TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 111. GILANK KAH?


__ADS_3

Tidak ada sejengkal tanahpun yang tidak ada mayatnya, mayat itu sudah berjejal memenuhi jalan desa.


“Perhatikan sebentar lagi anak-anak” pak Kus semakin tiarap ke tanah “Ada baiknya kalian juga tiarap seperti saya juga”


Aku, Novoi, dan Ivon juga semakin tiarap….


Apa yang aku lihat ini semakin aneh. Karena sebagian mayat itu terbangun, ya bangun dengan sendirinya, dan dengan menggunakan tangannya yang hidup kembali itu menggali tanah yang ada disana.


Tangan mereka kuat sekali, seperti sekop atau pacul, sangat kuat dan cepat menggali tanah yang ada di depannya, mereka terus menggali tanah tanpa henti.


Hingga pada kedalaman dan ukuran  tertentu sang penggali itu seperti masuk ke dalam lubang galiannya dan seperti sedang tidur di dalamnya.


Kemudian yang mengerikan, mayat yang tadinya masih dalam keadaan belum terbangun, sekarang mereka bangun satu persatu, mereka berdiri dan melihat mayat yang sudah terbaring ke dalam tanah yang digalinya tadi.


Mayat yang baru terbangun itu kemudian mengubur rekannya yang terbangun, perlahan lahan tanah hasil galian itu mereka masukan ke dalam lubang tanah, perlahan hingga terkubur penuh.


“Enah sekali pak, kenapa mereka menggali tanah kemudian yang menggali masuk ke lubang galiannya, kemudian temannya mengubur tanah itu”


“Iya seperti itu mas Wildan, dan itu akan berulang terus hingga yang terakhir nanti akan dikubur oleh orang yang akan datang, dan orang itu harus kita hadapi”


“Dan hal seperti ini akan terus berulang setiap malam, tapi dengan pengubur terakhir yang berbeda, dan pengubur itu yang harus kita hadapi!”


“Jadi kita harus menunggu disini hingga semua mayat terkubur, gitu pak?” tanya Novi


“Iya mbak, dan itu nggak akan lama, karena mereka cepat sekali kerjanya, kita ikuti saja hingga orang terakhir nanti akan datang dan mengubur mayat yang terakhir, tunggu saja tidak ada tiga atau empat jam”


“Sebelum tengah malam mereka harus selesai mengubur dan dikubur!” pak Kus diam sejenak “Setelah tengah malam kita akan ke sana dan menyerang yang ada disana”


“Setelah itu biarkan tubuh kita masuk ke dimensi yang akan berubah dengan sendirinya”

__ADS_1


“Pak Kus, berarti sama saja dong dengan kita masuk lewat jembatan itu kalau nanti kita membiarkan diri kita masuk ke dimensi yang selalu berubah ubah”


“Beda mas Wildan, nanti kamu akan tau sendiri apa bedanya, karena sulit untuk dijawab dengan teori”


Satu jam sudah berlalu dan memang kegiatan mereka hanya saling menggali dan seling kubur saja, sekarang yang terlihat dari sini tinggal beberapa mayat saja yang belum dikubur.


Tapi nampaknya mayat yang belum dikubur itu sedang menunggu sesuatu, mereka hanya diam dimana mereka berdiri saja.


“Perhatikan di kejauhan itu anak-anak, ada sosok yang sedang mengubur sisa mayat satu persatu, dan itu nanti yang akan kita bunuh”


“Pak Kus, dia itu manusia atau apa pak?”


“Hahaha jelas bukan mas Wildan, mereka bisa menjelma sebagai siapa saja dan apa saja, jadi jangan ragu untuk merobek tubuhnya dan mengambil bagian dalam tubuhnya untuk kita hancurkan, setelah itu pecah kepalanya dan hancurkan otaknya juga”


“Caranya pak?” tanya Ivon yang dari tadi hanya diam saja


“Nanti akan saya beri tahu mbak Ivon, pokoknya siapkan mental kalian saja”


Semakin dekat ke arah kami yang sedang sembunyi, semakin aku jelas siapa yang sedang mengubur mayat yang antri untuk dikubur itu.


