
Aku gak bisa menahan rasa kantuk yang luar biasa ini, nggak tau kenapa, padahal yang baru aku minum adalah kopi, rasa kantuk yang tidak bisa dilawan sama sekali, dan akhirnya aku tertidur.
*****
“WIL BANGUN!......”teriak Gilank
“Eh huuaahhm, apa Lank” aku terbangun dan langsung shock
“Kita ada dimana Lank?”
“Kita ada di kuburan mas Wil” bisik Novi
Keadaan di sekeliling sangat gelap. Aku masih bingung bagaimana kami bisa ada di kuburan, padahal sebelumnya kami kan sedang makan rawon di sebuah warung yang terlihat sepi.
“Kita ada di kuburan Wil, tadi waktu selesai makan, aku ngantuk luar biasa, tapi setelah aku bangun, ternyata kita ada di sebuah kuburan. Tapi didepan sana itu ada lampu jalan Wil”
“Apa mungkin kita tadi sedang makan di warung jadi-jadian ya Wil?”
“Sudah jangan dipikirkan, aku ndredeg ini rek… kita segera pergi dari sini saja rek”
“Nov tas ranselmu masih ada, uangnya gimana?”
“Ada mas, ini di sebelah Novi, uang Novi juga masih ada, jadi bisa dikatakan kita bukan korban perampokan atau begal mas”
Ketika aku bangun dari tanah kuburan aku melihat ke sekeliling, dan ternyata aku dan dua temanku ada di makam tua dengan nisan kayu yang sudah lapuk dan tidak berbentuk lagi.
“Aku nggak tau kita ada di kuburan mana dan kenapa ada disini, tetapi lebih baik kita segera pergi dari sini saja, dan mencari kendaraan umum untuk menuju ke terminal terdekat!”
“Kita mau ke mana Wil, kita ini nggak tau kita ada dimana kan, terakhir kita kan ada di pasar desa, kemudian kita makan rawon di warung mbah-mbah itu” ucap Gilank
“Mbuh Lank, pokoknya keluar dari kuburan ini dan pergi dari sini cepatnya ae”
__ADS_1
Kami setengah berlari keluar dari kuburan… ketika kami sudah ada di luar, aku kayaknya tau jalan yang ada di depan kuburan ini.
Kami keluar dari gapura kuburan…..kuburan ini luas juga, sekarang kami ada di jalan tepat di atas kami ada satu lampu penerangan jalan
“Ini kan jalan ketika tadi kita keluar dari hutan, jalan waktu banyak orang yang melihat ke arah kita kan rek?”
“Yakin kamu Wil…?” tanya Gilank
“Tapi tadi kan disini cuma tanah kosong dan hanya ada satu warung yang jualan disini mas” kata Novi
“Iya Nov, dan seberang tanah kosong ini kan kuburan, jadi tadi pagi kita itu masuk ke kuburan dan tidur disana hingga jam berapa ini Wil?” kata Gilank
“Sekarang sudah jam sebelas malam Lank”
“Berarti tadi pagi kita ada di warung ghaib mas Wil, dan kemudian kita ternyata tidur di kuburan?” tanya Novi masih bingung
“Sebentar-sebentar. Nov, waktu dulu kamu dan anak-anak naik motor ke lembah mayit, apakah kamu lihat ada kuburan disini?”
“Nah.. kamu Lank, waktu kita jalan kaki sama Ivon, apa kamu juga lihat disini ada kuburan?”
“Perasaan gak ada Wil, hanya pohon dan kabut tipis saja… tapi sekarang disini gak ada kabut lagi” kata Gilank
“Bentar Nov Lank, aku bingung”
“Aku sekarang nggak tau mana yang nyata dan mana yang tidak nyata, selama kita ada di lembah mayit banyak kejadian yang berubah ubah dengan cepat, sehingga aku sekarang bingung antara nyata dan tidak”
“hihihihi mosok pagi-pagi ada warung ghaib rek hahahah, apa penduduk disini tidak ada yang diganggu oleh penampakan warung ghaib itu?” potong Gilank
“Itulah Lank, makannya sekarang aku nggak tau kita ada dimana, dan apa kalian berdua percaya bahwa aku ini adalah WIldan yang sesungguhnya, bisa saja kalian ini juga bukan Novi dan Gilank yang sesungguhnya kan….”
“Sudah gini aja mas Wil, apa yang ada di depan kita ini yang harus kita yakini, ada Novi dan mas Gilank juga harus mas WIldan yakini sebagai teman mas Wildan”
__ADS_1
“Novi aja yakin yang di depan Novi ini mas Wildan dan mas Gilank kok “ kata Novi
“Ya sudah, sekarang kita harus kemana... semoga kita ada di tempat yang sesuai”
“Lampu penerangan hanya ada di atas ita saja, sejauh kita memandang kiri dan kanan hanya ada jalan yang sangat gelap saja, dan tidak ada manusia sama sekali”
Aku sangat taku, sekarang aku semakin bingung antara mimpi, kenyataan, halusinasi, dan permainan alam. Semua terjadi dengan begitu cepat dan aneh.
Aku nggak tau sekarang aku ada di alam apa, dan apakah ini hanya mimpi atau halusinasi, atau apalah. Juga kedua temanku yang ada di depanku ini, apakah mereka ini real atau tidak.
Sekarang di depanku ada jalan yang sangat sepi, dan jalan sebelah kuburan ini kami bertiga tidak merasa pernah melewatinya, tetapi perasaanku jalan yang ada di depan kami ini adalah jalan ketika pertama kami kami ke lembah mayit.
Aku takut salah melangkah, karena jalan kiri dan kanan tidak ada kehidupan sama sekali, dan sangat gelap. Lampu penerangan hanya ada di atas kami saja, di pintu gerbang kuburan.
“Wil, kita ke sana saja, ke arah kanan”
“Kenapa mas Gilank kok bilang ke kanan, nggak ke kiri saja?”
“Perasaanku aja Nov.. aku rasa yang kekanan itu menuju ke pemukiman penduduk.. “
“Sik sebentar mas GIlank… eh lihat itu di sebelah kiri kita… jauh di kiri yang gelap, tidak ada kabut sama sekali kan, dan coba lihat yang di sebelah kanan….jauuuh di kanan, remang-remang ada kabut disana” kata Novi
“Sekarang kita pilih jalan yang ada kabutnya atau jalan yang tidak berkabut mas Gilank?”
“Tapi baik kiri atau kanan sama-sama sepi, gak ada manusia sama sekali” kata Gilank
“Kita yang kiri saja, aku sudah muak dengan yang namanya kabut, tapi aku ragu kalau kita akan ada di tempat yang normal”
“Tenang aja mas Wil , Novi rasa yang kiri itu jalan yang benar kok”
“Bukan gitu Nov, aku merasa bahwa apa yang sedang kita alami ini tidak nyata, bisa saja aku ini tidak nyata, dan kalian juga. Bisa saja tubuh kita ini ternyata masih di suatu tempat, dan kita bertiga ini adalah arwah atau sejenisnya”
__ADS_1
“Mas Wil…. jangan berpikir yang aneh dulu, kita pergi ke sana dulu aja mas…..”