
Ivon bukan orang yang asal asalan dan sembrono, dia terus menyorotkan senternya ke tanah yang ada di halaman rumah ini.
Akupun akan melakukan hal yang sama apabla aku akan masuk ke rumah ini, karena jelas sekali tanah di tiap pekarangan rumah di desa ini bentuknya tidak rata.
Dan semoga tidak ratanya tanah pekarangan rumah di desa ini bukan karena ada yang ditanam di dalamnya.
“Ayo masuk…pekarangan rumah ini aman, asal kalian jalan di tempat tadi aku berpijak” ajak Ivon setelah dia memeriksa tanah yang ada di sekitar sini dan berjalan menuju ke pintu rumah yang tertutup
Pintu rumah yang tertutup rapat ternyata bisa didorong ke dalam, karena pintu di dinding kayu luar rumah tidak ada grendel dan tidak ada gemboknya.
Sementara itu hujan yang tadinya hanya gerimis kini semakin deras, ditambah dengan kabut yang tidak mau pergi dari desa ini.
Kabut tetap mengambang di sekitar desa, air hujan yang turun pun sudah lumayan deras…
“Kosong dan seperti sudah lama tidak ditempati, ayo masuk saja, dari pada di luar kita kehujanan” kata Ivon setelah memeriksa keadaan dalam rumah ini
“Eh siapa bawa korek, tungku bakar itu ternyata ada kayunya” tunjuk Ivon
“Rek. eh apa gak sebaiknya kita pergi dari desa ini sekarang aja… perasaanku gak enak rek” kata Tifano
“Gak cuma mas Tifano aja yang nggak enak, Novi juga mas, dan pasti juga mas WIldan, mas Bondet, Ivon pun juga punya perasaan ndak enak, tapi sekarang sudah malam dan diluar sana hujan mas” sahut Novi
“Jelas ndak mungkin kalau kita cari cara keluar dari desa ini sementara keadaan di luar itu hujan…” tambah Ivon
“Jadi kita tetap waspada dan berjaga di rumah ini dulu, besok pagi kita cari jalan keluar dari desa ini mas Tif” kata Novi
Seperti rumah Sapudi dan rumah kosong milik Sapudi, disini juga ada tungku bakar yang bisa digunakan untuk masak atau untuk menghangatkan diri dari suhu udara yang sangat dingin.
“Aku bawa korek Von… biar aku nyalakan dulu apinya.. Tutup pintu itu Ndet”
“Ojo ditutup Wil.., siapa tau ada apa-apa disini” kata Bondet
“Halah Ndet.. pasrah dan jaga diri ae Ndet, kita iki wis jadi korbannya Broni, dan Broni sekarang nggak tau ada dimana…pokokke sementara ini kita tetap ada disini hingga besok pagi”
“Bukane kata Ivon Broni ada disini dan ngeprank kita Wil?”
__ADS_1
“Iya Ndet..aku tadinya merasa bahwa Broni ada di sekitar sini dan sedang ngeprank kita, tapi lama-lama aku merasa dia itu hilang…
Tungku bakar akhirnya nyala… api yang ada di tungku itu cukup untuk menerangi isi rumah ini…
Rumah ini berbeda dengan rumah yang sebelumnya kami masuki. Rumah ini hanya memiliki satu ruangan yang kemungkinan besar sebuah kamar saja.
Jadi di dalam rumah ini hanya ada satu kamar yang tertutup kelambu yang warnanya sudah gak karuan dan satu ruang besar yang ada tungku apinya, ruangan besar ini mirip ruangan serba guna yang bisa digunakan untuk melakukan kegiatan macam-macam.
Tidak ada meja kursi, tidak ada tikar di sekitar sini, yang ada hanya alat masak seperti loyang periuk, dan sejenisnya yang aku nggak tau apa fungsinya.
Ada satu lagi semacam dipan atau eh bukan dipan sih, tapi lebih mirip dengan meja yang bentuknya dan ukuranya sebesar dan mirip dipan … meja itu sangat kotor dan dipenuhi oleh alat-alat masak juga.
“Kita lihat kamar itu rek.. Siapa tau disana ada tempat tidur busuk seperti yang ada di rumah pak Sapudi” kata Bondet
“Sik Ndet… jangan gegabah, kita bersama sama liatnya Ndet, jangan sendirian ke sananya”
“Iyo Wil.. ayo liat kamar itu rek, aku penasaran” jawab Bondet
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan rumah ini, hanya saja kenapa kamar itu tertutup oleh gorden yang bentuk kainnya sudah gak karuan, koyak disana sini dan sepertinya terbuat dari beberapa kain yang disambung sambung.
Ivon menyalakan senternya, gorden dia sibak kan, ke samping hingga terbuka.
Kemudian Ivon menerangi kamar ini dengan sinar dari senter yang dia bawa.
