
Semakin masuk ke dalam, jalan ini semakin sempit dan semakin tidak nampak seperti jalan yang biasa dilalui manusia. Pohon sekin besar dan semakin padat daripada sebelumnya.
Dan akhirnya mobil berhenti pada sebuah ujung jalan yang buntu… karena di depan kami sudah berupa hutan yang rapat dengan pepohonan yang berbeda dengan ketika kita mulai masuk ke wilayah hutan.
Pagi hari, tapi disini suasananya temaram, selain kabut yang membuat pandangan kami tidak bisa melihat dengan jelas, juga karena kerapatan dari pohon yang ada disini.
“Sekarang kita harus jalan kaki mulai dari sini mas dan mbak” kata pak Kus sambil mematikan mesin mobilnya
“Kita jalan ke mana pak?” tanya Novi
“Ke arah depan kemudian belok kiri lagi, nanti setelah bertemu dengan pohon yang sangat besar, kita belok ke kanan… nah disana ada jalur sungai yang sangat sempit dan dangkal, kita bisa lewat sana untuk masuk ke desa”
Sebenarnya aku ingin protes dengan jalur yang akan kita lewati ini, bukannya jalan yang biasa itu ada jembatan, kenapa harus susah payah untuk cari jalur yang agak aneh ini.
Tapi biarlah, pak Kus kan yang tau jalur di sekitar sini, biarkan dia yang menuntun kita untuk masuk ke dalam hutan.
Bau tanah basah dan daun yang busuk menandakan bahwa hutan yang kami lewati ini adalah hutan yang masih perawan, paling tidak jarang atau bahkan tidak ada orang yang jalan melewati sini.
Pak Kus jalan di depan ku, bi belakangku ada Novi dan Ivon, kami tidak bicara sama sekali, karena mungkin sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Semakin dalam hutan ini semakin lebat dan semakin gelap, kabut disini juga semakin tebal daripada sebelumnya.
“Itu di depan sana ada sebuah pohon yang sangat besar, nanti kita belok kanan, tidak jauh dari sana nanti ada sungai yang memisahkan area ini dengan desa itu” kata pak Kus
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab, aku malas untuk bertanya tanya, karena memang benar, tidak jauh kemudian ada sebuah pohon yang sangat besar dengan daun yang banyak…
Aku tau pohon ini, sebuah pohon beringin, aneh juga ada sebuah pohon beringin diantara hutan pohon mahoni merah. Benar yang dikatakan pak Kus, kemudian kita belok ke arah kanan.
Setelah belok ke arah kanan ini suasana hutan semakin berbeda daripada sebelumnya. Aku merasa adanya hawa yang semakin mistis, seperti kalau kita sedang memasuki sebuah tempat yang lebih angker dari pada yang angker.
Tapi aku tetap ikuti apa yang dikatakan pak Kus, begitu pula si Novi dan Ivon yang ada di belakangku.
Pukul sembilan pagi, seharusnya disini matahari sudah lumayan panas, tetapi tidak di hutan ini.. Temaram, bau busuk daun dan bau busuk bangkai.
Iya bau busuk bangkai, aku mulai mencium adanya bau busuk dari bangkai, entah itu bangkai tikus atau binatang, atau bisa saja manusia.
“Eh mas Wildan, apa tidak mencium bau bangkai mas?” tanya Novi
“Iya Nov, tapi kalau ini memang jalan menuju ke sana kan nggak masalah Nov”
Hingga setelah sekitar satu jam berjalan dari ketika mulai kami jalan, akhirnya pak Kus berhenti.
“Gimana pak Kus?”
“Kita sudah hampir sampai anak-anak… di depan kita ini adalah sungai yang bisa kita seberangi” jawab pak Kus tanpa terlihat lelah sama sekali”
Tapi aku tidak melihat sungai sama sekali, yang ada di depanku adalah kabut yang semakin tebal dari pada sebelumnya, tidak terlihat sungai.
__ADS_1
Tidak ada juga sinar matahari yang berhasil menembus rindangnya pohon yang ada di sekitar sini…
Rasanya kita ada di daerah yang sangat berbeda dengan sebelumnya.
“Eh dimana sungainya pak Kus?” tanya Novi
“Tepat di depan kita ini sungainya, disini kita bisa seberangi tanpa harus lewat jembatan seperti disana itu” jawab pak Kus tanpa menoleh ke arah kami
“Apa aman kalau kita seberangi pak?” tanya Novi lagi
“Aman mbak, saya sudah dua kali ke sini lewat sini mbak, tidak ada apa-apa sama sekali” jawab pak Kusno
Sampai disini aku merasa ada yang aneh, dan keanehan itu tidak aku rasakan sebelumnya. Tapi aku belum tau keanehan apa yang aku rasakan sekarang ini. Rasanya semua ini ganjil pokoknya.
Rasanya seperti aku, Novi, dan Ivon sedang mengikuti sesuatu yang berniat tidak baik, tapi kan memang tujuan kita ke sini kan tidak baik, membunuh siapa saja yang ada di depan kita.
Aku mulai sadar ketika kami jalan menuju ke sini, hutan basah gelap dan bau, bau bangkai yang kadang tajam kadang hilang… kemudian kabut yang semakin tebal…
Tapi itu hanya perasaanku saja, aku belum bisa melihat dengan mataku sendiri apa yang ada disini.
“Ayo kita lewati sungai itu.. Nanti kita akan sampai di desa yang kalian ingin datangi” kata pak Kus kemudian berjalan lagi
“Apa tidak sebaiknya kita saling berdekatan pak, sesuai dengan yang bapak sebelumnya omongkan?”
__ADS_1
“Iya mas Wildan, kita harus bersama dan jangan berpisah, karena kita semakin dekat dengan kematian”
“Apa pak….kematian!”