TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 79. DIMULAI


__ADS_3

Kulihat di belakangku…


Mobil pickup yang bermuatan penuh itu mundur dengan kecepatan yang lumayan, dan mengarah ke arah GIlank!


Anehnya Gilank seperti tidak mendengar teriakan pedagang lainya, bahkan beberapa ojek yang tadi bicara dengan Gilang serentak lompat ke pinggir jalan.


Aku loncat ke tengah jalan dan kemudian aku tabrak dan dorong Gilank


BRUK…. !


Aku dorong GIlank hingga dia terjengkang ke arah pinggir jalan…


Dua detik kemudian mobil pickup yang mundur itu melewati kami dengan kecepatan yang lumayan, karena jalanan disini menurun.


Mobil pickup itu kemudian terguling beberapa kali sekitar sepuluh meter dari tempat GIlank terjengkang.


“Wil…. “ kata Gilank terbata bata


“Ayo berdiri Lank, kita harus lebih hati-hati!


“Wil…. apa yang dikatakan pak Tejo mulai terjadi”


“Iya Lank, ayo kita ke tempat Novi, lihat itu orang-orang pada ramai liat mobil yang terbalik di tengah jalan itu”


Wajah Gilank masih tegang, dia tidak mengira bahwa kejadian akan berlangsung dengan cepat. Nggak cuma Gilank, aku juga kaget tadi, dan anehnya tadi aku sudah bisa merasa ada yang nggak beres dengan mobil pickup itu.


Novi sedang menunggu kami di pinggir jalan, kayaknya Novi juga sedang bingung dan khawatir, karena dari tadi dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sebentar dia melongok ke pintu masuk pasar.


“Gimana mas Gilank?” tanya Novi


“Untung aku ndak papa Nov, untung WIldan segera menabrak dan mendorong aku hingga aku jatuh di pinggir jalan”


“Eh kamu lagi liat apa Nov, dari tadi kok celingukan?”


“Mas Wil, percaya nggak tadi ketika mobil itu meluncur ke arah mas Gilank, Novi seperti melihat penampakan pak Dikan, tapi nggak tau juga mas, disini kan agak terang karena sinar lampu penerangan jalan”


“Kamu lihat pak DIkan dimana Nov?”


“Tadi Novi liat dia masuk ke arah pasar , setelah mobil tadi  itu meluncur ke bawah mas”

__ADS_1


“Sudah sudah, tidak usah berpikir yang tidak-tidak Nov, sekarang kita pergi dari sini saja, eh Lank, itu tukang ojek ada yang mau antar kita ke terminal nggak?”


“Ada Wil, tapi ongkosnya mahal. Satu ojek minta lima puluh ribu. Karena biasanya mereka bawa belanjaan ongkosnya segitu juga”


“Katanya kalau mereka bawa kita, mereka tidak akan dapat orderan belanjaan dari sini, karena waktu tempuh ke terminal pulang pergi sekitar empat puluh lima menit” kata Gilank


“Ya sudah mas Gilank nggak papa, Novi gak masalah kalau cuma segitu. Sekarang cepat minta tiga motor untuk kita bertiga mas” kata Novi


Aku masih mencoba berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi ini, apa mungkin ini adalah iblis yang menginginkan kita bertiga mati, atau tadi itu memang karena ketidaksengajaan atau kelalaian?


Tapi tadi Novi katanya sempat lihat ada penampakan orang yang katanya dia itu si Dikan, iblis yang kita temui pertama kali ketika kami datang ke lembah itu.


Apakah secepat itu iblis yang ada di lembah itu memburu kami bertiga, lalu bagaimana dengan ketiga teman kami yang lainya apabila sekarang saja kami sudah diburu mereka.


“Mas Wil, sesampai di kota S kita langsung ke tempat Novi saja mas, jangan sampai kalian berdua menghubungi keluarga atau teman kita mas”


“Lalu bagaimana kita tau keadaan teman kita kalau kita tidak boleh berhubungan dengan orang yang kita kenal Nov?”


