TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 23. SOBEKAN KAIN PUTIH


__ADS_3

“Coba kamu terangi rambut basah itu Von…. aku penasaran”


“Mas Wil… gak usah penasaran mas… ayo kita pergi dari sini saja” kata Novi


“Tenang Nov… kita mencoba berpikir logis dulu saja, siapa tau di kamar itu ada pintu rahasia yang menuju ke luar, dan siapa tau memang ada yang tinggal di desa ini…”


“karena semalam aku kan mendengar suara orang  yang kayak sedang memotong rambut di dalam ruangan ini, jadi cobalah berpikir logis bahwa ada orang yang tinggal di desa ini dan bisa kita mintai bantuan”


“Berpikirkan logis bahwa hantu tidak akan bisa memotong rambut dan tidak bisa membawa pakaian basah ke sini…. Benar gak rek?”


“Iya mas Wil” jawab Novi dengan suara pelang


“Nah sekarang coba lihat rambut itu… apakah rambut yang basah itu sesuai dengan rambut teman kita yang hilang itu?”


“Kayaknya nggak deh mas Wil… rambut mas Gilank nggimbal nggilani, kayak rambut orang gila. Sedangkan rambut mas Broni ikal, sedangkan yang ada disini itu lurus mas” jawab Novi


“Ya sudah kalau begitu… kembalikan pakaian yang tadi kita pakai untuk alas tidur, kita segara cari penduduk disini dan atau kita segera pergi dari sini”


“Tunggu dulu mas Wil, gak ada salahnya kita cari umbi-umbian dulu mas, kemarin Ivon lihat di sebelah rumah ini ada banyak tanaman singkong yang bisa kita ambil untuk sarapan mas” kata Ivon


“Selain itu kemarin sore Ivon sempat taruh ember yang Ivon temukan di luar , Ivon taruh di luar untuk menampung air hujan, nanti air itu bisa kita rebus untuk air minum kita”


“Harus diingat kita ada di dataran tinggi yang bersuhu udara dingin, energi  diperlukan disini…. Jadi ayo kita cabut beberapa tanaman singkong  sekarang sebelum kita pergi dari desa ini” kata Ivon


Benar kata Novi.. rambut itu bukan milik teman kami yang hilang, tadi aku sempat deg deg an, karena flanel basah yang ada disana itu mirip dengan milik Gilank yang suka memakai pakaian motif Flanel.


Tapi setelah aku lihat dengan seksama, flanel basah itu ukuranya kecil dibanding dengan yang biasa dipakai Gilank.


Setelah selesai membereskan pakaian yang kami gunakan untuk alas tidur, kami berencana mengambil beberapa singkong yang pohonnya ditanam di depan dan samping rumah ini.


Tapi eh pohon singkong yang dimakan adalah akarya…singkong itu kan akar dari sebuah pohon… eh apakah…..


Ah pikiranku selalu negatif terus…


“Yuk ke luar rumah rek…aku wis kelaparan, kayaknya makan singkong bakar enak juga heheheh” kata Tifano


Bondet membuka pintu rumah…


Hufff lagi lagi kabut masih ada di depan halaman rumah, diselingi dengan hujan rintik rintik… keadaan ini masih sama dengan kemarin… masih berkabut dan selalu berkabut.


“Rek yang ambil singkong siapa, mosok kita semua keluar ke sana hujan hujan heheheh”


“Biar aku ae sing ambil Tif, kamu jaga rumah aja sekalian kamu tambahin kayu bakar di tungku perapian…”

__ADS_1


“Oh iya Von, ember yang berisi air hujan itu kamu taruh mana?”


“Di samping rumah mas, nanti Ivon ambilnya mas” jawab Ivon


“Ayo Wil.. sama aku ae ambil singkongnya, biar cepet nyabut pohon singkongnya, Soale kok kayaknya kabut disini mulai tebal ya Wil?”


Benar kata Bondet.. Baru juga tidak ada lima menit kita buka pintu rumah, kabut yang awalnya biasa saja, perlahan lahan mulai menebal.


Mana hawane dingin gak karu-karuan sisan… pantesan rumah di desa ini menggunakan kayu dan tanpa ventilasi sama sekali kecuali celah yang ada di atas, untuk keluarnya asap dari tungku perapian.


“Eh Ndet. kita cabut yang paling dekat dengan rumah ini saja, jangan jauh jauh, aku khawatir dengan kabut ini Ndet”


“Yang di samping rumah aja Wil.. kan samping rumah masih di halaman rumah ini juga”


Ivon, Novi dan Tifano ada di dalam rumah, sedangkan aku dan Bondet menuju ke samping rumah..


Halaman rumah ini luas juga, tapi yang mengerikan itu kabut.. Kabut ini menimbulkan bayangan siluet mengerikan atas pohon yang ada di sekitar sini.


