
C*k… bener to…. Kita ke rumah pak Sapudi c****k… duh Gusti jangan sampai yang muncul itu Sapudi….
Broni santai sekali jalan masuk ke pekarangan rumah pak Sudikan, tapi ya sudahlah semoga yang ada di depanku itu adalah rumah pak Sudikan bukan rumah pak Sapudi.
Pintu rumah yang terbuat dari kayu itu dalam keadaan terbuka, suara orang yang sedang ngobrol disertai suara tertawa terdengar dari halaman rumah, tapi aku belum mendengar suara pak Sapudi sama sekali.
Sepatu teman-temanku tergeletak di depan pintu rumah… lho kalau sepatu mereka ada di depan pintu rumah, berarti lantai rumah itu bukan tanah liat….?
Broni sudah sampai depan ambang pintu, dia melepas sepatunya sebelum masuk ke dalam rumah… emudian dia mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah. Sementara aku dan Ivon masih sekitar dua meter dari depan ambang pintu.
“Lho mana temanya nak Broni?” tanya suara orang tua yang aku yakin bukan suara pak Sapudi
“Eh ada di luar pak… “ jawab suara Broni
Aku semakin yakin yang di dalam itu bukan pak Sapudi yang sebelumnya ada di dalam mimpiku, ditambah lagi dengan lantai rumah yang mungkin sudah bukan tanah liat yang dipadatkan lagi.
“Assalamualaikum….” sapaku di ambang pintu setelah kulepas sepatuku
“Waalaikumsalam” jawab suara orang yang ada di dalam itu berbarengan dengan suara teman temanku.
“Wah ini pasti nak WIldan ya.. Ayo masuk.. Nak Wildan bersama mbak Ivon?” kata suara itu lagi
“Iya pak… eh saya Wildan dan yang ini Ivon….” aku dan Ivon masuk ke dalam rumah
Ternyata lantai rumah ini bukan menggunakan tanah liat, dan bukan pula menggunakan bahan keramik, hanya berupa plester semen saja.. tapi lebih baik dari pada tanah liat yang dipadatkan.
Berarti yang ada di dalam mimpiku ini salah!
Aku masuk ke dalam rumah… tidak ada meja kursi yang ada hanya tikar yang dihamparkan di ruangan dalam rumah….
Ruangan dalam rumah ini berbeda dengan yang ada di dalam mimpiku ketika aku ada di rumah pak Sapudi… tidak ada tungku api di pojokan rumah, yang ada hanya lemari tua yang berkaca oval lebar.
__ADS_1
“Mari silahkan duduk nak Wildan dan nak Ivon, tapi maaf ya, tidak ada meja dan kursi, adanya hanya tikar saja hehehe” kata pak Sudikan yang jauh berbeda dengan yang ada di dalam mimpiku
Pak Sudikan perawakannya tua dan berkumis lebat, dia pendek dan agak kurus, berbeda dengan fisik Sapudi yang tinggi besar.
“Wil.. Gilank mana?” tanya Tifano yang tangan kanannya sedang memegang pisang rebus
“Nggak tau Tif, sampai sekarang dia belum muncul, apalagi kabut di hutan itu semakin pekat, mungkin ojek gak berani antar, semoga besok pagi Gilank bisa diantar ojek ke sini”
“Gimana nak Wildan… temanya belum sampai disini?” tanya pak Sudikan yang aku panggil pak Dikan saja
“Benar pak Dikan… tadi saya dan Ivon menunggu di ujung jembatan sampai lama sekali, tapi belum ada ojek yang muncul, apalagi keadaan hutan di sana itu berkabut dan gelap, mungkin ojek enggan mengantar ke sini dalam keadaan itu pak”
“Ya memang nak Wildan.. Desa ini ada di sebuah lembah yang selalu berkabut, desa ini dikelilingi oleh tebing dari sebuah gunung, jadi kalau siang menjelang sore gini kabut di hutan itu sudah turun” kata pak Dikan
“Dan ojek tidak ada yang mau mengantar hingga ke sini, mereka takut tersesat dan hilang dalam kabut.. Tapi itu hanya mitos saja nak heheheh”
“Ayo nak WIldan dan nak Ivon, itu ada teh hangat dan pisang rebus, yah hanya sekedar sajian desa saja heheheh” kata pak Dikan sambil mengambilkan gelas untuk aku dan Ivon.
Hmmm hanya sebuah mitos ya…tapi di dalam mimpiku kabut itu memang bisa membuat hilang manusia, dan apa yang dikatakan pak Dikan itu bukan hanya mitos.
Rumah ini tidak ada listriknya, tetapi karena siang hari dan pintu serta jendela yang dalam keadaan terbuka, maka bagian dalam rumah ini tidak terlalu gelap.
Rumah yang terbuat dari kayu dan sangat sederhana ini sama sekali tidak ada perabotnya kecuali lemari kuno berkaca lebar itu… eh tapi di dinding rumah ini juga ada beberapa foto lawas hitam putih yang tergantung.
