
“Pak Tejo, sebaiknya kami pulang atau lapor ke polisi?”
“Terserah kalian, kalau kalian lapor polisi maka kalian akan dibantu pihak kepolisian dan juga mungkin aparat dan bisa juga dari ormas untuk mencari teman kalian yang masih hilang”
“Tapi tentu saja tidak mudah dengan yang namanya pihak yang berwajib itu, tentu saja kalian nanti akan di interogasi dulu dengan berbagai macam pertanyaan, dan tentu saja apa yang kalian jawab itu adalah jawaban yang tidak masuk akal kan, dan pihak berwajib sulit untuk mempercayainya hehehe”
“Tapi menurut saya, ada baiknya kalian pulang dulu, dan cek keberadaan teman kalian yang lainnya, apakah sudah pulang atau masih sehat, atau sudah tidak ada, atau masih hilang”
“Setelah kalian sudah mendapatkan informasi bagaimana teman kalian keadaanya, baru terserah kalian mau lapor ke polisi, yah…. agar pekerjaan polisi yang hampir satu tahun ini bisa mereka selesaikan dengan datangnya kalian hehehe”
“Dan keluarga kalian, apakah kalian sudah siap menerima hal-hal yang tidak kalian duga sebelumnya? Misalnya yang sudah menikah, mungkin istrinya sudah menikah lagi hehehe”
“Waduh yang sudah menikah cuma mas Bondet dan mas GIlank ini pak hihihi, kalau mas Wildan ini gak suka perempuan, dia homo pak” kata Novi
“Husssh nggak boleh gitu mbak, pokoknya kalian harus siap-siap menghadapi kenyataan”
“Pak… eh saya mau tanya, apabila kami tidak pulang dulu selama ada yang sedang mengejar kami, dengan alasan apabila kami pulang, bisa saja demit yang mencari kami akan membunuh keluarga kami.. Bagaimana pak?”
“Nah itu yang tadi akan saya bicarakan dengan kalian… kalian dalam bahaya, tetapi keluarga kalian yang tidak tau apa-apa lebih berbahaya lagi…”
“Tetapi saya tidak tau apakah kalau kalian tidak pulang, setan yang akan mengejar kalian ini tidak akan menyerang keluarga kalian atau tidak”
“Yang jelas jangan dekat-dekat dengan keluarga dulu, lebih baik menjauh hingga semua ini selesai”
“Pak… saya mau tanya” potong Gilank
“Apakah makam setan yang ada di lembah mayit dan yang mengejar kami ini ada di kuburan balung itu?”
“Bisa iya bisa tidak mas… dan kebetulan yang membunuh istri saya dan yang mengejar saya dikuburkan di kuburan balung itu” jawab pak Tejo
“Yang jelas, hidup kalian belum aman, dan sewaktu-waktu bisa saja terjadi kecelakaan yang akan merenggut nyawa kalian satu persatu. Tetapi itu bisa diatasi dengan apa yang saya lakukan sebelumnya” kata pak tejo
Kemudian ponsel milik pak Tejo bunyi, dia buru-buru mengambil ponsel yang ada di kantung celananya. Ternyata yang menelpon pak Tejo adalah pemilik pisang yang ada di bak truck pak Tejo.
“Eh anak-anak, maaf pemilik barang ini akan kesini, saya akan sibuk dulu untuk beberapa jam, kalau kalian mau menunggu ya nggak papa”
“Tetapi kalau kalian mau pulang ya ingat pesan saya tadi, dan jangan lupa hidup kalian belum aman”
__ADS_1
“Baik pak, terima kasih atas informasinya, kami akan rundingan dulu, yang jelas sekarang kami akan ke terminal bus untuk mencari bus yang ke arah kota kami”
“Kalian kalau mau cari makan di pasar jam segini ada..jalan aja lurus hingga ke arah pinggiran kota, disana nanti ketemu pasar yang baru sebulan lalu diresmikan” kata pak Tejo
“Oh iya, nanti kalau ditanya siapa saja di pasar atau di warung makan tentang kalian ini siapa dan dari mana, bilang aja kalian datang kesini bersama saya, numpang di truk saya” kata pak Tejo lagi
Kami meninggalkan pak Tejo dan anaknya yang sekarang sedang sibuk dengan urusan trucknya.
Aku nggak tau apa yang harus aku lakukan, bahkan aku nggak tau dimana kami harus tinggal. Aku nggak mau keluargaku terkena imbas dari apa yang terjadi dengan kami.
“Broni memang bangshat kok!” maki Gilank
“Dulu kita kena masalah dengan vila putih juga gara-gara Broni, dulu malah aku sudah mati, dan untungnya bisa hidup lagi, sekarang gara-gara Broni lagi, kita kena masalah yang nggak kalah ribet sama vila putih!”
