
Jalan yang kami lalui ini aneh, bukan aneh yang belum pernah aku rasakan, tapi aneh yang pernah aku rasakan sebelumnya ketika aku ada disini.
Tanah ini gembur dan kadang ambles kalau diinjak.. Aku tau apa yang ada di dalam tanah ini, karena aku pernah merasakan sebelumnya.
Hanya sekitar sepuluh menit kami jalan, akhirnya kami sampai di jalan utama desa… hehehe jalan yang pernah aku dan teman-temanku lalui disini.
Suasana terang karena tiba-tiba muncul matahari, padahal tadi sempat hujan deras, kabut tipis masih saja menghalangi pandangan kami. Yah pokoknya suasana yang sama ketika kami ada disini sebelumnya.
“Itu rumah pertama, kita istirahat disana dulu sekaligus membuat api agar pakaian kita kering” kata pak Kus
Rumah itu lagi, rumah aneh dengan mayat orang tua yang sedang duduk di halaman, tapi untuk kali ini tidak ada yang duduk disana, keadaan rumah juga berbeda dengan ketika aku ke sini sebelumnya.
“Mas Wil.. itu kan rumah yang….”
“Ssstt jangan bicara dulu Nov” kukasih tanda dengan mencolek lengan
“Kenapa mas dan mbak, apa tau tentang rumah itu?”
“Kami pernah lewat sini pak, dan di depan rumah itu ada mayat yang sedang duduk”
Aku sengaja mengambil alih pembicaraan, aku tidak mau apabila pak Kus ini tau kalau kami pernah menginap dirumah itu. Tangan Novi kugenggam erat agar dia tidak bicara sama sekali.
Aku tidak mau memberikan informasi lebih kepada pak Kus, karena aku belum merasa aman dengan orang ini.
“Ya itu yang harus kita habisi mas, pokoknya sesuatu yang aneh dan mencurigakan harus dihabisi, agar kita bisa pindah ke dimensi lain” jawab pak Kus
“Ayo masuk ke sana mas”
“Eh apakah aman masuk ke sana pak Kus?”
“Kalian tunggu di dulu di luar, biar saya yang masuk ke dalam dulu saja”
“Tidak usah pak Kus, kita bersama saja masuk ke dalam rumah itu, kita jangan sampai terpisah pisah pak Kus”
Rumah yang sama dengan masa yang berbeda, kenapa aku bilang masa yang berbeda, karena untuk saat ini rumah ini terlihat tua sekali, catnya sudah sangat pudar, berbeda dengan ketika aku dan Novi ada disini.
Selain catnya yang sangat pudar, juga rumput dan ilalang yang ada di halaman rumah ini lebih tinggi ukurannya dibanding ketika aku dan Novi datang ke rumah ini.
__ADS_1
Jelas sangat kelihatan sudah lama tidak ada yang masuk ke dalam rumah, karena rumput tinggi itu tidak ada yang rebah sama sekali.
Pak Kus berusaha menginjak rumput agar rebah dan mudah untuk kali lalui.
“Terakhir saya kesini bukan di dimensi ini mas, mbak. Ketika saya kesini tidak ada rumput setinggi ini, dan keadaan rumah ini masih baru, hanya saja keadaan kosong”
“Mudah-mudahan di dalam sana masih ada beberapa peralatan yang bisa kita gunakan”
Aku dan Novi pernah ke rumah ini, dan di salah satu kamar ada tumpukan kain serta pakaian yang entah milik siapa itu, dan di rumah itu tiba-tiba aku bertemu dengan yang namanya pak Sokran bersama istrinya..
Dan sekarang kami kembali ke rumah ini lagi dengan keadaan yang berbeda, karena rumah ini nampak jauh lebih tua daripada ketika kami ada disini sebelumnya.
Pak kus membuka pintu rumah, suara deritan engsel pintu terdengar jauh lebih keras dari pada dulu waktu aku kesini, serta pintu itu kelihatannya makin sulit dan makin berat untuk didorong ke dalam untuk dibuka.
“Di dalam sini aman, ayo masuk. Keliatannya sebentar lagi akan turun hujan, lihat itu mendung yang sudah berdatangan” ujar pak Sokran masuk ke dalam rumah
“Iya pak, sebentar lagi akan hujan”
Kulirik Ivon ketika masuk ke dalam rumah, wajah dia yang pucat sekarang nampak makin pucat, dari tadi dia melirik ke kamar yang penuh dengan tumpukan pakaian, aku yakin dia pun pernah ada disini sebelumnya.
