
“Sudah nggak usah bahas siapa yang ada di rumah Ivon itu mas, yang pasti sekarang Ivon sudah kembali ke keluarganya. Meskipun mungkin ada korban lain selain ibunya”
“Trus kita harus cari dimana Ivon, gitu Nov?”
“Gak usah mas, Novi sudah tenang kalau ternyata Ivon sudah lepas dari lembah Mayit. Sekaran ganti mas Tifano, gimana mas, kita ke rumah mas Tifano?”
“Ke rumah Tifano Nov?”
“IYa mas….tadi kan rencananya memang setelah dari Ivon kita cari mas Tifano mas, tapi Yance keburu ketakutan gitu”
“Ini masih siang Nov, apa kita ke rumah Tifano sekarang?”
“Kita nekat aja mas, kita cari mas Tifnya aja, siapa tau dia ada di rumahnya”
“Ya wis… ayo Nov. kita cari taksi dulu aja”
Kebetulan yang sangat kebetulan, seperti diatur oleh yang maha kuasa…. Di depan hotel ada sebuah taksi yang sedang berhenti ketika kami keluar dari hotel.
“Eh itu ada taksi mas, apakah itu jebakan ya mas….. kok agaknya terlalu mudah mas”
“Memangnya disini sulit cari taksi Nov?”
“Sulit kalau kita tidak telepon pesan dari pangkalannya”
“Eh kalau sulit ya jangan yang itu Nov, kita cari yang lainya ajalah…”
“Kalau terlalu mudah gini aku malah curiga, lebih baik kita jalan kaki aja agak jauh dan cari taksi yang lewat”
Aku jadi curiga dengan sesuatu yang mudah, kenapa harus mudah untuk sesuatu itu biasanya sulit, kalau memang sulit kenapa harus dipermudah.
Tapi beneran, aku curiga sama taksi yang ada di depan hotel ini.
Akhirnya kami jalan kaki, di tengah panasnya matahari dan debu jalanan, kami jalan kaki agak jauh dari taksi yang tadi sedang parkir di depan hotel.
“Mas… itu di seberang jalan ada taksi yang berhenti juga, apa kita naik itu saja mas, wuiih panas sekali kalau jalan kaki gini mas”
“Kamu yakin yang disana itu bisa kita gunakan, kok rasanya ganjil aja, kenapa tiba-tiba ada taksi yang berhenti, baik itu di depan hotel atau di seberang jalan ini”
“Gini aja Nov, coba kamu telepon pangkalan taksi … pesan taksi untuk kita…”
Di pinggir jalan besar yang ramai, Novi sedang bicara dengan petugas pemesanan taksi, hanya sebentar kemudian Novi menutup teleponnya.
“Sebentar mas, katanya ada taksi yang dekat dengan posisi kita”
Ternyata apa yang dikatakan Novi benar… memang ada taksi yang dekat dengan posisi kami, taksi itu adalah yang ada di seberang jalan, yang sedang menunggu penumpang.
Driver taksi itu keluar dari dalam taksi dan memanggil kami dari seberang jalan.
__ADS_1
“Mas… yang itu taksinya”
“Dahlah gak papa Nov, kita coba aja naik yang itu. Tetapi masalahnya kita harus menyeberang jalan”
“Eh mas, sebentar… driver itu menyuruh kita tetap disini… coba lihat tangan dia yang menyuruh kita tetap disini saja”
“Yaudah kita tunggu saja Nov, mungkin dia mau seberangkan mobilnya ke sini”
Ternyata perkiraanku benar. Taksi itu pelan-pelan maju menyerong ke arah posisi kami berdua, setelah taksi itu ada di sisi kami, taksi itu mundur pelan-pelan ke arah aku dan Novi menunggu.
“Mari mas, mbak… maaf nunggu agak lama, karena saya harus menyeberang jalan,” kata Driver itu membukakan pintu belakang untuk kami
“Tidak apa-apa pak… eh kita ke arah perumahan R ya pak”
“Baik mas, saya nyalakan argonya sekarang ya mas”
Mobil melaju ke arah rumah Tifano yang ada di perumahan R. agak jauh juga dari hotel si Yance… tapi demi teman dan demi keselamatan keluarga mereka, kami harus ke sana secepatnya.
“Eh pak Driver… nanti saya bisa minta tolong”
“Minta tolong apa ya mas?”jawab driver taksi
“Nanti apabila sampai di alamat yang kita tuju, saya minta tolong bapak untuk memanggil teman saya, terus terang kami berdua ini tidak disukai oleh orang tua teman saya itu”
“Kalau hanya itu saya tidak masalah mas, saya pikir minta tolong apa … nanti saya yang turun, eh alasan apa ya kalau yang keluar rumah adalah orang tua teman mas ini?”
Setelah tiga puluh menit perjalanan dengan total argo mencapai empat puluh ribu, akhirnya kami sampai di depan rumah mungil milik keluarga tifano.
