
Hahahah setelah mimpi yang aku alami sekarang aku akan lebih waspada… hanya saja sejauh ini Broni masih berkelakuan biasa, dan tempat yang kita tuju itu berbeda dengan mimpiku.
Kita sekarang menuju ke sebuah tempat untuk menginap, karena besok paginya kita akan menuju ke desa yang dituju… tidak ada yang aneh sejauh ini.
“Nah perempatan ini Wil, ehhmm nanti kita cari rumah yang…..Yang pagarnya berwarna hitam dan tinggi” kata Broni
“Sebenarnya itu penginapan, losmen, atau rumah tinggal Bron?”
“Bukan Wil hehehe, itu sebenarnya rumah milik dari salah satu petinggi partai.. Yah semacam rumah peristirahatan gitu, dan kebetulan letaknya searah dengan tujuan kita besok”
Mobil kuarahkan sesuai dengan arahan Broni.. Sejauh ini sih sudah melenceng dengan yang ada di mimpiku, sejauh ini aman karena Broni tau kemana arah tujuan dia.
“Nah itu Wil…. yang pagarnya hitam dan tinggi itu… berhenti di depan pagar itu dulu saja. Aku mau turun dulu”
Kuhentikan mobil tepat di depan pagar rumah yang ditunjuk Broni, sebuah rumah atau apalah yang besar dan lumayan luas bagi penduduk disini.
Broni berjalan menuju ke pintu gerbang rumah yang ada sampingku agak ke belakang… dia sedang mengetuk ngetuk pintu pagar yang terbuat dari potongan-potongan kayu yang berjajar tinggi dan ditata rapi berwarna hitam.
Sekarang baru pukul sebelas malam, apa ya sopan bertamu pada jam segini… agak aneh juga Broni ini.
Sementara itu teman-temanku pada tertidur semua, setelah kekenyangan makan di warung sate tadi hehehe. Suara ngorok Gilank ngeri juga, kayak suara kambing yang disembelih.
Kulihat dari kaca spion sampingku, Broni sedang bicara dengan seorang bapak-bapak yang agak kurus dan memakai jaket parasut berwarna hitam. Mereka berbincang disertai permintaan maaf Broni kalau kita agak terlambat
Tidak lama kemudian bapak itu yang kemungkinan besar penjaga dari rumah ini membuka pintu gerbang rumah yang dia dorong ke samping.
“Wil masukan ke sini mobilnya….” teriak Broni dari depan pintu pagar
Ternyata halaman rumah ini luas juga… hebat seorang pejabat partai mempunyai rumah yang cukup besar di sini heheheh… yah bisa saja itu kan hasil dari jerih payah kerjanya dia.
Rumah permanen yang cukup megah dan cukup mewah, kalau dari luar keadaan rumah ini gak kelihatan, baru setelah masuk kita bisa tau kondisi dan model dari rumah ini.
Mesin mobil kumatikan. Ketika ac mati, teman-temanku pada terbangun semua…
“Dimana kita mas WIl?” tanya Novi
“Di rumah pejabat teman Broni… sangar Broni iki, temannya pejabat semua.. Gak koyok Gilank, temannya preman dan beban keluarga semua hihihi”
“C*k Wil.. gak usah bawa-bawa beban keluarga C*k… tak santap raimu c*k!” gerutu Gilank
__ADS_1
“C*k… dingin sekali disini c*k” gumam Bondet
“Kita wis ada di dataran tinggi Ndet”
Semua sesuai planning, kami menginap di sebuah rumah kosong milik pejabat partai teman Broni, hanya saja kami ditempatkan di kamar samping yang menghadap ke taman depan rumah.
Kamar yang kami tempati ini tidak gabung dengan rumah utama, mungkin kamar yang tidak bisa dibilang kecil ini adalah kamar bagi tamu yang kesini.
Sangat jauh berbeda dengan apa yang aku mimpikan… malam ini aku gunakan untuk tidur, nggak tau dengan yang lainya,, yang pasti Gilank dan Bondet ada di depan kamar, mereka berdua sedang merokok.
*****
“Ayo bangun rek…. Siap-siap rek” teriak Broni
Aku nggak tau jam berapa sekarang, yang pasti Tifano sedang sholat, kayaknya sekarang ini sudah masuk subuh…. Sedangkan Ivon dan Novi sudah berpakaian rapi. Mereka berdua sepertinya sudah mandi dari tadi.
Matahari sudah mulai muncul di ufuk timur. Dan sampai saat ini tidak ada yang aneh dengan kami semua.. Semua berjalan lancar, aku semalam bahkan tidak mimpi aneh-aneh lagi.
Sebelum kami dijemput motor, kami sarapan dulu di sebuah warung makan yang letaknya dekat dengan pasar, menu pecel dan ramesan sudah cukup untuk mengganjal perut kami.