“Nah kita istirahat dulu disini, saya akan nyalakan api dulu di tungku itu, setelah itu saya akan buat rencana dengan kalian” kata pak Kus
Api sudah nyala, ruangan ini hangat, dan pakaian yang kami kenakan lambat laun kering sendiri, dengan panas tubuh dan panas dari tungku perapian.
Kami duduk di tengah ruangan, tanpa alas apa-apa. Seharusnya di dalam sana dan dan pakaian yang akan kita ambil kan, tapi kenapa pak Kus tidak mengambilnya.
“Saya tau kalian pasti sudah pernah ke sini, dan sudah pernah ketemu Sokran, dan yang di kamar itu kalian pasti melihat tumpukan pakaian, benar tidak yang saya katakan?” kata pak Kus membuka pembicaraan
“Tapi sekarang disana tidak ada pakaian sama sekali, coba mas Wildan masuk ke ruangan itu, ruangan itu kosong tidak ada kain atau pakaian bekas sama sekali, tidak ada yang namanya Sokran dan istrinya juga disini”
“Kalian jangan bingung, jadi sekarang ini kita ada di tempat yang sebenarnya, bukan seperti yang kalian alami sebelumnya”
“Kalau kalian masuk ke desa ini lewat jembatan yang pernah kalian lewati, maka kalian akan masuk ke permainan mereka, contohnya di rumah ini ada pakaian, kemudian ada mayat yang sedang duduk di depan rumah”
“Juga keadaan rumah ini jauh lebih baik dari pada sekarang, kemudian ada pemilik rumah ini juga, benar tidak yang saya katakan ini?”
“Iya pak Kus, itu yang kami alami sebelumnya, apakah itu setan atau sebangsa demit pak?” aku makin bingung
__ADS_1
“Tidak mas Wildan, mereka manusia juga, bahkan mereka juga sering ke pasar untuk berjualan, dan diantar ojek pasar sampai hanya di ujung jembatan saja”
“Tapi itu hanya berlaku bagi penduduk asli disini, keturunan dari tanah desa ini”
“Bagi pendatang seperti kalian yang masuk ke desa ini, yang ada kalian akan masuk ke dimensi yang selalu berubah-ubah hingga kalian bunuh diri dan mati disini”
“Kalian dipermainkan oleh sesuatu yang saya tidak tau apa itu, kalian akan diperlihatkan kengerian-kengerian yang ada di desa ini, dan kengerian-kengerian itu nyata, dan adanya di dimensi-dimensi desa ini”
“Saya bingung pak Kus”
“Iya pak Kus, Novi bingung pak”
“Sudah-sudah, tidak perlu dipahami juga, karena saya juga kadang masih bingung dengan keadaan disini”
“Seperti sekarang ini, kita masuk lewat jalur yang tidak semestinya, dan yang kita lihat adalah keadaan yang jauh berbeda kan?”
“Keadaan yang berbeda ini adalah keadaan yang sebenarnya di desa ini!”
“Ini desa mati, tidak ada penghuninya sama sekali kecuali setan dan demit yang siap mencabut nyawa kalian”
“Tetapi di dimensi lain, desa ini adalah desa yang ramai dengan penduduknya yang berkebun, dimana hasil kebunnya adalah kentang yang ukurannya besar.”
“Di dimensi itulah penduduk asli desa ini berinteraksi dengan penduduk desa di seberang sungai sana itu”
“Tapi kalau kalian yang bukan penduduk asli disini masuk ke sini melalui jembatan, maka kalian akan dipermainkan hingga kalian mati!”
“Oh makanya semua ojek disini tidak mau mengantar penduduk sini melewati jembatan itu ya pak?”
“Betul sekali mas Wildan. Penduduk disana itu taunya jangan lewat jembatan itu, karena akan hilang dan tidak kembali. Tapi mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi”
“Asal kalian tau, tidak ada seorangpun yang tau jalur yang tadi kita masuki itu. Yang tau hanya saya dan Tejo saja, ketika kami ingin mencari kawan kami yang masih tertinggal disini”
“Pak Kus, jadi sekarang kita tidak akan ketemu dengan orang-orang yang ada disini macam Sokran, Dikan, Sapudi, Kimpet, pakde Djati dan yang lainya pak Kus?”
“Tidak… mereka semua itu menguasai dimensi masing-masing, apabila kalian mati maka arwah kalian akan menjadi budak dari penguasa dimensi dimana kalian mati”
“Sedangkan yang sekarang ini adalah desa ini sesuai aslinya, desa mati dengan penduduk yang mati juga, bukan desa yang ditinggalkan, tetapi desa mati dengan penduduk yang mati!”
__ADS_1