
Aku gak pedulikan orang-orang dengan tatapan mata aneh ke arah kami, yang penting sekarang kami harus pulang dan bertemu dengan teman yang pernah hilang disini, kecuali si Bondet yang goblok.
Memang dari tadi ketika kami jalan di sekitar desa ini, tatapan mata orang yang kami lewati itu aneh ketika melihat kami, bahkan ada yang membuang muka ketika melihat kami jalan di antara mereka.
Tapi aku nggak ngurus, mungkin mereka heran lihat kami yang tiba-tiba muncul di hadapan penduduk disini.
“Nov kamu ada uang untuk pergi dari sini?”
“Ada mas.. Di tas ransel ini ada uang yang bisa kita gunakan mas”
“Wil…. sarapan dulu aja Wil, disana itu ada warung yang sepi” kata Gilank
“Iya mas, benar mas GIlank, kita sarapan dulu aja” ucap Novi juga
“Lank\, kamu ada uang buat beli sarapan….aku gak ada uang c*k\, dompetku ada di tas ranselku\, dan tasku entah ada dimana c*k”
“Pakai uang Novi aja mas, uang Novi cukup untuk beli sarapan dan ongkos naik bus kok” jawab Novi tiba-tiba
Di seberang kami memang ada sebuah warung kecil yang sepi, kayaknya malah tidak ada yang beli di warung itu. Sekarang kami yang akan membeli makanan disitu.
Ketika kami masuk ke warung yang sepi itu, ternyata yang jual adalah kakek-kakek tua yang sedang duduk menanti pembeli yang akan datang.
“Permisi mbah….”
“Oh inggih monggo, mau beli apa nak?” tanya kakek itu
“Ada sarapan apa mbah?” tanya Novi
“Cuma ada rawon saja mbak”jawab pemilik warung itu
“Ya wis tidak papa mbah, kopi tiga dan rawon tiga mbah” kata Novi kemudian
Kakek-kakek ini tidak memperhatikan kami seperti penduduk disini ketika bertemu dengan kami, kakek tua ini santai saja dan menganggap kami sebagai pembeli biasa, tidak ada tatapan sinis atau buang muka seperti penduduk yang ada disini.
__ADS_1
Cuma butuh waktu sepuluh menit, tiga piring rawon dan tiga gelas kopi sudah ada di depan kami.
Kakek ktu menyuguhkan kepada kami dengan wajah tersenyum, tidak ada wajah sinis dan buang muka kepada kami.
Setelah dia menyuguhkan makanan dan minuman kepada kami dia kembali duduk di belakang meja seperti ketika kami datang kesini tadi.
Dia hanya tersenyum dan duduk saja, dia hanya diam dan tidak bicara dengan kami ketika kami sedang makan apa yang disuguhkan kepada kami.
Tiga porsi nasi rawon sudah habis, sekarang kami sedang menikmati kopi yang disuguhkan kakek tua ini. Dia melihat kami dengan wajah senang, tetapi ada sedikit wajah kasihan kepada kami.
“Berapa mbah?” tanya Novi setelah kami selesai dengan segelas kopi
“Hehehe.. Tidak usah bayar nak, gratis buat kalian” jawab kakek panjual makanan itu
“Lho kok gratis mbah,.... Kan mbah ini jualan dan kami yang beli mbah?”
“Gratis saja nak, semoga rawon dan kopi itu bisa membuat kalian senang sebelum……”
Orang tua itu kemudian menunduk dan tidak meneruskan omongannya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan.
“Eh kalian dari lembah mayit?..... Bagaimana kalian berhasil selamat dari lembah mayit?” tanya orang tua itu
“Kok mbah tau kami dari sana?” aku mulai tertarik dengan apa yang diomongkan kakek itu
“Iya nak, saya tau. Dan mungkin penduduk disini juga tau”
“Kalian bau mayat, dan wajah kalian…coba ini ada kaca, kalian berkaca saja nak” kakek tua itu mengambil sebuah kaca kecil dari laci mejanya
Aku penasaran dengan yang dikatakan oleh orang ini, sebenarnya ada apa dengan kami, dan kenapa kami disuruh berkaca segala. Apakah ada yang aneh dengan wajah kami.
