
Semoga kuntila Tifano gak ada masalah , soalnya menurut mitos yang aku dengar kan sangat bahaya apabila buang air kecil di suatu tempat yang agak mengerikan, yah semacam yang tadi itu mungkin.
Novi, Ivon, dan Bondet sudah datang…. Mereka bertiga cengar cengir ketika masuk ke dalam rumah.
“Kenapa Ndet, ada yang aneh ta, kok kalian ketawa ketawa gitu?” tanya Broni
“Nggak papa Bron, cuma ngabari saja, selama kita disini kita jangan seenaknya kencing sembarangan. Bisa bisa ada yang akan mengikuti dan menyuruh kita untuk njilati air kencing yang kita buang hihihihi” jawab Bondet
“C*k Ndet… jare sopo Ndet (kata siapa Ndet)?” tanya Tifano ketakutan
“Yo jare pak Dikan lah hihihi, opoko ( kenapa )Tif, awakmu nguyuh nang endi? ( kamu kencing dimana)” tanya Bondet
“Janc*k raimu Ndet\, jangan nakut nakuti c*k!” jawab Tifano
“Hahahah nggak-nggak Tif, santai ae hehehe, Oh iya rek setelah malam kita ke rumah pak Dikan ya….istrinya pak Dikan sudah masak banyak untuk kita…” kata Bondet lagi
Bondet ngawur ngomong sembarangan, jelas Tifano takutlah, tapi ya bahaya juga sih sebenarnya Tifano , kencing disana dan gak disiram juga.
Makan malam di rumah pak Dikan, kenapa aku rasanya kayak makan malam di rumah pak Sapudi… dalam mimpiku kami akan disuguhi daging yang banyak…. Tapi waktu itu kan aku mimpinya kami sedang sarapan, sekarang kan kami makan malam.
Lampu petromak sudah dinyalakan Broni, ada dua lampu, yang satu digantung di dalam rumah, dan yang satunya digantung di depan rumah., sehingga keadaan rumah saat ini terang benderang.
Udara dingin dan kabut masih saja menyelimuti daerah ini, kabut ini tidak tebal, tetapi tentu saja membuat suasana disini agak semriwing.
Malam hari sudah dimulai, dan kami sudah siap-siap untuk ke rumah pak Dikan…
“Aku jadi kepikiran Gilank rek, dia malam ini nginap di mana dan makan apa ya?” tanya Bondet
“Tenang ae Ndet, dia kan bisa ngemis, pasi dia pasti akan ngemis di pasar atau di toko toko, tenang ae Gilank itu bisa hidup meskipun gak pegang uang sama sekali hihihi” jawab Broni
“C*k Ngawue ae mas Broni ini, jangan gitu mas, meskipun mas Gilank itu memang nggilani, tapi jangan disamakan sama pengemis” jawab Novi
Hawa dingin mendera kami ketika pintu rumah dibuka… dingin.. Bener-bener dingin meskipun aku sudah pakai jaket.
Kabut yang tadi sore aku lihat ketika menyalakan lampu petromak, saat ini masih menyelimuti wilayah ini. Kabut ini menyebabkan jarak pandang kami terbatas.
Tapi dari kejauhan samar aku masih bisa melihat cahaya lampu petromak yang dinyalakan di depan tiap rumah, jadi meskipun gelap, tapi kami masih bisa melihat bayangan cahaya lampu yang ada di depan rumah.
Yah seperti yang ada di mimpiku, jarak rumah di desa ini agak berjauhan, tapi untungnya ada lampu petromak di depan rumah, sehingga aku bisa tau bahwa disana ada rumah penduduk.
__ADS_1
Kami berjalan ke rumah pak Dikan, yang jaraknya dekat… ya mungkin dekat bagi orang desa disini, tetapi bagi aku jarak ini tidak bisa dibilang dekat, mungkin sekitar lima belas meter lah.
Kalau siang hari tadi, berjalan dari rumah pak Dikan menuju ke tempat kami tinggal tidak begitu mengerikan meskipun kami harus melewati pohon asem dan beberapa rumpun bambu yang tidak begitu besar apabila dibandingkan dengan rumpun bambu yang ada di pinggir sungai.
Tapi malam hari kayak gini tentu saja berbeda hawanya, apalagi ditambah dengan kabut yang selalu menggantung.
Kami berjalan beriringan, Bondet dan Ivon ada di depan kami, sedangkan aku, Broni, Tifano dan Novi berjalan bersama sama.
Tapi ada yang aneh dengan Tifano, beberapa kali dia menoleh ke arah belakang, sudah kuhitung dia ada tiga kali menoleh ke arah belakang.
“Kenapa Tif?”
