TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 52. MAYAT ATAU ARWAH ATAU MANUSIA?


__ADS_3

“Mas…. Novi takut!” bisik Novi yang kemudian merangkul lenganku dan menempelkan buwah dadahnya ke samping punggungku.


“Ya sama Nov, tapi ingat pikirkan bahwa kita ini sedang mimpi, kita hanya sedang bermimpi saja, ini bukan kenyataan yang sebenarnya Nov”


“Nggak bisa mas… ini kenyataan, dan kita sekarang ada di kenyataan yang mengerikan”


Novi ketakutan karena mayat yang tadi duduk di kursi sekarang gak ada…


Tapi gak cuma Novi saja yang takut, aku sebenarnya juga takut, hanya saja aku coba untuk tetap tenang dan berpikir logis.


Tapi kayaknya disini tidak diperlukan pemikiran yang logis, karena yang bisa aku lihat disini sangat tidak masuk akal.


Keadaan di luar masih sama dengan sebelumnya, hanya kabut putih pekat dan gelap malam saja yang kelihatan, dan suara langkah kaki yang berjalan beramai ramai menuju ke arah tengah desa saja.


Kalau mendengar suara langkah kaki, berarti yang berjalan ke sana itu pasti manusia, kalau setan mana ada suara langkah kakinya.


Kabut yang tadi seluruhnya tebal sekarang bagian atas mulai  menipis.


Aku masih bisa mendengar suara langkah kaki yang menuju ke tengah desa… bagian atas kabut itu mulai  menipis.


Dan pada akhirnya sekitar dua meter dari permukaan tanah kabut itu sudah tidak sepekat sebelumnya…meskipun tetap aku tetap belum bisa melihat orang yang jalan di depanku.


kini aku hanya berharap bisa melihat orang yang jalan menuju ke tengah desa.


Dengan menipisnya kabut, rombongan orang yang sedang berjalan itu juga mulai habis….eh bukan habis ding, tapi masih ada beberapa suara langkah kaki orang yang jalan menyusul kabut tebal yang ada di depannya.


“Mas… kabutnya sudah makin tipis bagian atasnya, semoga yang jalan ke arah desa itu manusia yang bisa membantu kita mas”


“Iya Nov,  kita tunggu saja hingga terlihat seluruhnya, agar kita tidak salah menyapa orang, takutnya mereka itu orang jahat Nov” bisik ku kepada Novi


“Iya mas, tunggu hingga kita bisa lihat wajah mereka dulu mas”


Suara langkah kaki masih terdengar meskipun tidak seramai sebelumnya, kayaknya orang yang menuju ke tengah desa tinggal menyisakan beberapa orang yang tertinggal di belakang.


Dan pada akhirnya kabut tebal dan pekat tadi mulai hilang, sekarang hanya tinggal kabut tipis seperti biasanya dan gelapnya malam.


Orang terakhir yang jalan menuju ke tengah desa sudah melewati rumah yang kami diami meskipun aku tidak bisa  lihat wujud orang yang lewat barusan itu.

__ADS_1


“Nov.. udah gak ada yang lewat lagi, gimana apa kita ikuti mereka yang berbondong-bondong jalan itu?”


“Mas Wildan yakin kalau yang jalan itu manusia?”


“Mana ada setan yang jejak kakinya menimbulkan suara Nov?”


“Ayo cepat Nov, kita ikuti orang yang terakhir jalan tadi itu


“Kayaknya mereka itu menuju ke tengah desa deh mas, mungkin ke sendang  atau ke tanah yang  hiii penuh dengan mayat itu, atau jangan-jangan penduduk itu sedang melakukan ritual disana”


“Sstt ayo ikuti mereka Nov….”


“Mas Wildan gak takut?”


“Jelas takut Nov, yang penting kita ketemu sama manusia disini”


“Tapi mayat yang duduk di depan rumah itu dimana mas!.. Mayat tanpa kepala yang berpakaian rapi itu?”


“Sudah jangan bahas mayat yang ada di depan rumah itu Nov, kita fokus pada orang-orang yang sedang jalan itu saja, aku kira kita akan aman apabila sudah bertemu dengan orang-orang itu”


“Nanti kita tinggal ikuti saja bagaimana mereka keluar dari desa aneh ini, itu yang harus kita pikirkan”


Akhirnya aku  dan Novi berjalan mengikuti orang yang berjalan paling akhir tadi.