Aku lihat Novi dan Gilank biasa saja, tidak ada yang aneh dengan wajah Novi dan Gilank. Novi mengambil kaca yang diberikan kakek itu, dan dia mulai memeriksa wajahnya.
“Tidak ada yang berubah dengan wajah saya mbah” kata Novi sambil berkaca dan memperhatikan wajahnya
__ADS_1
“Coba bawa sini kacanya Nov, aku kok penasaran” kata Gilank mengambil kaca dari Novi
“Iya mbah, wajah saya biasa saja kok mbah. Nggak ada yang berubah sama sekali” jawab Gilank
Kakek itu hanya tersenyum memperhatikan kami yang sibuk dengan melihat pantulan wajah kami yang ada di dalam kaca. Kemudian dia tertawa.
“Hehehe ternyata kalian tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan tubuh kalian sendiri melalui kaca itu”
“Mbah, dari tadi penduduk disini melihat kami dengan sinis mbah, seperti ada yang aneh dengan diri kami. Bahkan ketika saya menyapa penduduk yang ada disini, mereka malah buang muka mbah”
“Wajah kalian pucat putih seperti wajah orang mati, dan tubuh kalian bau mayat….” kata kakek itu dengan suara serius
“Tidak lama lagi kalian akan mati, karena sebenarnya kalian ini sudah mati ketika kalian ada di lembah mayit itu, tidak ada yang selamat dari sana, pun apabila berhasil selamat, ya nanti kalian akan mati juga”
Aku Novi dan Gilank hanya diam saja ketika kakek pemilik warung itu berkata bahwa kami sebenarnya sudah mati, dan kami bau mayat.
Tapi apa memang seperti itu, pantas saja penduduk disini sinis dan buang muka ketika kami lewat di depan mereka.
“Kalian ini persis sama orang yang datang kesini beberapa bulan lalu, mereka bertiga juga, dan saya tidak tau bagaimana kabar mereka ketika kembali ke kota, apakah masih sehat atau sudah menjadi mayat juga” kata mbah itu lagi
“Itu teman kami mbah….. Sebenarnya kami kesini itu bertujuh, tetapi kami terpisah karena kabut yang mengerikan dan sangat tebal dilembah mayit itu”
Aku ceritakan apa yang terjadi dengan kami, kami bertemu dengan siapa saja dan dalam keadaan yang bagaimana, dan bagaimana kami bisa selamat hingga bisa makan rawon disini.
“Hehehe Djati, pertapa tua yang berhasil membuat bisnis di sekitar hutan wingit. Djati dulu adalah orang sini yang berhasil selamat dari lembah mayit, dia hilang disana hampir satu tahun”
“Keluarganya sudah pasrah, tetapi ketika hampir menginjak satu tahun, Djati bisa selamat dari sana, dan dia bisa mematahkan kutukan yang mengikuti siapa saja yang selamat dari lembah mayit”
“Begini saja nak, kalian pulang saja dulu, dan temui teman kalian, kalau mereka masih sehat dan masih hidup ya syukur”
“Tetapi apabila teman kalian sudah sakit dan keadaanya buruk, kalian harus mendatangi Djati dan mintalah dibantu untuk melepaskan hawa mayit yang ada di dalam tubuh kalian”
“Saya beberapa bulan lalu sudah memperingatkan ketiga teman kalian yang selamat, tetapi sepertinya mereka tidak peduli dengan omongan saya. Dan hingga kini teman kalian itu tidak ada yang kembali ke sini”
__ADS_1
“Jadi artinya bisa saja mereka sudah mati, atau bisa saja justru mereka selamat, atau bisa saja mereka sekarang sedang sakit menanti ajal menjemput mereka hihihihi”
Setelah kakek itu selesai bicara, tiba-tiba… aku merasa ngantuk yang luar biasa…