TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 115. BRONI


__ADS_3

Tapi sosok mengerikan yang dipanggil Warno itu hanya diam saja, dia tidak mendekati kami sama sekali, dia tetap diam di tempatnya berdiri.


“Ambil parang ini kalau kamu mau Warno” kata pak Kus sambil pura-pura memberikan parang ini ke dia


Sosok yang bernama Warno ini hanya diam saja tidak bergerak sama sekali, untuk saat ini dia hanya bergerak dan menggoyang-goyangkan tubuhnya saja, dia tidak bergerak untuk mendekati pak Kus sama sekali.


“Kenapa Warno, kesulitan berjalan, coba lihat di kakimu itu, telapak kakimu terlilit tanaman menjalar, gimana kamu bisa jalan kalau ada yang melilit kakimu seperti itu Warno”


Ya.. memang ada yang melilit kaki Warno, dan Warno tidak berusaha melepaskan diri dari lilitan tanaman menjalar, tapi dia hanya memaksakan diri untuk jalan. Dia sudah tidak bisa menggunakan akalnya lagi.


Orang yang ada di depan kami ini sepertinya sudah mati!


“Aku tidak bisa jalan lagi Kusno, tolong bantu aku Kusno”


“Baiklah, akan aku bantu kamu, diam saja kamu disitu, aku akan bantu kamu lepas dari semua yang ada dini”


“Siap-siap anak-anak” bisik pak Kusno kepada kami


Pak Kus berjalan pelan mendekati temannya yang mengerikan itu, dia berjalan tidak di depannya, melainkan ke samping kiri temannya. Ketika sudah ada di samping yang namanya Warno itu.


CRAK!.....


Sekali tebas di bagian leher, langsung putus… tidak ada darah yang keluar dari lehernya.  Setelah itu dengan sigap pak Kus menginjak kepala yang menggelinding di rumput.


 Dia injak, dan kemudian dengan satu ayunan dia belah kepala itu menjadi dua bagian.


Setelah selesai dengan urusan kepala. Dia beralih ke tubuh yang tumbang… beberapa bacokan parang akhirnya berhasil membuka bagian dada dan perut.


“Uuugh baunya busuk sekali pak!”


“Iya mas, Wildan. Dah selesai dia, dia memang teman saya yang hilang, dan seharusnya saya akan menemui di akhir dimensi, tetapi anehnya kenapa baru disini saya sudah menemukan teman saya yang hilang ini”


“Berarti sekarang kita harus menemukan teman kalian yang hilang anak-anak”


“Pak Kus, apa bener itu pak Warno yang harus pak Kus bunuh, jangan-jangan seperti teman kami tadi yang namanya Gilank itu pak” sambung Novi

__ADS_1


“Betul juga mbak Novi. saya juga agak ragu apabila ini benar teman saya, karena harusnya semua akan bertemu di akhir dimensi yang akan kita lalui nanti”


“Sudahlah kita lanjutkan jalan saja, jangan percaya dengan apa yang kita lihat disini nantinya, karena saya yakin semua akan muncul”


“Gimana kita tau itu akhir dimensi ini pak, dan bagaimana kita tau bahwa yang akan kita bunuh adalah akhir dari penderitaan teman kita?” tanya Ivon


“Nanti kalian akan merasa berbeda, akan terasa pokoknya mbak Ivon. makanya tadi saya agak ragu sama Warno, saya tidak merasakan sesuatu, tetapi kenapa ada teman saya disini”


“Sekarang apa yang akan kita lakukan pak?”


“Putari telaga ini, dan ingat isi telaga ini bukan air, tapi bangkai manusia. Tapi pasti kalian tidak merasakan bau busuk yang menyengat kan”


“Ini dikarenakan air telaga ini, saya tidak tau bagaimana, mungkin karena di dalam air ini ada bakteri tertentu sehingga bangkai busuk yang ada di dalam air itu baunya tidak begitu menyengat”


Aneh, dan benar apa yang dikatakan pak Kus ini, di sekitar sini baunya sekarang tidak seperti di tengah lapangan itu, disini tidak terlalu menyengat meskipun masih tetap tercium bau bangkai.


Kami telusuri jalan setapak yang melingkari telaga, telaga ini tidak terlalu besar, dan benar telaga ini sudah tidak nampak lagi airnya, yang ada hanya tumpukan mayat yang membusuk, ada juga yang menggelembung besar.


