
Tidak ada sarapan prasmanan di hotel ini, yang ada hanya sarapan yang diantar ke dalam kamar saja. Termasuk pagi ini, telepon dari bagian resepsionis menanyakan kami mau sarapan roti atau nasi.
“Hehehe ini sudah lumayan Nov untuk hotel sepi seperti ini, satu piring nasi goreng dan teh hangat, ini sudah bagus dari pada nggak ada sarapannya sama sekali”
“Iya mas… eh nanti Yance mau kesini mas, kita harus cerita apa ke dia?”
“Sik Nov, kamu yakin nggak nov kalau Yance aman-aman saja setelah jalan bersama kita?”
“Novi nggak bisa mikir dan nggak mau mikir aman atau ndaknya mas, yang pasti sebentar lagi Yance mau ke sini dan katanya ada sesuatu yang penting mau diceritakan”
“Jam berapa dia ke sini Nov?”
“Pagi ini mas, karena siang nanti dia ada urusan sama keluarganya”
Tablet milik Novi aku periksa lagi, siapa tau ada notifikasi dari teman-temanku…. Ternyata di efbeku nggak ada notifikasi lagi selain semalam dari Tifano.
“Nov, efbemu ada notifikasi nih”
“Buka aja mas. Novi kan lagi makan mas”
Kubuka notifikasi di efbe milik Novi… dan ternyata ada like dari Ivon…
Tanganku gemetar… aku serahkan kepada Novi.
“Itu Nov, a..ada like d..dari Ivon di statusmu!”
Novi cuma melongo dengan nasi di mulutnya yang belum sempat di kunyah, jelas aku kaget dan takut, apalagi semalam juga ada like dari TIfano, sekarang like dari Ivon.
Piring berisi nasi goreng yang masih dimakan separuh itu dia taruh di meja.
“Mas… gimana ini mas?”
“Aku juga nggak tau Nov. kalau pun terpaksa kita harus tanya ke keluarganya, dan tanya keberadaan Ivon”
“Nggak mas, jangan libatkan orang yang belum terlibat dengan kita mas”
“Gini aja Nov, minta tolong Yance untuk hubungi keluarganya Ivon dan Tifano. Dia kan masih aman-aman saja Nov”
“Tapi mas…..?”
“Nggak usah tapi tapian Nov, ini kan juga demi keselamatan kita semua. Siapa tau Yance mau bantu kita”
“Tapi berarti kita harus terus terang dengan Yance apa yang terjadi dengan kita mas?”
“Eh jangan dulu, nanti sebentar, aku masih mikir apa yang terbaik dulu Nov… tapi misalnya hanya untuk telepon saja dia mau kan?”
“Eh kalau Ivon mungkin dia mau mas, karena Novi kan dulunya sama Ivon”
“Nov, aku mau tanya… Ivon itu lakik apa perempuan Nov?”
“Hehehe dia itu asli perempuan mas, mas WIldan naksir sama Ivon, tapi dia tomboy mas…. Jugaan dia itu lesbong hhihihih”
“Lah, kalau Lesbong kenapa dia mau sama kamu Nov, bukanya lesbong itu gak doyan sama kuntila?”
“Hahahah jangan salah mas, Ivon itu suka sama waria macam Novi gini heheheh”
“Kata Ivon serasa punya pacar iles tapi berkuntila hahaha, dia puas sama kuntilanya Novi mas!”
“Jancok… kuntila sebesar botol beer itu bisa masuk ke nganunya Ivon Nov?”
“Ah mas Wil ini banyak tanya aja sih, dah ah.. Oh iya, tapi waktu itu kan Ivon sempat dekat sama mas Bondet kan mas Wil, mungkin dia sudah mendapatkan pencerahan”
“Udah ah Nov, sekarang balik ke masalah kita…. Ivon dan Tifano sudah like status kita Nov, dan kita harus coba hubungi rumahnya atau keluarganya…”
“Disini yang paling mudah kayaknya Ivon Nov, jadi rencanaku gini….”
__ADS_1
“Kamu sebelumnya kan deket sama Ivon Nov”.
