TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 125.BRONI, TIFANO, DAN BONDET


__ADS_3

Tifano atau yang namanya Suker ini mengajak kami ke belakang, aku nggak tau apa yang mau dipamerkan,  tetapi karena pak Kus mengijinkan ya aku nggak masalah.


Rumah ini ternyata punya halaman belakang yang berupa sebuah kebun kecil, disana ditanami pohon pepaya yang selang seling dengan singkong.


Suker atau Tifano jalan di depanku dan Novi, dia mengajak kami ke tengah kebun. Sebenarnya aku curiga dengan tingkahnya, tetapi tiap aku berhenti jalan, dia selalu menoleh dan mengajak kami ke tengah kebun.


Setelah kami sudah ada  di tengah kebun dia berhenti, Suker menoleh ke sana kemari dan wajahnya berubah menjadi serius.


“Pertama, jangan jawab perkataanku, kedua kalian berdua jangan takut. Aku ini Tifano, dan yang di dalam itu Broni dan Bondet” kata Tifano dengan suara berbisik.


“Kalau kalian nggak percaya ya gak papa rek, tapi yang pasti kalian akan mati di tangan Kusno dan Ivon”


“Kenapa aku bilang gitu Wil. Soalnya kami sering lihat Kusno dan Ivon membawa tamu ke sini, dan semuanya akan mati. Aku, Broni, dan Bondet sudah sekitar  satu tahun lebih ada disini”


“Tapi ingat, kita tidak bisa menghitung waktu disini, disini waktu tidak bisa dijadikan patokan, karena setelah kalian pergi ke dimensi lainnya, maka waktu yang ada disana itu yang akan menjadi patokan kalian”


“Tapi Tif……”


“Ssst gak usah jawab omonganku Wil, kami tunggu kalian sudah lama disini, GIlank sudah gak bisa diselamatkan” potong Tifano ketika aku ingin bicara dengan dia


“Dia sudah jadi mayat, tapi hidup. Sedangkan aku Broni dan Bondet pura-pura jadi seperti mereka”


“Kusno dan Ivon sudah bukan sesuai yang kalian pikirkan lagi, mereka memang sengaja mengajak kalian datang kesini, nanti pada dimensi terakhir kalian akan dibunuh”


“Tugas mereka memang memancing yang pernah selamat dari sini untuk kembali lagi ke sini, sedangkan aku Broni dan Bondet tidak pernah keluar dari sini!”

__ADS_1


“Sekarang balik dan gabung sama mereka lagi, balik ke rumah Sokran dan tunggu kami jemput kalian. Kalau Kusno ajak kalian keluar dari rumah Sokran jangan mau, tunggu kami datang dan kita segera pergi dari sini”


“Tenang, kamu pasti akan tanya bagaimana caranya pergi dari sini.  Aku dan Broni sudah tau jalan pulang dari sini, kita ini cuma ada di sebuah dimensi yang bersebelahan dengan dimensi kita”


“Sekarang balik dan gabung sama Kusno dan Ivon lagi”


Permainan apa lagi ini, kusno dan Ivon sudah menjadi bagian dari mereka?


Kulihat Novi, wajah dia tegang. Aku tau dia juga nggak percaya dengan perkataan Tifano atau Suker tadi, tapi apa aku juga harus percaya dengan Kusno?


“Gimana kebun belakangnya mbak dan mas?” tanya Broni alias Wahyu setelah kami kembali ke ruang tamu rumah mereka


“Eh bagus pak. Tanamannya subur dan pasti hasil penjualannya juga bagus pak” jawab Novi


“Kalau begitu kami pamit pulang dulu” kata pak Kus


*****


“Mereka bertiga sangat bahaya, hati-hati jangan sampai terperdaya dengan mereka, malam ini kita ke menginap di rumah pak Sokran, besok pagi kita pergi dari sini dan kita harus bunuh salah satu dari mereka, karena kalau tidak mereka yang akan bunuh kita” kata pak Kus


“Apa harus bunuh mereka pak, mereka kelihatanya orang baik semua pak” kata Ivon


“Hahaha jangan salah mbak Ivon, kita ada di dunia apa, ingat kita ada di tempat yang penuh dengan roh jahat, hanya saja untuk saat ini kita sedang aman. Tetapi nanti mereka bertiga akan mengejar kita hingga mereka berhasil membunuh kita”


“Pokoknya nanti malam kita menyelinap dan  kita bunuh mereka satu persatu, ingat kalian sudah melihat mata mereka, sehingga kita nanti akan jadi buruan mereka bertiga”

__ADS_1


Kami tiba di rumah pak Sokran, seperti biasa, suami istri aneh itu selalu tersenyum dan menjamu kami dengan makanan yang luar biasa.


Sore menjelang malam setelah makan, kami duduk di ruang tamu rumah.


“Apa rencana kalian berempat?” tanya pak Sokran


“Eh belum tau pak, kami juga belum tau mau menginap dimana” jawab pak Kus yang selalu jadi juru bicara kami


“Malam ini disini saja, tapi ya seadanya ya, di ruang tamu ini tidak masalah kan, dari pada diluar kalian pasti kedinginan”


“Wah terima kasih banyak pak Sokran, kami diberi tumpangan dan diberi makanan yang luar biasa”


“Tidak masalah, rumah ini jarang mendapat tamu, jadi saya dan istri saya sangat bahagia ketika kalian berempat datang ke sini”


Malam hari pun tiba, suami istri itu minta ijin untuk tidur, pak Kus sepertinya akan melancarkan aksinya malam ini.


“Nanti kita beraksi anak-anak, ingat tujuan kita ke sini adalah balas semua yang ada dan bunuh mereka semua, kita bukan dalam keadaan sedang berdarmawisata disini ini”


“Nanti yang ikut saya mas WIldan saja, sedangkan mbak Novi dan mbak Ivon jaga disini. Seumpama nanti suami istri itu bangun dan menanyakan kami, bilang saja kami jalan jalan sedang mencari udara segar”


Sampai disini aku masih bingung, apakah aku harus mempercayai pak Kus atau mempercayai Wahyu, Suker, dan Hendro. Kami ada di dua pilihan yang sulit karena ini menyangkut hidup dan mati kami.


Tapi tadi ketika aku di kebun bersama Novi dan Tifano atau Suker, sempat kulihat mata Tifano, dia masih teman kami yang sebelumnya, belum ada aneh-anehnya.


“Ayo mas Wildan, sekarang kita bisa keluar dari rumah ini, jendela rumah ini hanya berupa slot saja, dan kita bisa lewat situ untuk keluar dari sini”

__ADS_1


__ADS_2