TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 70. PEMUKIMAN LAGI


__ADS_3

Ternyata kami ada di sebuah pemukiman penduduk, tetapi bukan sebuah perkampungan, karena dengan hanya mengandalkan sebuah senter, aku bisa melihat hanya ada sekitar empat atau lima rumah yang terbuat dari kayu.


Tempat yang kami datangi ini hanya berupa tanah kosong, mungkin dulunya disini juga hutan, tetapi  ketika ada penduduk yang datang, sebagian pohon itu ditebang dan akhirnya menjadi sebuah pemukiman.


Rumah-rumah itu tidak berjauhan seperti di desa lembah mayit, dan dari atap tiap rumah mengeluarkan asap yang artinya tiap rumah itu ada penduduknya..


Aku, Novi, dan Gilank berjalan di tengah jalan. Jalan seadanya yang mungkin dibuat oleh penduduk disini, dan jalan ini kayaknya masuk menuju hutan yang ada di depan kami.


Jadi sebagai gambaran, rumah-rumah ini sepertinya hanya sebagai tempat tinggal saja, dan jalan yang mereka buat ini untuk mempermudah penduduk disini menuju ke perkampungan atau pasar, sedangkan kami tadi masuk ke pemukiman penduduk disini melalui sisi hutan.


Dan yang bikin aku penasaran, rumah disini ukuranya tidak sebesar rumah yang ada di lembah mayit, mungkin ukurannya hanya separuh dari rumah yang ada di lembah mayit.


“Gimana Nov, kita ketuk salah satu rumah disini atau gimana, keliatanya tiap rumah itu ada penghuninya kok”


“Iya mas Wil, coba kita minta bantuan untuk bisa menginap disini untuk sementara saja, dan besok pagi kita pergi dari sini mas”


“Sik Wil, aku kok merasa ada yang aneh sama rumah yang ada disini” potong Gilank


“Aneh gimana Lank?”


“Tiap rumah mengeluarkan asap, dan asap yang warnanya agak hitam itu membuat mataku perih dan berair.. Sekarang bayangkan yang ada di dalam rumah itu, apa mereka gak buta dan sakit paru-paru karena menghirup asap jelek itu?” kata Gilank


“Iya ya Lank, bener juga apa katamu, kalau dilihat dari asap yang keluar dari atap rumah, bisa-bisa di dalam rumah itu penuh dengan asap”


“Gini ae lho Wil, kita coba buka pintu salah satu rumah yang ada disitu, siapa tau di dalamnya memang ada orangnya hehehe”


“Ya wis lank….. Ayo kita coba yang paling ujung dulu aja, biar kita gak penasaran hehehe”


Kami bertiga mendekati salah satu rumah yang paling dekat dengan kami posisinya, rumah yang di atasnya juga mengeluarkan asap yang cukup tebal.


Rumah yang aneh, dengan bentuk sekecil dan serendah ini, jelas tidak mungkin digunakan sebagai tempat tinggal, sik aku kok merasa rumah ini adalah sebuah rumah yang digunakan sebagai rumah produksi sesuatu.


Pintu rumah yang hanya menggunakan kayu yang disusun seadanya juga mengeluarkan asap di sela sela kayunya…

__ADS_1


Dari luar sini ternyata pintu rumah itu dikunci hanya menggunakan kayu yang dipalang saja. Semakin dekat dengan dinding rumah, rasanya hangat.


Yah karena diluar sini dingin sekali sehingga rasanya hangat dekat dengan dinding kayu ini, meskipun ada kabut tipis tetapi tidak setebal yang ada di lembah mayit.


“Awas Wil, kayaknya pintu itu panas, hati-hati kalau memegang pintu itu” kata GIlank


“Mas, kayaknya gak usah dibuka deh mas, Novi rasa bangunan kecil ini tidak ada orangnya, Novi rasa bangunan kecil ini hanya sebuah tempat untuk pengasapan mas”


“Nggak tau pengasapan ikan atau daging, pokoknya itu bukan sebagai tempat tinggal. Mungkin kalau kita ikuti jalan yang ke hutan sana kita bisa bertemu dengan rumah penduduk mas” kata Novi


“Nah…. pengasapan, itu yang dari tadi sedang aku pikirkan Nov, aku kayaknya pernah lihat bangunan kecil seperti ini, dan digunakan sebagai apa, hanya saja aku tadi agak lupa”


“Ya sudah… berarti yakin kalau yang ada disini itu bukan sebuah rumah tinggal ya rek, sekarang bagaimana, kita ikuti jalan setapak yang menuju ke tengah hutan itu, atau kita disini sampai pagi menunggu pemilik dari  tempat ini datang ke sini?”


