TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 90. SEPI?


__ADS_3

Sore hari, aku seakan sudah melupakan apa yang akan terjadi dengan aku dan Novi, sore hari di kamar hotel Novi tidak berulah seperti yang aku pikirkan.


Aku dan Novi sedang sibuk dengan tablet dan saat ini kami sedang menanyakan ke beberapa grup pertemanan yang aku ikuti bersama anak-anak Sutopo.


Di tablet yang tadi dibeli Novi sekarang diinstal dua aplikasi efbe, satu memakai akunku, kemudian efbe yang lite pakai akun Novi, selain itu Novi juga menginstal aplikasi sosial media lainnya juga.


Di grup grup efbe itu aku selalu menanyakan kabar, dan berharap Broni, Tifano, atau mungkin saja Gilank bisa merespon sapaanku.


Sengaja aku tidak mentag nama-nama temanku yang kemungkinan besar hilang itu.


“Mas Wil… itu ada respon dari yang namanya Bois… dia tanya kabar mas Wil”


“Nggak Nov, aku nggak mau menanggapi teman yang lainya selain teman-temanku yang hilang itu, aku takut temanku terjadi apa-apa kalau aku menanggapi responnya”


“Gimana dengan kamu Nov, apa yang kamu lakukan dengan efbe?”


“Sama mas, Novi cuma say hello aja, dan berharap ada Ivon yang menanggapi sapaan Novi”


“Iya nov, aku kira hanya cara ini yang terbaik dan tidak melukai teman kita yang tidak terlibat, kita tidak perlu terkoneksi dengan teman kita yang lainnya, kecuali teman kita itu tau dimana teman kita yang hilang itu berada”


“Iya mas, cara ini adalah yang terbaik, hanya saja memang perlu waktu mas, karena tidak semua orang selalu online efbe mas”


“Ini sudah sore hampir maghrib mas, sana mas WIldan mandi dulu aja”


“Kamu aja mandi dulu gih Nov, aku masih mau lihat-lihat efbenya Broni dan Tifano, siapa tau ada sedikit info dari mereka”


“Iya mas, eh kalau mas Wildan mau nyusul Novi, monggo lho mas… pintunya nggak Novi kunci mas heheheh”


“NDIASMU NOV!”


Aku masih penasaran dengan temanku, tadi pancingan sapaanku sempat ada yang tanya, ‘kamu dimana Wil, ada yang cari kamu’”


Dan kebetulan yang respon sapaanku itu temanku yang mempunyai usaha pengelasan segala yang bisa di las.


Aneh, nggak biasanya Ceret Kumbara merespon sapaanku…. Apa sebaiknya aku inbox dia aja ya? Tapi aku takut, aku takut ada sesuatu yang akan menimpa Ceret


Lebih baik aku biarkan saja si Ceret, yang aku tunggu bukan ceret, tetapi dua temanku atau tiga atau empat temanku yang sekarang entah ada dimana

__ADS_1


Aku masih mencari dan menunggu ada yang merespon sapaanku, dan ternyata beberapa teman sintingku sudah merespon, termasuk Dani si homo gila itu.


Dani orang yang paling nggilani, dia suka sekali menanyakan dan menginformasika seputar kenikmatan bersyenggama dengan sesama jenis…


“Mas Wiiiiil, tolong ambilkan handuk Novi mas” teriak Novi tiba-tiba dari dalam kamar mandi


“Waduuuh kamu sengaja memang nggak bawa handuk kan Nov…. biar aku anter handuk ke dalam kamar mandi!”


“Aduh mas Wildan pikirannya jelek kali sih mas!.... Bener mas, tadi Novi lupa bawa handuk, apalagi sekarang daleman Novi basah kena shower yang brutal ini mas”


“Coba nanti mas Wildan mandi kalau nggak percaya, shower ini brutal mas, semburan air yang keluar dari shower ini kencang sekali mas, mana gagang showernya bocor di pangkalnya mas, airnya muncrat kesana kemari” jawab Novi dari dalam


“Aaah kamu mbujuk Nov, harapanmu aku masuk ke dalam kamar mandi, kemudian nanti kamu bikin aku klepek klepek sama kuntilamu yang sebesar botol beer kan”


“Dah gini aja mas, kalau mas Wildan nggak percaya, biar Novi yang keluar dari kamar mandi aja, Novi yang ambil handuk sendiri mas”


“Eeeh jancook sik Nov aku mau keluar dari kamar dulu,....siiiiik”


Aku cepat-cepat keluar dari kamar hotel…


Sekarang aku ada di selasar lantai lima hotel yang sangat sepi….


