
Rumah demi rumah yang kami lewati untuk menuju ke tempat rumah pak Sapudi itu kosong, eh bukan kosong sih…tapi pintu dan jendela kayu rumah itu tidak ada yang dalam keadaan terbuka.
Kami sudah melewati tiga rumah dengan pekarangan yang luas, dan ketiganya tidak ada tanda-tanda ada penduduknya.
Ivon yang berwajah kaku dari tadi selalu memperhatikan rumah yang kami lewati, aku tau dia pasti akan sepaham dengan aku bahwa rumah-rumah itu tidak berpenghuni.
Tapi tidak dengan Novi, dia percaya di dalam rumah itu ada orangnya…
“Mungkin penduduknya sedang ada di dalam rumah mas Wil… soalnya kan tadi ada kabut aneh, bahkan sekarang saja disini masih ada kabut tipisnya mas” jawab Novi atas perkataanku tadi
“Iya Nov, semoga memang seperti yang kamu katakan itu Nov” yah aku gak yakin apa yang dikatakan Novi tadi itu, karena yang ada disini itu berbeda keadaanya
“Kalau seumpama gak ada orangnya, lalu yang mematikan dan yang menyalakan obor itu siapa mas Will?” balas Novi
“Iya sih Nov, masuk akal apa yang barusan kamu katakan itu”
“Ayo agak cepat rek.. Kita harus segera temui pak Sapudi rek” kata Broni yang berjalan lebih cepat
Sesampai di pertigaan seperti sebelumnya kami lurus saja hingga tiba di sebuah tanah kosong dan masuk ke tanah kosong itu, dan di dekat situ ada rumah pak Sapudi.
Rumah-rumah yang dalam keadaan tertutup itu masih terlihat sepanjang jalan ini..
Tiba di sebuah tanah kosong… kami berbelok ke kiri… pohon besar dan rimbun seakan melindungi tanah ini dari sinar matahari yang tidak terlalu panas disini.
Broni sedikit berlari ketika kami sudah ada di tanah kosong atau pekarangan kosong, Broni berlari tentu agar segera bertemu dengan pak Sapudi. Tapi….
“Arrghhh aduuuh janc*k!” teriak Broni
“Tolong c*k…. Kakiku keliatanya keseleo iki… badjingan kok bisa ada lubang disini Asyu!” teriak Broni
Broni terperosok ke dalam lubang.,. Bukan lubang, tetapi tanah yang diinjak Broni longsor ke bawah… tapi tidak dalam, hanya sekitar tiga puluh centimeter saja dalamnya, tapi tetap saja membuat dia kaget.
“Hhihih makane ta..jalan biasa ae Bron, gak usah pakek lari lari gitu” tegur Tifano yang menghampiri Broni untuk mengangkat tubuh Broni
__ADS_1
Broni berhasil keluar dari lubang, tetapi mataku tertuju pada sebuah kain kumal dan bercampur tanah yang ada di dalam lubang tempat Broni tadi terperosok..
Secarik ujung kain putih kumal yang bercampur dengan tanah di lubang… tapi hanya aku saja yang lihat, teman-temanku lainya tidak melihat adanya ujung kain kumal yang seharusnya berwarna putih itu.
Tapi ternyata Ivon juga melihat apa yang aku lihat juga, Ivon memandangku dengan tatapan aneh ketika melihat kain lusuh yang ada di tempat Broni tadi jatuh.
Aku bisa menebak dengan pasti itu kain apa…
“Ayo kita pergi dari sini rek… kayaknya disini ada bangkai tikus, baunya busuk sekali disini” kata Tifano
“Iya.. cepat, kita harus temukan Gilank, dan membawa pulang dia” sambung Broni
Ivon melihatku dengan tatapan wajah yang aneh… kemudian dia mendekati aku.
“Mas Wildan, tadi lihat apa yang Ivon tadi lihat?”