“Mas Wil.. astaga itu kan mas Gilank!” bisik Novi “Kenapa dia jadi seperti itu mas?”


“Sstt iya Nov,  dan ingat dia bukan teman kita, kita dia sudah beberapa kali ingin membunuh kita kan, dia bukan teman kita dan kita harus bunuh”


Aku tidak tau apakah jawabanku kepada Novi ini benar atau salah, karena yang aku lihat disana itu memang GIlank, dia sedang mengubur sisa mayat yang belum terkubur.


“Jangan tertipu, anak-anak, setelah dekat dengan posisi kita, kita kesana dan bunuh serta robek-robek tubuhnya”


“Siap-siap kita ke sana…..”

__ADS_1


“Sekarang kita datangi dia, dan ikuti apa yang saya lakukan!”


Pak Kus maju ke depan dengan santainya, sedangkan kami mengikuti di dari belakang. Sesampai di dekat rumah yang tadi kami datangi  si Gilank juga semakin dekat dengan kami.


“HEH SIAPA KAMU!” teriak pak Kus


Sosok yang mirip Gilang dan sedang sibuk itu menoleh sebentar ke arah kami… raut wajahnya biasa, tidak kaget atau tidak berubah ketika melihat kami.


Cahaya bulan ini sangat membantu melihat siapa yang ada di depanku, dan sosok yang mirip Gilank ini hanya menoleh sebentar kepada kami, dan setelah itu dia melanjutkan mengubur mayat-mayat yang minta dikubur


“Saya sedang melaksanakan perintah, kamu jangan menghalangi saya” jawab sosok yang mirip dengan Gilank tanpa melihat ke arah kami


“Siapa yang perintah kamu, dan kamu siapa” tanya pak Kus lagi


Tidak ada jawaban dari sosok yang mirip dengan Gilank itu, dia terus mengubur mayat yang ada di hadapannya. Dia tidak memperdulikan kami yang ada di dekatnya. Sosok itu sibuk dengan apa yang sedang dilakukannya.


“Sebentar lagi ketika dia sudah terlalu capek, kita serang dan bunuh dia anak-anak” bisik pak Kus kepada kami sambil terus memperhatikan sosok Gilank yang semakin lemah


“Pak, jangan-jangan itu teman kami” bisik Novi


“Mbak Novi, ingat apa yang saya katakan sebelumnya, jangan percaya dengan visual yang kamu sedang lihat itu, itu harus kita bunuh pada waktu yang tepat” jawab pak Kus sambil berbisik juga


“Ayo kita maju agar semakin dekat dengan sosok itu”ajak pak Kus


Kami bergerak pelan sesuai dengan gerakan kaki pak Kus, semakin kami dekat semakin aku bisa dengan jelas melihat tato yang ada di tangan sosok di depan kami ini.


Ketika jarak kami tinggal sekitar lima meter pak Kus berhenti. Di kesempatan ini aku memperhatikan sosok yang mirip Gilang secara keseluruhan..khususnya tato yang ada di tubuh Gilank.


Tato yang ada di lengan dan wajah itu sama dan mirip dengan yang dimiliki Gilank, apakah peniru GIlank ini benar-benar bisa meniru Gilank sedemikian rupa hingga tidak ada satu gambar tato pun yang terlewatkan.

__ADS_1


Tidak hanya aku, kayaknya si Novi juga sedang memperhatikan semua tato yang terlihat baik di lengan, leher, maupun yang ada di wajahnya.


“Saya akan maju dan memukul kepalanya hingga dia pingsan, kemudian kalian bunuh dengan memukul bersamaan ke arah jantungnya, ingat jantungnya pukul dengan keras secara bersamaan” bisik pak Kus


__ADS_2