
“Benar… ini tempat kita start awal menuju ke lembah mayit.. Novi masih ingat beberapa tetenger yang ada disini mas, tetapi ada yang sudah berubah mas”
“Aku juga merasa juga tempat ini ada yang berubah Nov, tapi aku masih mikir apa yang berubah itu”
Kami jalan terus hingga beberapa puluh meter ke area pemukiman, aku masih ingat di dekat pasar sana itu ada depot tempat kami sarapan sebelum berangkat ke lembah Asri atau eh lembah mayit.
Tetapi hingga saat ini kami bertiga masih belum bertemu dengan satu orangpun yang ada di daerah ini.
Kami jalan terus hingga kemudian aku yakin kita sekarang ada di dekat pasar.
“Di depan itu kan pasar rek, tapi kenapa pasarnya sepi, gelap, dan lebih bersih daripada sebelumnya” kata Gilank
“Iya mas Lank. pasarnya agak beda dengan ketika kita datang kesini ya… lebih bagus, apa mungkin karena pagar pasar itu dicat ya mas….. Tapi kenapa kok sepi sekali, tidak ada orangnya sama sekali”
“Iya Nov aneh, aku kok sekarang jadi merinding ya Nov?” kata Gilank
“Kenapa mas Gilank?”
“Kamu apa nggak berpikir Nov, kita sepertinya pergi dari sini lama sekali Nov….” kata Gilank
“Iya Lank, benar kamu, aku juga merasa merinding, kita kayaknya tidak kesini hingga beberapa bulan”
“Cari pos partainya dulu Lank, pos yang berwarna merah dengan gambar perempuan yang mengepalkan tanganya”
“Wil, harusnya pos yang dibuat partai itu ada disebelah pasar, tetapi sekarang kok sudah gak ada ya, apa pos itu sudah pindah”
Kami terus jalan melewati pasar, aku sangat berharap kami akan bertemu dengan seseorang yang dapat membantu kami untuk pergi ke terminall bus.
Dan ternyata apa yang aku pikirkan kejadian juga, di depan kami tidak jauh dari sini ada sebuah truk yang sedang berhenti.
Truk yang penuh dengan muatan, mungkin truk itu membawa muatan yang akan dikirim ke pasar.
“Mas Wil, seharusnya pasar ini kan tidak pernah sepi mas, setahu Novi yang namanya pasar itu kan jam segini pasti rame dengan pedagang yang kulakan, tetapi kenapa pasar ini kok kayak pasar mati ya mas?”
“Iya Nov, harusnya pasar ini gak akan sesepi ini, apakah… ah sudahlah, kita ke truk itu saja dulu, kita tanya ke mereka apakah mereka bisa antar kita ke terminal terdekat”
Kami bertiga menghampiri truck yang sedang berhenti, dan kebetulan… sangat kebetulan, disebelah truck itu ada dua orang yang sedang duduk di jalan samping truck sambil merokok.
“Kalian berdua diam aja dulu, biar aku yang bicara dengan mereka, karena keadaan kita ini sedang aneh, jadi jangan sampai menimbulkan curiga bagi mereka itu”
“Iya mas Wil…” jawab Novi, sedangkan Gilank hanya mengangguk saja.
Kami setengah berlari menghampiri truck colt diesel yang sedang parkir, di bagian belakangnya kayaknya penuh dengan muatan.
__ADS_1
Setelah kami semakin dekat dengan truck itu, dua orang yang sedang duduk itu kemudian berdiri… tapi mereka tidak menghampiri kami, mereka tetap di posisinya semula.
Yang satu orangnya kelihatan tua mungkin sekitar umur lima puluh tahunan, sedangkan yang satunya jauh lebih muda, mungkin masih belasan.
“Selamat malam pak” aku berusaha menyapa dengan baik
“Iya mas… kalian bertiga ini siapa dan dari mana. Kok dari sana?” kata orang yang tua sambil menunjuk ke arah dari mana kami berasal
“Eh kami dari sana pak. Eh kami tersesat” aku bingung mau menjawab apa
“Kalian tersesat di mana, kalian tau arah sana itu kemana, dan ada apa disana?” kata orang tua itu
“Saya tidak tau pak. Kami pokoknya dari sana dan ingin ke pasar”
“Kalian jawab dulu, kalian ini dari mana tengah malam jam dua belas lebih ini. Kalian bukan orang sini… dan logat kalian logat daerah jawa timuran”
Aku makin nggak tau harus bilang apa, karena bapak tua yang mungkin driver truck itu mengatakan hal yang membuat aku tidak bisa menjawab sama sekali.
“Sini… kalian mendekat dulu sini, saya mau ngobrol dengan kalian dulu, wajah kalian pucat dan berkeringat sekali, padahal disini hawanya dingin, eh kalian mau kopi?”