“Rasanya ada yang ngikuti kita dari belakang Wil”
“Ah itu kan perasaanmu aja Tif” kataku sambil menoleh ke belakang
“Gak ada apa-apa, cuma kabut dan gelap saja kok Tif”
“Iyo..iyo Wiiil”
“Mas Tifano merasa atau melihat sesuatu?” tanya Novi
“Eh cuma merasa saja Nov”
Kami hentikan pembicaraan tentang apa yang dirasakan Tifano karena kami sudah sampai di depan rumah pak Sudikan. Di depan rumah ini juga sudah terpasang lampu petromak sehingga keadaan tidak sebegitu mengerikan.
“Permisi pak.. Assalamualaikum…..”
Tidak ada jawaban salam balik dari dalam rumah, tetapi pintu rumah sudah terbuka dan pak Dikan keluar dari rumah.
“Ayo masuk.. Kalian apa tidak kedinginan di luar sana hehehe, ayo masuk” ajak pak Dikan dengan ramah
“Terima kasih pak…” jawab Broni yang masuk duluan dari pada kami
Di dalam rumah pak Dikan lumayan hangat dari pada di luar..
Tikar digelar di lantai, di tengah ada sebuah bakul nasi dan ada juga lembaran daun pisang yang sudah dibentuk pincuk…
Yah wajar, mungkin pak Dikan tidak mempunyai persediaan piring banyak, sehingga dengan kedatangan kami yang berenam ini istri pak Dikan harus membuatkan semacam wadah pengganti piring yang terbuat dari daun pisang yang dibentuk pincuk.
__ADS_1
Harusnya lebih enak makan dengan menggunakan daun pisang dari pada piring heheheh.
Di sebelah bakul nasi yang nasinya terlihat masih panas ada sebuah nampan yang terisi banyak daging goreng… banyak sekali potongan daging berlemak yang disajikan, semacam empal goreng lebih tepatnya. Ada juga mangkok yang berisi sambal terasi.
Waduh daging goreng yang berlimpah ini mengingatkan aku pada mimpiku… tapi semoga semua ini salah, semoga tidak ada yang aneh dengan disini.
“Ayo silahkan duduk, jangan hanya berdiri dan menatap makanan saja.. Ayo duduk dan nikmati sajian masakan istri saya hehehe”
“Oh inggih pak hehehe, wah mewah sekali makanannya pak” kata Broni
“Ya nggak juga mas Broni…makanan seperti ini itu baik untuk udara dingin, apalagi lemak dari daging…energi kita akan terjaga selama beraktivitas di udara yang dingin ini” kata pak Sudikan
Akhirnya kami dengan senang hati makan daging goreng dengan lemak yang banyak.. Heran juga daging sapi atau kambing biasanya tidak sebanyak ini lemaknya, tapi masa bodohlah.
Sambil makan aku menatap foto yang ada di dinding kayu rumah pak Dikan ini… aku rasanya tau salah satu dari foto yang ada disana, tapi apa iya sih….
Hmm kuamati sambil aku mengunyah daging….. Ya, Aku tau salah satu dari yang ada di foto itu!
Bulu kuduk ku langsung meremang, aku berhenti mengunyah lemak atau gajih daging… aku jelas tau siapa yang ada di foto itu!
“Kenapa mas, kok kayaknya suka sekali melihat foto itu?” tanya pak Dikan tiba-tiba
“Eh heheh gak papa pak, saya kok rasanya pernah tau salah satu wajah yang ada di foto itu pak… eh maaf pak, apakah yang di foto itu masih hidup pak?”
“Hahahah ya jelas sudah meninggal mas.. Itu bapak saya dan mbah saya, yang lainnya adalah saudara dari mbah saya…dan tentu saja beliau sudah tidak ada” jawab pak Dikan sambil menunjuk satu demi satu dari empat foto hitam putih yang ada di dinding rumah.
Aku masih terdiam sambil melihat salah satu foto yang ada di dinding rumah….
“Apakah yang itu bernama pak Sapudi?” tanyaku dengan pelan
*****
“Janc*k Wil… ulahmu tadi di rumah pak Dikan bikin suasana makan jadi gak enak!”
“Pak Dikan jadi kurang bersahabat ketika kamu ngomong nama salah satu mbah dia itu c*k!” kata Broni dengan emosi
“Lho salahku dimana Bron, aku tau salah satu wajah itu… itu pak Sapudi, yang pernah aku temui di mimpiku C*K!”
“Apa salah aku sebut nama salah satu yang ada di foto itu…?”
__ADS_1
“Iya tidak salah… sama sekali tidak salah matamu asu!.. Tapi kita kan ada di rumah orang, jadi gak usah sebut sebut sesuatu Wil”
“Lihat tadi, setelah kamu sebut nama itu, dia tiba-tiba menyuruh kita makan dengan cepat dan kemudian menyuruh kita pulang, wajah dia juga keliatan marah kan… onok-onok ae kamu itu Wil!”