“Nanti kita pikirkan lagi mas, yang penting kita langsung ke rumah Novi saja, disana kita pikirkan langkah berikutnya mas”


Dengan menggunakan tiga ojek kami menuju ke terminal bus, selama perjalanan aku wanti-wanti kepada mas ojeknya agar sangat berhati hati, ya aku takut apabila nanti ada saja yang menimpa kami.


Aku harus jeli sekali memperhatikan apa saja yang ada di jalan ini, selama kami menuju ke terminal bus. Tetapi untungnya tidak terjadi sesuatu apapun hingga kami sampai tujuan


Setelah Novi membayar ketiga ojek yang membawa kami.


“Terminal ini sepi mas…. Ini bukan terminal besar ya mas. Jam segini apa ada bus juruan  tempat kita yang akan singgah mas?”


“Iya Nov, ehm kita cari tempat yang nyaman dulu saja”


“Lank, cari pos penjagaan, kita sementara waktu dekat dengan pos penjagaan saja dulu”


“Kayaknya di sana Wil, itu disana kan ada beberapa orang yang sedang duduk”


“Heh ngawur ae, iku wong mendem Lank ( ngawur aja, itu orang mabuk Lank)”


“Sebenarnya kalau dari sini paling enak ya ke tempatku rek, ke kotaku J aja dari pada jauh-jauh ke kota S”


“Hehehe kamu mau ta kalau kamu jadi duda Lank hehehe”

__ADS_1


“Yo nggak lah WIl, sik kalian tunggu disini dulu, aku mau cari pos penjagaan dulu.


Kami sekarang ada di dalam area terminal kecil, terminal yang sangat sepi, karena kayaknya tidak ada bus yang masuk ke sini pada jam segini.


Tapi lebih baik kami ada disini dan menunggu hingga ada bus yang akan datang kesini, dari pada kami ada di sana, di pasar yang dekat dengan lembah Mayit.


Sepanjang mataku memandang, memang ada beberapa orang yang sedang duduk di pojokan terminal yang cukup gelap, tetapi aku nggak yakin mereka itu orang baik-baik..


“Mas Gilank, jangan pergi sendirian, kita harus bersama-sama kemanapun kita pergi, ingat kejadian tadi itu mas” kata Novi sambil berbisik


“Iya Lank benar Novi , kita ke sana sama-sama saja Lank”


“Tapi tenang aja mas Gilank, menghadapi pemabuk itu mudah, nanti kalau mereka berani macam-macam biar Novi saja yang maju”


Kami menuju ke tempat beberapa orang yang sedang duduk melingkar,  duduk melingkar yang biasanya aku lakukan juga dengan teman-temanku.


Kami semakin dekat dengan orang yang sedang duduk melingkar, tetapi kalau dari sini yang kelihatan hanya hitam saja, tubuh mereka masih belum terlihat dengan jelas.


Semakin dekat kami dengan orang-orang yang duduk melingkar itu semakin aku deg deg an, karena sampai sekarang kami belum bisa melihat tubuh, kepala mereka semua, karena yang terlihat hanya hitam yang sedang jongkok saja


Setelah sekitar sepuluh meter kami dari orang yang ada di depan itu, aku berhenti berjalan.


“Sik rek, kamu nggak curiga sama yang ada disana itu”


“Kenapa mas Wil?”


“Coba perhatikan mereka itu Nov, apa benar mereka itu adalah manusia?”


“Kalian disini saja, aku yang datangi mereka”


Gilank mendatangi mereka yang sedang duduk atau jongkok di pojokan, mungkin sekitar tiga meteran dari orang yang sedang bergerombol itu Gilank kembali ke arah kami.


Dia berjalan tergesa gesa….


“Kenapa Lank,?”


“Mereka bukan manusia, tadi aku sampai disana ternyata disana tidak ada siapapun, kosong!, tidak ada siapapun disana”


“Coba kamu lihat sekali lagi Lank… mereka ada nggak kalau dari sini”

__ADS_1


“Heh.. kok sekarang disana ada orang yang bergerombol lagi” kata Gilank dengan heran


__ADS_2