutku menjadi mual… sangat mual, yang mengharuskan aku mengeluarkan semua isi perutku…
Akhirnya dengan tetap memejamkan mata aku keluarkan semua isi perutku.. Hingga rasanya perutku kosong.
Aku masih memejamkan mata, tetapi perasaan berputar itu semakin lama semakin pelan dan akhirnya aku menjadi tenang. Tetapi aku tetap belum berani membuka mataku.
Kubuka perlahan lahan mataku… ternyata gelap gulita, sama sekali tidak ada sinar di sekelilingku…
Semilir angin sejuk hutan membuat wajahku segar kembali, tapi aku ada dimana, dan pak Sokran serta istrinya mana.
Perlahan lahan matakku mulai bisa membiasakan diri dengan keadaan sekeliling… aku masih ada di pinggir telaga..
Ya.. aku masih ada di pinggir telaga, tapi kok malam hari dan tidak ada pak Sokran beserta istrinya..
Perlahan lahan hidungku mulai bisa menyesuaikan diri dengan bau bauan yang ada disini..
Bau bangkai.. Busuk sekali!
Tangan kananku masih memegang tangan Novi….
Aku rasa Novi pasti pingsan karena Novi tidak berbicara atau bergerak sedikitpun setelah entah apa yang terjadi denganku.
Ketika aku toleh ke kanan…….
ALLAHU AKBAR!......
Yang aku pegang adalah tangan tanpa tubuh….!
ALLAHU AKBAAAAR….. Banyak mayat disini.. Banyak mayat bergelimpangan, dan bau busuk dimana mana!
__ADS_1
“YA TUHAAAAN.. AKU ADA DIMANAAAA…. NOV… NOVIIIII KAMU ADA DIMANA!!!”