TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 83. SELAMAT SAMPAI TUJUAN


__ADS_3

Kebetulan setelah bus yang ditunjuk Gilank itu berangkat, tepat lima menit kemudian ada bus lain lagi yang masuk.. Dan kebetulan tujuan bus itu juga sama dengan yang ditunjuk Gilank tadi.


Akhirnya kami naik ke bus yang berikutnya, tidak ada hal apapun yang terjadi selama perjalanan, kami bisa tidur nyenyak hingga sampai di kota kami.


*****


“Jam berapa ini Wil?”


“Jam sepuluh malam, kita sudah sampai mana ini Lank?”


“Kayaknya kita sudah masuk di sekitar kota Mjkt. mungkin  satu jam lagi kita masuk terminal kota S”


“Nov, nanti mungkin sampai di S sekitar pukul sebelas malam… apa kita langsung ke rumahmu atau gimana?, soalnya sampai sana kan tengah malam, sedangkan kunci rumahmu katanya kamu titipkan ke tetangga sebelah?”


“Nanti naik taksi aja mas, langsung ke rumah Novi. Tapi nanti cari tempat untuk nongkrong dulu sekalian Novi mau charges hp mas, Hp Novi udah habis batrenya”


Tidak ada yang patut di takutkan, perjalanan sudah masuk ke terminal P di kota S. Tengah malam gini terminal masih saja rame, kami kemudian mencari tempat duduk dulu untuk memikirkan apa yang akan kami lakukan setelah ini.


“Kita duduk di ruang tunggu terminal dulu saja, sekalian cari ****, eh colokan listrik buat cas hp” kata Gilank


“Kok kamu bilan choli Lank, memangnya sudah berapa lama kamu gak ada pengeluaran hihihi”


“Lhaa kan kita sudah satu tahun ini hilang Wil hahahah, bearti aku wis gak choli selama satu tahun hahahah”


“Mas Gilank kan udah ada istri, kenapa mesti choli mas, kan tinggal minta istri udah beres mas”


“Bojoku iku rewel Nov, kalok aku nggak ada uang aku nggak dijatah, tapi kalok aku ada uang…. serpisnya luar biasa”


“Lha kok gitu bojomu Lank… koyok balon ae Lank hahahaha”


“Ndasmu sempat Wil..jancok raimu!”


Kami sedang ada duduk di ruang tunggu terminal yang terbesar di jawa timur, saat ini rame sekali, kami juga gunakan waktu duduk disini untuk mengisi daya baterai ponsel kami.


Tidak ada yang aneh, dan tidak ada yang mencurigakan. Perasaanku pun mengatakan bahwa keadaan disini tidak ada ancaman, aman, dan kondusif.

__ADS_1


Sudah sekitar setengah jam kami duduk di kursi terminal sekaligus mengawasi ponsel kita di tempat yang memang disediakan untuk mengisi daya ponsel.


“Eh mas Wil, perasaan Novi kok nggak enak ya….” bisik Novi


“Eh kenapa Nov?”


“Ndak tau mas, pokoknya rasanya down, ngenes, dan mau nangis aja mas”


“Itu kan perasaanmu aja Nov, tapi tetap kita harus waspada Nov, jangan sampai ada sesuatu yang mencelakakan kita”


“Rek, kayaknya sudah cukup. Kita sudah setengah jam lebih disini, gimana kalau lanjut perjalanan  ke rumah Novi, aku sudah kepingin mandi rek” kata Gilank


“Kepingin mandi, kramas dan choli ta Lank, sambil bayangkan istri pakde Djati ya heheheh…. Atau jangan-jangan kamu lagi membayangkan wajah pakde Djati hihihi”


“c*k raimu Wil!....”


“Iya mas WIl, sekarang aja kita pergi, eh kita cari taksi aja mas”


Kami jalan menuju ke arah keluar terminal. Koridor terminal ini masih ramai, meskipun sekarang sudah pukul satu malam.


Untungnya di depan terminal masih ada taksi yang menunggu penumpang. Tapi biasanya meskipun itu taksi yang menggunakan argo, kalau jam segini pasti menggunakan sistem tawar menawar untuk mencapai kesepakatan harga.