Tapi sore ini keadaan di luar sudah menjelang malam. Dan lampu selasar hanya beberapa saja yang nyala, apalagi lampu model tanam plafon atau downled ini terangnya tidak meliputi area yang luas.


“Jancok…. Selasar hotel ini serem..”


Aku berdiri di depan kamar, aku nunggu hingga Novi masuk ke kamar mandi lagi, sengaja pintu kamar nggak aku tutup rapat agar aku bisa masuk ke dalam kamar lagi.


Tapi tiba-tiba aku merasa penasaran dengan keadaan selasar hotel yang sangat sepi ini.


Selasar yang lampunya nggak begitu terang, dan hanya beberapa lampu di plafon yang dinyalakan, termasuk yang ada di depan kamarku.


Mungkin memang tidak semua lampu dinyalakan untuk menghemat biaya operasional karena kata Novi hotel ini sedang sepi.


Letak kamarku ini ada di tengah…


Selasar hotel yang lebarnya mungkin hanya sekitar dua meter dan berlantai keramik ini cukup bersih, tetapi tidak bersih sekali, karena kalau diperhatikan ada debu tipis di lantai selasar.

__ADS_1


Aku jongkok di depan kamar, iseng aku perhatikan debu yang ada di lantai selasar….


Debu tipis,.... Berarti lantai ini jarang dibersihkan… iseng aku jongkok dan kuperhatikan jejak jejak kaki yang ada di lantai, mulai dari pintu lift..


“Jancok… kenapa hanya ada jejak kami yang hanya mengarah ke kamar ku dan Novi ini aja, nggak ada jejak kaki lain yang mengarah ke tiap kamar yang ada di lorong hotel ini”


“Asyuuu.. Masak di lantai ini hanya kamar kami ini yang dihuni!”


Aku mulai deg deg an… tapi rasa penasaran untuk mengetahui dengan jelas apakah ada penyewa kamar selain kamar kami ini semakin menjadi-jadi..


Oh iya letak kamarku ini ada di tengah.. Hanya berjarak satu kamar dari pintu lift..jadi dengan jongkok dan membungkuk aku bisa perhatikan ada nggaknya jejak kaki yang keluar dari pintu lift dan jejak kaki itu mengarah kemana


Rasa penasaran untuk memperhatikan apakah ada penyewa kamar selain kamar yang kami tempati semakin menggila…


Aku jongkok dan agak membungkuk lagi, dengan mataku yang aku dekatkan lantai aku bisa lihat jejak kaki yang keluar dari lift…


Sekali lagi rasa penasaranku terjawab… hanya dua pasang jejak kaki yang mengarah ke kamarku saja, selain itu tidak ada jejak kaki yang mengarah ke arah manapun!


Aku berdiri dan menatap ke sepanjang selasar hotel lantai lima ini..  Kemudian aku melihat ke plafon, aku hitung lampu yang nyala. Aku hitung juga jumlah pintu yang ada di lantai lima ini.


Dari lift ke arah kiri ada lima pintu kamar, kalau saling berhadapan eh ada sepuluh pintu kamar… sedangkan dari lift ke arah kanan yang sejajar dengan kamarku ini juga ada lima pintu di depanku juga ada lima pintu.


Jadi total di lantai lima ini ada dua puluh kamar.


Sedangkan lampu selasar yang nyala hanya ada satu…. Dua… tiga…. Empat……..hah cuma empat janchok!


Tadi kata Novi kamar hotel ini penuh dengan penyewa ketika tadi aku protes tentang tempat tidur, tapi kalau lihat debu tipis di lantai selasar, tidak ada yang menyewa di seluruh kamar lantai ini, kecuali aku dan Novi saja!.


Rasa takut mulai muncul, aku jalan mundur hingga ada di depan pintu kamar. Kemudian dengan cepat ku masuk ke dalam kamar.


“Heh mas Wil, dari mana aja, Novi ditinggal sendirian di kamar!” kata Novi yang duduk di pinggir tempat tidur sambil berdandan


“Aku ada di selasar Nov. eh tau nggak Nov. di lantai lima ini hanya kita yang tinggal, nggak ada penyewa kamar lain selain kita aja Nov!”


“Ah masak sih mas, kok kata Yance hotel ini penuh”


“Eh gimana sih kamu ini Nov, tadi kamu bilang hotel ini lagi sepi, dan memang sepi Nov…”

__ADS_1


“Aku sudah teliti di selasar itu…. Aku lihat jejak kaki dari debu tipis yang ada di lantai selasar, dan hanya kaki kita saja yang melangkah dari lift menuju ke kamar ini!”


“Sepi itu kan cuma perkiraan Novi aja mas, dilihat dari parkiran yang hanya ada beberapa mobil saja mas” bantah Novi


__ADS_2