
ebuah lokasi terpencil dan tertutup oleh pohon dan semak belukar…ada sebuah danau kecil yang sangat beraroma mistis.. Karena air yang tenang dan tampak kabut yang menyelimuti di atasnya.
Danau kecil yang mungkin berdiameter sekitar dua puluh meter saja, tetapi aku yakin danau itu sangat dalam… di pinggir danau tidak ada aliran sungai baik yang mengalirkan air masuk ke dalam danau atau yang mengalirkan air danau keluar.
Keliatanya sumber air ini berasal dari dasar danau, dan kemungkinan besar di dinding danau kecil ini ada semacam pembuangan yang entah kemana.. Sehingga air danau tidak akan meluap dan mambanjiri desa.
“Sendang Ningrum anak-anak.. Kalian tidak boleh kesini tanpa ditemani oleh saya, atau akan terjadi sesuatu dengan kalian” kata pak DIkan
“Pak.. air danau ini berasal dari mana, dan mengalir ke mana, kok tidak ada aliran sungai di sekeliling danau?” tanya Broni tiba-tiba
“Hehehe tidak ada yang mengetahui mas Broni, tidak ada yang bisa menebak dan melihat air ini berasal dari mana, dan dibuang atau mengalir ke mana”
“Dulu katanya pernah ada penduduk sini yang nekat menyelam ke dalam sendang untuk mencari asal air sendang ini, tetapi hingga belasan meter dia belum bisa merasakan dasar sendang”
“Jadi intinya jauhi tempat ini dan jauhi juga batu yang ada di tengah lapangan itu… sekarang ayo kita pergi dari sini, akan saya perlihatkan apa yang bisa kalian lakukan disini, semoga apa yang akan kalian lakukan akan bermanfaat bagi penduduk disini” kata pak Dikan
*****
Kami sudah ada di rumah tinggal setelah tadi jalan-jalan bersama pak DIkan, kemudian siangnya kami makan siang di rumah pak Dikan lagi.
Dan lagi-lagi kami disuguhi daging goreng yang ukuranya besar.. Heran juga apakah tiap hari penduduk disini makanannya daging dan gajih atau lemak yang ukuranya gak karuan?
“Wah Bron, kerja keras rek.. Mosok kita disuruh mbangun gapura desa?” tanya Tifano
“Yah biasanya juga gitu Tif, yang paling mudah ya renovasi atau membangun gapura.. Anak-anak KKN selain sosialisasi juga mereka sering melakukan renovasi gapura” jawab Broni
“Tapi bahan bakunya dari mana Bron, sedangkan kamu aja gak bawa peralatan pertukangan disini”
“Ya nanti kita beli, atau nanti aku suruh cabang partai disini untuk mengirimkan apa yang kita perlukan… tapi sayangnya disini gak ada sinyal telepon. Mana baterainya HPku mau habis sisan” Jawab Broni
“Bron, gimana dengan Gilank!.. Kita harus cari dimana Gilank c*k!”
“Jangan kuatir Wil.. Gilank itu bukan anak-anak, dia aman-aman ae di sana, bisa saja dia pulang ke rumahnya, atau bisa saja dia minta bantuan ke rumah tempat kita menginap itu…” jawab Broni
“Pokoknya mulai besok kita lakukan apa yang harus kita lakukan disini, biar cepet selesai dan dananya cepat keluar hehehe”
__ADS_1
“Mas Bron….mulai malam ini kita tidur di kamar saja ya, tadi Novi liat di kamar kok kayaknnya lebih hangat dari pada disini”
“Ya sudah Nov… kalian di kamar depan saja, nanti yang lainnya terserah mau di kamar atau disini” jawab Broni
“Aku turu nang kamar ar Bron… enak ada kasurnya meskipun kondisine gak karuan heheheh” kata Tifano
“Awas ada tingginya Tif…!” kata Bondet
“Yo dilapisi tikar to Ndet..di kamar gak sedingin disini c*k” kata Tifano lagi
Setelah seharian kami diskusi tentang apa yang akan kami kerjakan, akhirnya sore ini kami bersama sama menuju ke kamar mandi…
Kami bergantian mandi dengan sebelumnya memenuhi bak mandi dengan air sumur yang kami timba bergantian.
