TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 87. PAK KERI


__ADS_3

“Bau mas Gilank itu nggak ada duanya mas, mana ada hantu yang bisa menyamar hingga mirip dengan bau mas Gilank yang sangat nggilani itu”


“Maksudmu hantu gak akan bisa menyamar seperti Gilank dengan bau yang gak bisa disejajarkan dengan bau apapun yang ada disini?”


“Iya mas, kalau bau bangkai mungkin hantu bisa saja meniru mas, tetapi bau mas Gilank itu lebih mengerikan dari bau bangkai”


“Mas WIldan nggak perhatikan ibu-ibu yang muntah ketika kita naik bus kecil menuju ke terminal besar?”


“Di belakang mas Gilank, ada ibu-ibu yang muntah mas, kemudian dia pindah ke kursi yang di bagian belakang, trs nggak lama kemudian ada lagi ibu-ibu yang naik bus mini itu”


“Sama juga mas, dia nggak muntah, hanya mendadak berdiri dan pindah ke kursi yang jauh di belakang mas hehehe”


“Kok aku nggak tau ya Nov?”


“Halah… mas Wildan waktu itu tidur!”


“Apa mungkin waktu naik bus besar menuju ke sini, Gilank duduk di belakang sendiri, biar gak ada yang muntah lagi Nov?”


“Bisa jadi mas hehehe…. Makanya Novi yakin mas, kalau mas GIlank itu bukan jadi jadian”


“Kalau bukan jadi-jadian, kenapa dia selalu hampir membuat aku dan kamu celaka Nov?”


“Yah mungkin itu kebetulan mas Wil… hanya kebetulan saja mas”


Opini Novi memang masuk akal, hanya saja aku masih ragu dengan GIlank yang ini, bukan apa-apa. Cara kami ketemu dengan dia dan Bondet kan juga nggak masuk akal.


Dan sekarang Bondet kembali ke Kimpet.


“Eh mas Wildan, kita iseng tanya  ke orang yang tadi dikasih tau ibu penjual makanan itu yuk… siapa namanya tadi mas?”


“Pak Keri Nov…. Keri bisa berarti geli atau ketinggalan hehehe”


“Ah iya mas, namanya pak Keri, yuk kita cari orang itu dan tanya ke dia, tenang aja mas Novi bawa uang kok mas”


Kami menuju ke pos yang letaknya di ujung pasar, mungkin yang dimaksud ibu itu adalah pos penjagaan pasar.


Kami kembali lagi ke arah pasar, dan melewati toko pakaian yang makin siang makin ramai dengan pembeli, aku heran juga kok bisa ya toko pakaian kayak gitu pagi-pagi bisa ramai seperti itu.


jangan -jangan kayak toko Gemezzz yang ada di kota Mjkt itu.


“Mas itu pasarnya, sekarang kita cari pos keamanan yang ada disana mas, kata penjual makanan  pos itu ada di ujung pasar mas”

__ADS_1


“Ayo kita cari saja Nov, sebenarnya aku malas cari Gilang, tapi kamu maksa dan yakin bahwa Gilank itu asli”


“Sudah mas, gak usah mikir yang nggak nggak, kita cari dan tanya ke pak Keri dulu”


Semakin siang keadaan pasar semakin ramai, pembeli berdatangan dari segala panjuru, dan tepat di ujung pasar ada pos penjagaan.


Tadi waktu dari rumah Novi aku kok nggak liat ada pos itu.


Ah karena memang pos itu letaknya agak di ujung sehingga nggak keliatan kalau jalan dari rumah Novi menuju ke toko baju yang tadi kami lewati.


Semakin dekat dengan pos penjagaan pasar, di dalamnya ada beberapa orang yang sedang duduk.


“Mas, biar Novi aja yang ngomong sama mereka, mas Wildan diam aja mas”


Aku hanya mengangguk, yah kebetulan aja Novi yang mau tanya ke orang yang ada disana,  karena aku malas untuk yang berhubungan dengan urusan Gilank.


Sebuah pos yang catnya masih bersih, yah karena masih baru tidak atau belum kelihatan kumuh.