“Dan Yance kemarin kan tanya tentang Ivon, sekarang gunakan keingintahuan Yance terhadap hubunganmu dengan Ivon, hingga dia penasaran dan ada keinginan untuk menghubungi Ivon dan atau keluarga atau temannya Ivon”
“Kamu cerita aja ke Yance, bahwa hubunganmu dengan Ivon sedang tidak baik-baik saja, dan sekarang Ivon minggat entah kemana, Ivon gak mau angkat telepon dari kamu Nov…”
“Intinya minta Yance agar hubungi Ivon atau keluarganya atau temannya untuk minta info dimana Ivon berada… gimana, paham nggak kamu Nov?”
“Masuk akal mas… iya nanti Novi coba sandiwara seperti itu”
“Ada lagi Nov, untuk sementara sebelum dia hubungi TIfano dan Ivon ada baiknya kita tidak cerita tentang kejadian yang ada di mall itu.. Kejadian kita mengikuti Yance palsu hingga tabrakan yang ternyata hanya ilusi saja”
“Iya mas. Novi setuju juga dengan usul mas Wildan ini”
Baru selesai aku bicara dengan Novi, mendadak ada ketukan beberapa kali di balik pintu kamar hotel..
“Siapa…?”
“Ini Yance mas Wildan….” jawab suara dari balik pintu
“Oh Yance… sebentar aku buka kuncinya dulu”
*****
Wajah yance sedikit pucat, dan mata dia agak merah berair…. Kayaknya dia semalam begadang. Kubiarkan dia duduk di tempat tidur bersama Novi, sedangkan aku duduk di kursi meja.
“Kamu kenapa Yan, kok pucat gitu, kamu habis begadang ya” tanya Novi
“Nov,... semalam apa bener kalian ninggalin eike?”
“Ih justru Yance itu yang ninggalin Novi dan mas Wildan. Novi kan waktu itu minta ijin Yance ke toilet, dan diantar mas Widan, kemudian sampai di pujasera, Yance udah nggak ada”
“Ah masak sih Novi, perasaan eike nunggu kalian berdua sampai diusir petugas karena mall sudah hampir tutup”
“Udah deh Nov, masalah semalam ya udah, mungkin karena eike sedang pusing atau gimana, pokoknya yang semalam udah kita clearkan aja, sekarang ada sesuatu yang bikin Yance takut Nov”
“Yance sampai nggak bisa tidur lho Noviiiii”kata Yance
“Emang Yance mimpi apa?”
“Semalem ketika eike tidur… eike udah tutup mata nih Nov, tiba-tiba ada yang cekik eike… “
“Eike berontak, tapi badan rasanya kaku, eike buka mata, ternyata yang cekik eike bekas pacar kamu Novi!
“Si Ivon!”
“Tapi itu mimpi kan Yance” potong Novi
“Iiiih jangan potong cerita eike dong…. Kan belum selesai cerita!”
“Iyaaaa, maaf Yance, ayo lanjutin ceritanya lagi dong”
“Ivon… wajah Ivon ngeri sekali Noviii, wajah pucat dengan luka dan darah di mana mana, bahkan hidungnya sudah hilang!”
“Ketika eike makin kesakitan, Ivon mendadak hilang… kamar yance tiba-tiba bau bangkai Nov”
“Eike sampai muntah-muntah, gak kuat sama bau bangkainya!”
“Hmm iya. Tapi setelah itu aman kan Yance?”
“Ya nggak tau Nov, Eike gak tidur semalaman main PS sendirian di kamar”
“Yance… kamu cuma mimpi buruk sayang… itu mimpi buruk karena Yance dikhianati si Izal.. pikiran Yance kamana-mana akhirnya… benar nggak yang Novi katakan ini Yance?”
“Iya sih Novi, ada benarnya juga, Semalam emang eike mikir Izal terus… “ jawab Yance
__ADS_1
“Yance, Novi minta bantuan Yance untuk telepon di Ivon mau nggak, Ivon gak mau terima telpon dan Wa dari Novi. mungkin dia marah karena Novi sekarang udah sama mas Wildan”
“Iiih mau balikan nih ceritanya Novi… kalau emang mau balikan Eike mau dong sama mas WIldan” sambil melirik aku!
