
Kami sudah bersih, untung disini ada t shirt yang bisa aku pakai, dan ada celana pendek gemes punya Novi juga. Gilank sudah tidur, Novi juga sudah ada di kamarnya.
Hampir jam dua malam tapi aku belum juga tidur, apa karena tadi di bus sempat tidur, sehingga sekarang aku sudah nggak ngantuk lagi.
Gilank dari tadi sudah ngorok di karpet tebal yang digelar di ruang tamu rumah Novi. tinggal aku sendirian saja yang masih terjaga.
Suara jangkrik saling bersahutan dengan suara kodok atau suara ular. Suasana di daerah ini sangat sepi kalau malam seperti ini.
Otakku rasanya buntu, padahal aku harus memikirkan apa yang akan kami lakukan besok, apakah kami harus mencari teman kami atau gimana.
Rumah ini ndak tau rasanya kok pengab, sumuk, padahal kan letaknya ada di pedesaan yang pasti hawanya lebih dingin dari pada di tengah kota.
Atau mungkin karena atap plafon rumah ini rendah, tapi nggak juga kok. Plafon rumah ini normal aja, lebih dari tiga meter juga kayaknya.
Aku duduk dengan bersandarkan pada dinding rumah yang menghadap ke jendela rumah, sementara itu Gilank sedang ngorok di sebelahku.
Sekarang mataku tertuju pada jendela rumah yang tanpa kelambu, jendela rumah Novi ini memang belum berkelambu, kaca jendela hanya ditutup dengan kertas coklat seperti sampul buku jaman waktu aku masih sekolah menengah.
Nggak tau apa alasan hingga kaca rumah ini hanya ditutupi dengan kertas coklat saja.
Tetapi tidak semua jendela tertutup kertas coklat, ada sebagian kaca yang tidak tertutup, mungkin terlepas atau robek….
Dan jendela kaca yang tidak tertutup kertas itu yang sekarang menjadi perhatianku….
“Eh apa itu yang ada diluar sana….”
Ku Perhatikan dengan teliti.. Seperti ada bayangan di luar jendela, bayangan bergerak gerak yang kadang muncul, kadang hilang….
“Wiiiilll kamu tiduro ajaaa, besok kita harus cari teman kita Wil” kata Gilank yang sempat terbangun sebentar
“Aku gak bisa tidur Lank, mungkin gara-gara tadi di bus aku tidur cukup lama Lank”
“Podo Wil… aku juga dari tadi gak bisa tidur c*k”
“Ndasmu mlengse c*k\, dari tadi suara ngorokmu keras c*k. Gitu kok ngakunya gak bisa tidur Lank”
“Hehehe kan cuma tidur sebentar aja Wil. tapi sekarang, sudah gak ngantuk sama sekali”
__ADS_1
“Eh Lank, coba kamu perhatikan bayangan yang ada di kaca itu, itu bayangan apa ya Lang?”
“Gak jelas Wil\, tapi itu sih daun yang kena sinar lampu penerangan jalan c*k gak usah dipermasalahkan c*k”
“Bukan itu Lank… sekarang bayangan itu sudah nggak ada, nanti kalau ada, aku akan beritahu kamu Lank”
Memang iya, yang sekarang ini hanya bayangan daun yang terkena sinar lampu penerangan jalan saja. Tetapi tadi waktu aku lihat pertama kali, yang ada disana itu seperti bayangan wajah.
Gilank duduk di sebelahku bersandarkan tembok dan menghadap ke jendela yang tadi menggambarkan bayangan daun yang aneh.
“Lank… coba lihat sekarang… bayangan itu muncul lagi”
“Eh iya Wil, dari tadi aku juga lihat bayangan aneh itu… itu lebih mirip dengan bayangan ndas uong (kepala manusia)!”
“Kayaknya ada orang yang berusaha mengintip kita Lank…. Gimana kalau kita sergap orang yang dari tadi mengintip kita Lank”
“Jangan Wil, jangan ambil resiko dengan mendatangi sesuatu yang kita tidak tau Wil”
“Hembooook, omonganmu kalau gini kok tepak c*k hahahah. Dengaren omongamu bisa bijaksana kayak gitu Lank hahahah”
Aku penasaran dengan bayangan yang tergambar di jendela rumah, dari pada penasaran, lebih baik aku datangi saja bayangan itu. Aku nggak peduli apabila Gilank gak mau ikut keluar rumah.