Tifano dirumah itu hanya tinggal bersama ibu dan kakaknya saja. Sedangkan bapaknya sudah lama meninggal.
Saat ini rumah Tifano dalam keadaan sepi, tapi tidak separah rumah Ivon yang banyak sampah dan debunya.
“Pak Driver, yang itu rumahnya pak. Saya hanya minta tolong tanyakan apa ada Tifano, kalau yang keluar memang dia, ajak dia masuk ke dalam mobil pak”
“Tetapi kalau yang keluar orang lain, tanya saja dimana Tifano berada, dan setelah dapat info dimana Tifano, bapak bisa kembali ke mobil”
Mobil diparkir hanya beda satu rumah dari rumah Tifano, sehingga aku dan Novi masih bisa melihat siapa yang keluar dari rumah Tifano.
Driver taksi itu turun dari mobil, kemudian dia mengetuk pintu pagar rumah Tifano beberapa kali. Kemudian ada seorang yang keluar dari rumah Tifano.
“Itu ibu Tifano Nov, kayaknya keluarga mereka baik baik saja Nov”
“Semoga mas, semoga tidak ada apa-apa dengan keluarga mas Tif”
Driver taksi itu hanya sebentar bicara dengan ibu Tifano, hanya sekitar lima menit saja. Kayaknya dia mendapat penjelasan dari ibu Tifano terkait anaknya itu.
“Kayaknya ada masalah Nov, lihat ibu Tifano bicara dengan gestur tubuh seolah sedang curhat”
__ADS_1
“Iya mas Wi, tangan ibu mas Tif menandakan bahwa anaknya belum pulang itu mas”
“Supir taksi itu ke sini Nov, semoga ada kabar baik tentang Tifano”
*****
“Mas… mbak, teman kalian tidak ada di rumah itu, sudah satu tahun hilang. Tapi yang cari dia tidak hanya kalian berdua saja, kata ibu itu ada lagi teman anaknya yang datang ke sini”
“Siapa yang datang ke sini pak?”
“Kata ibu itu dua minggu lalu ada yang kesana, namanya Gilank, ciri-cirinya kayak gelandangan. Gitu kata ibu itu mas”
“Hhhmm gitu ya pak, ya sudah antar kami balik ke hotel saja pak… “
Satu tahun belum kembali. Berarti Tifano lebih lama dari pada aku dan Novi… kalau Ivon hilang hanya tiga bulan saja. Sedangkan yang aneh Gilank.
Dua minggu lalu dia ke sini, padahal kami bersama dia beberapa hari lalu, dan kemudian dia hilang entah kemana. Ada yang gak beres dengan Gilank ini.
Yang jadi pertanyaanku, siapa sebenarnya Gilank ini, kenapa dia ada di dua tempat, bersama aku dan Ivon dan datang ke rumah Tifano untuk mencari dia.
Novi dari tadi hanya memegang tanganku saja, aku tau dia sedang dalam keadaan ketakutan. Padahal bukan hanya dia saja yang takut, akupun juga takut.
“Mas Wil, kita kemana ini?”
“Nggak usah kemana-mana Nov, kita balik ke hotel saja dulu”
“Eh maaf mbak, mas…. Sebenarnya kalian ini kenapa, kok saya lihat dari tadi kalian sangat tegang”
“Nggak papa kok pak, kami hanya kehilangan teman-teman kami saja”
“Tadi ibu teman kalian itu sempat bilang kalau anaknya ikut bersama teman-temannya ke jawa tengah, karena ada acara kampanye sebuah partai”
“Setelah itu anaknya tidak kembali lagi, sudah satu tahun ini anaknya pergi.. Sudah dilakukan pencarian di sebuah daerah di jawa tengah, tetapi tetep tidak berhasil”
“Tadi ibu itu sempat bilang sempat dapat WA dari anaknya ketika sudah sampai di daerah itu…. Setelah itu tidak ada kontak lagi sampai sekarang” cerita driver taksi ini
“Terus ibu itu bilang apa lagi pak?” tanya Novi yang mulai bisa mengontrol diri
“Anu mbak, kata ibu tadi sudah dilakukan pencarian di daerah sana, tetapi tidak ditemukan baik itu jasad dia dan teman-temannya”
“Saya tau daerah itu mbak… asal saya juga dari sana, tetapi saya tidak di desa itu, saya di desa sebelah”
“Memang di hutan daerah sana banyak sekali kejadian orang hilang, tapi bukan penduduk asli sana, melainkan orang yang ingin melakukan sesuatu di hutan itu….”
“Cerita rakyat sana yang kata orang-orang sana kebenaranya bisa dipercaya”
“Tapi yang percaya hanya penduduk sana saja mbak, saya sih percaya saja, karena saya pernah ketemu orang yang pernah hilang, tetapi berhasil keluar dari sana dengan selamat”
__ADS_1