“Aku setuju dengan Novi Wil, lebih baik kita ikuti saja jalan setapak yang menuju ke hutan itu, tapi ya heheh saat ini kan sudah malam, dan penerangan kita cuma senter yang kamu bawa itu Wil” kata Gilank


“Halah Lank, kita jalan gak usah pakek senter juga gak papa, ingat ketika kita ada di rumah putih, kita jalan tanpa penerangan sama sekali, mata kita ini akan menyesuaikan dengan keadaan di sekeliling kita Lank”


Akhirnya kami putuskan untuk mencari rumah penduduk pemilik dari tempat pengasapan ini, kemungkinan besar rumah penduduk pemilik tempat ini tidak jauh dari sini.


Kami berjalan melalui jalan setapak menuju masuk ke dalam hutan, kami sengaja tidak menggunakan senter sebagai penerangan, yah untuk sekedar menghemat baterai saja, siapa tau senter ini akan ada gunanya nanti.


Jalan setapak ini masuk ke tengah hutan, kegelapan mulai kami rasakan, kalau tadi ketika kami ada di rumah kecil tempat pengasapan, sinar bulan masih bisa menerangi  tempat itu, tetapi sekarang sinar bulan terhalang oleh lebatnya daun pohon-pohon besar yang ada disekitar sini.


Ternyata benar dugaan kami, sekitar beberapa puluh meter masuk ke dalam hutan, jauh di depan kami, aku melihat lampu minyak yang tergantung di depan rumah…. Ada beberapa lampu minyak yang sengaja digantung di depan rumah alih alih sebagai penerangan saja.


“Itu rumah penduduknya Nov”


“Iya mas, kalau dari sini keliatannya itu adalah sebuah perkampungan ya”


“Iya Nov, tapi kita tetap harus hati-hati dengan yang akan kita hadapi itu, aku sudah trauma dengan perkampungan yang ada di lembah mayit. Jangan sampai kita ketemu perkampungan mengerikan seperti itu lagi”


Kami jalan terus dan semakin mendekati perkampungan atau pemukiman yang berjajar di sepanjang jalan makadam ini…

__ADS_1


Semakin dekat dengan pemukiman, semakin aku deg deg an , jangan sampai kita yang sudah keluar dari sarang macan, kemudian masuk ke sarang buaya.


Tetapi kayaknya tidak dengan yang ini…. Sekitar sepuluh meter di depan kami di sebelah kiri ada semacam pos kecil atau tempat penjagaan.


“Itu kayaknya ada yang jaga rek, ayo kita datangi dia rek” kata Gilank


“Eh tapi hati-hati Lank, jangan sampai mereka kaget karena kedatangan kita, dan akhirnya membuat seluruh warga disini kebingungan”


“Ya nek gitu kita bertiga aja yang datangi pos kamling itu Wil… kayaknya di dalam pos itu ada dua orang yang sedang duduk-duduk ya”


Kami putuskan untuk mendekati pos penjagaan itu, kami berjalan dengan perlahan lahan, kami tidak ingin menakut nakuti orang yang sedang berjaga.


Setelah semakin dekat dengan pos penjagaan….


“Selamat malam pak… “ sapaku


Kedua orang yang ada di dalam pos itu kaget ketika melihat kami bertiga tau-tau ada di samping pos.


“Kalian siapa!” tanya salah satu orang sambil menyinari kami dengan senter yang dia bawa


“Kami tersesat pak… kami mohon pertolongan pak” kata Novi


“Kalian dari mana, dan bagaimana bisa kalian datang dari sana” kata orang yang tadi bicara


“Eh sini dekat dengan pos sini, jangan berdiri terlalu jauh” kata orang yang satunya


Kami bertiga mendekati pos penjagaan. Kedua orang itu bergantian menyinari kami dengan senternya. Dari mulai ujung kaki hingga ujung rambut.


“Hmm kalian ternyata memang manusia… “ kata orang yang pertama


“Kami memang manusia pak, dan kami tersesat”


“Atau begini saja, kalian saya bawa ke rumah pak Jati saja dulu, dia adalah pengurus kampung ini” kata orang yang kedua

__ADS_1


“Nanti kalian bisa jelaskan kepada pak Jati, karena tidak hanya kalian saja yang datang kesini sambil berkata kalau tersesat, beberapa hari lalu juga ada orang datang  ke sini…. Ayo saya antar kalian ke rumah pak Jati” kata orang yang kedua


__ADS_2