TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 85. GILANK HILANK


__ADS_3

Memang aku tadi lihat juga apa yang dilihat Novi, tapi aku nggak mau bilang dan nggak mau mengiyakan apa yang dikatakan Novi.


Pokoknya segala yang ganjil dan membuat aku menuju ke sesuatu yang ganjil itu lebih baik tidak aku lakukan, aku tidak mau terjebak pada sesuatu yang tidak bisa dipikir dengan akal sehat!


“Jangan terpancing Nov, pokoknya jangan terpancing sama yang kita lihat”


“Pokoknya kita jangan keluar dari rumah dulu hingga pagi hari Nov, soal Gilank biarkan dulu saja”


“Kenapa mas Wil?”


“Nggak tau, aku mulai curiga dengan Gilank, apa yang menimpa aku kan selalu ada hubunganya dengan GIlank Nov”


“Eh iya juga mas…. Benar juga apa yang dikatakan mas Wildan. Kenapa Novi nggak kepikiran sebelumnya ya mas”


“Biarkan Gilank pergi entah mencari sesuatu atau apapun, untuk sementara ini aku tidak peduli dengan Gilank, aku nggak peduli hingga aku tau apakah Gilank itu benar Gilank atau tidak Nov”


Karena cukup aneh juga, hanya aku dan Novi yang beberapa kali akan celaka, sedangkan Gilank adalah orang yang mencetuskan atau yang memulai sesuatu yang akan mencelakai aku dan Novi.


Perasaanku ini bukan GIlank yang sesungguhnya, tapi entahlah…


“Mas… apa yang terjadi dengan mas Gilank, apakah dia itu teman kita yang sebenarnya atau bukan?”


“Nggak tau Nov, tapi biarkan saja. Jangan dijauhi atau kita hindari”


“Yang petting eh penting Nov, apa yang dia katakan, atau kalau dia ajak kita melakukan sesuatu, kita harus pikirkan dulu bahayanya”


“Iya mas… bener mas Wildan”


“Mas Wildan mau petting sama Novi hehehe?”


“Eh tadi salah ngomong Nov”


“Sekarang apa yang harus kita lakukan mas?”


“Tetap ada disini saja Nov, gak usah keluar dulu sampai pagi. Kita nggak tau apa yang akan menimpa kita di luar sana dalam keadaan gelap seperti ini”


Aku dan Novi duduk di karpet ruang tamu. Untuk saat ini kami berdua hanya menunggu hingga Gilang datang saja. Aku nggak tau apa yang akan terjadi dengan Gilang.


“Mas Wil, kira-kira apa yang akan terjadi dengan mas Gilang?”


“Ya nggak tau Nov, dari awal kan kita udah sepakat untuk melakukan apa saja bersama-sama, tapi Gilank sendiri yang pergi seenaknya saja”


“Seolah dia berkata… ayo ikuti aku, ikuti kemanapun dan apapun yang aku lakukan”


“Dan ketika kita mengikuti dia, kita akan tertimpa musibah, musibah yang pernah dikatakan pak Tejo Nov”

__ADS_1


“Iya mas, benar juga apa yang dikatakan mas WIldan.. Terus kita harus gimana mas?”


“Ya diam aja di rumahmu sampai pagi, sampai kita merasa tidak terancam sama sekali Nov”


*****


Pagi hari, sinar matahari masih di ujung timur.


Kami sama sekali tidak memejamkan mata ketika  setelah Gilank keluar dari rumah.


Dan sampai pagipun Gilank belum menampakan batang hidungnya, dia tidak kembali ke rumah Novi. dan memang dari semalam aku sudah mengira bahwa dia tidak akan kembali ke sini.


“Mas Wil. apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Sebentar Nov, aku masih berpikir.. Bingung juga kalau keadaan seperti ini, eh Nov kamu pernah nonton film Final Destination nggak?”


“Iya pernah mas… kan film final Destination itu sampai tiga seri kalau nggak salah ya mas. Kenapa mas?”


“Aku merasa kita ini akhirnya kok kayak film itu Nov. ada yang akan membunuh kita, dan itu hal ghaib, dan kalau mau selamat kita harus bisa mengecoh”


“Kamu ingat nggak jalan cerita film itu Nov, eh  maksudku bagaimana mereka bisa selamat dari pencabut nyawa?”


“Mereka mati semua mas, kecuali dua orang kalau nggak salah”


“Yang nggak  mati itu berhasil melewati atau menghindari pencabut nyawa”


“Iya beda Nov, tapi kan sama juga akhirnya. Akhirnya kita kan dikejar sama kematian, dan kita harus menghindari serta memberitahu teman kita yang lainnya kan”


“Iya juga mas, sekarang mas WIldan sudah tau nggak apa yang akan kita lakukan mas?”