Sayangnya aku gak bisa lihat dengan jelas bentuk rupa wajah dari orang yang jalan di depan kami berdua, kami hanya bisa melihat bagian belakang orang yang jalan tertatih tatih namun agak cepat daripada jalannya orang yang kena stroke.


Aku sengaja tidak nyalakan senter, karena aku tidak mau mengganggu orang yang ada di depanku, aku gak mau orang yang ada di depanku tau bahwa aku dan Novi sedang menguntitnya.


Aku dan Novi berjalan agak cepat agar bisa melihat dengan jelas orang yang jalan di depan kami, tetapi  anehnya orang yang jalan dengan tertatih tatih itu masih lebih cepat dari jalan kami berdua.


“Nov, kayaknya orang yang di belakang kita itu sedang mengejar yang ada di depanya, mungkin dia tadi ketinggalan karena masih makan malam hihihi”


“Hush!... jangan gitu mas”


Ternyata lama-lama benar dugaanku, orang yang mungkin ada sekitar sepuluh meter di belakangku ini kayaknya sedang mengejar teman-temanya.


Dan yang aneh, di depanku kabut pekat masih ada, kabut itu menyelimuti rombongan orang yang berjalan cepat menuju ke tengah desa.

__ADS_1


Dari jauh aku bisa lihat di dalam kabut itu kadang terlihat kepala dan tubuh orang yang sedang berjalan cepat.


Tapi tiba-tiba aku berhenti berjalan!


Mendadak bulu kudukku meremang.


“Ada apa mas?”


“Nov ta…tadi aku lihat a…ada tubuh tanpa  k..kepala. Ada tubuh tanpa kepala di dalam kabut itu!”


“Mas, kabut itu pekat sekali, mana bisa lihat tubuh orang secara lengkap kalau jarak kita sejauh ini, dengan orang yang ada di depan kita aja kita sekitar sepuluh meteran, apalagi disini kan gelap sekali mas”


“I..iya sih Nov, semoga aku tadi salah lihat”


“Ayo kita ikuti saja mas, Novi yakin kita akan mendapat pertolongan dari orang-orang itu mas”


Aku lanjutkan lagi mengikuti rombongan manusia atau apalah yang berjalan di dalam kabut… sebenarnya aku curiga dengan mereka, karena mereka semua jalan di dalam kabut.


Aku dan Novi sudah hampir mencapai pertigaan, kalau terus akan menuju ke rumah pak Dikan, kalau belok maka akan ke tanah lapang dan sendang Ningrum yang katanya sangat dalam.


Dan benar juga apa yang aku pikirkan. Kerumunan itu belok ke kiri, mereka menuju ke tanah lapang yang ada gundukan batu di tengahnya, dan hanya ditumbuhi satu pohon yang rindang.


Orang yang tadi kami ikuti itu sekarang sudah masuk di dalam rombongan yang dikelilingi oleh kabut putih pekat yang aneh itu.


Aku dan Novi berusaha jaga jarak agak jauh dari kabut yang membawa rombongan orang itu…


Kabut putih pekat yang didalamnya terdapat puluhan orang yang sedang jalan itu terus menuju ke arah lapangan yang kata pak Dikan gak boleh kami masuki itu.


Hingga akhirnya ketika kabut dan rombongan orang itu sudah ada di samping lapangan yang aneh itu, mereka berhenti berjalan.


Kabut putih pekat itu hilang perlahan lahan…


Eh bukan hilang, tetapi kabut putih pekat itu naik perlahan-lahan.


Kabut putih pekat yang awalnya menyelimuti hingga ke tanah, sekarang perlahan-lahan naik ke atas.


Sekarang aku bisa lihat puluhan tubuh manusia yang berdiri di sebelah tanah kosong yang mirip lapangan. Mereka berdiri mematung tanpa bergerak sama sekali.

__ADS_1


Tetapi sayangnya aku tidak bisa melihat wajah dan kepala orang-orang itu, karena kabut itu masih ada di antara kepala mereka.


__ADS_2