
“Cepat kalian pergi dari sini, setelah kalian habiskan makanan dan kopi itu”
Begitu pintu rumah pak Sapudi dibuka, udara dingin yang menusuk kulit menghinggapi kami, kabut tipis masih membayang di luar rumah… seolah desa ini adalah desa yang tidak pernah lepas dari kabut.
Masing masing membawa ransel. Jalan yang kami tempuh ya hanya satu jalan yang kemarin malam kami lalui itu.
Pak Sapudi hanya mengantar kami hingga di depan pagar saja, setelah itu kami yang harus berjuang keluar dari sini sebelum kabut yang dimaksud pak Sapudi datang.
“Eh mas Wil… menutur Ivon, kita jangan ke sana, Ivon kok merasa ada yang tidak beres disini” kata Ivon
“Ke mana maksudmu Von?”
“Ke kamar mandi pinggir sungai mas” jawab Ivon
“Tenang saja Ivon…saya juga merasa ada yang aneh, tapi nanti setalah pada buang hajat, kita tetap harus berusaha keluar dari sini”
“Bukan itu maksud Ivon mas… memang kita harus segera pergi dari sini, tetapi kenapa harus cepat-cepat, kalau kita ada di dalam rumah ketika kabut itu datang, maka Ivon rasa kita akan selamat mas”
“Iya juga ya Von…benar juga apa yang kamu katakan….tapi nggak tu juga sih Von, apakah kita akan aman apabila kita ada di rumah ketika ada kabut yang datang”
“Kita ini kan bukan orang sini Von.. bisa saja berdampak juga apabila kita ada di rumah itu kan”
“Tapi kita sudah di tengah jalan, dan di depan itu sudah jalan yang menurun menuju ke jembatan bambu dan barongan pohon bambu Von”
Apa yang dikatakan Ivon itu mungkin ada benarnya juga, tapi bisa juga salah apabila kita tinggal di rumah ketika ada kabut datang, seperti yang dilakukan penduduk disini.
Karena kita bukan penduduk sini yang tau keadaan disini…
“Rek… ayo cepetan… aku udah kebelet ngising iki rek hahaha” teriak Gilank yang mulai berkelakuan aneh-aneh
Tidak ada yang tertawa dan menanggapi apa yang dikatakan Gilank..
Kami berjalan menuju ke arah ketika kami datang disini kemarin malam… arah ketika kami melewati jembatan pada malam hari itu.
Pagi hari yang seharusnya penduduk pada keluar rumah, tetapi entah kenapa pagi ini sepi, obor yang ada di tiap rumah pun sudah pada mati…
Rumah penduduk disini tidak ada yang terbuka sama sekali. Baik pintu dan jendelanya semua tertutup.
Setelah berjalan beberapa belas menit, akhirnya kami hampir sampai di jembatan, yang ditandai oleh adanya rumpun bambu yang besar, rumpun bambu dengan barongan yang sangat banyak.
__ADS_1
Kemudian kami jalan menurun menuju ke jembatan..
Gilank yang nggak tau apkah memang dia sudah sangat kebelet, dengan setengah berlari dan teriak kegirangan mulai menuruni jalan turun yang menuju ke jembatan bambu.
Jalan turunan ini licin karena disini keadaanya lembab dan berkabut…
Gilank ada di depan kami beberapa meter, mungkin dia sudah kebelet untuk membuang ampas sisa makan sate kambing semalam, dan daging goreng buatan istri pak Sapudi barusan.
Jalan ini menurun hingga kami ada di sisi jembatan…. Kemudian kami berbelok ke kiri sesuai dengan yang dikatakan pak Sapudi.
Kabut tipis masih menyelimuti tempat pinggir sungai ini… jalan setapak pinggir sungai ini semakin licin, apalagi di sebelah kiri kami adalah dinding batu dan tanah liat yang dipapas tegak lurus.
Jalan setapak yang kami lewati ini hanya selebar sekitar enam puluh cm an, jadi apabila berpapasan dengan orang yang jalan dari depan salah satu harus mengalah..
Kalau seumpama di sebelah kiri kami bukan berupa bukit atau tanah yang dipotong tegak lurus atau dipapras mungkin kalau berpapasan dengan orang tidak akan sulit.