Novi dan Tifano sempat ngising juga di ruangan sebelah yang dikhususkan untuk buang hajat.
Air disini sedingin air kulkas, bahkan lebih dingin lagi, tapi kami paksa untuk membersihkan badan, karena sudah beberapa hari kami belum mandi.
Tidak ada yang terjadi apapun selama kami bergantian mandi di kamar mandi yang jaraknya agak jauh dari rumah tinggal kami.
Kami kembali ke rumah setelah makan malam yang lagi-lagi lauknya adalah daging yang potongannya besar, tidak ada tahu atau tempe, bahkan nasi pun hanya sedikit, kami dipaksa untuk makan daging sepuas puasnya.
Alasanya adalah agar daya tahan tubuh kami menjadi baik…..
Tidak ada percakapan yang penting ketika kami makan, kami segera pulang setelah perut kami kenyang.
“Bron, sampai kapan kita makan daging terus… darah tinggiku iso kumat ini”
“Heheheh sabar WIl.. ya kalau penduduk disini memang tiap hari makan daging itu kan ada alasannya… untung Dany gak ikut kita ke sini, bisa bisa dia gak akan makan disini hihihih,dia kan gak makan daging gituan”
“Iya Bron, bener juga, Dani kan gak mau makan gajih dan daging kayak gitu, dia hanya mau makan daging unggas, atau ikan, atau daging olahan saja”
Keadaan sudah menjelang malam ketika kami berjalan menuju ke rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah pak Dikan, ketika kami ada di pinggir jalan menuju ke rumah, aku melihat bayangan orang di tengah jalan.
“Eh rek.. Itu, ada orang yang sedang jalan ke sini.. “
__ADS_1
“Kayaknya bukan orang sini Wil, soale kok dari cara jalannya dia sedang nyari sesuatu, kalau penduduk sini kan cara jalannya sudah pasti kemana tujuannya, gak kayak orang itu yang pelan-pelan dan melipir di pinggir” jawab Tifano
“Iyo Tif.. sik kita brenti dulu aja rek. Biarkan orang itu melihat kita dulu, kita kan gak bisa lihat wujud orang itu gara-gara kabut dan gerimis ini”
“Eh kalian aja yang nunggu ya.. Aku sama Ivon mau balik ke rumah dulu” kata Bondet tiba-tiba
“Ih apaan sih mas Bondet ini, kok malah mau pulang ke rumah.. Seenaknya sendiri aja sih mas Bondet ini” kata Ivon
“Lha dari pada nunggu orang yang gak jelas, dan dari pada kamu basah kuyub, mendingan kan kamu sana aku di rumah aja Von, bisa hangat dari pada disini.”
“Nggak!.. Ivon disini aja sama yang lainya…”
Aku masih perhatikan bayangan orang yang kayaknya sedang mencari sesuatu, tapi kalau dilihat dari postur tubuhnya, kayaknya aku kenal dengan bentukan tubuh itu.
“Mas… Novi kayaknya tau bentuk tubuh itu deh mas… itu kan mas Gilank… tapi apa bener mas GIlank kesini sendirian malam-malam, gini mas”
“Iya Nov, kayaknya itu Gilank, coba lihat orang itu juga bawa tas ransel.. Kalian tunggu disini, aku mau kesana dulu”
“Aku ikut Wil” kata Tifano
Aku jalan perlahan lahan agar bayangan orang yang sepertinya sedang mencari sesuatu itu tidak lari ketakutan ketika kami datangi.
Apalagi dengan keadaan kabut dan gerimis, semakin membuat keadaan disini semakin mencekam.
Aku dan Tifano sudaj dekat dengan bayangan orang yang sedang berjalan dalam keadaan bingung..
“Lank…!” teriak Tifano
“WOIII LANK!” teriak Tifano lagi agak keras
Sosok bayangan itu berhenti mencari-cari sesuatu..
“EH… TIF.. KAMU DIMANA!” jawab sosok yang masih berupa bayangan di depan kami
“Tunggu disana ae Lank, aku sama Wildan ke posisimu” jawab Tifano
__ADS_1