TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 21. SUARA MINTA TOLONG


__ADS_3

“Mas Wil.. apa nggak penasaran dengan suara yang ada di kamar itu?” tanya Ivon


“Ndak… sama sekali tidak Von, lebih baik kita tidur dan jangan mengganggu dan merubah apa yang ada disini, kita disini hanya tamu yang numpang tidur saja Von”


“Tapi kita kan udah pakek baju bekas itu untuk tidur disini mas?”


“Yah kita pinjam saja agar kita tidak kedinginan Von, besok pagi harus kita kembalikan lagi ke ruangan itu”


Kurebahkan tubuhku ke pakaian-pakaian yang diatur sedemikian rupa sehingga pakaian ini bisa kami buat alas untuk tidur, pakaian yang  kami  ambil dari tumpukan pakaian bekas di kamar sebelah.


Sebenarnya gak cuma Ivon aja yang penasaran dengan yang ada di dalam kamar itu, aku juga penasaran, tapi harus diingat bahwa rasa penasaran itu selalu awal dari bencana, jadi hilangkan rasa penasaran yang selalu membuat kita ingin untuk melakukan sesuatu.


Untungnya aku sudah sangat ngantuk sehingga aku nggak pedulikan lagi apa yang Ivon mau omongkan, lebih baik menanti pagi daripada melakukan sesuatu yang berbahaya disini.


Desa ini bukan desa biasa, desa ini desa yang mempunyai kekuatan magis, nama desa ini adalah lembah mayit,seperti yang dikatakan pak Sapudi yang entah dia itu mahluk ghaib atau mahluk nyata, karena hingga sekarang dia hilang.


“Janc*k… lembah mayit!.... Karena banyak ditemukan mayat di lembah dan mayat itu mereka kuburkan di desa ini..!” kataku sambil terduduk dan kemudian berdiri sambil melihat sekeliling


“Kenapa mas Wildan kok malah berdiri gitu?” tanya Ivon yang dari tadi masih duduk termenung


“Von…!”


“Von…. pakaian itu adalah pakaian mayat yang dikubur di lembah ini!” bisiku dengan suara yang agak keras


“Jangkrik….!” kata Ivon sambil berdiri


“I..iya mas… k..kita tidur di pakaian yang dikenakan orang mati yang katanya ditemukan di sini mas” kata Ivon yang berdiri mendekati aku


“Apa yang harus kita lakukan mas?”


“Berpikir positif dulu saja Von… apa mungkin sih penduduk disini melepas pakaian mayat yang mereka temukan dan menggantinya dengan kain kafan dan mengubur di desa ini?”


“Dari mana mereka mendapatkan kain Kafan, dan pakai dana dari mana untuk membeli kain kafan untuk puluhan bahkan ratusan mayat yang ditemukan disini”

__ADS_1


“Udahlah Von itu  tadi kan hanya pikiranku yang gak karu karuan aja, kita jangan berpikir yang jelek-jelek dulu Von.. ayo sana kamu tidur dulu, nanti aku aku juga tidur kok”


“Mas Wildan aja yang tidur dulu, Ivon mau duduk duduk di dipan  itu”


“Ngawur ae.. Dipan itu kotor sekali Von.. jangan duduk disana , nanti lubang pantatmu kemasukan cacing lho hiiiii”


Dengan perasaan gak karu-karuan aku duduk lagi di lantai tanah yang sudah dilapisi pakaian-pakaian bekas yang ditata rapi oleh anak-anak.


Ivon yang tadinya hanya berdiri juga mulai duduk di sebelahku meskipun dia masih ketakutan.


Ketika aku sudah mulai ngantuk, tiba-tiba ada lagi suara langkah kaki.. Tetapi kali ini bukan suara langkah kaki yang beramai ramai,, hanya suara langkah kaki seseorang, dan sepertinya langkah kaki itu sedang membawa sesuatu yang berat dengan diseret(ditarik).


Aku diam sambil terus berusaha mendengarkan suara itu di antara suara gerimis hujan yang masih saja terjadi di desa ini.


“Mas…. dengar suara itu?”


