
“Mas, apa sudah bisa lihat wajah mereka mas?”
“Belum Nov… aku belum bisa lihat mereka, tunggu kabut itu hilang dulu, lagian coba kamu lihat disana.. Di tempat yang kayak lapangan itu.. Disana masih penuh dengan kabut putih yang tebal”
“Meskipun di tempat rombongan orang yang sedang berdiri itu kabutnya masih menyelimuti di sebatas wajah mereka”
Kabut putih yang masih menggantung di sebatas wajah orang-orang yang sedang berdiri di depan lapangan itu perlahan-lahan naik ke atas, sehingga sebagian leher orang-orang itu terlihat dari tempat aku dan Novi berdiri.
Perlahan lahan kabut itu naik dan naik terus….
“MAS..!” kata Novi terpekik dan meremas tanganku
“ASTAGHFIRULLAH!..... I..itu apa Nov?”
Mereka yang sedang berdiri di lapangan itu bukan manusia!
Mereka yang bergerombol itu adalah mayat, sebagian dari mereka tidak memiliki kepala…..Sebagian dari mayat itu tubuhnya sudah tidak utuh lagi!
Kepala mereka putus di tengah leher…..
Kutarik Novi untuk mundur perlahan lahan hingga jarak kami dengan segerombolan mayat yang sedang berdiri menghadap ke lapangan yang kosong ini agak jauh.
“Mas… lapangan itu kosong…. Tadi bukanya penuh dengan mayat?” bisik Novi setelah jarak kami lumayan jauh dari gerombolan mayat yang sedang melihat ke arah lapangan kosong itu
“Kemana mayat yang tadi kita lihat ada disana itu mas?”
“Aku.. aku juga gak tau Nov, pokoknya lahan itu sekarang kosong”
Meskipun jarak kami dengan gerombolan mayat itu lumayan jauh, tetapi aku masih bisa lihat mayat-mayat yang sedang berdiri menghadap ke lapangan kosong itu.
Tidak lama kemudian secara bergiliran mayat-mayat yang sudah tidak utuh itu berjalan masuk ke tanah kosong yang mirip dengan lapangan.
Satu persatu mereka masuk dan kemudian mayat-mayat itu merebahkan dirinya.
Satu persatu mereka merebahkan dirinya dan mengatur posisi diri mereka sejajar dengan yang lain…. Mirip kayak ikan pindang
Kuperhatikan terus apa yang mayat-mayat itu lakukan, hingga kemudian mataku tertuju pada mayat yang berpakaian rapi, tetapi kepala mayat itu putus sebatas lehernya.
“Mas… yang itu kan mayat yang duduk di kursi halaman rumah yang kita tempat itu?”
“Iya Nov, itu mayat yang duduk di depan rumah…ngeri sekali, tujuan mereka apa sekarang pada rebahan disana?”
Bergiliran dan rapi, mayat-mayat itu merebahkan diri di tanah lapang yang mirip dengan lapangan…
__ADS_1
Hingga mayat terakhir merebahkan diri disana, setelah semua merebahkan diri dengan berjajar rapi, keadaan menjadi sunyi sepi, tidak ada kegiatan apa-apa lagi.
Sama sekali tidak ada aktifitas kecuali kabut yang mulai turun lagi.. Kabut tebal datang dari arah danau atau sendang Ningrum
Kabut tebal bergulung gulung datang dari arah sendang Ningrum… dan menuju ke tanah kosong.
“Nov, mimpi kita semakin kacau hihihi, lebih baik kita balik ke rumah aja Nov, dari pada kita masuk ke kabut aneh itu”
“Mimpi gimana mas… ini kenyataan mas, Novi takut sakali”
“Tenang aja Nov, kita balik ke rumah kita saja, dan nunggu hingga pagi.. “
“Ini mimpi Nov, ini bukan kenyataan, gak ada kenyataan yang seperti ini Nov hehehe”
Aku tau ini kenyataan, tetapi aku hanya ingin membuat Novi lebih santai dan tidak panik… aku tidak mau apabila Novi panik dan akhirnya terjadi sesuatu kepada kami.
“Ayo cepat kita pergi dari sini Nov,, kabut itu sudah menyelimuti tanah kosong itu, dan sekarang kabut itu bergerak menuju ke arah kita berdua”
Tidak ada jawaban dari mulut kecil Novi, tangan dia dingin dan berkeringat.
Aku tarik Novi untuk pergi dari sini secepatnya….
Dengan setengah berlari kami menuju ke arah rumah yang dekat dengan sungai..