“Selamat pagi pak….” sapa Novi di depan pintu masuk pos


“Ya selamat pagi mbak, ada yang bisa kami bantu” jawab salah satu pak satpam yang kemudian berdiri dan menghampiri Novi


“Eh saya mencari yang namanya pak Keri pak” ujar Novi lagi


“inggih … saya Keri mbak, ada apa” kata orang tua yang duduk di ujung


“Eh nganu pak Keri, saya tadi makan di warung sana itu, dan kata ibu yang jualan kalau mau tanya sesuatu yang ada disini tanya nya ke pak Keri”


“Hehehe ono ono wae Jumiati itu… yah ada apa mbak, ada yang lagi dicari atau ada yang hilang hehehe”


“Nganu pak eh mbah Keri, eh saya mau tanya tentang teman saya yang semalam hilang dan tidak kembali sampai sekarang”


“Lho..lho…lho…. Kenapa kok sampek hilang, anak umur berapa mbak?”


“Hehehe sudah dewasa seperti kita ini pak”


“Oalah, eh ciri-ciri nya bagaimana mbak?”


Novi menjelaskan bagaimana sampai Gilank tidak kembali ke rumah, tetapi Novi tidak menjelaskan kalau ada sesuatu yang sedang mengancam kami bertiga.


Novi juga menjelaskan ciri-ciri Gilank secara detail hingga bau Gilank yang nggilani itu juga hehehe.

__ADS_1


“Waduuuuh, kalau yang mbak tanya itu eehmmm hehehe… saya kurang tau mbak, eh tapi…..tapi eehhmm” pak Keri memberi jawaban menggantung,  sambil tersenyum


Aku tau saat ini mbah eh pak Keri sudah memberi tanda minta uang, semoga Novi peka tentang tanda itu heheheh.


Ternyata Novi peka, dia mengambil uang dari kantong depan celana panjangnya sebesar dua puluh ribu rupiah, dan kemudian memberikan kepada pak Keri yang masih tersenyum penuh pengharapan.


“Pak Keri, ini dari saya, semoga pak Keri ingat dengan ciri-ciri teman saya yang hilang itu”


“Ah mbak nya ini kok repot repot sih mbak hehehe” kata pak keri menerima uang dari Novi


“Nggak papa pak, semoga pak Keri ingat apa pernah melihat teman saya”


“Yah…. sekarang saya ingat mbak. Ciri-coro, eh ciri-ciri orang yang mbak katakan itu semalam memang ke sini mbak. Dia beralasan cari warung kopi dan mau beli rokok”


“Saya kasih tau saja kalau jam segini nggak ada warung yang buka, adapun cuma pedagang yang sedang mengatur dagangan”


“Kemudian dia masuk ke dalam pasar, dan sampai sekarang dia belum keluar dari pasar juga mbak”


“alhamdulillah …. Berarti teman kami ada di dalam pasar ya pak?”


“Ya kemungkinan besar iya mbak, karena dari semalam saya yang jaga disini tidak melihat dia keluar dari pasar sama sekali”


Ketika pak Keri berkata Gilank ada di dalam pasar, aku langsung waspada, aku merasa hidupku dalam bahaya.


Kulihat kiri, kanan, atas, aku harus perhatikan sesuatu dengan lebih peka dari pada sebelumnya…


“Gini saja mbak,  kamu tunggu di depan pintu masuk pasar saja, atau kalau mbak dan mas ini nggak anti pasar, bisa masuk ke dalam saja, siapa tau teman kalian sedang ketiduran di dalam pasar”


“Karena maaf ya mbak mas, teman kalian itu baunya persis sampah pasar hihihi”


Novi tertawa atas apa yang diomongkan pak Keri, tetapi tidak dengan aku, karena aku sedang memperhatikan sebuah  gerobak sampah yang keadaanya sudah penuh dengan sampah pasar.


Gerobak itu letaknya di pinggir jalan…


Kenapa aku kok tiba-tiba memperhatikan gerobak sampah itu, karena tadi sekilas gerobak itu bergerak gerak sendiri…. Tapi bisa saja itu hanya pikiranku saja…


“Ayo kita masuk ke dalam pasar mas” aja Novi setelah selesai dengan pak Keri


“Eh ngapain juga kita k dalam pasar Nov, tunggu saja di depan pintu masuk kan nggak papa”


“Hehehe mas WIldan nggak suka masuk ke pasar tradisional ya hehehe”

__ADS_1


“Nggak masalah itu Nov, perasaanku nggak enak barusan Nov, ketika pak Keri menyuruh kita masuk ke dalam pasar atau menunggu di depan pasar”


__ADS_2