“Lhoo heee, melok c*k”
Jam dua malam lewat sepuluh menit aku dan Gilank keluar dari rumah, keadaan di luar dingin, udara malam campur bau tanaman yang berhembus sempat menipu otakku agar menikmati keadaan diluar ini.
“Wil, kok malah diam aja se, ayo kita kelilingi rumah ini c*k”
“Nggak… gak susah Lank, ternyata bayangan tadi itu daun itu lho” tunjukku pada sebuah batang pohon
Sebenarnya tidak ada daun atau batang pohon yang tadi menyerupai bayangan, aku hanya tidak mau melakukan apa yang Gilank suruh.
Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan perkataan dari Gilank…
“Sebaiknya kita masuk rumah saja Lank, gak ada apa-apa di luar sini”
“Yakin mau masuk rumah Wil…. aku rasa ada yang aneh di sekitar halaman rumah ini, dan aku mau jalan-jalan dulu Wil”
__ADS_1
“Ya, aku mau masuk lagi ke rumah Novi ae, kalau kamu mau selidiki apa yang ada disini ya monggo sana Lank”
Tidak…. Aku tidak akan mengiyakan atau menuruti apa yang dikatakan Gilank, aku merasa bahwa GIlank itu merupakan jalanku atau caraku menuju ke celaka.
Aku masuk rumah, dan aku biarkan GIlank dengan kemauannya…
Ternyata di ruang tamu sudah ada Novi yang sedang berdiri dan melihat ke arah luar.
“Ada apa mas Wil, kenapa kalian kok ada di luar sana, dan mana mas Gilank?”
“Dia ada di luar, dia ngotot mau cari orang yang katanya tadi sempat mengintip di jendela rumahmu Nov”
“Mas Gilank di luar…mas Wildan kenapa masuk?”
“Nggak, aku nggak mau turuti apa yang dikatakan GIlank, ingat sudah tiga kali aku hampir celaka hanya karena apa yang disebabkan oleh Gilank Nov”
“Memang tadi yang ajak keluar aku Nov, tapi aku kemudian Gilank ngajak keliling rumahmu, jelas aku nggak mau…..pokoknya kalau Gilank ngajak aku melakukan sesuatu, aku akan tolak Nov”
“Ya sudah mas, kita tunggu di ruang tamu saja, eh atau Novi panggil saja mas Gilanknya gimana mas?”
“Ya panggil aja Nov, siapa tau dia akan nurut kalau kamu yang panggil dia Nov”
Novi keluar dari rumah, dia hanya berdiri di teras rumah saja sambil beberapa kali meneriakan nama Gilank. Tapi tidak ada sahutan dari temanku yang kayak gembel itu.
Sama sekali tidak ada sahutan dari Gilank…
Novi masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat memanggil Gilank yang entah sekarang ada dimana.
“Aneh mas Wil…. tadi mas Gilank bilang mau ke mana mas Wil?”
“Dia bilang mau memutari rumahmu Nov… dah gitu aja”
Kami berdua duduk diam di ruang tamu rumah Novi, keadaan di luar rumah sangat sepi, suara jangkrik, suara kodok dan ular yang tadi saling bersahutan sekarang sudah tidak ada lagi.
Suasana di luar sangat gelap dan sepi. Aku terus menatap ke arah jendela rumah Novi yang tidak tertutup kertas coklat, sehingga keadaan di luar sangat jelas terlihat.
“Mas Wil, eh apa Novi salah lihat atau gimana…. Itu yang ada di luar sana itu apa mas, yang bergerak gerak”
__ADS_1
“Eh itu kayak tangan dan telapak tangan yang sedang dadah dadah gitu mas”
Aku sebenarnya lihat juga, tapi aku nggak mau mengiyakan apa yang Novi lihat, aku takut kalau Novi mengajak aku keluar dan mencari apa yang ada di luar sana itu.