Kutoleh ke belakang, keadaan belakang aman, tidak ada satu mayatpun yang mengikuti kami.. Tapi tidak dengan kabut putih pekat, kabut itu terus mengikuti aku dan Novi.
“Nggak tau Nov…. udahlah gak usah banyak tanya.. Kita lari menuju ke rumah itu saja, gak usah ngurusi kabut atau mayat yang ada disana itu
Suasana sepi, tidak ada mayat sama sekali, tidak ada apapun disini, hanya ada aku dan Novi yang sedang berlari menuju ke rumah yang dekat dengan aliran sungai.
Kutoleh sekali lagi ke belakang, kabut tebal itu masih berjalan pelan menuju ke arah kami berdua…
Kami berlari hingga sampai di rumah tempat kami berlindung dari hujan.
Kubuka pintu dan setelah kami masuk, aku tutup dan aku pasang juga slot pintu yang terbuat dari kayu yang ukuranya besar itu.
“Mas.. apa yang akan kita lakukan disini?”
“Udahlah Nov, diam aja disini, kita ini gak bisa kemana mana lagi, kita terjebak disini, dan terpaksa ada disini hingga kabut itu melewati rumah ini”
“Mas, kita apa gak bisa melewati sungai itu?” tanya Novi panik
“Gak bisa.. Aku yakin gak akan bisa dengan arus sungai yang sedang melupa pada saat ini”
__ADS_1
“Sudahlah Nov, banyak berdoa dan tetap disini hingga kabut itu melewati kita”
Aku duduk di lantai bersandarkan pada dinding kayu rumah, tapi sebelumnya aku nyalakan lagi api yang sudah mati di tungku masak..
Keadaan di dalam rumah sudah hangat, hanya saja aku tidak tau apakah kabut itu sudah lewat atau belum, tapi aku yakin tidak lama lagi kabut itu akan melewati rumah ini.
Novi bersandar di dinding kayu, jari jemarinya menggenggam tanganku dengan erat, ada keringat di telapak tangannya.
Tidak hanya dia yang takut, akupun sama takutnya dengan Novi, tetapi aku berusaha untuk bersikap tenang saja.
Udara di dalam rumah sudah lumayan hangat, tetapi ada yang aneh…
Tiba-tiba suhu udara berubah menjadi lebih dingin…udara yang sangat dingin mulai masuk ke dalam rumah, meskipun ada api di dalam tungku, tetapi udara untuk saat ini sangat dingin.
“Mas… kenapa udara disini tiba-tiba sangat dingin?” tangan Novi yang memegang tanganku bergetar
“Iya Nov, sangat dingin… aku nggak tau kenapa, ayo banyak doa saja Nov”
“I…..iya mas t..tapi d..dingin ini sangat gak normal sama sekali mas”
“S..sudahlah Nov, tetap berdoa semoga k..kita diberi keselamatan oleh Tuhan”
Ketika aku akan mendekati tungku api agar tubuhku dan tubuh Novi hangat, mendadak suhu udara yang sangat dingin ini hilang dengan sendirinya.
Keadaan kembali normal, meskipun keadaan disini masih tetap dingin.
“Kemungkinan besar tadi dingin itu karena kabut yang tadi mengejar kita itu melewati rumah ini, dan sekarang kabut itu sudah hilang. Akan aku lihat dulu di luar Nov”
“Jangan mas.. Gak usah lihat apa yang ada di luar, lebih baik diam saja disini sampai ada ada matahari terbit mas Wil”
Aku turuti kemauan Novi, kami berdua tetap diam di dalam rumah, dan menunggu hingga pagi tiba. Suasana sepi, tidak ada apapun yang ada di sekitar rumah ini…
Lama kelamaan aku mendengar dengkuran Novi.. dia sudah tidur.
Aku tetap terjaga, tapi lama kelamaan aku gak sanggup lagi, hingga akhirnya aku ngantuk dan tertidur di sebelah Novi.
*****
“HEH.. BANGUN!.. APA YANG KAMU LAKUAKAN DI RUMAHKU!” teriak suara orang laki-laki di telingaku
Kubuka mataku perlahan-lahan agar aku bisa fokus pada orang yang ada di depanku.. Perlahan lahan satu demi satu mataku kubuka.
Kusipitkan dulu kedua kelopak mataku agar lebih fokus dengan orang yang ada di depanku.
__ADS_1
Perlahan-lahan aku bisa lihat seorang laki-laki berpakaian rapi dengan kemeja lengan panjang ada di depanku dan Novi. tapi mataku masih belum fokus, karena kesadaranku belum sepenuhnya timbul.
“Hei bangun!.. Apa yang kalian lakukan di rumah ini!” kata orang itu sekali lagi