Ketika kami sudah setengah perjalanan, di kejauhan aku melihat ada orang yang sedang jongkok….


“Pak Kus, disana itu apa?” bisik Novi sambil menunjuk ke orang yang sedang jongkok di kejauhan


Semakin dekat kami dengan sosok yang sedang jongkok itu, dan akhirnya aku bisa melihat orang yang sedang jongkok dan menghadap ke arah telaga. Tapi aku belum bisa melihat wajahnya


“Heh kamu siapa” tanya pak Kus


Tidak ada jawaban dari orang yang sedang jongkok, dia hanya bersuara ssst saja, seolah dia ingin memperingatkan kami agar tidak bersuara keras.


“Pak coba tanya dengan berbisik pak” kata Novi


“Heh…. kamu siapa” tanya pak Kus dengan suara nyaris tak terdengar


“Jangan rame… ikannya nanti lari, nama saya Broni” kata orang yang sedang jongkok tanpa melihat ke arah kami sama sekali”


Jelas aku terkejut… dia Broni dan apa yang sedang dilakukan disini. Tapi ini mustahil, itu bukan Broni!

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan disini Broni?” bisik pak Kus


“Ssst apa bapak nggak lihat, saya sedang memancing ikan pak” jawabnya tanpa melihat ke arah kami sama sekali


“Dia teman kami pak, dia namanya Broni” lanjut Novi


“Bukan mbak, dia bukan temanmu.. “


Kemudian orang yang tadi sedang jongkok itu kemudian berdiri menghadap ke arah kami. Dia sempat melihat kami beberapa saat.


“Wildan, Nov, Ivon,..?”


“Kemana saja kalian selama ini, aku cari kalian dan yang lainya, tapi kalian seperti hilang ditelan bumi!”


Orang yang mengaku Broni itu berbicara, tapi ada yang aneh dengan nada bicaranya. Biasanya suara Broni itu berkarakter keras dan bertekanan, yang ini hanya datar saja, dan tidak ada ciri khas dari si Broni.


“Ayo ikut aku ke rumah, aku sudah lama tinggal disini sendirian, bentar, tolong bawakan sekalian ikan yang baru aku tangkap itu Wil” tunjuk Broni di sampingnya


Janchok!.. Yang dia pancing adalah kepala manusia, sudah ada tiga kepala manusia yang sudah rusak dan membusuk..


“Aya bantu aku Wil, nanti di rumah kalian akan aku masakan, aku tau kalian pasti lapar sekali kan”


“Berapa ekor ikan yang sudah kamu dapat mas Broni?” tanya pak Kus


“Baru tiga itu pak, tapi itu lebih dari cukup untuk kita semua kok”


Dia bukan temanku, dia sejenis dengan Warno teman pak Kus yang tadi kita temui di pinggir telaga sisi yang sebelah sana. Artinya disini  kami sudah bertemu dengan dua temanku, Gilank dan Broni.


Pak Kus menggenggam parang dengan kuat, aku bisa lihat dari belakang, parang itu dia genggam di tangan kanannya, kemudian dengan tangan kirinya pak Kus memberi isyarat kepada kami untuk bersiap siap.


“Sini saya bantu mengangkat ikan yang mas Broni dapat, tapi sebentar mas Broni saya mau tanya, ikan ini nanti mau dimasak mas Broni dengan bumbu apa?” pak Kus bertanya sambil berjalan mendekati Broni


“Nanti saya masak sesuai kesukaan teman saya si Wildan pak, ikan masak rica-rica hehehe, benar nggak Wil?” suara Broni menakutkan juga, aku  nggak suka ketika dia bilang masakan kesukaan teman saya si Wildan


Pak Kus sudah ada di samping Broni, ketika Broni lengah dengan kekuatan penuh pak Kus menebas leher si Broni. Kepala Broni terlempar ke dalam telaga, tubuhnya ambruk, dan sekali lagi tidak ada darahnya sama sekali.

__ADS_1


Seperti sebelumnya tubuh yang menyerupai Broni itu dibelah oleh pak Kus…


“Sudah tiga yang kita bunuh malam ini, harusnya kita mengalami perpindahan dimensi, ayo saling mendekat, jangan terlalu jauh dari saya”


__ADS_2