“Sarapan.. Kita sarapan dulu, dan cari baju buat aku Nov, masak aku pergi kemana mana pakek celana gemes dan kaos perempuan gini”


“Duh disini gak ada pakaian laki-laki mas, adanya ya cuma baju itu, eh atau kita pergi ke pasar saja mas, kan dekat sini pasarnya. Mas WIldan pakek aja pakaian mas Wildan yang bau pesing itu saja dulu”


“Ya udah, aku masih mikir apa yang akan kita lakukan setelah ini, kita cari Gilank atau hubungi dan cari teman kita yang lainya…. “


“Kalau mereka ternyata tidak dan atau belum ada di kota ini gimana mas?”


“Aku nggak tau Nov,  yang utama adalah hanya menghindari dari sang pencabut nyawa yang bekerja sama dengan mahluk ghaib yang ada di desa mayit it hahahah”


*****


Aku dan Novi berjalan kaki ke pasar, sepanjang jalan kami selalu waspada. Kami harus bisa merasakan sesuatu yang bisa saja membuat kami terbunuh.


Kata Novi dari rumah dia ke pasar mungkin hanya dua puluh menit berjalan kaki. Dan selama kami jalan ini, kami belum bertemu dengan Gilank.

__ADS_1


Gilank seperti hilang ditelan bumi.


Aku dan Novi berjalan bersama beberapa ibu-ibu yang juga keliatnya akan pergi ke pasar juga.


Sengaja memang aku meminta Novi untuk jalan bersama ibu-ibu yang tujuannya ke arah pasar juga, aku nggak mau ambil resiko apabila kami berjalan berdua saja, dan nantinya ada sesuatu yang akan menimpa kami berdua.


“Mas, pasarnya itu ada di depan sana, dan sangat ramai mas…. Gimana menurut mas Wildan?”


“Nggak papa Nov, pokoknya kita harus hati-hati, dan harus pandai membaca situasi yang akan membuat kita celaka”


“Eh aneh ya Nov, dari tadi kita nggak lihat Gilank sama sekali”


“Iya mas, mas Gilank kok gitu ya, apa dia pulang ke Jogja mas wil?”


“Pulang ke Jogja, ya jelas nggak masuk akal Nov, dia kalau pulang ke Jogja ya akan membahayakan keluarganya lah”


“Sudahlah, kita nggak usah mikir dimana GIlank Nov, yang penting kita jaga diri kita sendiri saja”


Pasar sudah ada di depan kita beberapa belas meter. Sangat ramai disana dengan ibu-ibu yang berbelanja. Tukang becak dan ojek juga rajin menawarkan bantuan untuk mengantar ibu-ibu yang membawa banyak belanjaan.


Dan sejauh ini aku sama sekali tidak melihat keberadaan Gilank, dia hilang begitu saja setelah keluar dari rumah Novi semalam.


“Mas WIl, kita masuk ke pasar atau gimana?”


“Lha toko pakaiannya ada dimana Nov, kita ke sini kan bukan untuk belanja kuntila sapi… kita kan mau cari pakaian untuk aku Nov hehehe”


“Oh iya mas… kalau gitu nggak usah masuk ke dalam pasar mas. Toko pakainya disana, setelah ngelewatin pasar mas”


Kami berjalan terus, ibu-ibu yang tadi ada di depan kami berbelok ke arah kiri, ke arah pasar, sedangkan aku dan Novi jalan terus melewati pasar.


Aku selalu waspada dengan keadaan sekeliling kami,  karena sesuatu itu bisa saja terjadi sewaktu-waktu tanpa kita sadari sebelumnya.


Kami berpapasan dengan orang-orang yang mengarah ke pasar, karena memang saat ini, pagi ini orang orang banyak belanja kebutuhan pangan, hanya aku saja yang pagi-pagi gini cari sandang.


Setelah pasar, setelah melewati beberapa toko yang masih tutup akhirnya kami ada toko pakaian yang baru saja buka, penjaga toko itu sedang menata barang jualannya di depan toko agar menarik minat pembeli untuk mampir ke tokonya.


“Itu mas yang baru saja buka, kita ke sana saja mas”


“Sebentar Nov, liat itu penjaga yang sedang membuka toko, dia memegang benda yang panjang yang ujungnya seperti ada pengaitnya dan tajam”


“Aku nggak mau ada apa-apa dengan kita Nov”


“Halah mas, benda panjang dan ujungnya ada pengait tajam itu kan gunanya untuk menarik rolling door, itu kan bukan benda berbahaya mas”


Aku tau guna benda itu untuk menarik rolling door, tetapi benda yang terbuat dari besi dan ujungnya tajam dan berbentuk pengait itu kan cukup bahaya.

__ADS_1


Aku nggak mau ambil resiko dengan benda seperti itu…


__ADS_2