“Sudahlah Lank, yang penting sekarang kita pikir kita harus tinggal dimana, dan bagaimana kita mencari teman kita yang lain. Kita kan belum tau keadaan teman kita yang lainya…”
“Apalagi mas Gilank kan udah punya anak dan istri mas, apa nggak takut istrinya nikah lagi hihihihi”
“Hush Nov, jangan gitu kasihan Gilanknya”
“Sudah rek, sekarang yang kita pikirkan itu bagaimana mencari kabar tentang teman kita, apakah mereka sudah selamat atau belum. Kalau kata mbah siluman penjual rawon, dan pak Djati, teman kita kan sudah selamat”
“Gini aja mas…. Novi punya rumah yang masih kosong, rumah yang baru saja Novi bangun, tetapi belum ada perabotnya, kita bisa tinggal disana untuk sementara”
“Dimana rumahmu itu Nov?”
“Di kota S juga kok mas Wil, tetapi agak di pinggiran, soalnya yang ditengah harganya mahal mas Wil”
“Lha kunci rumahmu siapa yang pegang Nov?”
“Di salon teman Novi yang dekat dengan sana juga mas Wil… kita bisa kesana untuk sementara selama kita cari teman kita dan menghindarkan keluarga kita dari kejaran setan itu”
Ide Novi masuk akal juga…. Kita tinggal disana dulu sementara sambil mencari kabar tentang teman kita yang entah bagaimana keadaanya sekarang.
Ternyata benar apa yang dikatakan pak Tejo, di depan kami sudah ramai dengan orang yang mempersiapkan dagangannya. Malam hari jam segini memang waktunya orang-orang pasar menggelar dagangan.
Kami jalan terus hingga makin dekat dengan area pasar.
__ADS_1
“Eh Wil rumah pak siapa namanya tadi yang pejabat teman Broni?
“Raseko ta Lank?”
“Iya rumah pak Raseko apa yang tadi gelap gulita itu ya Wil?”
“Kayaknya sih iya Lank, yang pagarnya dari kayu mahal itu… ngeri rumahnya, gelap dan kotor, kayaknya jadi sarang demit Lank hihihi”
“Hah..janc*k Wil.. ayo kita cari makan dulu… eh Nov kamu ada dana untuk makan kan?”
“Tenang aja mas Gilank, uang Novi masih utuh kok heheheh”
Keadaan pasar ini memang baru, dan kesannya lebih rapi dari pada pasar yang sebelumnya, lampu penerangan pun dibuat sedemikian rupa sehingga bagian depan pasar ini terang.
Di seberang pasar ada semacam warung kopi tapi kayaknya menjual makanan berat juga disana, karena tulisan spanduknya ada mie rebus, dan juga nasi ramesnya
Aku ajak Novi dan Gilank ke warung itu, dan semoga penjualnya nggak tanya apa-apa kepada kami.
Untugnya warung itu sedang ramai, jadi tidak ada orang yang mencurigai kami dengan bertanya tanya siapa kami, dan kami dari mana, atau sejenisnya.
Setelah selesai dengan urusan perut, dan Novi selesai dengan pembayaran, kami jalan lagi mencari angkutan apapun yang bisa mengantar kami ke terminal.
Sesuai dengan yang dikatakan pak Tejo, di sana ada beberapa ojek yang menawarkan angkutan kepada orang-orang yang sedang membawa banyak belanjaan.
Kami sekarang ada di pinggir jalan, di depan warung kopi tadi, jalanan disini konturnya menurun, karena disini kan masih di daerah pegunungan.
Beberapa belas meter di belakang kami ada sebuah mobil pickup yang sedang menurunkan muatannya. Aku merasa ada yang aneh dengan mobil itu ketika sekilas aku lihat keadaan mobil itu.
Kenapa aku merasa aneh, karena muatan mobil itu banyak, dan ketika berhenti roda mobil itu tidak diganjal menggunakan batu atau balok kayu. Supir mobil itu hanya mengandalkan rem tangan saja.
“Ayo rek kita ke tukang ojek itu, keburu ojeknya habis rek” kata Gilank yang kemudian berjalan ke tengah jalan menuju ke arah ojek yang menawarkan jasanya
Aku dan Novi sedang di pinggir jalan dan melihat Gilank yang sedang bicara dengan salah satu ojek yang ada disini. Tukang ojek itu memang bergerombol hampir memakan separuh badan jalan.
Gilank membelakangiku, kubiarkan saja Gilank yang sedang tawar menawar di tengah jalan.
AWAAAAAS !!!!!!!.....MINGGIIIIR!!!!!...KUNDURAAAAN!.....AWAAAASSS!!!!” Teriak orang yang ada di belakangku!
__ADS_1