“Iya Von… udahlah abaikan  saja suara itu, kamu tidur saja, besok kita harus cari jalan menuju keluar dari desa ini”


“Anggap saja suara-suara itu berasal dari penduduk ghaib yang ada di sekitar rumah ini…”


Kutajamkan pendengaranku… tepat di depan pintu rumah sepertinya sedang ada kegiatan dari sesuatu, karena aku dengar suara  sesuatu yang sedang sibuk.


Ivon pun juga melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan, dia duduk bersila sambil mendengarkan sesuatu yang sedang melakukan kegiatan di depan pintu rumah.


Kuberi tanda kepada Ivon untuk tidur… untungnya dia mau tidur, kebetulan aku pun sudah mulai ngantuk luar biasa.


*****


Entah sudah berapa jam aku tidur, aku bangun dengan kaget karena aku mendengar suara keras yang berasal dari belakang rumah.


“Cuk… ternyata masih jam 01.30… sialan kenapa aku gak bisa tidur gini, sementara teman-teman lainnya masih nyenyak” gumamku sambil melihat sekeliling ruangan.


Ternyata api di perapian sudah tinggal bara saja, pantas suhu udara di dalam sini mulai dingin lagi.

__ADS_1


Aku berdiri dari posisi dudukku tadi, dan menuju ke tumpukan ranting dan kayu bakar yang ada di sebelah tungku api, kuambil beberapa ranting dan kayu kemudian aku masukan lagi ke tungku pembakaran.


Tumpukan ranting dan kayu itu banyak juga untuk rumah sekecil ini… mungkin untuk persediaan lama, jadi pemilik rumah ini dulu memang menyediakan banyak kayu bakar dan ranting disini.


Tidak ada yang aneh disini, kemudian aku kembali tidur setelah api yang ada di tungku mulai membesar lagi.


Aku mulai menutup mataku karena rasa kantuk yang mulai menyerangku lagi… rasa kantuk ini membuat aku merasa nyaman… aah akhirnya aku bisa tidur juga….


“Wil..tolong……”


Janc*k…. Suara sopo  iku….baru saja aku mulai tidur… njemunuk  kok ada suara minta tolong dari luar rumah.


Mataku belum terbuka penuh, duduk dengan tergesa gesa… jantungku berdebar keras. Siapa tadi  yang memanggil namaku, suara itu sangat pelan dan leman, sehingga aku tidak bisa menebak suara siapa itu.


“Onok opo WIl… kok kamu duduk tegang gitu”  kata Tifano yang terbangun


“Nganu Tif, tadi aku dengan suara orang minta tolong.. Suara itu berasal dari luar rumah ini Tif”


“Ah kamu ngimpi paling Wil.. lanjut tidur ae, ini masih tengah malam…besok kita cari sesuatu di hutan yang bisa dimakan Wil” setelah bicara Tifano kembali tidur lagi.


Aku yakin tadi itu bukan mimpi, aku yakin yang kudengar tadi itu benar-benar seseorang yang sedang minta tolong. Aku penasaran dengan suara minta tolong itu, suara itu ada di depan rumah ini, pokoknya suara minta tolong itu tidak jauh dari sini.


Suara minta tolong itu masih terngiang ngiang di kepalaku, apakah itu suara Broni atau Gilank.. Aku juga gak tau, karena suara itu begitu lemah dan pelan.


Aku berdiri… dan berjalan mendekati pintu rumah… pintu rumah yang tertutup rapat agar udara dari luar yang sangat dingin tidak masuk ke dalam rumah.


Kutempelkan telingaku di daun pintu yang terbuat dari kayu dan berwarna kehitaman mungkin karena jelaga dan asap dari sisa pembakaran tungku masak.


“Di luar gak ada suara apapun selain suara air hujan aja..aneh”


Memang tidak ada suara apapun di luar sana, selain suara air hujan yang mengenai atap rumah, tanah, daun dan yang lainya…tidak ada suara mencurigakan seperti sebelumnya.


Kugeser langkah kaki dengan telinga masih menempel di daun pintu… tapi sama saja, tidak ada suara apapun di luar sana selain suarah hujan.

__ADS_1


Apa harus aku buka pintu rumah ini agar aku tau apa yang ada di luar sana, tapi aku jelas gak berani… tapi rasa penasaran tentang suara minta tolong itu tadi membuat aku bertekad untuk membuka pintu rumah.


__ADS_2