TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 94. RESPON DARI TEMANKU


__ADS_3

Yance melihat kami dengan tersenyum ketika mobil yang menabraknya menghantam tubuhnya.


Aku melihat dengan jelas dia tersenyum kepada aku dan Novi..


Aku lihat dengan jelas tubuhnya tercerai berai dengan darah berceceran…..


Sengaja aku tutupi wajah Novi ketika mobil yang sekarang sudah menghilang itu menabrak Yance…


Beberapa orang sedang berkerumun di sekitar aku dan Novi, mereka tidak berkerumun untuk melihat korban tabrakan di tengah jalan!


Aneh…


*****


“Kalian berdua ini sedang apa kok tiba-tiba saling tarik di tengah jalan?” tanya petugas keamanan Mall


Aku dan Novi sedang duduk di pinggir jalan, dua orang petugas keamanan sedang ada di sebelah kami, satu orang memberi kami dua air mineral ukuran gelas…


Aku jelaskan bahwa teman kami tadi jadi korban tabrak lari.. Tetapi kedua petugas keamanan itu hanya tersenyum.


“Lihat disana, apakah ada korban tabrak lari pak… jalur ini lancar, tidak ada korban tabrak lari sama sekali” kata petugas itu


“Tapi …. Tadi teman kami.. Eh disana juga ada taksi biru muda yang sedang mangkal pak”


“Tidak ada siapapun di seberang jalan ini pak, bapak dan ibu ini berhalusinasi, bahkan tidak ada taksi biru muda juga diseberang sana” jawab petugas itu lagi


“Jangan-jangan kalian sedang menggunakan narkoba” kata petugas keamanan yang satunya


“Tidak pak. Kami tidak pernah menggunakan narkoba sama sekali”


Kerumunan orang yang tadi mengerumuni kami sudah bubar, keadaan sudah sepi, tinggal kami dan dua anggota petugas keamanan yang masih ada di pinggir jalan ini.


Aku masih duduk di pinggir jalan… aku bingung, bukan bingung karena Yance yang tiba-tiba hilang, tetapi karena aku dan Novi bisa selamat di detik detik terakhir.


Kalau tadi seumpama Novi sudah ada di sebelah Yance, dia pasti akan mati, karena laju mobil yang tadi menabrak Yance siluman itu kencang sekali.


“Saya akan panggilkan taksi untuk kalian berdua ya… ayo ke pintu keluar mall saya, jangan ada di sini pak dan ibu”


Dari tadi Novi sama sekali tidak bicara apapun, aku rasa dia sedang ketakutan, dan untuk kali ini lagi kami masih selamat!


Aku dan Novi berdiri di pintu keluar Mall, kedua anggota keamanan mall itu tidak mau aku dan Novi terjadi sesuatu lagi, mereka mengawasi kami berdua hingga taksi yang mereka panggil datang.


“Mas…. kita mau kemana?”


“Mas Novi nderedeg mas…..”

__ADS_1


“Tenang Nov… kita balik ke hotel saja ya… eh coba kamu lihat ponselmu Nov, siapa tau ada yang menghubungi kamu”


“Mas… ya Allah, ada miscall dan Wa berkali kali dari Yance….!” kata Novi setelah membuka ponselnya


“Aneh mas, kenapa kok nggak kedengeran suara dering telepon dan suara Wa sama sekali ya mas…. Sebentar mas, Novi hubungi Yance dulu”


Aku biarkan Novi menghubungi Yance, aku tau yang tadi itu bukan Yance, tapi sesuatu yang berusaha membunuh aku dan Novi..


Novi sedang bicara dengan yance, hanya sebentar saja tanpa menceritakan kejadian barusan.


“Mas… ternyata Yance sudah ada di rumahnya…. Gimana ini mas?”


“Nggak papa Nov, sudah nggak usah dibahas lagi, yang penting kita masih diberi selamat”


“Aku yakin Yance yang ini bukan yang tadi, kita harus lebih berhati hati lagi…. Aku yakin malaikat maut lagi misah misuh iki.. Gak berhasil cabut nyawa kita”


“Tadi Yance marah besar sama Novi, dia bilang kita tega ninggalin Yance di pujasera sendirian”


“Sudah Nov, yang penting sekarang kita harus sampai di hotel, dan disana lebih baik cerita saja kepada Yance apa yang barusan kita alami, agar dia juga lebih hati-hati”


“Ingat kata pak Tejo Nov, orang yang dekat dengan kita akan mati!” aku berbisik agar driver taksi tidak mendengar


Taksi sudah dekat dengan hotel, sekarang pukul 22.30…  cukup lama tadi aku dan Novi duduk di pinggir pitu masuk mall sampek mall itu akan tutup hehehe..