Mungkin foto dari mbah mbahnya keluarga dari pak Dikan….ada empat photo yang tergantung di dinding. Ketika aku sedang memperhatikan photo yang tergantung, tiba-tiba pak Sudikan sudah ada di sebelahku.
“Itu photo-photo keluarga saya nak WIldan.. Dari ibu-bapak saya dan mbah-mbah saya hehehe, yah hanya itu hiasan dinding rumah ini nak” kata pak Sudikan yang ada di sebelahku
“Iya pak, yang penting kita tidak pernah melupakan orang tua dan leluhur kita pak”
Kami keluar dari rumah pak Dikan…. Kabut yang tadinya tipis, kini semakin tebal ….sama seperti keadaan ketika aku sedang bermimpi, daerah ini tidak pernah lepas dari kabut.
__ADS_1
“Ayo saya antar ke rumah saya yang kosong, nanti disana ada dua kamar, mbak Ivon bisa tinggal di kamar yang satunya…ingat jangan tidur campur lho ya hehehe”
“Di desa ini aturannya sederhana, pokoknya jangan melakukan tindakan yang dilarang sang maha Pencipta, jangan melakukan tindakan asusila, dan berbicara serta berlakulah yang sopan…” kata pak Dikan kemudian berjalan ke luar pekarangan rumahnya
Aturan yang sederhana, semoga aku dan temanku bisa mentaatinya…. Sekarang kami pasti menuju ke rumah yang ada di belakang sana, rumah yang sama ketika aku dan temanku menginap dalam mimpiku.
Dan ternyata benar tebakanku, kami menuju ke rumah itu. Tapi ada yang berbeda dengan tanah yang aku pijak, tanah ini tidak gembur dan tidak gampang runtuh, tanah disini keras seolah tidak ada rongga di bawah tanahnya.
Ah ternyata mimpiku itu hanya bunga tidur yang berusaha menakut nakuti aku saja hehehe.
“Rumah ini adalah rumah keluarga saya, peninggalan dari mbah saya, kalian bisa tempati rumah ini dengan syarat jangan melakukan apa yang tadi saya katakan… pokoknya selama ada di desa ini jangan melakukan yang tadi saya katakan itu ya”
Pintu rumah ini menggunakan gembok, beda dengan ketika ada di dalam mimpiku. Pak Sudikan membuka gembok pintu, kemudian dia masuk ke dalam rumah yang gelap keadaanya karena jendela rumah masih tertutup.
Jendela rumah ini hanya ada dua dan jendela itu mengapit pintu yang ada di tengah, tapi kayaknya semua rumah disini memang begitu semua modelnya. Dua buah jendela yang mengapit pintu.
Pak Dikan membuka dua buah jendela… dan akhirnya ruangan dalam rumah ini agak terang, karena hari masih sore dan sinar matahari bisa masuk ke dalam, meskipun sinar matahari sore ini terhalang kabut yang makin tebal.
Kami masih ada di depan rumah untuk mendengarkan penjelasan tentang rumah yang akan kami tempati, tetapi dari luar sini aku bisa lihat lantai rumah itu terbuat dari semen juga, bukan tanah liat seperti yang ada di mimpiku.
“Oh iya… disini tidak ada listrik ya… karena desa ini terpencil dan tidak ada jaringan listrik yang masuk ke sini, tapi jangan khawatir, ada lampu petromak yang bisa kalian gunakan”
“Ada dua lampu petromak di rumah ini. Satu untuk di dalam rumah, dan satu lagi kalian gantung di depan rumah apabila malam tiba”
“Seperti yang saya bilang, rumah ini hanya ada dua kamar termasuk tempat tidurnya, kemudian ada beberapa tikar yang bisa kalian gunakan, dan untuk urusan mandi serta buang air besar, letaknya sekitar sepuluh meter di belakang rumah ini”
“Disana ada sumur dan tempat untuk mandi dan buang hajat…”
“Tetapi ingat sebelum kalian mandi, kalian harus menimba air sumur dulu…. Di bagian belakang rumah ini sebuah tungku masak, sudah ada kayu bakarnya dan peralatan masak yang bisa kalian gunakan untuk membuat minuman”
“Untuk penerangan ke kamar mandi dan belakang, sudah ada lampu ublik yang bisa kalian gunakan”
__ADS_1
“Untuk makan sehari hari, kalian bisa ke rumah saya saja… sesuai dengan apa yang saya katakan kepada nak Broni, untuk makan kalian bisa di rumah saya saja”
“Oh iya… ada lagi satu pantangan yang harus kalian taati, jangan pergi ke Sendang Ningrum yang letaknya ada di belakang desa ini. Jangan sampai kalian ke sana atau menginjakan kaki di tempat itu.. Jadi mohon di pahami ya anak anak” kata pak Dikan selesai dengan penjelasannya.