TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 96. IVON SUDAH PULANG?


__ADS_3

“Ivon sudah mati Nov, bagaimana kamu sampai nggak tau?” kata Yance


“Tenang Yance, ada baiknya kita ke rumah Ivon saja, Novi nggak begitu saja percaya dengan yang dikatakan orang yang bicara sama kamu itu” jawab Novi


“Bisa saja itu bukan ibunya Ivon Yance”


“Sebelum kita ke sana dan liat apa yang terjadi Novi nggak akan percaya Yan”


“Novi, kamu tau nggak dengan siapa Ivon pergi waktu itu?”


Novi tidak menjawab pertanyaan yance, Novi melihat ke arahku beberapa kali , dia kayaknya minta pertimbangan aku untuk menjawab pertanyaan Yance.


“Yance…. Kamu ini gimana sih, di depanku kamu tanya-tanya soal Ivon, Novi sehari-hari ya sama saya” aku jawab pertanyaan Yance, dari pada Novi keceplosan yang nggak-nggak


“Iih mas WIldan kok ngegas sih, kan eike yang tanya Novi, kok mas WIldan yang jawab sih” kata Yance agak emosi


“Yah maaf yance, Novi nggak bisa jawab, karena Novi udah lama nggak sama Ivon, jadi Novi kan nggak tau dengan siapa sekarang dia berteman” jawab Novi mendukung apa yang aku jawab ke Yance


“Iya sih Novi, tapi eike kan curiga juga, dengan siapa sekarang Ivon itu jalan, jangan-jangan dia salah arah karena kecewa  sama Novi”


“Udahlah Yance…. Untuk saat ini Novi masih belum percaya kalau Ivon sudah nggak ada”


“Tapi Novi, bagaimana dengan mimpi Yance semalam…wajah Ivon yang penuh darah dan mulai mencekik eike Nov”


“Jadi kamu lebih percaya dengan mimpimu…. yang mana mimpi itu kan cuma bunga tidur yang belum tentu benar”


“Ya nggak juga Novi… dah ah sekarang apa yang akan kita lakukan Novi?”


“Eh Yance, kamu mau lihat nggak kalau Ivon itu masih ada, ini lihat ada yang like status Novi” kata Novi memberikan tablet yang dia bawa dari tadi


“Kalau Ivon itu sudah mati, lalu siapa yang like status Novi, apa dia setan Ivon?”


“Iya ya… bener juga Novi, ini yang like statusmu kan Ivon sendiri…Nov”


“GIni aja Yance, kamu kesini naik mobil apa nggak, kalau kamu bawa mobil, kita ke rumah Ivon aja, kita tanya langsung saja bagaimana keadaan Ivon”


“Iya mas Wil, eike bawa mobil, tapi…….”


“Nggak usah tapi-tapian, masalah bahan bakar biar Novi aja yang bayar” potong Novi


“Nov, lebih baik sekarang aja kita ke rumah Ivon, nanti dari sana kita ke rumah Tifano. Nanti biar Yance aja yang masuk ke rumah Tifano dan tanyakan dimana Tifano berada”


“Eh siapa lagi itu Tifano mas Wil?” tanya Yance


“Heheh cowok yang sampai umur 26 tahun masih saja perjaka dan jomblo… itulah Tifano yang ada keturunan timur tengah”


“Waduuuuh, bisa kenalin eike dong mas Wil” wajah Yance terlihat girang


“Tapi kenapa harus eike yang harus cari mas TIfano mas Wildan?”


“Udah nggak usah banyak omong. Kamu mau kenalan sama Tifano apa nggak Yance?”


“Iya mas Wil….”

__ADS_1


“Ya udah, sekarang  aja kita jalannya, keburu siang…panas Yance” potong Novi


*****


Aku, Novi, dan Yance berangkat ke rumah Ivon, aku nggak percaya apabila Ivon sudah tidak ada, karena dia sempat like statusnya Novi, mungkin dia ada di rumah, tetapi tidak mau berhubungan dengan orang luar, itu cuma perkiraanku saja.


Lima belas menit dari hotel, kami sudah sampai di sebuah komplek perumahan yang terkenal karena rumah-rumah mewahnya.


“Yance, kamu masih ingat rumah Ivon ya?”


“Ih rumpik deh Novi… tentu saja Eike masih ingatlah… di depan itu belok ke kiri kan?”


“Iya Yance, nanti kamu yang turun ya….”


“Eh ntar eike bilang apa sama ibunya Ivon?”


“Cari aja Ivon dan tanyakan dia ada dimana, pokoknya jangan sampai kamu tidak dapat info dimana Ivon berada”


Di depan ada sebuah rumah bercat putih yang berukuran besar,  mobil yang disopiri Yance berhenti di depan pagar rumah itu.


Tapi rumah ini tertutup kondisinya, dan kayaknya kosong.


“Mas Wil… rumah ini kok kayaknya kosong ya mas?” tanya Novi


“Kamu tau dari mana kalau rumah ini kosong Nov?”


“Itu mas, di depan rumah banyak daun yang berserakan, juga ada tas sampah kresek bekas juga. Kayaknya rumah ini sudah lama tidak dibersihkan mas”


“Coba kamu turun Yance, ketok pintu pagar rumah itu”


“Benar perkiraan Novi mas, rumah itu kosong kan mas”


“Iya Nov, tapi siapa yang angkat telepon dan menjawab pertanyaan si Yance?”