“Eeeh nggak gitu Yanceeee, Novi cuma mau minta maaf dan kasih semangat Ivon… mau kan Yance hubungi Ivon?”
“Iya deeeh, coba eike hubungi ponsel Ivon ya Noviiii”
“Kalau nggak diangkat, Yance punya nomor telepon rumah Ivon kan, coba hubungi juga rumahnya ya Yanceeee”
Yance menghubungi nomor Ivon beberapa kali, tetapi jawabanya selalu sama, nomor yang anda hubungi tidak bisa dihubungi.
“Ponselnya kayaknya mati deh Novi, tapi aneh juga lho, masak sih Ivon matikan ponselnya. Tapi emang eike kan udah lebih dari satu tahun ya nggak ketemu kalian, apa mungkin dia ganti nomor?”
“Coba cocokan saya nomor yang Novi punya Yance”
Mereka berdua saling mencocokan nomor, dan ternyata nomor itu sama, tidak ada yang berbeda sama sekali.
“Sama kan Yance, sekarang coba nomor telepon rumahnya aja Yance”
“Hehehe eike nggak punya nomor telepon rumahnya Nov”
“Sini, Novi punya nih Yance….. “ kata Novi sambil menunjukan sederet angka pada layar ponselnya
“Hehehe tapi eike gak ada pulsa buat telpon, adanya cuman data internet aja Nov”
“Nih pakai ponsel Novi aja, nggak papa”
Yance menggunakan ponsel Novi untuk hubungi rumah Ivon, beberapa kali nada panggil sempat aku dengar.. Hingga akhirnya ada yang mengangkat telepon itu.
“Selamat pagi….” kata suara perempuan yang terdengar pelan di seberang
“Selamat pagi juga ibu, saya Yance, eh bisa bicara dengan Ivon bu”
Tidak ada sahutan sama sekali… kelihatannya orang yang sedang bicara dengan Yance ini juga sedang bicara dengan orang yang ada sana juga, atau sedang menanyakan sesuatu dengan orang yang ada disana.
“Ya selamat pagi Mas, saya ibunya Ivon” kali ini suara yang terdengar lebih tegas dan keras dari pada sebelumnya
“Tadi kata pembantu saya masnya ini cari Ivon anak saya?”
“Eh selamat siang pagi… iya saya cari Ivon tante, karena sudah lama saya tidak ketemu dia”
“Memangnya mas Yance terakhir bertemu Ivon kapan?” tanya suara diseberang yang ternyata ibunya si Ivon
“Lama tante sekitar satu tahun lebih saya nggak ketemu Ivon tante” kali ini suara Yance lebih serius dari pada sebelumnya
“Jadi mas Yance ini belum tau tentang Ivon?”
“Belum tante”
“Tante minta alfatehah ya mas Yance, sekitar satu tahun lalu Ivon dan teman-temanya hilang di tempat mereka akan melakukan kampanye” wajah Yance berubah menjadi tegang
“Tapi tidak lama setelah mereka dinyatakan hilang, ditemukan mobil yang mereka sewa beserta Ivon dan enam orang lainya sudah berupa tulang belulang saja, letaknya di sebuah hutan yang jaraknya agak jauh dari tempat mereka melakukan kampanye”
“Ya.. ya s..sudah tante, T… terimakasih banyak a..atas infonya”
Wajah Yance bertambah pucat dengan keringat dingin mengalir di dahinya. Nggak cuma Yance, Novi pun terlihat pucat dan diam, tangan Novi bergetar ketika menerima ponsel dari yance.
Aku.. aku anggap biasa saja, aku merasa ada yang aneh…
Aku sedang berpikir beberapa keanehan, kenapa ada mobil dan tulang belulang.. Dan secepat itu mereka menyatakan bahwa itu mayat kami.
Bukannya pak Tejo bilang kalau tidak ditemukan apapun dalam pencarian pihak keluarga dan pihak yang berwajib.
Ada mobil yang disewa Broni dan ada tulang kami… itu sangat aneh dan gak masuk akal…..Apakah tidak dilakukan penyelidikan dulu oleh pihak kepolisian, atau…. Ah sudahlah!
__ADS_1