
“Bentar pak Bobby, jangan pergi dulu…. Kami sekarang harus tinggal dimana ini?” bisik GIlank
“Ya disini saja mas, di rumah pak Djati saja. Duduk disini hingga pagi hari, disini aman kok mas”
“Bukan masalah aman gak amannya pak, hehehe apa nggak ada tempat tinggal yang lain yang bisa kami tinggali?”
“Begini mas, bisa saja sampeyan ikut dengan saya di pos sana, tetapi disana tidak ada yang melindungi kalian apabila ada yang berusaha membunuh kalian, kalau disini kalian akan aman mas” kata Bobby dengan tersenyum aneh
“Ya sudah mas, saya pergi dulu” kata Bobby yang tiba-tiba pamit
Asyu, senyum Bobby kok aneh, dan dia cepat-cepat pergi dari sini.
Sesuai dengan yang dikatakan Bobby, kami tetap tinggal di ruang tamu rumah pak Djati. Awalnya tidak ada yang mencurigakan, kami tenang di rumah kecil yang dindingnya sebagian terbuat dari kayu ini.
Tapi lama-lama ada yang aneh….
“Eh rek, kalian dengar suara itu nggak hihihihi” kata Gilank dengan lirih
“Iya mas Gilank, Novi jadi gak betah disini”
Aku hanya diam saja, memang nggateli kok… kami dari sepuluh menit lalu mendengarkan suara desyahan bergantian istri-istri pakde Djati.
janc*k mereka kayaknya sedang fu fu fu. Ada suara rintihan manja, desyahan, hingga suara kesakitan namun keenakan. Yang paling mengerikan ada suara istri pakde Djati yang terpekik agak keras dan kemudian tertawa mesra ketika mungkin sedang ejkhulasi.
Ada suara cepok cepok cepok hingga suara seperti orang yang sedang menjilati es cream magnum dengan cepat.
Dahlah pokoknya suara-suara itu bikin merinding dan risih dengarnya, dan suara-suara itu tidak hanya beberapa puluh menit, hingga lewat tengah malam kami masih mendengarkan suara-suara aneh itu.
“Mas, Novi jadi kepingin mas” bisik Novi lirih
“Ya sana Nov, minta pakde Djati, dia kayaknya perkasa sekali”
__ADS_1
“Huuuuuf, mas Gilank!”
Tapi memang bener-bener perkasa orang tua aneh itu, aku dari tadi nggak bisa tidur karena suara yang bikin nelen ludah itu. Tapi mungkin sekitar pukul tiga pagi disertai dengan pekikan kecil pakde Djati, semuanya akhirnya selesai.
Suara-suara istrinya yang manja, dan suara tertawa pakde hingga suara salah satu istrinya yang mengatakan besok malam kita tempur lagi sempat membuat kering tenggorokanku…. Apakah hal ini terjadi tiap hari hihihi…
Dengan berakhirnya peperangan satu lawan tiga orang, akhirnya aku bisa tidur juga. Tapi ya nggak bisa lama-lama, karena saat ini sudah menjelang pagi.
*****
“Ayo bangun anak-anak, sudah pagi…. Ayo bangun” suara tua pakde membangunkan aku dan dua temanku
“Huaaahhmm sudah pagi ya pakde?” tanya Gilank sambil mengucek matanya
“Sudah dong mas, ayo ikut saya ke tempat pengasapan, sambil ambil apapun yang kalian suka, nanti istri saya yang akan memasakan”
“Semoga kalian semalam bisa tidur dengan nyenyak ya anak-anak” kata pakde yang hanya memakai sarung saja, sedangkan ketiga istrinya seperti biasa ada di antara tubuh pakde Djati
Pakde Djati setelah itu menuju ke belakang, kayaknya dia ke kamar mandi,..... Ya tetap bersama ketiga istrinya, istri dia itu seperti ingus kering yang nempel di baju, susah dibersihkan.
Ada beberapa penduduk yang juga menuju ke tempat pengasapan, mereka membawa keranjang besar yang mungkin digunakan untuk membawa hasil asapan.