Maklum bukan hotel berbintang, jadi ya begini ini pelayanannya. Alih alih pengiritan, tapi malah bikin susah tamunya saja.


Sekarang aku bingung, kita mau lewat mana..


“Nov, sekarang gimana. Kita mau naik lewat mana?”


“Aduuh cobaan kita kok ya belum selesai mas…. Eh gini aja mas, kita minta antar petugas hotel sampai lantai lima aja”


“Terus kita naik lift atau lewat tangga darurat mas?”


“Aku nggak berani ambil resiko ke atas sana pakai lift ini Nov, tapi…”


“Tapi aku pikir kita nggak papa deh pakai lift Nov… kita kan hari ini udah beberapa kali hampir mati hehehe, masak iya sih malaikat maut masih berusaha membuat kita mati lagi?”


“Ya sudah mas, berarti kita pakai lift ya, tapi Novi tidak mau kalau hanya kita berdua aja mas”


“Nggak usah Nov, yakin aja nggak akan terjadi apa-apa, kita ini intinya masih dilindungi Tuhan, dan belum waktunya mati, hanya saja malaikat maut jhancok itu udah gak sabaran mau bunuh kita heheheh”


Meja reception dalam keadaan kosong, pokoknya ruangan ini kosong tidak ada orang sama sekali disini, mungkin kalau ada tamu tinggal bunyikan bel kecil yang ada di meja resepsion.


Aku menuju lift yang letaknya ada di tengah ruangan lantai satu…

__ADS_1


“Jancok… lift ini mati Nov… aneh sekali mana ada hotel jam segini matiin lift, dasar yance itu pelit Nov”


“Ah nggak mungkin mas. Mana ada hotel yang matikan lift.. Coba pencet tombol untuk memanggil lift itu mas”


Aku tekan tombol yang biasanya digunakan untuk memanggil lift di lantai manapun lift itu berada. Dan ternyata lift ini bekerja, aku mendengar suara desingan mesin mesin dan suara kabel sling lift yang beradu.


Terus terang lift ini mengerikan bagi kami yang sedang ada masalah dengan malaikat maut, tapi untuk naik lewat tangga darurat jelas tidak mungkin…


Dengan modal mengucapkan bismillah dan meminta keselamatan kami masuk ke dalam lift, lift berjalan dengan sangat pelan menuju ke lantai lima.


Suara bel menandakan lift sudah membawa kami di lantai lima. Pintu lift terbuka….


“Tai kuntila memang si Yance itu. Masak lampu lorong dia matikan segala, pengiritan ya pengiritan tapi kalau bikin ngeri kayak gini ya bngsth namanya”


“Iya mas… aneh Yance itu..besuk Novi bilangin dia mas”


*****


“Nov check efbe.. siapa tau ada respon dari teman kita mas”


Novi mengambil tablet yang dia beli bekas…


“Mas…punya mas wildan ini ada yang respon” kata Novi menyerahkan tablet ke aku


“Eh Nov!, ini… ini sangat aneh!”


“Nov… ini ada respon dari Tifano… akun TIfano nge like status yang aku buat!”


“Kok cuma like aja mas Wil. mas Tifano ini gimana sih, kok nggak kabari dia ada di mana posisinya… jawab aja mas.. Dia ada di mana mas”


“Iya Nov… aku ini deg deg an liat TIfano like status yang aku buat Nov….”


“Apa dia sudah ada di kota ini ya, asal kamu tau Nov, kebiasaan Tifano itu tidak pernah mengomentari post-post yang teman-temanku bikin, dia itu hanya like aja biasanya Nov”


“Kalau gitu dia ada di kota ini mas…”


“Belum tentu, aku nggak tau siapa yang sedang menggunakan akun efbe milik Tifano ini”


“Ya udah balas aja mas, dan setelah itu tidur mas, Novi udah ngantuk”


“Aku nggak bisa tidur Nov, inget tadi. Kok bisa ya demit itu nyamar jadi mirip dengan Yance, padahal saat itu kita ninggal Yance di pujasera ya Nov….”


“Nov….woeee Nov… “


“Chok malah turu!”

__ADS_1


__ADS_2