
Perjalanan dengan motor ini terasa sangat lambat, karena motor ojek yang kami tumpangi harus berjalan sangat pelan untuk menghindari batu-batu dan lubang yang ada di jalan setapak, apalagi ditambah jalur yang semakin menanjak.
Siang mirip senja hari…. Sinar matahari tidak bisa menembus dedaunan pohon, ditambah dengan kabut tipis, dan suhu udara yang makin dingin…… rasanya persis dengan apa yang aku mimpikan.
Beberapa kali aku melihat ke arah belakang, ternyata tidak ada ojek lain yang mengikuti kami, yang artinya tidak ada ojek yang ditumpangi oleh Gilank ke arah sini.
Ojek yang aku tumpangi akhirnya sampai juga di depan jembatan yang akan kami lalui hingga sampai ke desa, Broni, Novi, Tifano dan Bondet sudah menunggu di pinggir sungai.
Waduh kenapa semua sama dengan yang ada di mimpiku. Sungai ini, jembatan ini, bahkan barongan bambu itu juga sama dengan yang aku mimpikan…
“Wil…. mana Gilank?”
“Mbuh Bron… koyok biasanya arek itu kan mesti gak mau ngikuti apa yang kita lakukan… tadi waktu aku dan Ivon jalan kaki ke pos yang kamu katakan, Gilank katanya mau istirahat, tapi ndak tau lagi dia kemana”
“Tadi ojek yang mau njemput mas Gilank sudah disuruh mas Wildan untuk cari mas Gilank di belakang kami” sahut Ivon
“Waduuuh.. Kita gak bisa ninggal dia kalau gitu, kita tetap tunggu Gilank disini Wil” kata Broni
“Tinggal ae Bron, nanti kan dia akan diantar ojek kesini, sudah biar aja dia tinggal ae” kata Bondet
“Ojok Ndet… gitu-gitu arek asyu iku pernah jadi hantu hihihihi”
Ojek yang kami tumpangi sudah pergi, kami masih ada di pinggir jembatan untuk menunggu Gilank yang belum juga muncul…
Hari semakin siang dan menjelang sore… kabut masih menggantung di sekitar kami, suhu udara semakin dingin dan belum juga nampak kedatangan Gilank.
“Bron gini aja…. Aku disini nunggu Gilank, kamu masuk ke desa itu dulu untuk menemui tetua desa ini, nanti aku nyusul ke sana, atau kalau kamu sudah beres dengan urusan desa, kamu ke sini lagi saja kalau aku dan Gilank belum nyusul kamu”
“Ya wis Wil.. tapi lebih baik kamu ditemani salah satu dari kami teman kita Wil..”
“Ivon aja yang nemeni mas Wildan, karena tadi mas Gilank kan harusnya bersama kami mas Bron” kata ivon
Akhirnya aku dan Ivon menunggu di ujung jembatan, sedangkan temanku yang lainnya sudah menyeberang jembatan untuk menuju ke arah desa yang ada di seberang jembatan.
__ADS_1
Sampai di alur ini berbeda dengan mimpiku, waktu ada di mimpiku Gilank hilang ketika dia ada di sungai untuk buang air besar, tapi yang ini jelas berbeda.
“Mas Wil.. apa kita nggak nyusul kesana saja?” kata Ivon sambil memandang ke hutan yang tadi kami lalui
“Hehehe… aku rasa nggak deh Von… keadaan hutan itu sudah jauh berbeda dengan ketika tadi kita datang, coba lihat itu kabut yang menyelimuti hutan… sekarang makin tebal kan Von”
“Iya mas, dan semakin menjelang sore, keadaan di hutan itu semakin gelap, padahal sekarang kan sore aja belum, apalagi senja dan malam kan mas”
“Iya Von.. eh lebih baik kita tunggu disini saja… dan menanti Gilank datang kesini. Eh sebenarnya aku takut kalau ini menjadi kenyataan Von”
“Maksudmu apa mas?”
“Gini Von… ingat nggak waktu kita selesai makan sate, aku kan sempat tidur dan dibangunkan oleh Broni. Nah waktu itu aku sempat bermimpi, mimpi yang seperti nyata dan bisa aku rasakan, bukan mimpi yang sekedar hanya mimpi saja”
Aku ceritakan kepada Ivon tentang mimpiku… anehnya aku masih ingat semua detail tentang mimpi yang aku alami… aku ceritakan secara terperinci hingga pada akhirnya Ivon datang ke rumah kosong, dan aku dalam keadaan hampir gila.
“Apa mimpinya mas Wildan itu sama persis dengan detail disini, dengan semua yang tadi kita lewati?”