“Iya Von, t..tapi jangan sampai apa yang aku pikirkan itu adalah sesuai yang aku lihat”
“Sama Mas… Ivon gak mau nebak-nebak apa yang ada disana”
Aku baru ingat nama dan sejarah tempat ini.. Lembah mayit, karena banyak mayit yang dikuburkan disini karena mayit itu datang ketika ada kabut datang, seperti itu yang pak Sapudi katakan.
Rumah pak Sapudi sudah ada di depan kami, Broni segera membuka pintu dan masuk ke rumah itu tanpa mengetuk atau memanggil pak sapudi terlebih dahulu.
“Bron!... yang sopan!” tegur Tifano
“Kesuwen Tif…” jawab Broni
Pintu rumah pak Sapudi terbuka lebar… tetapi rumah itu kosong…. Dan gelap tentunya.
Tapi Broni tidak berani masuk, karena rumah itu kosong dan gelap. Sedangkan posisi kami agak jauh dari Broni yang sudah ada di depan pintu rumah pak Sapudi yang terbuka.
“Kenapa Bron, sana masuk, kamu kan tadi yang buka pintu rumah itu kan”
__ADS_1
“Iya Wil…”
“Von, mana sentermu!….” teriak Broni yang seenaknya sendiri kepada Ivon
Ivon sama sekali tidak menanggapi omongan Broni, Ivon malah bicara dengan Bondet tentang bagaimana menemukan Gilank.
Aku tau Ivon pasti dengar apa yang Broni katakan, hanya saja karena Broni sudah berlaku sak karepe dewe, maka Ivon pura-pura gak dengar apa yang dikatakan Broni.
“Hoiii c*k.. Gak denger apa yang aku bilang ya… pinjam Senternya!” bentak Broni tetap ada di depan pintu rumah pak Sapudi
“Yang perlu siapa?... bisa sopan tidak bicaranya!” bentak Ivon balik
“Woooiii ini juga demi kepentingan kita bersama Von.. ayo bawa sini senternya” teriak Broni lagi
“Sudah..sudah… sini senternya Von.. biar aku yang kasih ke Broni.. Broni itu memang gak punya sopan santun sama sekali kok Von” kata Tifano yang kemudian memberikan senter itu kepada Ivon
Aku tau Broni saat kepingin jadi pahlawan dengan menemui pak Sapudi dan melaporkan serta bertanya solusi untuk menemukan Gilank.
Yah Broni memang berubah semenjak dia ikut sebuah partai. Sekarang dia sudah pandai menjilat, dan berlagak seperti orang yang paling penting saja.
Aku, Novi, Ivon, Bondet dan Tifano berposisi agak jauh dari Broni yang sudah berani membuka pintu dan memanggil pak Sapudi seakan akan pak Sapudi adalah saudara Broni saja.
“Tif.. temani aku Tif” kata Broni yang belum juga berani masuk ke rumah pak Sapudi
“Nggak… kamu kerjakan saja sendiri.. Ingat kamu kan pimpinan kami, dan kamu harus bisa temukan Gilang dan bawa kami pulang” kata Tifano yang posisinya juga agak jauh dari Broni
Aku gak tau apa yang dilakukan Broni , yang pasti dia menyalakan senter Ivon dan menerangi dalam rumah pak Sapudi… Hingga beberapa belas detik Broni masih ada di depan rumah pak Sapudi dengan senter Ivon yang menyala.
“Wil. coba kamu kesini, ada yang gak beres disini”
“Ada apa Bron, jelaskan dulu ada apa baru aku mau ke sana, aku gak mau lagi kamu bahayakan diriku hanya karena nuruti omonganmu Bron”
“Iya maaf lah.. Eh Wil, rumah ini kosong, dan gak ada penghuninya sama sekali. Gimana WIl?”
__ADS_1
“Kok kamu tanya aku harus gimana Bron… ya kamu pikir dewe lah, bagaimana menemukan Gilank dan bawa kami keluar dari sini”