“Wah kamar ini penuh dengan baju bekas rek… bisa kita buat untuk tempat tidur, agar kita nggak tidur di tanah liat rumah rek” kata Bondet
“Hati-hati mas Bondet, baju-baju itu kelihatanya sudah lama ada disini dan siapa tau di bawah atau di antara tumpukan baju itu ada binatang yang berbahaya” kata Ivon
“Bener Ivon Ndet… tapi kita bisa ambil beberapa saja untuk kita gunakan sebagai alas di rumah ini, hanya saja harus kita periksa Ndet”
Kamar rumah ini aneh juga, karena ada tumpukan pakaian, celana dan sebagainya, saking banyaknya pakaian dan lainya itu hingga membentuk gundukan yang tingginya mungkin sekitar dua meteran.
Pakaian bekas… sebenarnya untuk apa gundukan pakaian bekas seperti ini, ini kan hanya desa kecil, desa yang hanya ada beberapa belas rumah saja, masak sih pemilik rumah ini berjualan pakaian bekas disini.
Apa dulu desa ini pernah ramai dengan penduduknya?
__ADS_1
Hehehe kalau hanya kayak kemarin malam dan tadi pagi, kita dijamu di rumah pak Sapudi beserta istrinya sebelum ada kabut datang, dan setelah ada kabut ternyata desa ini menjadi desa kosong sih itu merupakan hal biasa.
Dulu waktu kami ada di petualangan sebelumnya juga sering berpindah pindah masa, ketika ada kabut datang seperti tadi itu, dan kemungkinan besar kami ini ada di masa yang berbeda dengan Gilank.
“Tif, Von…. ingat petualangan di vila putih? Tiap ada kabut tebal kita selalu pindah masa kan… aku rasa saat ini kita ada di masa yang berbeda dengan ketika kita datang ke sini. Dan Kemungkinan besar Gilank ada di masa yang berbeda juga rek”
“Iyo Wil, tapi kita kan gak tau, kita ada di masa apa, dan kalau seandainya kita ada di masa lalu, kita kan terjebak disini di masa lalu selamanya WIl” jawab Tifano
“Jangan berprasangka dulu mas, kita kan belum bisa keluar dari sini, jadi kita ndak tau apakah kita ini ada di masa apa, menurut Novi sih, untuk saat ini kita istirahat saja, besok pagi kita cari tau keadaan kita mas”
“Sudah debatnya rek.. Ayo kit ambil beberapa pakaian ini dan gunakan untuk melapisi lantai tanah liat ini” kata Bondet
Kami memilih beberapa pakaian yang menurut kami masih layak kami gunakan untuk pelapis lantai tanah, karena disini tidak ada tikar sama sekali, dan lantai tanah ini dinginnya itu luar biasa, sehingga kami sangat membutuhkan sesuatu yang bisa melapisi lantai rumah.
Ivon mematikan senternya, yah istilahnya ngirit baterai, karena disini kan sudah ada cahaya dari kayu yang kami bakar, paling tidak ada cahaya untuk memindahkan pakaian pakaian bekas dari dalam kamar ke ruang yang dekat dengan tungku bakar.
Di ruangan yang dekat dengan tungku bakar keadaannya lumayan hangat, paling tidak kita tidak kehujanan dan tidak kedinginan di luar, hanya saja hingga sekarang kami belum makan, nggak terasa kami belum makan dari sarapan pagi tadi hingga malam hari.
Bondet dan Tifano sibuk memindahkan beberapa pakaian yang baunya bisa dibilang gak enak…. Mungkin karena sudah lama ada disana dan tertimbun dalam keadaan lembab, sehingga menimbulkan bau busuk.
“Von… tolong kesini dan nyalakan sentermu… aku kok megang semacam bulu atau rambut di disini” kata Tifano ketika sedang mengambil pakaian dari dalam kamar.
Ivon masuk ke dalam kamar, dia tadinya ada di ruang tamu bersama Novi, mereka berdua sedang menghangatkan duri di depan tungku api.
“Wil… sini sebentar.. Ada yang aneh iki c*k” teriak Bondet dari dalam kamar
“Opo Ndet?” tanyaku ketika aku masuk ke dalam kamar
“Deloken iku ( liaten itu )” tunjuk Bondet pada tumpukan rambut yang tadinya tertutup pakaian bekas
“Mosok disini ada salon WIl… itu kan potongan rambut yang biasane dikumpulkan di salon salon…. Bener gak Nov?” kata Tifano
“He.. iya mas… kayak di salon deh mas.. Potongan-potongan rambut yang biasanya Novi karungin dan dijual ke pengepul mas” jawab Novi
“Mosok rumah ini bekas salon Nov heheheh…” kata Tifano
__ADS_1
Tifano mungkin bisa tertawa melihat tumpukan rambut bekas potongan, tetapi ndak bagi aku. Tumpukan pakaian dan tumpukan rambut bekas ini aku rasa bukan hal yang biasa terjadi.