Aku selalu waspada ketika kami ada di keramaian, karena di keramaian ini aku tidak akan tau apa dan siapa yang akan mencelakakan kami.


Tapi untungnya tidak ada apapun hingga perjalanan menggunakan taksi.


Rumah Novi ada di daerah barat, dan agak masuk ke pemukiman pinggiran kota S..


“Nov, sudah kamu hubungi yang dititipi kunci rumahmu?”


“Udah mas, kunci rumah sekarang dia taruh di bawah pot besar sebelah kanan dalam pagar rumah Novi”


Taksi meluncur dari terminal P menuju ke pinggiran kota S, perjalanan tidak ada kendala sama sekali, hingga kami akhirnya sampai di wilayah rumah Novi yang ada di pinggiran kota S.


Aku rasa ini bukan daerah pinggiran, tapi sudah masuk kayak wilayah desa, kenapa aku bilang wilayah desa, karena suasananya sudah nggak seperti kota S.

__ADS_1


Jalan pinggiran kota yang kanan kiri masih berupa ilalang, dan kadang ada juga pemukiman penduduk, pokoknya aku nggak ngira kalau Novi beli rumah atau invest rumah disini


“Nov, kamu kok beli rumah disini sih?”


“Ini kan untuk jangka panjang mas Wil, tahun tahun mendatang tempat ini akan rame, bakal banyak komplek perumahan disini mas”


“Rencana Novi rumah Novi nantinya untuk bengkel atau bisa juga untuk salon, pokoknya lihat-lihat dulu apa yang belum ada disini mas”


“Wih sangar kamu Nov, hehehe aku sih nggak mikir sampai investasi kayak gini, untuk makan besok aja aku masih kesusahan Nov” ujar Gilank


Setelah melewati beberapa belokan akhirnya di sebuah pemukiman pinggir jalan Novi menyuruh taksi ini berhenti. Di sebelah kanan ada sebuah rumah permanen yang cukup apik.


Rumah yang gelap karena kosong.


Untung lampu penerangan jalan sudah terpasang disini, mungkin ini termasuk jalan kabupaten, jadi sudah tercover lampu penerangan jalan.


Setelah melakukan pembayaran, Novi masuk ke halaman rumahnya dan menuju ke salah satu pot bunga yang ada disana.


Dia menggeser pot bunga yang cukup besar, karena ditanami tanaman bunga melati yang saat ini sedang banyak bunganya.


“Wuiiih serem juga rumahmu Nov hehehe, wangi melati rek, koyok filemnya Suzanna ae hahaha” kata Gilank


“Ini juga rencananya mau Novi budidaya mas, kalau ada acara manten kan gak perlu beli, tinggal ambil melati disini aja, itu ada pohon kenanga dan pohon cempaka atau kantil juga mas hehehe”


“Waaah malah medeni ngene Nov hahahah”


Sebuah anak kunci terletak di bawah pot bunga yang tadi digeser oleh Novi, dia kemudian membuka pintu rumah….Novi menyuruh kami menunggu dulu sementara dia menyalakan lampu depan dan lampu dalam rumah.


“Ayo masuk mas… maaf di dalam nggak ada perabotnya, paling juga ada karpet aja mas, dan ada satu tempat tidur di kamar depan, yang biasanya Novi gunakan ketika Novi ke sini mas”


Ruang tamu yang tidak begitu besar dan di ada gulungan karpet yang masih terbungkus plastik di pojokan ruang tamu. Novi membuka gulungan karpet dan menggelar karpet di tengah ruangan.


Karpet yang kayaknya mahal, karena bahan karpet ini tebal dan empuk, dan masih bau baru, belum pernah digunakan sebelumnya kayaknya.


“Mas Wildan dan mas Gilank istirahat di karpet itu aja ya, tenang aja mas, karpet itu baru dan belum pernah digunakan mas. Novi tidur di kamar dalam mas”

__ADS_1


“Kamar mandi ada di belakang, dan sudah ada airnya mas, tadi soalnya Novi sudah suruh penjaga disini mengisi bak kamar mandi”


__ADS_2