Gilank setengah berlari sambil tertawa tawa menyisiri jalan setapak yang licin. Bahaya juga Gilank itu, dia seharusnya berjalan biasa saja, gak usah over koyok gitu…apalagi kita yang orang luar desa ini seharusnya lebih berhati hati, karena kita belum mengenal daerah ini dengan baik.
“Biarin si Gilank mas..dia membahayakan dirinya sendiri….” bisik Ivon kepada Bondet yang posisinya ada di depanku
“Mas Wil… tegur Gilank dong mas… dia itu bahayakan dirinya sendiri” kata Novi
“AWAS MAS GILAAAANK!” teriak Novi
“AAARHHHHH…ADOOOOHH!” teriak Gilang yang terpeleset masuk ke sungai
Apa yang aku takutkan tentang Gilank ternyata kejadian juga…. Tiba-tiba dia terpeleset di jalan setapak pinggir sungai yang licin….
Dan dia masuk ke pinggir sungai….
Tentu saja sungai yang di pinggir ini tidak dalam… tetapi tentu saja pasti menghambat kami yang harus segera pergi dari sini.
“Aduuuh…tulung Willl kakiku keseleo c***k!”
“Lank.. kalok gak pakek misuh apa gak bisa… ini bukan daerah kita rek” tegur Bondet yang mengulurkan tangannya menggapai Gilank
“Cepet Ndeet.. Uaaadeeem pol banyune ( dingiiin sekali airnya) aaaduuuh”
“Diem Lank.. gak usah koyok anak kecil gitu… makane ta, di daerah orang itu dijaga tingkah lakunya”
__ADS_1
Ketika Bondet akan turun ke sungai untuk menolong Gilank, tiba-tiba dia menoleh ke kiri.. Ke arah hulu sungai, dia terdiam sebentar… dan kemudian melepas tangan Gilank, dan naik lagi ke tanah sambil menggelengkan kepalanya
“Onok opo Ndet ( ada apa Ndet)?” tanya Tifano
“Itu lho Tif, mosok kamu gak liat ada ****** hihihihi, makane tadi waktu aku masuk ke air kok agak mambu tai hihihii”
“Heluuuk onok tempat bertapa… eh tadi siapa yang mau buang air besar… ndang cepetan, mumpung ada Gilank rek hihihi” kata Broni
“Janc****k! Ndet.... Tulungono aku disik rek…. Dingin poool iki lho brrrrr” kata Gilank yang masih ada di tepi sungai
“Nggak Lank..naiko dewe.. Itu ada batu dan ada akar pohon hehehe” ujar Bondet
Anak-anak sedang sibuk dengan Gilank, mereka tidak memperhatikan dari arah hutan seberang sungai…
Dari arah hutan itu sekarang sudah mulai tertutup oleh kabut yang tebal dan berwarna abu-abu. Aku terus perhatikan kabut yang mulai datang dengan cepat.
“Rek…..liat itu rek..!”
“Ayo pegangan tangan… ingat kata pak Sapudi tentang kabut yang mengerikan itu membawa angin kencang rek”
“Mas Will.. kenapa Novi punya pikiran kabut itu mirip dengan yang ada di vila putih ya mas… kenapa kita berhadapan dengan kabut aneh lagi?” kata Novi
“Wis… nanti ae dibahas Nov… sekarang kita harus berpegangan tangan dulu!”
Tanpa banyak bicara aku, Novi, Ivon, Tifano, dan Broni berpegangan tangan. Aku nggak tau seberapa bahaya pengaruh kabut ini. Tapi informas dari pak Sapudi harus kita ikuti.
“Wil.. gimana Gilank!” teriak Broni
“Kita gak ada waktu untuk tarik Gilank.. Kabut itu semakin dekat!”
“WOOOI REK TOLONG AKU DULU REK!” teriak Gilank dari pinggir sungai
“Sorry Lank, kamu pegangan pada akar atau batu yang ada disana dulu ae, kabut itu datang dengan cepat!” Teriak Broni
Gilank pasrah keadaan, ya sudah….. Semoga gak ada apa-apa dengan datangnya kabut ini.
Kabut putih agak berwarna abu-abu itu datang dengan cepat, kabut memang seperti yang ada di vila putih….
Sekarang sungai tempat Gilank jatuh itu sudah dipenuhi kabut, dan satu detik kemudian kami yang berpegangan tangan ini juga sudah dilalap kabut putih agak keabu-abuan.
__ADS_1