
Aku tidak begitu saja percaya dengan yang dikatakan Kimpet, kenapa aku tidak begitu saja percaya dengan dia?
Karena aku pernah bertemu dengan Kimpet beberapa kali, dan yang mengerikan dia memakai celana tiga perempat yang sekarang sedang dipakai Gilank, yang artinya dia sudah membunuh Gilank, dan apa yang dipakai Gilank kemudian dia pakai.
“Begini saja, lebih baik kalian pulang saja dulu, keluarlah dari sini dengan selamat dulu. Untuk teman kalian, apabila memang masih bisa bertahan hidup pasti suatu saat mereka akan ada di kebun saya ini”
“Tapi pak, kalau kami pergi dari sini, apakah kami akan ada di tempat pertama kami datang ke daerah ini? Saya takut apabila kami ada di masa yang berbeda pak” kata Novi
“Iya pak, kami takut apabila kami ini tersesat di dalam sebuah mesin waktu dengan masa yang berbeda beda dengan ketika kami datang ke sini”
“Tidak, kalian sudah keluar dari sana, yang artinya kalian tidak akan masuk dalam permainan itu lagi. Artinya begitu kalian pergi dari sana, maka otomatis kalian sudah ada di masa yang normal”
“Kalian lihat disana itu ada jalan setapak, itu jalan setapak yang saya buat untuk menuju ke pasar. Ikuti saja jalan itu, tetapi ingat, kalian ini keluar dari desa mayit dengan selamat,yang artinya hidup kalian akan seperti saya”
“Nyawa kalian akan terancam, dan sewaktu waktu kalian akan dibunuh!”
“Tapi tenang saja, kalau kalian bisa selamat, maka kalian akan menemukan sebuah pola cara untuk membunuh kalian, dan dengan pola itu kalian bisa pelajari cara-cara mereka membunuh kalian, dan saya rasa kalian akan selamat seperti saya” kata pak Kimpet dengan tersenyum aneh
Sampai saat ini aku masih ragu dengan orang yang ada di depanku ini, tetapi kami memang harus segera keluar dari sini secepatnya.
Dan benar Kimpet, untuk teman-teman kami yang lainya, mungkin mereka nanti akan datang ke ladang pak Kimpet juga, jadi memang sebaiknya kami harus meninggalkan tempat ini secepatnya.
Setelah basa-basi dan menanyakan jalan setapak yang dibuat oleh Kimpet, akhirnya kami bisa pergi dari sini.
Tapi aku harus waspada kepada Bondet, dia dari tadi berusaha mendekati Novi, dia penggemar Wariya, dan rela melakukan apa saja demi tidur dengan wariya alias bantji.
Bondet satahuku memang punya sedikit kelainan, ya kelainan itu tentang dia yang tergila gila dengan bantji, padahal banyak perempuan-perempuan yang bisa Bondet pacari, tetapi entah kenapa dia selalu berakhir di pelukan bantji.
Dan bantji bantji yang dikenalkan dengan kami selalu berwajah laki-laki yang sangat berbeda jauh dengan Novi yang sudah sangat perempuan.
__ADS_1
Setelah kami rasa paham dengan jalan setapak yang merupakan jalan setapak buatan si KImpet, akhirnya kami putuskan untuk pergi dari sini dan menunggu teman kami yang lainya di rumah saja.
“Ayo rek kita pergi dari sini, eh Nov sini sama aku aja, aku kok rasanya gak mau kehilangan kamu Nov” aku gandeng dan aku rangkul pundak Novi agar tidak termakan rayuan Bondet
“Owwh gitu ya Wil, kamu ternyata doyan bantji juga ya” kata Bondet ketika melihat aku merangkul Novi dengan mesranya
“Nggak lah Ndet, Novi ini bukan bantji, dia perempuan, dan dia sudah aku anggap sebagai saudara perempuanku yang harus aku lindungi dari hewan buas yang akan mengancamnya” sambil aku cium kening Novi yang mulus
“Ah mas WIldan ini, Novi jadi terharu mas…” kata Novi sambil memeluk pinggangku
“Woooo Wildan ngatjeng rek” kata Bondet lagi
Aku tau Bondet akan terus mengintimidasi aku agar Novi lepas dari aku dan pindah ke Bondet yang memang sudah kemecer dengan Novi yang sedang aku rangkul.