“Sama persis Von.. bedanya kita tadi kan nginap di rumah petinggi partai, sedangkan di mimpiku kan kita naik mobil hingga mobil itu terjebak di sana itu kan…. jalan yang makin menyempit dengan diapit pohon pohon yang besar itu”
“Nah yang berbeda itu kan kejadiannya, tetapi tempat yang kita datangi ini sama… jembatan ini, sungai ini, pohon bambu yang mengerikan itu sama persis dengan mimpiku Von
Hari semakin sore, belum juga ada penampakan Gilank…
“kalau menurutku, ojek yang akan mengantar Gilank tidak berani mengambil resiko dengan keadaan hutan dengan keadaan jalan menanjak yang penuh resiko untuk ke sini, apalagi dengan keadaan yang semakin gelap dan penuh kabut”
“Iya mas Wil… bisa juga seperti itu mas…Pasti ojek itu menyuruh Gilank untuk datang keesokan harinya daripada ojek itu kesini dengan penuh resiko”
“Ya sudah Von.. kita masuk ke desa aja yuk, daripada disini kedinginan”
Ketika aku dan Ivon akan berjalan menyeberangi sungai, Dari arah depan Broni datang sendirian…. Dia menghampiri aku dan Ivon yang akan menyeberang jembatan.
“Gilank belum datang Wil?” tanya Broni
__ADS_1
“Gak ada Bron, mungkin besok. Coba kamu lihat keadaan hutan yang semakin gelap penuh kabut itu, kayaknya ojeknya gak mau mengambil resiko dengan mengantar asyu itu ke sini… mungkin besok dia akan datang ketika keadaan sudah normal”
“Iya.. bener kamu Wil..tapi kan kita bertanggung jawab atas anak asyu itu Wil…”
“Tenang ae Bron, di pasti beban keluarga kok heheheh”
“C*k raimu Wil!.. Ayo kita ke desa, sudah ditunggu pak Sudikan disana….”
Hari semakin gelap karena kabut lama kelamaan semakin pekat, aku menyeberangi sungai yang permukaan airnya sebagian tertutup kabut… keadaan ini mengerikan bagi aku yang pernah bermimpi tentang desa ini.
Kami berjalan di jalan desa yang berbatu, jalan ini sama dengan di mimpiku, tidak begitu lebar dan berbatu…. Yang lebat itu adalah halaman rumah yang ada disini dengan sebuah pohon besar tiap pekarangan rumahnya.
Aku bergidik ketika kami melewati rumah pertama… rumah dimana aku dan teman-teman sempat bermalam, rumah yang selalu tertutup rapat dan di kamarnya ada tumpukan pakaian bekas dan tumpukan potongan rambut.
Tapi yang ini berbeda.. Jendela rumah itu terbuka, ada seorang perempuan setengah baya yang sedang menyapu halaman…..dan ada asap di pojokan pekarangan, asap pembakaran sisa daun yang berjatuhan.
Perempuan setengah baya dengan rambut digelung itu tersenyum kepada kami yang melewati rumahnya, kubalas senyuman perempuan yang masih menyapu halaman depan rumahnya.
Di rumah kedua sama juga…. Ada seorang anak kecil yang berdiri di pekarangan rumah bersama perempuan agak tua yang kemungkinan besar adalah ibunya.. Mereka berdua tersenyum ke arah kami juga.
Berbeda dengan yang ada di mimpiku…. Sore hari yang agak berkabut masih ada kegiatan penduduk disini, seperti menyapu halaman dan membakar sampah dedaunan.
Kami berjalan terus dan kemudian berbelok ke kiri…… waduh, kayaknya kita akan mengarah ke rumah pak Sapudi seperti yang ada di mimpiku…. Tapi kata Broni tetua atau yang menjadi pemimpin desa ini bukan pak Sapudi melainkan pak Sudikan.
“Bron masih jauhkan?”
“Di depan itu nanti ada pertigaan… kita lurus aja, dan sampailah di rumah pak Sudikan”
“Teman-teman kita sudah ada disana semua, mereka nunggu kita Wil”
Ancuk!... bukannya itu rumah pak Sapudi… kenapa harus ke rumah yang mengerikan itu, pasti nanti kita akan diajak ke rumah kosong yang ada disebelah rumah pak Sudikan.
Aku memandang Ivon, aku ingin menyiratkan bahwa mimpiku tentang yang rumah yang kita tuju itu sama persis dengan yang ada disini.
__ADS_1
Semakin sore, kabut menjadi lebih pekat daripada sebelumnya, suhu udara pun semakin turun…. Rasanya ingin segera sampai di rumah itu, dari pada kedinginan disini.