Warung makan ini cukup ramai juga, sehingga aku harus duduk di emperan toko yang belum buka, karena kursi warung tidak cukup untuk pembeli yang sedang makan disini.
Aku duduk di emperan toko bersama mbah-mbah yang sudah tua.. Dia juga sedang menikmati pecel yang ada di piring makannya. Mbah di sebelahku ini ternyata masih bisa makan pecel dengan lahap, kulihat giginya masih utuh, belum ada yang copot.
“Kami dari kota S mbah… mau ke desa lembah eh….lembah apa ya namanya sik.. Saya lupa mbah” aku lupa nama lembah itu karena yang ada di otaku adalah lembah mayit, hasil dari mimpiku semalam
“Lembah Asri nak?” tanya mbah itu sambil menyedot rokoknya
“Nah itu mbah… lembah Asri… eh teman saya Broni mau mengadakan bakti sosial disana, eh tapi tujuan utamanya sih kampanye partai tempat dia kerja dan menjilat mbah hihihihihi”
“Hush.. jangan main-main nak….! “ tegur mbah tua itu sambil menyedot rokoknya..
“Jangan melakukan sesuatu yang bertolak belakang dan sesuatu yang negatif disana” kata mbah tua itu kemudian terdiam dan memandang lurus ke depan
“Kalau tujuan kalian tidak jelas, lebih baik pulang saja nak”
“Lho kenapa memangnya mbah?”
“Tidak apa apa nak. Desa itu lembah Asri jangan digunakan untuk hal-hal yang jelek, pokoknya jangan aneh-aneh disana, atau lebih baik kalian balik saja apabila tujuan kalian mencari keuntungan atas nama partai atau kalian punya tujuan yang tidak baik disana”
__ADS_1
“Ya sudah nak… mbah pulang dulu…. Pokoknya ingat pesan mbah… jangan melakukan sesuatu yang jelek, aneh-aneh, dan bertolak belakang dari kebaikan….atau…”
“Atau… ah sudahlah nak, pokoknya jangan aneh aneh disana…..mbah pulang dulu nak”
Orang tua itu membayar makanannya kemudian pergi begitu saja….
Tinggal aku yang bingung dengan kata-kata orang tua tadi, karena dia tidak meneruskan omongannya tentang sesuatu yang akan terjadi apabila…. Asyudahlah, aku lagi malas mikir.
*****
“Ayo berbenah rek, sebentar lagi ada yang akan jemput kita rek… tapi karena ojek motornya cuma ada empat, maka nanti gantian ya rek..”
“Yang berangkat kloter pertama adalah aku, Novi, Wildan dan Bondet rek… yang lainya tunggu kloter kedua ya hihihihi” kata Broni
“Jangan aku Bron… lebih baik yang lainya saja, aku terakhir aja”
“Yo wis Wil… Kamu Tif.. Tifano saja ya”
Aku gak ngurus mau kloter ke berapa…yang aku pikirkan sekarang adalah perkataan dari mbah-mbah tadi itu… aku gak tau apa yang akan terjadi apabila kami melakukan sesuatu yang buruk disana.
Sepuluh menit setelah kami berbenah…. Dari luar pagar ada suara beberapa motor dua tak yang nyaring suaranya…kayaknya suara motor yamama erexking.
Kemudian salah satu dari pemilik motor itu masuk ke rumah ini dan mencari Broni. Setelah berbicara dengan Broni, dengan penjelasan jalan yang akan dilalui dan berapa bayaran yang harus disepakati, akhirnya Broni mengajak Bondet, Tifano, dan Novi berangkat.
“Wil kamu dan yang lainya tunggu disini dulu. Nanti dijemput lagi sama mereka” kata Broni
“Bron tanyakan eh arah ke lembah asri itu dimana, aku bosan kalau nunggu disini”
“Aku, Ivon dan Gilank jalan kaki pelan-pelan ke sana, nanti kan ketemu di tangah jalan yang menuju ke sana juga apabila ojek ini balik menjemput kami”
Ternyata letak lembah ini lurus saja ke arah atas, nanti sampai di tengah hutan ada perempatan, kita ambil jalan yang ke kanan, setelah itu katanya kita tunggu saja di pos penjagaan hutan.
Tidak sulit…
Broni dan tiga orang temanku berangkat duluan dengan menggunakan ojek lokal sini. Sedangkan aku dan dua temanku setelah kami berpamitan dengan penjaga rumah atau vila, kami berangkat juga dengan berjalan kaki.
“Wil… kita kenapa gak tunggu di rumah iku ae.. Kesel (capek) c*k” omel Gilank
“Hehehe kenapa tadi awakmu gak minta bareng aja naik motor Lank?”
__ADS_1
“Lha kan kita disuruh Broni nunggu di rumah itu c*k” jawab Gilank
“Males Lank, enakan gini, jalan kaki sambil menghirup udara pegunungan, bener nggak Von?”