Kami mengambil beberapa ikan dan daging yang diasapkan. Aku nggak tau daging apa itu, tetapi yang pasti tempat ini bukan lembah mayit yang penuh dengan mayat yang digunakan untuk santapan.
*****
“Setelah sarapan, sana bersihkan badan kalian, kemudian kalian bisa pergi dari sini, nanti Bobby akan mengantar kalian hingga di pinggir desa”
“Dari sana kalian ikuti saja jalan yang masuk ke hutan, nanti akan bertemu dengan desa dimana kalian pernah menginap disana” kata pakde Djati sambil mengelus cincin akiknya yang besar
“Baiklah pakde, nanti saya akan ikuti jalan yang pakde informasikan. Oh iya, bagaimana dengan teman kami yang masih ada disana di lembah mayit pak?”
__ADS_1
“Tenang saja mas, kalau dia kuat seperti kalian dan teman kalian yang beberapa bulan lalu pernah ada disini, pasti dia akan datang dengan selamat, tetapi kalau dia tidak punya kekuatan seperti kalian, bisa saja dia akan keluar dari sana dengan kondisi gila”
“Eh dek Novi, penawaran saya masih terbuka ya dek, saya harap dek Novi bisa berubah pikiran untuk menjadi adik dari istri-istri saya yang tiga itu hehehe”
“Terima kasih tawarannya pakde, saya sudah akan menikah dan berkeluarga juga kok pakde” jawab Novi dengan sopan
“Tidak papa dek Novi, mungkin seandainya dek Novi bercerai dengan suaminya, dek Novi bisa datang ke desa ini, dan kita bisa hidup bahagia” ucap pakde dengan meyakinkan
Setengah jam kemudian setelah sarapan yang enak, akhirnya bersama Bobby kami diantar hingga ke pinggir desa. Desa ini tidak sepi, penduduk desa banyak yang sedang beraktifitas di depan rumah.
Ada juga yang sedang mengatur hasil asapan di sebuah tas, mungkin dia akan menjualnya ke pasar.
“Kalian ikuti saja jalan yang itu, nangi kalian akan bertemu dengan desa, eh atau ikuti saja apabila ada penduduk sini yang akan menuju ke pasar untuk menjual hasil asapannya” kata Bobby
“Semoga kalian bertiga selamat sampai rumah, dan salamkan untuk mbak yang berpotongan rambut cepak dan tatapan mata yang dingin ya mas hehehe” kata Bobby lagi
“Namanya Ivon pak” sahut Novi
“Ah iya mbak Ivon, salamkan salam saya kepada mbak Ivon ya mbak Novi”
Sesuai arahan dari pakde Djati dan Bobby kami ikuti jalan yang katanya menuju ke desa yang pernah kami datangi ketika bersama Broni dan yang lainnya.
Untungnya saat ini ada juga beberapa penduduk yang jalan menuju ke desa. Mereka membawa tas dari anyaman yang ukuranya besar.
Ada yang naik sepeda, ada yang jalan kaki.. Kami bersama sama menuju ke arah desa sebelah, sedangkan para penjual hasil asapan menuju ke pasar.
Tidak lebih dari dua puluh menit akhirnya kami keluar dari hutan dan ternyata kami masuk ke jalan yang menuju ke lembah mayit.
“Wil… ini kan jalan yang waktu itu kamu dan Ivon jalan kaki itu kan, tapi kenapa saat ini nggak ada kabut tipisnya ya Wil?”
“Iya Lank, ini kan jalan yang itu, tapi kabut tipisnya gak disini Lank, disana…. Agak jauh disana baru ada kabut tipisnya”
__ADS_1
“Mas Wil…. kita sekarang ada di antara orang-orang yang berlalu lalang, tetapi kenapa mereka selalu melihat kita dengan tatapan aneh ya mas?”
“Iya Nov, aku juga baru menyadari juga, tatapan aneh itu bukan berasal dari penduduk desa pakde Djati, tetapi dari penduduk desa ini Nov, ah tapi biarlah, ayo kita cari angkot dan menuju ke terminal bis yang terdekat”