Aku nggak ngurus Bondet yang terus menerus mengeluarkan kata-kata yang menyudutkan aku dan menjelek-jelekan aku, tapi untungnya Novi tau apa yang dimaksud Bondet, sehingga semakin Bondet menjelek jelekan aku, semakin Novi merangkul pinggangku dengan mesra.
“Ndet\, gak usah gatel gitu C*k!....awakmu itu bukan selerane Novi C*k” kata Gilank ketika Bondet terus menerus menteror aku demi mendapatkan perhatian Novi
Aku makin curiga dengan jalan setapak yang makin tidak terlihat karena semak belukar yang semakin lebat, serta pepohonan yang semakin rapat.
Tadi memang ada jalan setapak, tapi lambat laun jalan setapak itu semakin mengecil dan sekarang aku sudah tidak melihat jalan setapak itu lagi.
“Mangkane, kamu itu haruse liat jalan ae Wil, biar Novi aku yang ngelindungi” kata Bondet
Aku gak pedulikan omongan Bondet, omongan yang tetap menjurus ke nafsu terhadap Novi, sekarang yang jadi perhatianku adalah jalan setapak yang hilang.
“Kita balik aja Wil, kita balik ke perkebunan si Kimpet aja” kata Gilank
Tapi ketika kami berbalik arah, yang ada di depan kami hanya semak belukar dan pepohonan yang besar, kami sudah tidak bisa melihat jalan setapak yang sebelumnya kami lewati. Jejak kami sudah terhapus oleh rimbunnya semak belukar.
__ADS_1
“Waduh, kok jalannya ilang rek”
“Sik Wil, tadi waktu kita sampai di titik di tempat kita berdiri ini, tadi sebelumnya masih keliatan jalan setapak meskipun itu ketutupan semak dan rumput kan?” kata Gilank
“Iyo Lank, tadi kan kita masih lihat ada jalan setapak, mangkane kita bisa sampek disini, dan sekarang kita akan balik ke tempat asal. Dan tapi ternyata di belakang kita ini gak ada jalan setapak sama sekali, yang ada hanya semak belukar tok!”
“Mas Wildan…. Eh coba pohon diantar jalan setapak yang tadi kita lalui, kayaknya sekarang pohon-pohon itu semakin rapat deh mas, tidak ada sela diantara pohon itu yang bisa dipakai untuk jalan setapak…”
“Sebentar Nov, aku dari tadi itu kurang percaya sama Kimpet, tapi nggak tau kalian kok bisa sangat percaya dengan dia, bisa saja dia sekarang menyesatkan kita kan”
“Nggak mas… Menurut Novi Kimpet itu lebih bisa dipercaya dari pada mas Bondet hihihihi”
Kami tersesat, karena tidak ada lagi jalan setapak yang bisa kami lalui, sekarang kami ada di hutan yang masih belum terjamah manusia.
“Lank, seumpama kita kembali ke kebun Kimpet, kira-kira kita bisa nggak?” aku berusaha menggali pikiran si Gilank, siapa tau dia masih bisa mencari jalan untuk kembali ke tempat Kimpet berada.
“Kita coba aja Wil, kalau nggak kita coba, mana tau kita bisa kembali atau tidak” jawab Gilank
“Waduh iki gak lucu rek, kita bisa makin tersesat kalau caranya kayak gini rek”
“Mas Wil… sebentar mas… kayaknya Novi tau sesuatu deh mas… ayo kita ke pohon itu mas, semoga pohon itu seperti pohon yang Novi pikirkan mas”
Novi berjalan sendirian di depanku, tiba-tiba Bondet yang ada di belakang kami maju dan menghampiri Novi yang sedang melihat ke sebuah pohon yang ada di samping kami.
“Lhoo lapo (ngapain) Ndet, lapo kamu kok tiba-tiba ada di sebelah Novi gitu?” tanya Gilank
“Lha aku kan ngelindungi Novi Lank, nek seumpama ada ular gimana rek?” jawab Bondet dengan wajah mesumnya
“Ih mas Bondet ini ternyata cowok yang baik dan perhatian ya” kata Novi genit
__ADS_1
“Apa yang sedang kamu lihat Nov?” aku penasaran dan menghampiri Novi yang di sebelahnya ada Bondet
“Pohon ini mas, tadi Novi sempat lihat dahan pohon ini yang bersilang seperti huruf X… dan sekarang dahan pohon ini masih bersilang seperti huruf X. Artinya kita ada di tempat yang benar dan jalan ke sana itu jalan untuk kembali ke kebun Kimpet” jawab Novi