“Hiii Novi kok jadi merinding gini ya mas?”


“Gini aja Nov, kita tanya pak Satpam yang jaga komplek ini. Kita cari pos penjaga daerah ini dulu saja Nov”


“Eh kita nggak turun dulu aja mas Novi?”


“Nggak usah Yance, kita langsung saja cari pos penjagaan saja… kayaknya tadi di pintu masuk komplek ada pos penjagaan”


Yance mengarahkan mobilnya ke pos penjagaan komplek yang tidak jauh dari rumah  keluarga Ivon


“Nov, kamu tau nggak siapa nama orang tua Ivon, nanti kan kita tanya ke pos itu nama bapak atau ibunya Ivon”


“Nanti biar Novi aja yang tanya mas, Novi kan sering kesini mas, jadi mungkin penjaga aera sini masih hapal sama Novi mas,,, mas Wildan dan Yance di mobil aja”


“Jangan Nov, aku  ikut kamu aja, biar aman lah”


*****


“Selamat siang mas Ruslan…”

__ADS_1


“Lho mbak Novi, lama nggak kesini mbak,” kata penjaga keamanan


“Iya mas, saya nikah sama mas Wildan ini, dan kami tinggal di luar kota. Eh mas rumah Ivon anak pak Cahyo itu kok kosong?”


“Mbak Novi ini apa nggak tau ya, keluarga pak Cahyo pindah setelah istrinya pak Cahyo meninggal”


“Ha…. bu Cahyo meninggal pak, kapan meninggalnya pak Rus?”


“Bu Cahyo meninggal tiga bulan lalu mbak….”


 “Tapi ada yang aneh dengan keluarga itu mbak”


“Aneh gimana mas Rus?” tanya Novi


“Jadi gini mbak… mbak Ivon itu sempat tidak pulang ke rumah selama sekitar tiga bulan lebih…saya ingat waktu itu saya jaga malam dengan pak Jayus”


“Tiba-tiba mbak Ivon datang jalan kaki dengan pakaian lusuh… dia jalan sendirian, dan sempat saya antar sampai rumah, karena kondisi mbak Ivon lemah”


“Ehm mbak Novi, bukannya mbak Ivon waktu itu pergi sama mbak Novi?” tanya satpam itu


“Ehh nggak pak… Novi diajak nikah sama ini mas Wildan dan Novi tinggal di luar kota, si Ivon itu kebiasaan kalau pergi kemana mana selalu pakai nama Novi untuk ijin ke orang tuanya” jawab Novi


“Jadi Novi tidak tau dia pergi sama siapa….. Waktu dia datang apa dia tidak cerita apa apa?”


“Tidak mbak, keluarga pak Cahyo itu kan tertutup, yang penting mbak Ivon pulang gitu aja. Nah sekitar tiga hari setelah mbak Ivon pulang, bu Cahyo meninggal secara mendadak”


“Saya tidak tau sakit apa ibunya mbak Ivon itu…pokoknya meninggal dan mayatnya tidak di urus di rumah itu”


“Setelah ada ambulan datang dan menjemput mayat bu Cahyo dan seluruh keluarganya ikut ambulan dan kemudian sampai sekarang tidak pulang ke rumah itu lagi, rumah itu ditinggal begitu saja mbak”


*****


Tidak ada pembicaraan apapun di dalam mobil hingga kami sampai di hotel.


Yance merasa ketakutan ketika tau bahwa ibunya Ivon sudah lama meninggal, dan rumah keluarga Ivon sekarang sudah kosong.. Bahkan sudah kosong hampir tiga bulan lalu.


“Nov, eh eike… eh eike nanti pulang ke rumah mama papa  dulu aja, eh kalau Novi perlu apa-apa telpon eike aja ya” kata Yance yang wajahnya pucat


“Eh eike pulang dulu, badan eike rasanya nggak enak”


Sudah gitu aja…. setelah antar kami di depan hotel , Yance pamit pulang ke rumah orang tuanya. Dia kayaknya bingung dengan apa yang dia sudah lakukan bersama aku dan Novi.


Aku dan Novi tidak langsung ke lantai lima….kami duduk di lobby hotel yang tidak seberapa besar.


“Nov, Ivon sudah pulang duluan ternyata, dan dia cuma hanya hilang tiga bulan”


“Iya mas… eh lalu yang kata pak Tejo banyak keluarga yang mencari di sana itu keluarga siapa mas?”


“Ya keluargamu, aku, Broni, dan semuanya… kecuali Gilank heheheh, dia kan memang mau dibuang sama istrinya, karena beban keluarga hehehe”


“Kita nggak mungkin pulang ke rumah keluarga kita Nov… Sudah kejadian ada yang meninggal di keluarga Ivon Nov… gimana ini ?”


“Eh berarti Ivon tidak ketemu pak Tejo mas?”

__ADS_1


“Ada kemungkinan dia lewat jalur lain keluar dari lembah mayit itu…


“Nov, terus yang angkat telepon si Yance itu siapa?”


__ADS_2