“Mau pak” kata Gilang tiba-tiba
“Saya mau minum air saja pak” kata Novi
Bapak tua itu kemudian menyuruh temanya yang lebih muda untuk membuatkan kami kopi.
Ternyata di dalam mobil truk itu ada sebuah termos yang berisi kopi yang masih panas, aku dan GIlank diberi kopi, sedangkan Novi diberi satu gelas air mineral.
“Kalian ini dari mana dan akan ke mana… oh iya nama saya Tejo, dan ini anak saya yang namanya Tedi. ini truk saya sedang nunggu akan bongkar di pasar satu jam lagi”
“Saya orang asli sini, dan saya tau persis daerah ini, jadi kalian jangan bohongi saya” kata pak Tejo
“Tidak ada orang sini atau luar kota ini yang berani ke tempat dimana kalian tadi datang pada jam segini….” kata pak Tejo lagi
Sebelum menjawab pertanyaan pak Tejo, kami minum dulu kopi dan air mineral pemberian anak pak Tejo, kami memang kehausan.
“Hehehe dari cara kalian minum, kalian kelihatannya dari jauh ya…”
“Begini pak. Nama saya Wildan, yang ini GIlank, dan yang perempuan itu Novi. kami dari kota S pak”
“Kami sebenarnya bertujuh, dan kami kesini atas ajakan teman kami yang gabung dengan partai untuk melakukan kampanye atas calon yang sedang diunggulkan teman kami”
“Kami tidak tau kapan kami datang ke sini, pokoknya kami datang ke sini naik mobil, kemudian kami menginap di rumah pejabat partai yang ada di tempat ini, dan besoknya kami pergi naik ojek ke desa lembah Asri”
__ADS_1
“Stop……..jangan bicara dulu” kata pak Tejo memotong omonganku
“Apakah kalian ini yang pernah datang bersama dengan teman kalian yang bernama siapa ya.. Kalau tidak salah namanya Broni… saya kok agak ingat dengan wajah mas ini” kata pak Tejo menunjuk Gilank
“LHO.. BAGAIMANA BAPAK TAU TEMAN KAMI BRONI!”
“Tenang mas……..!” kata bapak itu lagi
“Tenang….saya tidak kaget dengan kehadiran kalian disini” kata pak Tejo lagi
“Saya tau mas ini yang datang lagi ke rumah karena ditinggal kelompoknya kan, yang nginap sehari lagi di rumah… saya masih ingat wajahmu” kata pak Tejo sambil menunjuk Gilank
“Saya adalah penjaga rumah itu, saya penjaga rumah pak Raseko, saya yang membukakan gerbang pintu rumah itu ketika kalian datang malam-malam dengan mobil”
“Semenjak kalian pergi dari rumah dengan menggunakan Ojek, kalian tidak kembali selama kurang lebih satu tahun!” kata pak Tejo dengan tenang
Ha… satu tahun kami hilang….
“Dalam satu tahun ini kalian untungnya masih sehat, dan segar bugar!”
“Banyak yang datang kesini untuk mencari keberadaan kalian, bahkan dari kepolisian daerah asal kalian yang bekerjasama dengan kepolisian disini mencari kelian ke arah sana, tetapi rombongan kalian seperti ditelan bumi”
“Bahkan keluarga kalian membuat pos disana itu, di dekat bekas pasar itu, disana keluarga kalian secara bergantian menunggu kedatangan kalian”
“Tapi kalau nggak salah setelah tiga bulan penantian, dan kalian tidak ada kabarnya, keluarga kalian sudah tidak menunggu kalian lagi”
“Kalian hilang begitu saja….!”
“Saya yakin kalian bukan demit hehehe”
“Untung kalian bertiga pulang dengan selamat tanpa kurang apapun”
“Pak.. bagaimana bisa kami hilang selama itu pak” kata Novi
“Tenang mbak, saya tau apa yang kalian alami disana, jadi kalian tidak usah cerita bagaimana kalian disana dan apa saja yang terjadi disana, karena saya sudah tau, dan saya pernah mengalaminya sebelum anak saya Tedi ini lahir!”
“Sungguh suatu keajaiban kalian bisa datang kesini dengan keadaan selamat!” kata pak Tejo
“Setahu saya.. Saya agak lupa…. Eh kalian berlima atau berapa orang?” tanya pak Tejo
“Kami bertujuh pak” jawab Novi
“Dimana Broni dan teman yang lainnya?” tanya pak Tejo
__ADS_1
“Kami berpisah dengan mereka pak… eh biarkan saya cerita dulu pak, karena kami berpencar ketika ada disana pak”