Beberapa kali aku kaget, rasanya aku lihat bayangan atau siluet orang, tetapi setelah aku perhatikan lebih teliti ternyata hanya bayangan pohon.


“Kenapa Wil.. kamu lihat apa?” tanya Bondet yang tau kalau aku kaget


“Itu disana Ndet, coba kamu lihat.. Itu kayak siluet manusia, tapi ternyata hanya pohon yang tertutup kabut saja Ndet”


“Mangkane itu Ndet.. tapi dari tadi perasaanku tidak enak terus  ketika kita keluar dari rumah Ndet”


“Udahlah Ndet.. sekarang pohon singkong yang mana yang akan kita cabut Ndet ..bbrrrr… dingin sekali disini Ndet”


“Yang itu aja Wil.. kalau lihat ukuran pohonnya, pasti singkong yang ada di dalam tanah juga besar Wil”


“Yo Wis Ndet yang ini saja kita ambil… cepat yuk…. bbbrrrr…”


Aku memotong separuh dulu batang pohon singkong dengan mematahkanya, agar mudah menarik pohon singkong ini dari dalam tanah…


Aku yakin mudah sih menariknya, karena semalam kan hujan, pasti tanah disini gembur, tidak seliat tanah yang jarang terkena air hujan.


Setelah beberapa kali kami coba tarik, akhirnya akar pohon singkong yang merupakan umbi singkong itu berhasil kami cabut.


Dan benar juga kara Bondet, umbi singkong itu besar dan panjang, dan sayangnya terbalut oleh tanah liat yang gembur..


.


“Wil… gak bersihin tanahnya dulu kah… itu kan penuh dan dibalut tanah liat singkongnya”

__ADS_1


“Nanti ae Ndet di rumah aja.. Aku gak kuat dingin sekali disini Ndet”


“Yow  wislah karepmu Wil.. nek di bongkar di dalam rumah malah bikin kotor Wil”


“Bbbrrrrr, kita bawa pulang dulu ae Ndet, suruh Tifano dan Novi aja yang bersihkan….aku salah iki, keluar rumah gak pakek jaket… brrr dingin sekali Ndet”


Uggh berat juga membawa pohon beserta umbi-umbian singkong… mungkin karena umbi singkong itu masih terbalut tanah liat sehingga menambah beban berat dari singkong itu sendiri.


*****


“Tif, Nov… tolong bersihkan umbi singkong itu dari tanah bbbrrr….. aku gak kuat udara dinginnya” aku dan Bondet sudah di depan rumah, ternyata di depan rumah Novi, Ivon dan Tifano sudan menunggu kami


“Salah mas Wildan keluar dari rumah gak pakek jaket mas” kata Novi


“Von.. air yang kamu tampung di ember jadinya kamu rebus pakek?”


“Itu ada periuk mas…di dalam rumah  ketika tadi Ivon cari tempat untuk merebus, ternyata di pojokan rumah ada periuk, dan kondisinya masih baru, karena ketika Ivon lihat bagian dalamnya masih bersih gak ada nodanya sama sekali.


Aku mendekati tungku api…untuk menghangatkan diri dari udara dingin yang ada di luar, Bondet bersama Ivon sedang ngobrol sedangkan Novi bersama Tifano sedang membersihkan tepat di depan pintu rumah.


Keadaan di luar rumah masih gerimis, kadang agak deras, kadang hanya gerimis lembut, dan kabut.. Kabut itu tidak pernah hilang dari tempat ini.


Suhu badanku mulai hangat, aku sudah merasa tidak kedinginan lagi….


“JANC*K !” teriak Tifano di depan


“Rek kesino rek..cepat” teriak Tifano lagi


Aku menuju ke depan rumah, dimana Novi dan Tifano sedang membersihkan singkong yang tadi aku dan Bondet cabut.


Beberapa biji singkong yang berukuran besar sudah mulai dibebaskan dari balutan tanah gembur oleh Tifano, tetapi bukan ukuran singkong itu yang membuat Tifano terkejut tadi.


Tapi ada sobekan kain putih kumal yang sewarna dengan tanah yang terbelit di antara umbi singkong yang ukuranya besar.


Kain putih itu kayaknya sudah lama ada di tanah itu sebelum singkong ini ditanam, karena posisi kain yang berwarna putih itu terbelit di antara umbi singkong.


“Mas Wil…” kata Ivon melihat ke arahku


“Eh rek… gimana menurut kalian, eh itu kain putih apa  rek?”


“Wil.. jangan buruk sangka dulu.. Bisa saja dulu samping rumah itu tempat sampah, dan ada pakaian yang terbuang disana” kata Bondet


“Iya Ndet… tapi pikiranku gak bisa selogika pikiranmu ndet” aku melihat Ivon yang masih tertegun melihat kain yang terbelit umbi singkong

__ADS_1


__ADS_2